0

K. Djazuli dan Masyayikh: Pilar Tarajumah Rifa’iyah dari Sundoluhur Pati

Share

K. Djazuli merupakan sosok sentral dalam peta dakwah Islam Tarajumah di wilayah Pantura timur Jawa Tengah, khususnya di Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Lahir pada tahun 1874 sebagai putra dari pasangan KH. Sidiq dan Nyai Kadimah, K. Djazuli tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan semangat pemurnian ajaran Islam. Ia bukan sekadar ulama lokal, melainkan pilar perjuangan yang menanamkan fondasi keilmuan Rifa’iyah yang kokoh bagi generasi penerusnya. Dalam silsilah keluarganya, K. Djazuli didampingi oleh saudara-saudara yang memiliki peran strategis, seperti K. Abdul Qohar yang dikenal sebagai pelindung dakwah dari ancaman ideologis pada masa-masa genting, serta Mbah Toyyibah dan Mbah Maryam yang menjadi simpul silaturahim antar ulama di wilayah Gabus dan Pasuruan Kayen.

K. Djazuli dan Masyayikh: Pilar Tarajumah Rifa’iyah dari Sundoluhur Pati

Perjalanan intelektual K. Djazuli dimulai dari didikan ayahandanya sendiri, KH. Sidiq, yang merupakan murid langsung dari KH. Abdul Qohar asal Bekiking, Rejosari, Kendal. KH. Sidiq dikenal sebagai tokoh pionir yang memperkenalkan ajaran Tarajumah di tanah Pati sekitar tahun 1920-an. Meski telah menimba ilmu di rumah, dahaga keilmuan K. Djazuli membawanya melakukan pengembaraan spiritual ke berbagai pesantren. Atas arahan ayahnya, ia nyantri ke Bekiking untuk memperdalam sanad keilmuan, lalu melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Tepuro di bawah asuhan KH. Abdul Mannan. Di Tepuro, ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh besar Rifa’iyah seperti KH. Abdul Syukur Baturejo dan KH. Suhbi Surodadi. K. Djazuli menonjol sebagai santri yang paling muda namun memiliki kecerdasan yang sangat tajam, menjadikannya modal utama dalam dakwahnya kelak.

Kehidupan pribadi K. Djazuli pun sarat dengan hikmah. Pertemuannya dengan Nyai Siti Fatimah bermula dari silaturahim ke kediaman H. Abu Bakar di Desa Talun. Dalam diskusi keilmuan yang mendalam mengenai rukun Islam, H. Abu Bakar melihat kedalaman adab dan keluasan ilmu K. Djazuli, yang kemudian berujung pada perjodohan. Dari pernikahan ini, lahir sembilan orang anak yang kemudian menjadi estafet perjuangan Rifa’iyah, di antaranya K. Ja’far, KH. Ali Zuhri, dan K. Ali Zuhdi. K. Djazuli dengan cermat menikahkan putra-putrinya dengan keturunan tokoh Rifa’iyah lainnya untuk memperkuat jaringan dakwah di Kabupaten Pati.

K. Djazuli dan Masyayikh: Pilar Tarajumah Rifa’iyah dari Sundoluhur Pati

Memasuki tahun 1950-an, K. Djazuli mendirikan pondok pesantren di Sundoluhur dengan sarana yang sangat sederhana. Namun, berkat jejaring keilmuan dan integritasnya, pesantren tersebut menjadi magnet bagi santri dari berbagai daerah seperti Demak, Kudus, dan Grobogan. Pesantren ini menjadi benteng pemurnian ajaran Islam melalui kajian tafsir, tauhid, dan fiqih Tarajumah. K. Djazuli dikenal sebagai pribadi yang sangat disiplin. Ia bahkan menggunakan metode unik untuk mendisiplinkan waktu shalat para santrinya, termasuk memasang benang yang terhubung ke lonceng masjid untuk membangunkan santri saat tahajud. Beliau wafat pada 18 Juni 1960 dan meninggalkan warisan berupa institusi pendidikan Miftahul Muhtadin yang terus berkembang hingga hari ini.

Tongkat estafet perjuangan kemudian diteruskan oleh putranya, KH. Ali Zuhri. Sebagai ulama yang visioner, KH. Ali Zuhri membawa perubahan signifikan dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah (YPIR) pada tahun 1965. Ia menyadari bahwa dakwah tidak hanya melalui pengajian kitab, tetapi harus melalui lembaga pendidikan formal yang terorganisir. Bersama tokoh-tokoh Rifa’iyah lainnya, ia merintis MI, MTs, dan RA Miftahul Muhtadin. KH. Ali Zuhri adalah sosok yang progresif; ia terbuka terhadap inovasi pendidikan namun tetap menjaga kemurnian sanad ajaran Rifa’iyah. Ia juga aktif membangun relasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan eksistensi jamaah Rifa’iyah di tengah dinamika sosial-politik masa itu.

