BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan Mikel Arteta bersama Arsenal tidak selalu mulus. Jauh sebelum mengangkat trofi Liga Inggris musim 2025-2026, pelatih asal Spanyol ini mengaku sempat diliputi keraguan mendalam mengenai kemampuannya untuk membawa The Gunners kembali ke puncak kejayaan. Pengakuan jujur ini diungkapkan Arteta dalam sebuah konferensi pers pasca-perayaan gelar juara, yang sekaligus menjadi refleksi perjalanan panjang yang penuh lika-liku. Ia mengakui, momen-momen ketika Arsenal gagal meraih gelar di pekan-pekan akhir, meskipun sudah berada di posisi teratas klasemen, sempat membuatnya mempertanyakan kapabilitas dirinya sebagai nakhoda tim.
Sejak mengambil alih kemudi Arsenal pada akhir tahun 2019, Arteta dihadapkan pada tugas berat: membangun kembali kejayaan klub yang telah lama merindukan gelar Liga Inggris. Ia mewarisi tim yang sedang dalam masa transisi, membutuhkan fondasi yang kuat dan visi yang jelas. Proses pembangunan ini tidak instan. Butuh waktu, kesabaran, dan investasi yang signifikan untuk merombak skuad, menanamkan filosofi permainan yang diinginkan, serta membangkitkan kembali mentalitas juara yang sempat memudar. Tiga musim berturut-turut finis sebagai runner-up, terutama dengan cara yang menyakitkan karena disalip di menit-menit akhir, tentu menjadi pukulan telak bagi siapapun, termasuk Arteta. Frustrasi adalah emosi yang wajar menyelimuti, dan keraguan diri pun tak terhindarkan.
Namun, di tengah ketidakpastian dan sorotan yang kian tajam, manajemen Arsenal menunjukkan kepercayaan yang luar biasa kepada Arteta. Keputusan mereka untuk terus mendukung sang pelatih, bahkan ketika hasil belum sepenuhnya memuaskan, terbukti menjadi investasi yang tepat. Kepercayaan itu dibayar lunas pada musim 2025-2026. Arsenal tampil konsisten sejak awal musim, memimpin klasemen sejak Oktober, dan kali ini tidak memberikan kesempatan bagi pesaingnya untuk menyalip. Dominasi mereka di puncak klasemen hingga akhir kompetisi menjadi bukti nyata dari kerja keras, strategi yang matang, dan eksekusi yang brilian di lapangan.
Akhirnya, penantian panjang selama 22 tahun untuk kembali merasakan gelar juara Liga Inggris pun berakhir. Kemenangan ini bukan sekadar sebuah trofi, melainkan simbol kebangkitan sebuah klub legendaris. Lebih dari itu, Arsenal bahkan berpeluang menambah koleksi gelar mereka dengan melaju ke final Liga Champions, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan performa impresif mereka di kancah Eropa. Pertandingan akbar melawan Paris Saint-Germain di Budapest pada 30 Mei 2026 menjadi bukti lebih lanjut dari keberhasilan proyek Arteta.
Dalam konferensi pers pertamanya setelah memastikan gelar juara, Arteta tak mampu menyembunyikan luapan emosinya. "Ada banyak emosi, kegembiraan, kebahagiaan, rasa bangga. Dan juga, kelegaan," ujarnya, dilansir dari ESPN. Namun, di balik euforia kemenangan, ada pelajaran berharga yang ia petik. "Tetapi saya paling bangga dengan cara kami memenanginya," tegasnya. Ia menekankan bahwa kemenangan ini dibangun di atas nilai-nilai fundamental yang tidak hanya berlaku dalam olahraga, tetapi juga dalam kehidupan. "Kami menunjukkan nilai yang sangat penting, tidak hanya dalam olahraga, tetapi juga dalam kehidupan, yaitu ketekunan, ketahanan, ketenangan di saat orang meragukan Anda," ungkapnya.
Arteta secara gamblang mengakui kerentanannya dan pertanyaan-pertanyaan yang sempat menghantuinya. "Kerentanan karena saya pun mengajukan pertanyaan itu kepada diri sendiri: ‘Apakah saya cukup baik untuk memimpin tim ini, klub ini, para pemain ini untuk memenangi trofi utama?’" Pengakuan ini menunjukkan sisi manusiawi seorang pelatih yang berada di bawah tekanan tinggi. Ia menyadari bahwa pembuktian diri sejati hanya bisa datang melalui hasil nyata. "Dan sampai Anda melakukannya, Anda tidak dapat membuktikan diri Anda," tuturnya.
Proses untuk menemukan "cara" terbaik dalam memimpin tim pun menjadi sebuah pembelajaran tersendiri. Arteta menuturkan bahwa ia sempat mencari inspirasi dari luar, mendatangkan pembicara untuk memotivasi para pemainnya. Namun, ia juga menyadari bahwa setiap pelatih harus menemukan gayanya sendiri. "Dan saya memikirkan cara terbaik untuk melakukannya. Kami mendatangkan orang-orang dari luar dan pembicara untuk menginspirasi mereka. Tetapi Anda harus menemukan cara Anda sendiri."
Pelajaran paling berharga yang ia ambil dari perjalanan ini adalah pentingnya menjaga sikap rendah hati, terus belajar, dan tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. "Pelajaran besar di sini adalah tetap rendah hati, tetap ingin tahu, dan fokus pada apa yang ingin Anda capai," jelasnya. Ia meyakini bahwa dengan memberikan upaya terbaik, peluang untuk meraih kesuksesan akan semakin besar. "Dan jika Anda memberikan yang terbaik, Anda memberi diri Anda peluang yang baik, dan kami memberi diri kami peluang yang sangat baik selama tiga tahun dan musim ini kami mampu meraihnya."
Kini, dengan gelar Liga Inggris di tangan, ambisi Arteta tidak berhenti di situ. Ia adalah sosok yang selalu ingin lebih, dan kemenangan ini menjadi pemantik semangat untuk meraih pencapaian yang lebih besar lagi. "Tentu saja, yang terpenting sekarang adalah Anda menginginkan lebih, dan kami akan memainkan laga terbesar di Budapest dalam beberapa hari lagi," tegas Arteta, merujuk pada final Liga Champions yang menanti. Perjalanan Arteta bersama Arsenal kini telah memasuki babak baru, sebuah babak yang penuh dengan optimisme dan harapan akan kejayaan yang berkelanjutan. Keraguan diri di masa lalu telah bertransformasi menjadi keyakinan yang kokoh, membuktikan bahwa ia adalah sosok yang tepat untuk mengembalikan Arsenal ke tahta sepak bola Inggris.

