Kondisi keamanan di Prancis yang belakangan ini memburuk akibat gelombang kerusuhan masif telah memantik reaksi keras dari panggung politik Amerika Serikat. Mantan Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan imigrasi Prancis, mengklaim bahwa negara tersebut kini sedang berada dalam ambang kehancuran akibat kegagalan dalam mengelola arus pendatang dari wilayah dengan latar belakang budaya yang dianggapnya tidak kompatibel.
Dalam sebuah unggahan yang provokatif di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Minggu (18/10/2026), Trump menuliskan narasi yang cukup ekstrem. "Prancis terbakar! Imigrasi orang-orang dari dunia yang sama sekali berbeda, orang-orang yang menyimpan kebencian di hati mereka, telah menghancurkan negara yang dahulu hebat itu," tulis Trump. Ia tidak berhenti di situ; Trump secara lugas mendesak pemerintah Prancis untuk mengambil langkah drastis dengan menutup perbatasan mereka sesegera mungkin sebelum situasi yang ia sebut sebagai "kiamat sosial" tersebut tidak dapat dipulihkan kembali. Seruan "Tutup perbatasan kalian dan ambil kendali sebelum semuanya terlambat!" menjadi inti dari pesan yang ia sampaikan kepada pemerintah Presiden Emmanuel Macron.
Pernyataan Trump ini muncul di tengah kondisi Prancis yang masih terguncang hebat pasca-demonstrasi besar-besaran yang terjadi sehari sebelumnya. Kerusuhan tersebut tidak hanya menyisakan kerusakan fisik yang signifikan, seperti terbakarnya balai kota bersejarah yang menjadi simbol kedaulatan lokal, tetapi juga mencatatkan angka penangkapan yang fantastis, yakni sekitar 1.800 orang yang diamankan oleh aparat penegak hukum. Situasi keamanan yang tidak menentu ini memberikan tekanan politik yang sangat berat bagi Presiden Emmanuel Macron. Posisi Macron semakin terpojok mengingat pemilihan umum untuk menentukan suksesornya tinggal menyisakan enam bulan lagi, dan ketidakmampuan pemerintah dalam meredam kekacauan ini bisa menjadi bumerang bagi masa depan politiknya serta stabilitas koalisi pemerintahannya.
Menariknya, narasi yang dibangun oleh Trump senada dengan pandangan yang disampaikan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, hanya beberapa jam sebelumnya. Vance, yang selama ini dikenal memiliki retorika garis keras mengenai kebijakan perbatasan dan nasionalisme, menggunakan platform X untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan liberal di Eropa. Menurut Vance, krisis yang terjadi di Prancis adalah buah dari kebijakan "kaum liberal Barat" yang menurutnya secara sengaja "mengimpor dunia ketiga ke Prancis dan negara-negara lain atas nama keberagaman dan kasih sayang."
Vance lebih jauh menyoroti kegagalan integrasi sosial yang menurutnya sengaja diabaikan oleh para elit politik. "Mereka mengabaikan pertanyaan mendasar tentang asimilasi dan kompatibilitas. Mereka telah diperingatkan bahwa hal ini akan berujung seperti sekarang, tetapi mereka tidak mendengarkan," ungkap Vance dalam cuitannya. Ia juga menambahkan doa bagi Prancis, dengan menyebutnya sebagai negara indah yang masyarakatnya sedang terjebak dalam "kegilaan" akibat kebijakan yang menurutnya salah kaprah. Komentar Vance ini juga memicu spekulasi politik domestik di Amerika Serikat. Sebagai tokoh yang dipandang sebagai calon kuat dalam pemilihan presiden AS 2028, Vance mencoba menarik benang merah antara kegagalan kebijakan imigrasi di Eropa dengan isu pemilihan sela Kongres AS yang akan berlangsung pada 3 November mendatang.
Analisis mendalam mengenai situasi ini menunjukkan bahwa perdebatan mengenai imigrasi di Prancis bukan sekadar isu domestik, melainkan telah menjadi komoditas politik global bagi kelompok kanan di Barat. Bagi para pengamat, komentar Trump dan Vance merupakan upaya untuk mengonsolidasi basis pemilih mereka di Amerika dengan memberikan contoh nyata (dalam pandangan mereka) tentang apa yang terjadi jika sebuah negara kehilangan kendali atas perbatasannya. Di Prancis sendiri, demonstrasi yang berujung kerusuhan ini sebenarnya dipicu oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi, diskriminasi struktural di pinggiran kota (banlieue), hingga ketidakpuasan terhadap kebijakan ekonomi Macron. Namun, narasi yang dibawa oleh kubu konservatif AS secara spesifik menyederhanakan masalah tersebut menjadi satu penyebab utama: kegagalan asimilasi imigran.
