Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak Setiap Huruf

Main page Rifaiyah Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak…
From Bahas Gadgets dan Teknologi, the free news encyclopedia
Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak Setiap Huruf
Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak Setiap Huruf
Published: 21 August 2026
Author: Rifan Muazin Ar-Rifai
Category: Rifaiyah
Read time: 6 min read
Words: 1,105

Malam itu, di Mushola Al-Jailani yang terletak di kompleks Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Watesalit, Batang, Jawa Tengah, udara terasa begitu syahdu. Pada tanggal 12 Agustus 2026, sebuah majelis ilmu digelar dengan fokus utama membedah kedalaman Kitab Tahsinah—sebuah karya monumental tentang ilmu makhorij dan sifatil huruf yang disusun oleh ulama besar sekaligus pendiri organisasi, Syekh Ahmad Rifa’i. Acara yang merupakan bagian dari pengajian selapanan Pimpinan Pusat Rifa’iyah ini tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga menjangkau ribuan jemaah melalui siaran langsung di kanal YouTube Rifaiyah Media. Diampu oleh KH. Khairuddin Hasbullah, Wakil Ketua Dewan Syuro Rifa’iyah, didampingi oleh dua kiai muda dari Pekalongan, K. Akromuddin dan K. Abdul Basit Alhafidz, majelis ini menjadi ruang temu antara khazanah klasik pesantren dan teknologi komunikasi modern.

Majelis dibuka dengan pembacaan tawasul yang khidmat. Al-Fatihah dihaturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi’in, serta seluruh ulama dan auliya, dengan penekanan khusus kepada Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Jilani dan tentu saja, sang penyusun kitab, Syekh Ahmad Rifa’i. Kehangatan tampak jelas saat KH. Khairuddin menyapa para jemaah, baik yang memenuhi pelataran mushola maupun yang menyimak dari layar gawai masing-masing. Beliau sempat mengenang memori masa lalu bersama mendiang KH. Abdul Aziz Badri, ayah dari K. Abdul Basit, yang menambah suasana kekeluargaan. Kenangan tentang kebiasaan mendidik anak antara bermain bola dan mengaji menjadi pengingat bahwa ilmu agama di lingkungan pesantren selalu berpijak pada sanad yang bersambung melalui relasi guru-murid yang penuh kasih sayang.

Poin krusial yang diangkat dalam kajian ini adalah latar belakang penulisan Kitab Tahsinah. Syekh Ahmad Rifa’i menulis kitab ini di tengah keprihatinan mendalam terhadap kondisi keberislaman masyarakat Jawa pada zamannya. Mengutip catatan pengamat Belanda, Kiai Khairuddin menjelaskan bahwa saat itu praktik keislaman masyarakat cenderung terjebak pada ritual permukaan belaka. Syekh Ahmad Rifa’i, yang hidup sezaman dengan era perjuangan Pangeran Diponegoro, mengemban visi besar: ngesahna iman lan ibadahe wong Jawa (menyahihkan keimanan dan ibadah orang Jawa). Kitab Tahsinah lahir sebagai instrumen teknis untuk memperbaiki rukun qauli dalam salat, memastikan bahwa setiap muslim tidak hanya sekadar melafalkan bacaan, tetapi benar-benar menunaikan hak setiap huruf yang diucapkan dalam menghadap Allah SWT.

Sebelum masuk ke teknis tajwid, Kiai Khairuddin memberikan landasan teologis yang kokoh. Beliau mengutip Surah Al-Hujurat ayat 14 tentang perbedaan antara sekadar mengaku beriman dengan keimanan yang telah meresap ke dalam hati. Iman yang sah, menurut Syekh Ahmad Rifa’i, harus mencakup attaslimu wal inqiyadu—ketundukan dan kepatuhan mutlak. Hal ini diperkuat dengan kutipan Surah An-Nisa ayat 65, yang menegaskan bahwa seseorang belum dikatakan beriman jika ia masih memiliki rasa keberatan dalam menerima ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Dari fondasi akidah inilah, Kiai Khairuddin mengajak jemaah untuk melihat bahwa membenahi bacaan salat adalah bagian dari bentuk ketundukan total seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Dalam pembahasan rukun salat, Kiai Khairuddin membaginya ke dalam tiga kategori: rukun qalbi (niat), rukun fi’li (perbuatan anggota badan), dan rukun qauli (bacaan lisan). Terkait rukun qalbi, beliau memberikan solusi praktis bagi mereka yang sering terkena penyakit waswas. Menurutnya, niat cukup dengan qasd (menyengaja), ta’arrud (menentukan jenis ibadah), dan ta’yin (menentukan spesifikasi ibadah) tanpa harus membebani diri dengan detail yang melampaui kemampuan. Sementara untuk rukun fi’li, beliau optimis bahwa setiap orang dapat menguasainya dengan latihan rutin. Namun, perhatian utama malam itu adalah rukun qauli, mengingat lidah orang Indonesia sering kali memiliki tantangan tersendiri dalam melafalkan fonetik Arab sesuai standar tajwid yang benar.

