BREAKING
ICW Minta KPK Usut Dana Siap Pakai BNPB hingga ke Pejabat Atas ● 19 Orang Tewas Terinjak-injak Saat Festival Keagamaan di India ● Pengen Ikut Tren Video AI, Ayo Belajar di Sini! ● Timo Scheunemann Apresiasi Keseriusan Tim Peserta MLSC, Dorong Peningkatan Frekuensi Latihan untuk Sepak Bola Putri Berkelanjutan ● Gunung Anak Krakatau Tiga Kali Erupsi Minggu Siang: Kronologi Lengkap, Status Siaga, dan Imbauan Keselamatan bagi Masyarakat Pesisir Selat Sunda. ● Mengapa Demo di Paris Rusuh hingga Massa Menjarah Brand Mewah ● Babak I Nottingham Forest vs Arsenal Selesai 0-0, The Gunners Dominan Namun Buntu di Depan Gawang ● Eks Komisi II DPR Tegaskan 'Pasal Gibran' Tak Pernah Dibahas: Polemik Keabsahan Aturan Syarat Cawapres Mencuat Kembali ●
Rifaiyah

Harlah ke-25 AMRI: PP AMRI Ajak Pemuda Rifa’iyah Perkuat Pengajian Tarajumah dan Persaudaraan

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

Memasuki usia perak atau 25 tahun, Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) kini berdiri di titik krusial dalam sejarah perjalanannya. Sebagai organisasi kepemudaan yang menjadi garda depan dalam menjaga marwah dan ajaran Kiai Ahmad Rifa’i, AMRI dituntut untuk menunjukkan kedewasaan organisasi yang lebih matang, solid, dan progresif. Pesan mendalam mengenai tanggung jawab besar ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) AMRI, Abdul Kholiq Syafi’i, M.Pd., saat memberikan arahan dalam kegiatan Malam Keakraban (Makrab) sekaligus peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-25 AMRI yang digelar oleh Pimpinan Daerah (PD) AMRI Kota Semarang pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung di alam terbuka dengan konsep berkemah (ngecamp) ini bukan sekadar perayaan seremonial belaka. Bagi para pemuda Rifa’iyah di Kota Semarang, acara ini menjadi ruang refleksi untuk mengukuhkan kembali komitmen dalam menjaga nilai-nilai perjuangan organisasi. Sebanyak 100 peserta dari berbagai basis kepemudaan hadir dengan antusias, menciptakan suasana penuh kekeluargaan. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Ketua Umum PP AMRI, Ketua PD AMRI Kota Semarang Isbah Rudin, S.Pd., serta Kiai Abi Shalih menambah bobot spiritual dan intelektual dalam pertemuan tersebut, menegaskan bahwa regenerasi di tubuh Rifa’iyah berjalan dengan estafet yang terarah.

Dalam pidato reflektifnya, Abdul Kholiq Syafi’i menegaskan bahwa usia 25 tahun bukanlah angka yang kecil bagi sebuah organisasi pergerakan. Fase ini menandai transisi AMRI dari organisasi yang sedang mencari jati diri menjadi kekuatan yang mapan dan dewasa. "Dalam usianya yang sudah ke-25 tahun, AMRI yang kini beranjak dewasa harus jauh lebih solid dalam menjaga dua aset utama Rifa’iyah yang sangat fundamental, yakni pengajian kitab Tarajumah dan semangat seduluran," tegasnya di hadapan para peserta.

Pesan tersebut menjadi inti dari visi besar PP AMRI ke depan. Pengajian kitab Tarajumah, yang merupakan karya monumental Syekh Ahmad Rifa’i, bukan sekadar tradisi rutin, melainkan jantung dari identitas keilmuan warga Rifa’iyah. Kitab-kitab Tarajumah yang memuat ajaran tauhid, fikih, dan akhlak dengan bahasa yang merakyat ini menjadi pondasi bagi umat untuk menjalani kehidupan sesuai tuntunan syariat. Tantangan bagi AMRI saat ini adalah bagaimana mengemas pengajian tersebut agar tetap relevan bagi generasi Z dan milenial tanpa menghilangkan esensi pakemnya. Digitalisasi manuskrip dan penggunaan media sosial sebagai sarana dakwah menjadi langkah nyata yang telah dilakukan PP AMRI, sebagaimana terlihat dalam upaya mereka mendampingi digitalisasi 60 manuskrip Tarajumah di Demak baru-baru ini.

