KH. Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar yang pemikirannya melintasi zaman, pernah menitipkan sebuah peringatan fundamental dalam kitab Showalih halaman 131. Beliau menuliskan sebuah bait nasihat yang sarat akan makna filosofis sekaligus teologis: "Ojo nduwe laku sasar lir berandalan, kekel fasiq teqsir kapiran." Jika diterjemahkan secara bebas, kalimat ini merupakan sebuah teguran keras bagi siapa saja yang menjalani hidup tanpa kompas moral, bertingkah liar tanpa kendali, hingga akhirnya terjebak dalam kubangan kefasikan dan kelalaian yang berujung pada kerugian abadi.
Pesan ini bukan sekadar rangkaian kata-kata bijak, melainkan sebuah diagnosa spiritual terhadap penyakit jiwa yang sering kali tidak disadari oleh manusia modern. Dalam era di mana kebebasan individu diagungkan, banyak orang terjebak dalam ilusi bahwa hidup adalah ruang tanpa batas. Namun, tanpa tuntunan syariat dan nilai-nilai akhlak, kebebasan tersebut justru berubah menjadi "laku sasar"—sebuah perjalanan hidup yang melenceng jauh dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri.
Dalam pandangan KH. Ahmad Rifa’i, "laku sasar" digambarkan seperti perilaku berandalan. Istilah ini tidak hanya merujuk pada pelanggaran norma sosial di permukaan, melainkan pada kekacauan di dalam batin. Seseorang yang kehilangan arah akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Hatinya menjadi tumpul, tidak lagi mampu membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang batil (salah). Akal budinya tidak lagi digunakan untuk mencari kebenaran, melainkan hanya menjadi alat justifikasi untuk memuaskan nafsu dan keinginan sesaat.
Di sinilah letak bahayanya. Dalam tradisi Islam, hidup adalah sebuah proses "menuju". Setiap langkah kaki dan detak jantung seharusnya memiliki orientasi yang jelas, yakni menuju Allah SWT, menuju keridhaan-Nya, dan menuju keselamatan di dunia maupun akhirat. Ketika orientasi ini hilang, manusia menjadi layaknya kapal tanpa nakhoda yang diombang-ambingkan gelombang arus zaman.
Bagian kedua dari nasihat tersebut, "kekel fasiq teqsir kapiran," memberikan peringatan yang jauh lebih tajam mengenai proses bagaimana seseorang jatuh ke dalam jurang kehancuran. Kata "kekel" menunjukkan sebuah proses perulangan. Seseorang tidak seketika menjadi fasik; ia memulainya dengan membiarkan satu kesalahan kecil, lalu mengulangnya lagi, hingga kesalahan tersebut menjadi kebiasaan. Kefasikan—yang secara harfiah berarti keluar dari ketaatan kepada Allah—perlahan-lahan mengakar dalam kepribadian seseorang.
Seringkali, kefasikan dianggap sebagai dosa-dosa besar yang kasat mata. Padahal, kefasikan yang paling berbahaya adalah yang bersifat laten: meremehkan dosa kecil, menunda-nunda taubat dengan alasan masih muda atau masih banyak waktu, serta merasa nyaman dalam zona kelalaian. Ketika seseorang terbiasa dengan kondisi ini, hatinya akan mengalami pengerasan. Nurani yang dulunya lembut dan mudah tersentuh oleh nasihat, perlahan-lahan menjadi mati.
Puncak dari proses ini adalah kondisi yang disebut sebagai teqsir. Secara bahasa, teqsir berarti lalai, abai, dan sikap tidak peduli. Ini adalah titik nadir di mana seseorang kehilangan sensitivitas spiritualnya. Ia tidak lagi merasa bersalah saat melakukan kemaksiatan, tidak lagi merasa gelisah saat meninggalkan perintah Tuhan, dan tidak lagi takut akan konsekuensi akhirat. Inilah kondisi "kapiran"—keterpurukan yang nyata, di mana seseorang telah kehilangan pegangan hidupnya di dunia dan akan memetik penyesalan di akhirat.

