Tue 8 Sep 2026 International edition

Ulasan Gadgets dan Teknologi Terkini

Rifaiyah

Reportase: Cinta Yang Menyatukan

Gema shalawat yang mengalun syahdu dan untaian syair perjuangan yang menyentuh kalbu menjadi pembuka malam yang penuh berkah di Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Jalan Dr. Sutomo No. 40, Watesalit, Kabupaten Batang. Senin malam menjelang Selasa, 7 September 2026, menjadi saksi bisu bersatunya ratusan jemaah dari tiga wilayah—Pekalongan, Pemalang, dan Batang—dalam agenda Pengajian Selapanan yang digelar secara kolaboratif. Pertemuan ini tidak sekadar menjadi forum diskusi rutin, melainkan sebuah momentum spiritual yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, menghadirkan suasana kekeluargaan yang kental di bawah naungan semangat ajaran Kanjeng Guru Sepuh KH. Ahmad Rifa’i.

Sejak mentari mulai terbenam di ufuk barat, kesibukan panitia sudah tampak di setiap sudut gedung. Mereka bahu-membahu memastikan seluruh persiapan teknis berjalan dengan sempurna demi menyambut para jemaah. Begitu azan Isya berkumandang dan salat berjamaah selesai ditunaikan, halaman Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah mulai dipenuhi oleh lautan manusia yang datang dengan satu niat: mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani Rasulullah SAW. Alunan rebana yang ditabuh dengan ritme yang khas, berpadu dengan bait-bait syair gubahan Kanjeng Guru Sepuh dan ulama Rifa’iyah lainnya, menciptakan atmosfer yang syahdu. Setiap kata yang terlantun seolah menjadi jembatan batin, mengantar para hadirin memasuki ruang kekhusyukan sebelum acara inti dimulai.

Acara resmi dibuka dengan lantunan doa pembuka melalui wasilah Al-Fatihah yang dipimpin langsung oleh KH. Ainurrofiq, Pengasuh Pondok Pesantren INSAP. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri bagi jemaah yang sudah sangat mengenal sosoknya melalui kajian Kitab Khusnul Mitholab. Namun, pada malam yang istimewa tersebut, seluruh jadwal kajian rutin ditiadakan. Fokus utama dialihkan sepenuhnya untuk memperingati hari kelahiran sang pembawa risalah kebenaran, Nabi Muhammad SAW. Keputusan ini disambut antusias oleh para hadirin yang memadati gedung, menunjukkan betapa besar rasa cinta dan penghormatan mereka kepada sosok panutan umat.

Memasuki sesi sambutan, K. Abdul Basit Al-Hafidz, yang mewakili panitia sekaligus pengurus Pimpinan Daerah Rifa’iyah Pekalongan, naik ke mimbar dengan raut wajah penuh syukur. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras, khususnya kepada Bendahara Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, H. Kadirin. Dukungan H. Kadirin, baik secara moril maupun materil, dinilai menjadi motor penggerak utama terselenggaranya acara yang megah ini. Kiai Basit juga mengungkapkan kekagumannya melihat jumlah jemaah yang membludak melebihi prediksi awal. "Niki bukan jumawa, tapi tahaduts binnikmat," tuturnya dengan nada rendah hati, menekankan bahwa kehadiran jemaah yang luar biasa ini adalah wujud nyata dari syukur atas nikmat silaturahmi yang Allah berikan.

Di tengah jalannya acara, tradisi yang telah mengakar kuat di lingkungan Rifa’iyah kembali dilakukan, yakni penarikan infak shadaqah yang dikenal dengan istilah "Kiai Sorling" atau surban keliling. Dipimpin oleh dua tokoh penggerak, K. Hakim dan K. Muallimin, prosesi ini berlangsung dengan begitu alami. Tidak ada instruksi kaku, tidak ada komando yang memaksa, semua mengalir dari ketulusan hati para jemaah. Surban tersebut berpindah dari satu tangan ke tangan lain, menampung setiap rupiah yang disisihkan dengan ikhlas. Pemandangan ini menegaskan bahwa semangat kedermawanan telah menjadi napas bagi warga Rifa’iyah, di mana setiap kontribusi dianggap sebagai investasi akhirat yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan.

Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Daerah juga memberikan pengumuman mengenai rencana perjalanan Pengajian Selapanan selanjutnya. Agenda yang dinanti-nanti ini akan menyambangi tiga titik lokasi strategis, yaitu Kramatsari, Gorek, hingga wilayah yang oleh jemaah disematkan julukan romantis sebagai "negeri di bawah langit", yakni Semego. Pengumuman ini disambut dengan sorak-sorai harapan dari para jemaah. Pihak penyelenggara menekankan pentingnya menjaga semangat hurmat dan silaturahmi agar rangkaian pengajian yang bersifat rotasi ini dapat terus berjalan lancar, mempererat ikatan emosional antar daerah yang terlibat.

