Malam Selasa Pon bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Jawa, melainkan sebuah denyut nadi spiritual yang telah berdetak selama lebih dari tiga puluh delapan tahun bagi keluarga besar Rifa’iyah. Pada Senin malam, 12 Oktober 2026 atau 2 Jumadilawal 1448 H, putaran ke-404 majelis ta’lim selapanan ini berlabuh di Masjid Al-Mukarromah, Kramatsari. Perhelatan akbar yang diprakarsai oleh Pimpinan Daerah (PD) Rifa’iyah Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pemalang ini menjadi bukti nyata bahwa semangat untuk menimba ilmu tetap membara melintasi pergantian generasi. Di bawah langit yang tenang, ribuan jemaah berhimpun, menyatukan langkah dan hati untuk kembali kepada kitab, guru, dan hakikat diri di hadapan Sang Pencipta.
Kehangatan majelis telah terasa sejak awal melalui lantunan selawat yang mengalir bak benang pengikat antar-segmen acara. KH. Amrudin Nasihun membuka majelis dengan pembacaan Al-Fatihah, sebuah adab yang dijunjung tinggi oleh para pengikut KH. Ahmad Rifa’i. Kehadiran para kiai sepuh seperti KH. Abdul Basit Al-Hafizh, H. Al-Mufid, dan KH. Wahyono memberikan wibawa tersendiri bagi pertemuan yang menyatukan tiga wilayah administratif tersebut. Namun, perhatian jemaah malam itu tertuju pada dua momen utama: penguraian kitab Husnul Mitholab oleh KH. Ainur Rofiq dan mauidhah hasanah dari KH. Khoirun Nazi dari Semarang.
Dalam sesi pembacaan kitab, KH. Ainur Rofiq membawa jemaah masuk ke kedalaman makna iman. Beliau mengajukan pertanyaan mendasar yang memantik perenungan: bagaimana manusia menilai iman sesamanya jika iman itu sendiri adalah perkara batin yang tak kasatmata? Dengan merujuk pada kitab karya KH. Ahmad Rifa’i dan pandangan para ulama seperti Imam Abu Hasan al-Asy’ari, beliau menjelaskan bahwa syariat menuntut adanya tanda zahir berupa ikrar dua kalimat syahadat sebagai syarat berlakunya hukum duniawi, seperti hak untuk disalati dan dimakamkan di pemakaman Muslim. Kisah tragis Mirdas bin Nahik yang dibunuh oleh Usamah bin Zaid menjadi pelajaran pahit yang disabdakan Rasulullah SAW untuk tidak membelah dada manusia. Kita diperintahkan menghukumi yang tampak, sementara urusan batin adalah hak prerogatif Allah SWT. Poin penting yang ditegaskan beliau adalah perbedaan antara timbangan dunia dan akhirat; di dunia kita menggunakan bukti lahiriah, namun bagi diri sendiri, kita wajib menuntut keselarasan antara lahir dan batin melalui tobat yang segera.
Memasuki sesi sambutan, suasana menjadi lebih cair dan akrab. Ketua panitia dari Ranting Kramatsari memberikan pemetaan jenaka tentang golongan jemaah: mereka yang datang sekadar mengisi waktu, mereka yang memang istikamah, dan mereka yang hadir untuk mengamalkan ilmu. Harapannya, majelis ini mampu menggeser mereka yang sekadar hadir menjadi pribadi yang tercerahkan oleh ilmu. Sementara itu, KH. Abdul Basit Al-Hafizh mewakili pimpinan daerah menekankan pentingnya menjaga gairah mengaji sebagai sumber keberkahan hidup, sekaligus mengapresiasi kerelaan jemaah yang telah berkorban tenaga dan pikiran demi terselenggaranya acara ini.
Puncak inspirasi malam itu hadir saat KH. Khoirun Nazi naik ke mimbar. Beliau menyoroti Pekalongan sebagai barometer Rifa’iyah yang sangat membanggakan, terutama dengan banyaknya keterlibatan pemuda. Dalam uraiannya yang jenaka namun menghunjam, beliau menekankan pentingnya organisasi dengan metafora "seikat lidi". Sebatang lidi mungkin mudah dipatahkan, namun seikat lidi yang terikat kuat dalam wadah organisasi akan sulit ditaklukkan oleh kebatilan. Beliau mengingatkan sebuah pesan kuat: "Kebenaran yang tak ditata akan dikalahkan oleh kebatilan yang rapi." Pernyataan ini menjadi pengingat bagi mereka yang sering meremehkan pentingnya berorganisasi dengan dalih cukup menjalankan ibadah pribadi. Baginya, Islam tidak tegak tanpa jemaah, dan sejarah Rasulullah sendiri membuktikan bahwa tatanan organisasi seperti pembagian tugas sekretaris hingga bendahara adalah bagian dari sunah yang menjaga kebaikan tetap berkelanjutan.

