Menjelang perayaan Idul Adha 2026, sebuah fenomena unik mencuri perhatian publik di Bangladesh. Seekor kerbau albino yang memiliki ciri fisik tak lazim mendadak menjadi selebritas media sosial. Hewan berbobot hampir 700 kilogram ini dikenal luas dengan julukan ‘Donald Trump’. Julukan tersebut bukan tanpa alasan; kerbau ini memiliki jambul rambut pirang di bagian dahinya yang menyerupai tatanan rambut ikonik Presiden Amerika Serikat ke-45 tersebut. Keunikan penampilan ini membuat sang kerbau menjadi pusat perhatian, hingga akhirnya nasibnya berubah drastis dari hewan yang akan disembelih menjadi sosok yang dilindungi oleh negara.
Kerbau albino ini dibesarkan di sebuah peternakan yang terletak di distrik Narayanganj, sebuah wilayah yang berdekatan dengan ibu kota Bangladesh, Dhaka. Pemilik peternakan, Ziauddin Mridha, menuturkan bahwa penamaan tersebut muncul secara spontan dari lingkungan keluarganya. Menurut Ziauddin, kemiripan gaya rambut kerbau tersebut dengan sang tokoh politik dunia terlalu mencolok untuk diabaikan. Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Ziauddin menjelaskan bahwa sejak kecil, bagian dahi kerbau tersebut memang ditumbuhi rambut dengan warna dan pola yang sangat khas, sehingga memicu imajinasi orang-orang di sekitarnya.
Secara karakteristik, kerbau albino ini dikenal memiliki temperamen yang sangat tenang dan jauh dari kesan agresif. Meski bobot tubuhnya mencapai 700 kilogram, hewan ini tampak sangat jinak, bahkan cenderung manja. Perawatan yang diterima oleh kerbau ini pun tidak main-main. Menjelang Idul Adha, Ziauddin memberikan perhatian ekstra, mulai dari memastikan kebersihan kandang, memandikan hewan tersebut secara rutin, hingga memberikan asupan nutrisi berkualitas tinggi beberapa kali dalam sehari. Perhatian khusus ini diberikan agar penampilan ‘Donald Trump’ tetap prima dan kesehatannya terjaga di tengah cuaca Bangladesh yang terkadang ekstrem.
Popularitas kerbau ini meledak setelah foto dan videonya diunggah ke berbagai platform media sosial. Keberadaannya dianggap sebagai anomali yang menarik di tengah populasi kerbau di Bangladesh yang mayoritas berwarna hitam legam. Hal ini memicu gelombang kedatangan warga dari berbagai penjuru daerah. Laporan dari lokasi menunjukkan bahwa puluhan orang mendatangi peternakan setiap harinya. Mereka tidak hanya datang untuk sekadar melihat, tetapi juga berinteraksi langsung, melakukan swafoto, hingga merekam konten video pendek untuk diunggah ke akun media sosial mereka. Bagi banyak warga, melihat hewan albino dengan jambul unik ini adalah pengalaman langka yang sangat menghibur.
Awalnya, nasib kerbau ini tampak sudah ditentukan. Ziauddin Mridha telah memasukkannya ke dalam daftar hewan yang akan dikurbankan pada Idul Adha 2026. Bahkan, seekor pembeli sudah setuju untuk meminang kerbau tersebut dengan nilai transaksi yang cukup besar. Dalam tradisi Idul Adha, hewan dengan bobot besar dan fisik yang sempurna memang menjadi incaran utama bagi mereka yang ingin melaksanakan ibadah kurban. Namun, takdir berkata lain. Viralitas yang mencapai skala nasional membuat pihak otoritas pemerintah Bangladesh tidak bisa tinggal diam.
Pemerintah melalui departemen peternakan menilai bahwa kerbau albino dengan ciri fisik unik seperti ini merupakan aset yang langka dan memiliki nilai edukasi serta daya tarik tersendiri. Mohammad Ruhul Quddus, petugas dari Kantor Polisi Keraniganj, mengungkapkan bahwa departemen peternakan secara resmi meminta pemilik untuk membatalkan proses penjualan dan penyerahan hewan tersebut kepada pembeli. Keputusan ini diambil sebagai bentuk upaya perlindungan terhadap hewan yang dianggap memiliki kekhasan biologis yang tidak umum ditemukan pada populasi kerbau pada umumnya.
Setelah proses negosiasi dan koordinasi dengan pihak pemilik, akhirnya diputuskan bahwa kerbau ‘Donald Trump’ tidak jadi disembelih. Sebagai gantinya, hewan tersebut dipindahkan dari peternakan milik Ziauddin ke sebuah fasilitas negara untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan profesional. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kerbau tersebut tetap terjaga kesehatannya dan tidak mengalami stres akibat kerumunan warga yang terus berdatangan di peternakan asalnya.