Nasihat KH. Ahmad Rifa’i ini harus kita jadikan cermin besar untuk memeriksa diri sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita pernah melakukan kesalahan atau tidak, karena setiap manusia pasti pernah tergelincir. Pertanyaan yang jauh lebih esensial adalah: apakah kita memiliki kesadaran untuk segera kembali, ataukah kita justru membiarkan kesalahan tersebut mengendap menjadi watak dan kebiasaan?
Untuk menghindari jeratan "laku sasar" ini, ada beberapa langkah reflektif yang perlu kita lakukan. Pertama, memperbarui niat dan tujuan hidup setiap saat. Kita harus selalu bertanya pada diri sendiri, "Untuk apa saya hidup hari ini?" Dengan menetapkan tujuan yang benar, kita akan memiliki standar untuk mengukur setiap tindakan. Kedua, pentingnya mencari lingkungan yang sehat. Manusia adalah makhluk sosial yang mudah terpengaruh oleh sekitarnya. Jika kita berada di lingkungan yang meremehkan agama dan moralitas, lambat laun kita akan terseret arus. Sebaliknya, berada di antara orang-orang yang senantiasa menjaga takwa akan membantu kita tetap berada di jalur yang benar.
Ketiga, disiplin dalam ibadah dan muhasabah. Ibadah bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan sarana pengikat hati agar tidak melenceng. Sedangkan muhasabah atau introspeksi diri adalah proses mencuci hati setiap hari dari noda-noda kecil yang mungkin menempel. Tanpa introspeksi, kita akan buta terhadap kekurangan diri sendiri.
Keempat, meneladani kehidupan orang-orang saleh. Mempelajari biografi para ulama seperti KH. Ahmad Rifa’i bukan hanya sekadar menambah wawasan sejarah, tetapi untuk mengambil "ruh" atau semangat keberagamaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menata hidupnya dengan arah yang jelas, sehingga mereka tidak terombang-ambing oleh godaan duniawi yang fana.
Kelima, menjaga sensitivitas hati. Jika hati masih terasa sakit atau sesak saat melakukan kesalahan, itu adalah tanda bahwa iman masih ada. Namun, jika kita sudah merasa biasa saja saat melanggar syariat, itu adalah alarm bahaya bahwa kita sedang berada di ambang teqsir. Segeralah beristighfar dan kembali ke jalan yang lurus.
KH. Ahmad Rifa’i melalui karyanya menekankan bahwa hidup bukanlah sekadar soal pergerakan fisik. Banyak orang yang bergerak sangat sibuk setiap harinya, namun hakikatnya ia tidak sedang berjalan menuju kebaikan, melainkan berjalan menuju jurang kehancuran. Tanpa arah yang benar, setiap langkah hanyalah kesia-siaan.
Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali bahwa waktu yang kita miliki sangat terbatas. Jangan biarkan diri kita tersesat dalam kebiasaan buruk yang dibiarkan. Kesesatan yang dipelihara akan menjadi belenggu yang menjauhkan kita dari cahaya kebenaran. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya agar kita tetap teguh dalam arah yang benar, terhindar dari laku sasar yang berujung pada kefasikan, dan mampu menjaga hati hingga akhir hayat.
Pesan abadi dari KH. Ahmad Rifa’i ini tetap relevan hingga kapan pun. Ia adalah pengingat bagi jiwa-jiwa yang haus akan bimbingan agar tetap waspada terhadap tipu daya dunia yang memikat namun menjerumuskan. Mari kita perbaiki arah hidup kita hari ini, sebelum waktu kesempatan itu benar-benar tertutup rapat oleh ketetapan-Nya. Sebab, pada akhirnya, keselamatan adalah milik mereka yang mampu mengendalikan dirinya di tengah arus zaman yang semakin tidak menentu.

