Sebanyak 2.000 jemaah Rifaiyah dari berbagai ranting di seluruh Kabupaten Temanggung tumpah ruah memadati lokasi kegiatan Selapanan Rutin Ahad Pahing yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah (PD) Rifaiyah Temanggung di Ranting Rifaiyah Joho, Kecamatan Wonoboyo, pada Ahad (27/9/2026). Meskipun agenda tersebut bertepatan dengan puncak musim panen tembakau—masa di mana para petani biasanya disibukkan dengan aktivitas ladang—antusiasme warga untuk tetap hadir dalam majelis ilmu ini tidak sedikit pun surut. Kehadiran ribuan jemaah ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai dakwah dan ikatan kekeluargaan dalam organisasi Rifaiyah telah mengakar kuat di hati masyarakat Temanggung.
Perhelatan akbar yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran petinggi organisasi dan tokoh masyarakat setempat. Di antara tokoh yang hadir adalah anggota Dewan Syuro Pimpinan Pusat Rifaiyah sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Riyadhotus Sholihin Pomahan, K. Imbuh Jumali; Ketua Dewan Syuro Pimpinan Wilayah Rifaiyah Jawa Tengah sekaligus Khodimul Ma’had PIPP Mambaul Hikmah Bantengan, K. Nur Yasin; serta jajaran pengurus daerah yakni Ketua Dewan Syuro PD Rifaiyah Temanggung, K. Samsul Maarif; Sekretaris Dewan Syuro PD Rifaiyah Temanggung, KH Sargito Rohmat; dan Ketua PD Rifaiyah Temanggung, K. Shobikun, S.Pd.I. Selain itu, hadir pula tokoh agama setempat, KH Amin Bashori, serta Kepala Desa Wonoboyo, Irfan, yang memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya acara keagamaan ini.
Dalam sambutannya, Ketua PD Rifaiyah Temanggung, K. Shobikun, menekankan bahwa selapanan bukan sekadar agenda administratif organisasi, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk mempertebal keimanan sekaligus merawat tali silaturahmi. Baginya, majelis pengajian merupakan benteng bagi umat untuk menjaga hati agar tetap berada dalam lingkungan orang-orang saleh di tengah derasnya arus perubahan zaman. "Selapanan rutin menjadi tempat berkumpul dengan orang saleh dan mengkaji syariat. Dakwah merupakan ruh dari organisasi Rifaiyah," tegas K. Shobikun.
Lebih jauh, ia memberikan peringatan serius mengenai tantangan masa depan organisasi. K. Shobikun menegaskan bahwa perjuangan Rifaiyah bukanlah upaya menciptakan doktrin baru, melainkan tugas suci untuk melestarikan perjuangan para perintis, khususnya Syekh Ahmad Rifa’i. Ia menggarisbawahi bahwa kesinambungan organisasi sangat bergantung pada kesiapan generasi muda. Jika regenerasi tidak dilakukan dengan serius dan terencana, ia khawatir identitas Rifaiyah akan memudar dalam belasan tahun ke depan. "Seandainya hari ini tidak kita lestarikan, lima belas tahun ke depan kita tidak tahu generasi kita masih Rifaiyah atau tidak," ujarnya dengan nada reflektif. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk memberikan perhatian lebih kepada santri di pondok pesantren, madrasah, dan mahasiswa agar mereka dipersiapkan menjadi penerus estafet dakwah yang berintegritas.

Senada dengan hal tersebut, KH. Khoirun Nazi dari Kota Semarang, selaku penceramah utama, mengulas pentingnya membangun kesadaran berorganisasi yang berlandaskan keikhlasan. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa setiap individu yang terlibat dalam organisasi harus memiliki kepedulian. Menurutnya, praktik pengorganisasian bukanlah hal asing dalam Islam; hal ini sudah dicontohkan sejak era Rasulullah SAW, di mana para sahabat menjalankan tugas dengan pembagian kerja yang jelas dan terstruktur.
KH. Khoirun Nazi menjelaskan bahwa organisasi adalah wadah untuk menjalankan dakwah secara kolektif. Orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap organisasi berarti belum sepenuhnya memahami hakikat perjuangan. Ia mengajak jemaah untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing, baik tenaga, pikiran, maupun materi, dengan niat lillahi kalimatillah—semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah. Ia menekankan bahwa berjuang di organisasi bukanlah jalan untuk mencari keuntungan pribadi atau materi, melainkan wujud pengabdian untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai agama.
Dalam aspek teologis, ia mengingatkan jemaah bahwa kehidupan dunia hanyalah ladang amal. Ia mengibaratkan amal saleh seperti seorang pekerja yang menanti upah, namun pada akhirnya, keselamatan dan surga adalah rahmat Allah SWT yang diberikan kepada mereka yang bertakwa dan ikhlas. Ia juga menyinggung tentang pentingnya menyempurnakan iman dengan kesediaan untuk berbagi atau bersedekah, yang merupakan bagian dari proses pendidikan diri agar tidak terikat pada harta duniawi.
Menutup tausiyahnya, KH. Khoirun Nazi memberikan apresiasi terhadap karakteristik khas warga Rifaiyah yang dikenal sangat hati-hati dan tertib dalam beribadah. Ia menekankan bahwa karakter ini harus terus dipertahankan. "Orang-orang Rifaiyah itu hati-hati tetapi tertib. Belum berani membaca Al-Qur’an sebelum hafal syarat sah wudhu. Karena itu, kitab di luar Rifaiyah kita kaji, dan kitab kepunyaan kita juga harus dikaji," pungkasnya.
Kegiatan selapanan ini ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan bagi seluruh jemaah, kelancaran organisasi, serta perlindungan Allah SWT bagi bangsa dan negara. Semangat yang terpancar dari 2.000 jemaah di Wonoboyo ini menjadi energi baru bagi PD Rifaiyah Temanggung untuk terus bergerak, mengawal tradisi, dan memastikan bahwa api perjuangan Syekh Ahmad Rifa’i terus menyala hingga generasi mendatang. Selain sebagai sarana dakwah, momen ini juga mempererat koordinasi antar-ranting, membuktikan bahwa meskipun berada di wilayah geografis yang berbeda, jemaah Rifaiyah tetap satu dalam visi dan misi dakwah yang tertib dan santun. Ke depan, diharapkan kegiatan semacam ini terus menjadi barometer kebangkitan umat dalam berorganisasi secara profesional dan berbasis pada nilai-nilai keteladanan ulama.