Kurator Kebun Binatang Nasional Bangladesh, Atiqur Rahman, memberikan pernyataan resmi terkait langkah pemindahan tersebut. Menurutnya, kerbau albino ini akan menjalani masa karantina selama kurang lebih dua minggu sebelum ditempatkan di lingkungan yang lebih terkontrol. Selama masa karantina, tim dokter hewan akan melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, memantau pola makan, serta memastikan bahwa kondisi fisik hewan tersebut benar-benar stabil. Hal ini penting mengingat transisi dari lingkungan peternakan komersial ke lingkungan konservasi memerlukan adaptasi bagi hewan tersebut.
Kasus kerbau ‘Donald Trump’ ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Bangladesh. Di satu sisi, banyak yang merasa senang karena hewan unik tersebut selamat dari penyembelihan. Di sisi lain, fenomena ini menyoroti bagaimana media sosial mampu mengubah takdir seekor hewan ternak dalam sekejap. Di tengah jutaan hewan yang disembelih setiap tahunnya saat Idul Adha, keberadaan kerbau albino ini menjadi sebuah pengingat bahwa keunikan fisik terkadang bisa menjadi penyelamat, setidaknya dalam konteks yang viral.
Pemerintah Bangladesh sendiri tidak memberikan pernyataan apakah nantinya kerbau ini akan dijadikan ikon atau hanya sekadar hewan koleksi di kebun binatang. Namun, bagi masyarakat yang telah mengikuti kisahnya, kerbau ini telah menjadi simbol tersendiri. Nama ‘Donald Trump’ yang disematkan padanya seolah melekat permanen, memberikan kesan jenaka sekaligus dramatis pada setiap pemberitaan yang mengulas tentangnya. Banyak warganet yang memberikan komentar positif atas keputusan pemerintah untuk menyelamatkan hewan tersebut, menganggapnya sebagai tindakan yang bijak untuk melestarikan keanekaragaman hayati.
Bagi sang pemilik, Ziauddin Mridha, tentu ada rasa kehilangan karena gagal melaksanakan rencana kurban yang telah direncanakan. Namun, ia juga mengaku bangga karena kerbau miliknya kini menjadi milik negara dan akan dirawat dengan baik. Ia sempat menceritakan bagaimana beratnya melepas kerbau tersebut, karena selama masa pemeliharaan, ia telah membangun ikatan batin dengan hewan yang penurut itu. Baginya, melihat kerbau tersebut selamat dan mendapatkan kehidupan yang layak di fasilitas negara sudah cukup memberikan kepuasan tersendiri.
Fenomena ini juga memberikan pelajaran bagi dunia peternakan di Bangladesh mengenai pentingnya melakukan inventarisasi terhadap hewan-hewan yang memiliki ciri fisik langka. Seringkali, hewan dengan keunikan genetika atau fisik tertentu terjual begitu saja di pasar ternak tanpa disadari nilai uniknya. Dengan kasus ‘Donald Trump’ ini, diharapkan pihak berwenang dapat lebih jeli dalam mengidentifikasi aset-aset biologis yang berharga, sehingga kedepannya hewan-hewan unik serupa tidak hanya berakhir sebagai daging kurban, tetapi bisa dipelajari atau dilestarikan.
Sementara itu, di Kebun Binatang Nasional Bangladesh, persiapan telah dilakukan untuk menyambut penghuni baru tersebut. Kandang khusus telah disiapkan, dan tim perawat sudah diberikan instruksi mengenai kebutuhan diet serta cara penanganan kerbau albino yang memiliki sensitivitas kulit lebih tinggi dibandingkan kerbau biasa. Sinar matahari yang terlalu terik, misalnya, perlu dihindari agar kulit albino kerbau tersebut tidak mengalami iritasi. Perhatian mendetail seperti ini menjadi standar baru dalam perawatan kerbau tersebut pasca-viral.
Sebagai penutup, cerita tentang kerbau ‘Donald Trump’ ini adalah kisah tentang bagaimana takdir bisa berubah karena sorotan publik di era digital. Dari seekor kerbau biasa di peternakan terpencil di Narayanganj, menjadi ikon nasional yang diselamatkan oleh pemerintah, perjalanannya mencerminkan betapa besarnya kekuatan opini publik. Idul Adha tahun 2026 akan selalu dikenang oleh warga Bangladesh, khususnya mereka yang sempat berinteraksi dengan kerbau tersebut, sebagai momen di mana seekor hewan kurban mendapatkan ‘kehidupan kedua’ hanya karena penampilannya yang menyerupai tokoh ternama dunia. Kini, kerbau itu tengah menjalani hari-harinya dengan tenang di bawah pengawasan para ahli, jauh dari pisau jagal, namun tetap menyandang status sebagai ‘Donald Trump’ dari Bangladesh yang akan terus diingat oleh banyak orang.