Di sisi lain, konsep seduluran atau persaudaraan menjadi "lem" yang merekatkan seluruh elemen AMRI. Di tengah derasnya arus individualisme dan polarisasi yang sering muncul di era digital, nilai seduluran yang diajarkan oleh Kiai Ahmad Rifa’i menjadi antitesis yang menyejukkan. AMRI diharapkan menjadi wadah di mana perbedaan pendapat diselesaikan dengan musyawarah, dan kesulitan anggota dirasakan sebagai kesulitan bersama. Persaudaraan yang kuat adalah modal sosial paling berharga yang dimiliki AMRI untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Harlah ke-25 AMRI, PP AMRI Ajak Pemuda Rifa’iyah Perkuat Pengajian Tarajumah dan Persaudaraan

Selain aspek ideologis, Abdul Kholiq juga membawa misi organisatoris yang mendesak. Ia mengajak seluruh jajaran PD AMRI Kota Semarang untuk memberikan dukungan penuh dan menyukseskan agenda besar Musyawarah Pimpinan Nasional (MUSPIMNAS) PP AMRI yang akan diselenggarakan di Banjarnegara. MUSPIMNAS ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan organisasi dalam lima tahun ke depan. Keterlibatan aktif pemuda di daerah sangat diperlukan agar setiap keputusan yang diambil di tingkat pusat memiliki resonansi dan dampak nyata hingga ke akar rumput.

Ketua PD AMRI Kota Semarang, Isbah Rudin, S.Pd., menyambut baik arahan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, khususnya para kader muda yang telah bergotong royong menyukseskan acara ini. Isbah menegaskan bahwa seluruh biaya pelaksanaan Makrab dan Harlah ini ditopang secara mandiri oleh PD AMRI Kota Semarang, sebuah bentuk kemandirian organisasi yang patut diapresiasi. Baginya, semangat urunan dan partisipasi aktif anggota dalam membiayai kegiatan organisasi adalah bukti nyata bahwa rasa memiliki (sense of belonging) terhadap AMRI sudah tertanam kuat di sanubari para pemuda.

Konsep berkemah yang dipilih dalam Harlah ke-25 ini juga menyimpan makna filosofis yang dalam. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan fasilitas mewah, para pemuda diajak untuk kembali ke alam, menyederhanakan pikiran, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Suasana api unggun di malam hari menjadi saksi bisu diskusi-diskusi hangat tentang masa depan Rifa’iyah. Di tengah dinginnya malam, rasa hangat persaudaraan justru semakin terasa. Inilah esensi dari pendidikan karakter yang ingin dibangun oleh AMRI: menciptakan pemuda yang tangguh, mandiri, namun tetap rendah hati dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang dakwah dan sosial kemasyarakatan, AMRI menyadari bahwa tantangan di usia 25 tahun ke depan akan jauh lebih berat. Disrupsi teknologi, perubahan gaya hidup, dan tantangan ideologi transnasional menuntut kader AMRI untuk melek literasi, baik literasi agama maupun literasi digital. Oleh karena itu, penguatan pengajian Tarajumah harus dibarengi dengan kemampuan adaptasi terhadap metode dakwah yang lebih kreatif. AMRI tidak boleh menjadi menara gading yang kaku, melainkan harus menjadi oase yang memberikan solusi bagi problematika umat.

Peringatan Harlah ke-25 ini ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga keutuhan organisasi. Momentum ini menjadi titik balik bagi AMRI untuk lebih gencar dalam melakukan kaderisasi. Tidak cukup hanya merekrut anggota baru, namun yang lebih penting adalah mencetak kader-kader militan yang paham akan sejarah perjuangan pendiri Rifa’iyah. Tanpa pemahaman sejarah yang kuat, sebuah organisasi akan kehilangan arah. Dengan merawat warisan keilmuan Tarajumah dan mempererat tali seduluran, AMRI optimis dapat terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan kejayaan Rifa’iyah.

Dalam jangka panjang, diharapkan kegiatan seperti Makrab ini dapat diselenggarakan secara rutin dan lebih luas cakupannya. Keberhasilan PD AMRI Kota Semarang dalam mengonsolidasikan pemuda melalui kegiatan yang inovatif ini bisa menjadi role model bagi daerah lain. AMRI bukan hanya sekadar nama organisasi, melainkan sebuah gerakan kultural yang menjaga api perjuangan Kiai Ahmad Rifa’i tetap menyala. Dengan semangat 25 tahun, AMRI siap melangkah menuju masa depan, mengabdi pada umat, dan berbakti pada negeri dengan tetap berpegang teguh pada tuntunan kitab Tarajumah serta nilai-nilai persaudaraan yang luhur. Selamat Harlah ke-25 AMRI, teruslah bergerak, teruslah berkarya, dan jadilah penerang di tengah umat.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Rifan Muazin Ar-Rifai

Penulis dan kontributor di Bahas Gadgets dan Teknologi.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.