Reportase Majelis Ilmu: Menjaga Hak Setiap Huruf

Inti dari kajian ini adalah definisi tajwid sebagai upaya memberikan kepada setiap huruf akan haknya (makhraj dan sifat) serta hak-hak yang timbul setelahnya. Kiai Khairuddin membedah sifat-sifat huruf dengan sangat detail. Salah satu pembahasan yang paling menarik adalah mengenai qalqalah. Beliau mengidentifikasi empat kesalahan umum yang sering terjadi: tercampurnya suara dengan harakat, akhiran suara yang menyerupai hamzah, pelafalan yang terlalu panjang (mengaret), serta albatr atau pantulan yang lemah. Dengan gaya bahasa yang membumi, beliau mengibaratkan qalqalah yang benar seperti melempar bola kastik yang memantul tegas, bukan seperti melempar kue klepon yang lembek. Perumpamaan ini berhasil membuat materi tajwid yang rumit menjadi lebih mudah dipahami oleh jemaah.

Suasana majelis tidak kaku. Kiai Khairuddin dengan cerdas menyisipkan permainan interaktif untuk mengetes pemahaman peserta. Pertanyaan-pertanyaan seperti sifat huruf atau makhraj tertentu dijawab dengan antusias oleh hadirin. Beliau juga mengajarkan teknik mnemonik untuk menghafal huruf-huruf jahr dan mahmusah dengan gerakan tangan dan tepuk irama. Hal ini mengubah kesan belajar tajwid yang biasanya dianggap membosankan menjadi sebuah pengalaman yang riang dan menyenangkan. Pesan beliau yang paling berkesan saat melihat jemaah mulai tampak lelah adalah, "Alhamdulillah kita dikasih kitab ini supaya pusing. Pusing berarti otak kita bekerja. Kalau otak kita bekerja, berarti waras." Kalimat jenaka ini menjadi penyemangat bagi jemaah untuk tidak menyerah dalam menuntut ilmu.

Selain teknis, aspek etika dalam mengoreksi bacaan juga dibahas dengan bijak. Kiai Khairuddin membedakan antara lahn jali (kesalahan fatal yang mengubah makna) dan lahn khafi (kesalahan ringan). Beliau menegaskan bahwa seorang guru memiliki kewajiban moral untuk mengoreksi muridnya demi menjaga amanah sanad. Namun, untuk orang awam di ruang publik, beliau menyarankan untuk berhati-hati karena adanya perbedaan riwayat qiraat yang sah. Beliau menenangkan hati jemaah yang merasa bacaannya masih terbata-bata dengan mengutip hadis riwayat Imam Muslim, yang menyatakan bahwa pembaca Al-Qur’an yang terbata-bata justru mendapatkan dua pahala: pahala membaca dan pahala atas usahanya dalam bersusah payah mempelajari firman Allah.

Menjelang akhir acara, sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Pertanyaan mengenai perbedaan riwayat Imam Hafsh dan Imam ‘Ashim menunjukkan tingginya minat jemaah terhadap kedalaman ilmu Al-Qur’an. Majelis pun ditutup dengan lantunan shalawat yang menggema, menciptakan suasana yang menenangkan sekaligus menggetarkan jiwa. Perjalanan ilmu malam itu menyadarkan kita semua bahwa upaya Syekh Ahmad Rifa’i untuk menyahihkan iman dan ibadah umat adalah tugas berkelanjutan. Selama masih ada generasi yang mau meluangkan waktu untuk duduk, membuka kitab, dan membenahi bacaan huruf demi huruf, selama itu pula warisan ulama besar ini akan tetap hidup dan terus mengalir melintasi zaman.

Majelis ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah manifestasi cinta kepada Al-Qur’an. Ketekunan dalam mendalami hal-hal kecil seperti makhraj dan sifat huruf adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Pemilik Kalam. Di era digital ini, teknologi ternyata bisa menjadi sarana efektif untuk memperluas jangkauan dakwah. Dengan memanfaatkan kanal YouTube, ilmu yang tadinya hanya bisa diakses oleh segelintir orang di lingkungan terbatas, kini bisa disaksikan oleh siapa saja di seluruh pelosok negeri. Semoga semangat yang ditunjukkan oleh Pimpinan Pusat Rifa’iyah dan para jemaah dalam majelis ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga kesucian bacaan Al-Qur’an sebagai bukti nyata ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan berakhirnya kajian ini, tersimpan harapan besar bahwa setiap huruf yang diucapkan dengan benar akan menjadi saksi kebaikan di hari akhir nanti, sebagaimana janji Allah bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama.

📁 Categories: Rifaiyah

Related News

Leave a Reply / Join Discussion

Your email address will not be published. Required fields are marked with *