Beliau juga memberikan refleksi mendalam mengenai konsep surga. Mengutip hadis riwayat Muslim, beliau menegaskan bahwa amal seseorang tidak akan memasukkannya ke surga kecuali dengan rahmat Allah. Hal ini bukan berarti mematahkan semangat beramal, melainkan menempatkan amal sebagai bukti ketulusan untuk menjemput rahmat tersebut. Tingkatan surga yang berbeda-beda adalah refleksi dari seberapa besar ikhtiar dan ketulusan hamba dalam menapaki jalan taat, termasuk berlelah-lelah dalam merawat majelis ilmu dan organisasi. Dengan bahasa yang menyentuh, beliau mengajak jemaah untuk terus mendukung kegiatan Rifa’iyah sebagai wujud syukur atas taufiq yang telah Allah berikan, karena tidak semua orang yang memiliki harta dan kendaraan mampu melangkahkan kaki ke majelis ini.
Hasil infak sebesar Rp1.816.000 yang terkumpul malam itu menjadi simbol nyata dari keterikatan hati jemaah. Sebagian dana disalurkan untuk pembangunan gedung Pimpinan Pusat, sebuah langkah kecil yang jika dilakukan secara kolektif akan membuahkan dampak besar. Doa penutup yang dipanjatkan menjadi penyempurna, menghantarkan jemaah pulang dengan membawa bekal rohani yang lebih berat daripada besek yang mereka bawa. Mereka pulang dengan kesadaran baru bahwa kehadiran mereka di Masjid Al-Mukarromah bukanlah kebetulan, melainkan undangan khusus dari Sang Pencipta.
Ada lima bekal utama yang ditinggalkan oleh majelis di Kramatsari ini. Pertama, kesadaran bahwa iman memerlukan bukti lahiriah untuk hukum dunia, namun tetap membutuhkan keikhlasan batin untuk keselamatan akhirat. Kedua, pentingnya berorganisasi sebagai ikatan yang menjaga kekuatan umat agar tidak tercerai-berai. Ketiga, pemahaman bahwa kebenaran yang terorganisir adalah pertahanan terbaik melawan kebatilan yang terstruktur. Keempat, amal adalah kendaraan, namun rahmat Allah adalah bahan bakar utamanya; tanpa rahmat-Nya, amal hanyalah usaha yang kering. Kelima, setiap detik yang kita habiskan di majelis ilmu adalah bentuk "tamu Allah" yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan, melainkan dengan taufiq.
Malam Selasa Pon ke-404 ini telah berakhir, namun gema pesannya akan terus membekas. Tiga puluh lima hari ke depan, siklus ini akan kembali berputar. Bagi para jemaah, ini adalah pengingat untuk terus memperbaiki diri, dari golongan yang sekadar hadir menjadi golongan yang mengamalkan. Seikat lidi di Kramatsari malam itu telah membuktikan bahwa selama tali ukhuwah dan organisasi masih terjaga, selama kitab-kitab para guru masih dibaca dan diurai, selama selawat masih terus dilantunkan, maka cahaya Rifa’iyah tidak akan pernah padam. Ia akan terus menyala, menjadi pelita di atas cahaya bagi generasi-generasi mendatang yang haus akan kebenaran dan keteduhan iman di tengah hiruk-pikuk zaman yang semakin tak menentu.
Sebagai catatan penutup, majelis ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan ruang perjumpaan antarmanusia yang merindukan jalan pulang. Dengan berakhirnya acara, para jemaah kembali ke rutinitas masing-masing, namun dengan hati yang telah terikat dalam satu ikatan lidi yang lebih kuat. Semoga keteguhan hati para jemaah di Pekalongan dan Pemalang ini menjadi inspirasi bagi ranting-ranting lainnya di seluruh pelosok Indonesia untuk tetap merawat majelis, menjaga organisasi, dan senantiasa mengharap rahmat Allah SWT dalam setiap langkah perjuangan. Sampai jumpa di malam Selasa Pon berikutnya, di mana tali itu akan kembali diikat dengan doa, ilmu, dan kebersamaan yang tulus. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Komentar (0)