Pemerintah Prancis saat ini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menindak tegas para perusuh yang melakukan vandalisme dan pembakaran gedung publik untuk memulihkan ketertiban umum. Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi kritik internasional yang menuding kebijakan "keterbukaan" mereka sebagai penyebab utama keruntuhan ketertiban sosial. Bagi pihak kepolisian Prancis, menghadapi kerusuhan yang melibatkan massa dalam jumlah besar dan intensitas tinggi seperti saat ini adalah ujian terberat bagi profesionalisme mereka. Penggunaan gas air mata, penangkapan masal, dan pengerahan personel dalam skala besar belum sepenuhnya mampu meredam amarah demonstran yang merasa terpinggirkan oleh sistem.
Dampak dari retorika Trump dan Vance ini diprediksi akan memperkeruh hubungan diplomatik antara Washington dan Paris jika tidak dikelola dengan hati-hati. Meskipun saat ini mereka bukan pihak yang memegang kekuasaan eksekutif di AS, pengaruh suara mereka terhadap opini publik internasional sangat besar. Pernyataan bahwa Prancis telah "hancur" adalah bentuk hiperbola politik yang bertujuan untuk menciptakan rasa takut (fear-mongering) di kalangan pemilih konservatif. Namun, bagi masyarakat Prancis yang sedang berjuang menata kembali kotanya yang terbakar, komentar tersebut dipandang sebagai bentuk campur tangan yang tidak memahami realitas sosiologis yang terjadi di lapangan.
Secara sosiopolitik, krisis di Prancis ini memang menyoroti tantangan besar bagi negara-negara Eropa yang menganut prinsip multikulturalisme. Perdebatan mengenai batasan toleransi, hak asasi manusia, dan keamanan nasional kini berada di titik didih. Apakah benar bahwa imigrasi adalah satu-satunya penyebab? Para ahli sosiologi di Prancis sering berargumen bahwa masalah utamanya terletak pada kegagalan mobilitas sosial dan marjinalisasi ekonomi generasi muda imigran, bukan semata-mata karena asal-usul atau keyakinan mereka. Namun, di tengah panasnya situasi politik, nuansa dan kompleksitas tersebut sering kali hilang, tergantikan oleh narasi sederhana "kita melawan mereka" yang digaungkan oleh tokoh-tokoh seperti Trump dan Vance.
Menjelang pemilihan presiden di Prancis, isu imigrasi dipastikan akan menjadi "jualan" utama bagi partai-partai kanan ekstrem yang ingin menggulingkan pengaruh Macron. Mereka akan menggunakan argumen yang serupa dengan Trump untuk meyakinkan publik bahwa Prancis membutuhkan perubahan haluan yang radikal. Sementara itu, kubu Macron harus bekerja ekstra keras untuk membuktikan bahwa republik masih mampu menjamin keamanan bagi seluruh warganya tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini dipegang teguh oleh Prancis.
Situasi di Prancis akan terus dipantau oleh dunia. Apakah negara ini mampu bangkit dari puing-puing kerusuhan dan menemukan formula baru untuk integrasi sosial, atau justru akan semakin terpolarisasi? Bagi Trump dan para sekutunya, peristiwa ini hanyalah awal dari narasi yang akan terus mereka angkat hingga pemilu AS mendatang. Mereka menggunakan Prancis sebagai cermin—sebuah refleksi tentang apa yang mereka sebut sebagai konsekuensi dari kebijakan "liberalisme yang gagal." Di sisi lain, dunia internasional menantikan apakah pemerintah Macron dapat membuktikan bahwa narasi kehancuran yang didengungkan oleh Trump adalah sesuatu yang keliru, dan bahwa Prancis tetaplah negara demokrasi yang tangguh di tengah badai krisis sosial yang hebat.
Pada akhirnya, komentar dari seberang Atlantik ini menambah beban psikologis bagi Prancis. Di saat mereka membutuhkan dukungan atau setidaknya ketenangan untuk menyelesaikan konflik internal, mereka justru disuguhi kritik tajam yang seolah-olah menyatakan bahwa nasib negara tersebut sudah tamat. Namun, sejarah mencatat bahwa Prancis adalah bangsa yang memiliki ketahanan luar biasa terhadap krisis. Tantangan nyata bagi pemerintah saat ini adalah bukan sekadar membalas komentar Trump, melainkan mengatasi akar permasalahan yang memicu kemarahan publik agar tidak ada lagi gedung bersejarah yang harus dikorbankan demi sebuah aspirasi yang tidak tersalurkan. Waktu akan menjawab apakah peringatan keras dari Trump ini merupakan ramalan yang akurat atau sekadar alat politik untuk memenangkan pertarungan kekuasaan di Amerika Serikat.

Komentar (0)