Sebagai puncak acara, mau’idhah hasanah disampaikan oleh KH. Makhfudz Israfi, Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah. Dengan gaya bicara yang tenang namun berwibawa, beliau membawa tema besar tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kiai Makhfudz membuka ceramahnya dengan menukil kisah seorang pria Baduy yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang kapan hari kiamat akan tiba. Alih-alih memberikan jawaban spesifik mengenai waktu, Rasulullah justru memberikan jawaban yang menohok namun penuh hikmah: "Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?" Sang Baduy dengan jujur mengaku tidak memiliki tumpukan amal sunnah yang melimpah, namun ia memegang teguh satu hal: kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya.

Reportase: Cinta Yang Menyatukan

Kiai Makhfudz kemudian mengutip hadis masyhur: Al-mar’u ma’a man ahabb, yang berarti "Seseorang akan bersama dengan siapa yang ia cintai." Beliau menjelaskan bahwa cinta adalah variabel penentu kedudukan seseorang di akhirat. Bagi mereka yang merasa belum mampu menandingi kualitas ibadah para sahabat atau ulama besar, kecintaan yang tulus adalah jalan pintas untuk mendapatkan syafaat. Jika hati seseorang benar-benar terikat dengan Rasulullah, para nabi, dan orang-orang saleh, maka Allah akan mengumpulkan mereka di akhirat kelak sesuai dengan ikatan cinta tersebut. Ini adalah pesan harapan yang mendalam, sekaligus pengingat bahwa di balik kesibukan duniawi, kedekatan batin dengan figur teladan menjadi hal yang paling utama.

Tak hanya berbicara soal cinta, Kiai Makhfudz juga mengajak jemaah untuk merefleksikan kesiapan diri menghadapi hari pembalasan. Beliau menekankan bahwa pertanyaan Rasulullah tentang "persiapan" bukanlah retorika kosong. Kesiapan itu harus diwujudkan melalui ibadah konkret seperti salat, puasa, sedekah, dan amal saleh lainnya. Beliau mengingatkan agar identitas sebagai warga Rifa’iyah harus tercermin dalam keseharian, yakni dengan meneladani ajaran Kanjeng Guru Sepuh KH. Ahmad Rifa’i yang berpusat pada ketaatan mutlak kepada syariat Islam dan kecintaan kepada Rasulullah.

Salah satu poin penting yang beliau soroti adalah mengenai konsep amar makruf nahi mungkar. Dalam ajaran Kanjeng Guru Sepuh, berdakwah mengajak kepada kebaikan memang sebuah kewajiban, namun cara mencegah kemungkaran harus dilakukan dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Kiai Makhfudz memperingatkan agar jemaah tidak gegabah dalam bertindak. Upaya memperbaiki orang lain yang dilakukan dengan cara yang salah justru berpotensi menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Hal ini menuntut kebijaksanaan, ilmu, dan kesabaran, bukan sekadar emosi sesaat.

Di akhir ceramahnya, Kiai Makhfudz menyampaikan sebuah refleksi kritis mengenai pemanfaatan fasilitas umat. Beliau menceritakan sebuah kisah tentang orang Arab yang enggan berinfak untuk pembangunan masjid di Indonesia karena melihat ketimpangan antara megahnya bangunan dengan minimnya aktivitas ibadah di dalamnya. Cerita ini menjadi sentilan keras bagi pengurus dan jemaah Rifa’iyah. Gedung yang megah di Watesalit ini tidak boleh hanya menjadi monumen bisu yang minim manfaat. Sebaliknya, gedung tersebut harus dihidupkan dengan berbagai kegiatan yang memberi dampak nyata bagi umat, sehingga pembangunan fisiknya sejalan dengan pembangunan spiritual jemaah. Dengan memaksimalkan fungsi gedung, setiap orang yang berkontribusi akan mendapatkan pahala jariyah yang terus mengalir.

Malam semakin larut, namun suasana di dalam gedung justru semakin hangat. Kebersamaan antar jemaah dari Pekalongan, Pemalang, dan Batang menjadi bukti nyata bahwa perbedaan wilayah bukanlah sekat, melainkan pelengkap dalam memperkokoh ukhuwah Rifa’iyah. Pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh K. Abrori dari Madukaran, yang memohon agar Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan, kesehatan, dan istiqomah bagi seluruh hadirin. Doa tersebut menjadi penutup yang manis, menyisakan kerinduan di hati jemaah untuk segera kembali berkumpul pada pertemuan selapanan berikutnya di Semego.

Peristiwa ini meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang hadir. Bahwa di tengah dunia yang semakin individualis, majelis ilmu seperti ini adalah oase yang menyegarkan. Cinta kepada Rasulullah SAW bukan hanya menjadi slogan, melainkan pengikat yang mampu menyatukan perbedaan, menghapus jarak, dan memotivasi umat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Reportase ini pun berakhir, namun semangat yang dipancarkan dari Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah di Watesalit akan terus beresonansi, menginspirasi jemaah untuk terus melangkah di atas jalan yang diridhai Allah SWT, berpegang teguh pada ajaran yang luhur, dan menantikan pertemuan-pertemuan penuh berkah di masa depan.

Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Related stories

More from Rifaiyah

View all →

Most viewed across the site