K. Djazuli dan Masyayikh: Pilar Tarajumah Rifa’iyah dari Sundoluhur Pati

Kepemimpinan KH. Ali Zuhri ditandai dengan kedekatannya kepada umat. Beliau adalah sosok yang istiqamah dalam ibadah, bahkan dalam kondisi fisik yang lemah akibat stroke, ia tetap menjalankan shalat dhuha dengan cara merangkak. Beliau wafat pada tahun 1999, meninggalkan warisan pendidikan yang kuat dan jaringan dakwah yang luas. Di samping KH. Ali Zuhri, terdapat pula peran Kiai Ja’far, putra sulung K. Djazuli, yang dikenal sebagai sosok ahli tirakat dan penjaga integritas lisan. Kiai Ja’far memegang peranan penting sebagai penyeimbang spiritual. Kejujurannya yang luar biasa membuat setiap ucapannya dianggap sebagai doa yang mujarab. Kiai Ja’far lebih memilih berada di balik layar sebagai pengawal ibadah dan kemurnian syariat, sementara adiknya, KH. Ali Zuhri, tampil mengelola organisasi dan pendidikan.

Sinergi ketiganya—Kiai Ja’far, KH. Ali Zuhri, dan Kiai Ali Zuhdi—menjadi kekuatan besar di Sundoluhur. Kiai Ali Zuhdi sendiri, sebagai putra bungsu, dikenal sebagai ahli kitab kuning yang sangat mumpuni. Meskipun wafat di usia relatif muda, yaitu 40 tahun pada tahun 1985, kontribusinya dalam meletakkan fondasi administratif di MI Miftahul Muhtadin tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah sosok pembelajar yang haus ilmu dan petualang intelektual yang mendalam, yang menjadi rujukan dalam diskusi-diskusi keilmuan klasik di kalangan keluarga dan masyarakat.

K. Djazuli dan Masyayikh: Pilar Tarajumah Rifa’iyah dari Sundoluhur Pati

Ketiga sosok masyayikh dari Sundoluhur ini—K. Djazuli, KH. Ali Zuhri, dan Kiai Ja’far serta Kiai Ali Zuhdi—telah berhasil mentransformasikan tradisi lisan menjadi sistem pendidikan yang terlembaga. Mereka adalah bukti nyata bagaimana sebuah gerakan dakwah dapat bertahan melalui kombinasi antara integritas personal, keilmuan yang mendalam, dan manajemen organisasi yang visioner. Warisan mereka tidak hanya berupa bangunan fisik seperti masjid dan sekolah, melainkan juga kader-kader ulama muda yang tersebar di berbagai pelosok.

Pola pendidikan yang mereka terapkan sangat menekankan pada keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual. Mereka mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab dan ibadah hanyalah cangkang kosong. Oleh karena itu, di lingkungan pondok pesantren yang mereka asuh, kedisiplinan dalam menjalankan shalat berjamaah, tahajud, dan dhuha menjadi kurikulum utama yang tidak boleh ditinggalkan. Kesahajaan hidup para masyayikh ini menjadi teladan bagi para santri bahwa kemuliaan seorang ulama terletak pada pengabdiannya kepada Allah SWT dan umat, bukan pada popularitas duniawi.

K. Djazuli dan Masyayikh: Pilar Tarajumah Rifa’iyah dari Sundoluhur Pati

Hingga saat ini, jejak perjuangan K. Djazuli dan para putra-putranya tetap terasa kuat di Pati. Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah (YPIR) yang mereka bidani telah meluluskan ribuan santri yang kini tersebar di berbagai sektor pengabdian masyarakat. Mereka tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga sistem nilai yang menjaga kemurnian ajaran Tarajumah agar tetap relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Peran mereka sebagai pilar Tarajumah di Pati telah mengukuhkan Desa Sundoluhur sebagai salah satu pusat peradaban Islam Rifa’iyah yang sangat diperhitungkan.

Kisah tentang K. Djazuli dan para penerusnya adalah narasi tentang ketulusan dalam berjuang. Meskipun mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan ideologis hingga keterbatasan sarana pendidikan pada masa awal, mereka tidak pernah surut langkah. Mereka meyakini bahwa dakwah adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Melalui tulisan ini, kita diingatkan kembali akan pentingnya menjaga sanad keilmuan dan keteladanan para pendahulu. Warisan mereka adalah amanah bagi generasi masa kini untuk terus merawat api perjuangan, menjaga kemurnian ajaran, dan memperluas manfaat bagi kemaslahatan umat Islam, khususnya dalam naungan organisasi Rifa’iyah yang terus bergerak maju menuju masa depan yang lebih baik. Kesinambungan perjuangan yang dirintis oleh K. Djazuli sejak akhir abad ke-19 hingga kini menjadi bukti bahwa dakwah yang dibangun dengan landasan keikhlasan akan terus hidup, melampaui usia para pendirinya, dan menjadi amal jariyah yang tak pernah putus pahalanya.