0

Acha Septriasa Kolaborasi Buat Rumah Produksi, Berbisnis di Balik Layar

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Acha Septriasa, nama yang tak asing lagi di kancah perfilman Indonesia, kini kembali mengejutkan publik dengan langkah terbarunya yang merambah dunia bisnis. Tidak tanggung-tanggung, aktris kelahiran Jakarta, 1 September 1989 ini memutuskan untuk melebarkan sayapnya ke industri hiburan yang sudah membesarkan namanya, namun kali ini dari balik layar. Acha mendirikan sebuah rumah produksi bernama Avarta Media, sebuah langkah strategis yang menunjukkan keseriusannya untuk berkontribusi lebih dalam pada ekosistem perfilman nasional.

Keputusan Acha untuk terjun ke dunia bisnis rumah produksi bukanlah tanpa alasan. Ia melihat potensi besar dalam industri film Indonesia yang belum sepenuhnya tergali. "Kami men-create story yang relate dengan Indonesian culture, market and also kita bisa create story juga yang menginspirasi dan mengangkat hal-hal yang mungkin terlihatnya sedikit tabu untuk diomongin dengan society atau bisa diangkat ke dalam entertainment, tapi kita berusaha mengangkat hal-hal subtle yang terjadi di relationship, di sebuah fenomena dan lain-lain yang lain," ungkap Acha Septriasa dalam sebuah kesempatan di kawasan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pernyataan ini menegaskan visi Avarta Media yang ingin menyajikan cerita-cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia, menyentuh berbagai lapisan emosi, dan bahkan berani mengangkat isu-isu yang mungkin dianggap sensitif.

Dalam mengelola dan mengembangkan Avarta Media, Acha tidak sendiri. Ia berkolaborasi dengan dua pengusaha muda yang memiliki visi serupa, Arya dan Ardi Dharma. Kolaborasi ini diharapkan dapat memadukan kreativitas Acha yang kaya akan pengalaman di depan kamera dengan kejelian bisnis para mitranya. Avarta Media resmi memperkenalkan diri sebagai rumah produksi film dan hiburan yang memfokuskan diri pada pengembangan cerita yang memiliki kedalaman emosional, relevan secara budaya, serta mampu menjalin koneksi dengan pengalaman generasi modern. Acha dan timnya sangat meyakini bahwa film memiliki kekuatan lebih dari sekadar hiburan; ia bisa menjadi media yang membuat penonton merasa dilihat, dipahami, dan terhubung.

Sebagai seorang founder, Acha Septriasa memiliki keyakinan kuat bahwa masih banyak cerita lokal yang memiliki potensi luar biasa namun belum tergarap oleh rumah produksi lain. Bisnis barunya ini menjadi bukti nyata dari tekadnya untuk lebih serius berkarya di balik layar. "Makanya kami Avarta Media inginnya ke depannya mau menghadirkan cerita-cerita yang align dengan kehidupan apa pun, milenial, gen Z, bahkan nanti ada film anak-anak, gen alpha, yang menginginkan story-nya itu bisa didengar di masyarakat," tuturnya, menunjukkan ambisinya untuk menjangkau berbagai segmen penonton dengan cerita yang beragam.

Pengalaman Acha Septriasa di industri film Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Sebagai aktris peraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik, ia telah membintangi lebih dari 35 film sepanjang tahun 2005 hingga 2025. Pengalaman di depan kamera ini tentu memberikan perspektif yang unik dan mendalam tentang apa yang dibutuhkan oleh sebuah produksi film yang berkualitas. Selain pengalaman praktis, Acha juga didukung oleh latar belakang pendidikan yang relevan. Ia menempuh pendidikan film production dari Limkokwing University dan meraih gelar Bachelor of Arts in Mass Communication, Multimedia and Broadcasting dari Curtin University Australia. Kombinasi antara pengalaman industri dan pendidikan formal ini menjadi modal berharga bagi Avarta Media dalam menciptakan karya-karya unggul.

Kesiapan Avarta Media dalam meluncurkan proyek-proyeknya pun sudah terbilang matang. Salah satu proyek perdana yang akan digarap adalah adaptasi novel karya Ika Natassa yang berjudul "Satine" ke layar lebar. Kehadiran Ika Natassa dalam acara peluncuran Avarta Media turut menambah semarak. Ia mengungkapkan kebahagiaannya atas rencana adaptasi novelnya. "Senang banget beberapa bulan lalu aku dikontak soal rencana adaptasi salah satu novel yang aku tulis. Aku bisa bilang ini adalah satu novel yang aku tulis selama dua tahun. Mungkin bisa dibilang salah satu cerita paling personal," ungkap Ika Natassa. Novel "Satine" sendiri dikenal mengangkat tema cinta, penyembuhan, ambisi, dan pencarian jati diri, yang dianggap sangat sesuai dengan realitas yang dihadapi oleh generasi urban saat ini. Ika Natassa menambahkan, "Ini mengangkat cerita urban, di mana mereka yang tinggal di kota besar, ketika pulang dan sendirian, ternyata adalah pribadi-pribadi yang kesepian." Tema yang relevan dan dekat dengan kehidupan banyak orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Avarta Media untuk diangkat ke medium film.

Tidak berhenti di situ, Avarta Media juga telah mempersiapkan film lain yang tidak kalah menarik, yaitu "9 Aku, Love Heals". Film ini merupakan sebuah drama yang diproduksi bersama (co-production) dengan Shanaya Films. Proyek ini akan mengangkat kisah Wella, seorang perempuan asal Kediri yang berjuang hidup dengan Dissociative Identity Disorder (DID) atau gangguan identitas disosiatif. Kondisi DID yang dialaminya terbentuk dari trauma masa kecil akibat kekerasan dalam rumah tangga. Tema yang diangkat dalam film ini terbilang sensitif dan menantang, namun Avarta Media tampaknya siap untuk mengeksplorasinya dengan kedalaman yang tepat. Ardi Dharma, salah satu partner Acha, menyatakan, "Ini juga jadi proyek yang menantang mengingat sudah banyak novel Mbak Ika yang diadaptasi dan mendapat respons positif." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Avarta Media tidak hanya ingin membuat film yang menghibur, tetapi juga yang memiliki nilai edukatif dan mampu memicu diskusi positif di masyarakat.

Dengan berdirinya Avarta Media, Acha Septriasa membuktikan bahwa kiprahnya di industri film tidak hanya terbatas pada peran sebagai aktris. Ia kini menjelma menjadi seorang produser yang berani mengambil inisiatif dan berkontribusi secara lebih luas. Kolaborasinya dengan Arya dan Ardi Dharma, serta pemilihan proyek-proyek yang memiliki kedalaman cerita dan relevansi sosial, menunjukkan bahwa Avarta Media hadir untuk memberikan warna baru dalam peta perfilman Indonesia. Ke depan, Avarta Media diharapkan dapat melahirkan karya-karya berkualitas yang mampu menyentuh hati penonton, menginspirasi, dan mengangkat kekayaan budaya Indonesia ke kancah yang lebih luas. Langkah Acha Septriasa ini menjadi inspirasi bagi banyak pelaku seni peran untuk tidak hanya puas dengan apa yang sudah diraih, tetapi juga terus berinovasi dan mencari cara baru untuk berkarya dan memberikan dampak positif.