0

Orang Ini Klaim Matahari, yang Lain Disuruh Bayar Biaya Sewa

Share

Matahari, bintang pusat tata surya kita, telah bersinar selama kurang lebih 4,6 miliar tahun, menjadi sumber energi vital yang tak terhingga, menghangatkan Bumi, memungkinkan kehidupan, dan menggerakkan hampir seluruh proses alamiah di planet kita. Cahayanya adalah anugerah universal yang diterima oleh setiap makhluk hidup tanpa pandang bulu, sebuah commons kosmik yang tidak dapat diklaim atau dimonopoli oleh siapa pun. Atau setidaknya, begitulah anggapan umum yang dipegang teguh oleh umat manusia selama ribuan tahun. Namun, di tengah konsensus global ini, muncul sebuah gagasan yang begitu nyeleneh dan berani, menantang segala norma dan logika: klaim kepemilikan atas Matahari.

Angeles Duran, seorang perempuan asal Galicia, Spanyol, adalah sosok di balik klaim yang menggemparkan ini. Duran bukanlah seorang astronom, insinyur ruang angkasa, atau bahkan seorang miliarder yang memiliki ambisi untuk memonopoli sumber daya alam. Ia adalah seorang warga biasa yang, entah bagaimana, berhasil menginspirasi dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapa pun: menyatakan Matahari sebagai miliknya. Ide ini bukan sekadar lelucon atau pernyataan kosong; ia benar-benar melangkah maju dengan proses hukum, seolah-olah mengklaim sebidang tanah di Bumi, namun dalam skala yang jauh lebih besar dan, tentu saja, lebih fantastis.

Gagasan gila Duran tercetus pada September 2010. Pemicu inspirasinya adalah sebuah berita yang ia baca tentang seorang laki-laki asal Amerika Serikat bernama Dennis Hope, yang pada tahun 1980, secara kontroversial, mengklaim kepemilikan atas Bulan dan benda-benda langit lainnya. Hope bahkan mendirikan "Kedutaan Besar Lunar" dan mulai menjual "akta tanah" di Bulan kepada individu-individu di seluruh dunia. Jika seseorang bisa mengklaim Bulan, pikir Duran, mengapa tidak Matahari? Dengan keberanian yang luar biasa, Duran tidak hanya bermimpi; ia bertindak. Ia bahkan telah pergi ke notaris lokal di Spanyol guna mendaftarkan klaimnya, sebuah tindakan yang memberikan sentuhan formalitas pada ambisinya yang tidak biasa. Akta notaris tersebut, meskipun tidak memiliki kekuatan hukum internasional untuk mengukuhkan kepemilikan atas benda langit, secara efektif mencatat bahwa Angeles Duran menyatakan dirinya sebagai pemilik Matahari.

Inti dari argumen Duran terletak pada penafsirannya terhadap hukum internasional. Ia berpegang pada premis bahwa hukum internasional, khususnya Perjanjian Antariksa Luar Angkasa (Outer Space Treaty) tahun 1967, hanya melarang negara untuk mengklaim kedaulatan atas planet, bintang, atau benda langit lainnya. Perjanjian tersebut dirancang untuk mencegah perlombaan senjata di luar angkasa dan memastikan bahwa luar angkasa adalah "provinsi seluruh umat manusia" (the province of all mankind). Namun, Duran berargumen bahwa perjanjian tersebut tidak secara eksplisit melarang individu untuk melakukan klaim serupa.

"Tidak ada hambatan, saya mendukung klaim saya secara hukum, saya tidak bodoh, saya tahu hukumnya," ungkap Duran, dikutip dari Gizmodo. "Saya melakukannya tetapi orang lain bisa melakukannya, itu hanya terlintas di benak saya terlebih dahulu." Pernyataan ini menunjukkan keyakinannya yang teguh pada interpretasinya, seolah-olah ia menemukan celah hukum yang tersembunyi di dalam kerangka kerja yang telah disepakati oleh puluhan negara di seluruh dunia. Menurutnya, karena tidak ada undang-undang yang secara spesifik melarang individu untuk mengklaim benda langit, maka tindakannya adalah sah.

Namun, penafsiran Duran ini segera memicu perdebatan sengit di kalangan pakar hukum internasional dan antariksa. Mayoritas ahli sepakat bahwa klaim individu atas benda langit, meskipun tidak secara eksplisit dilarang untuk individu, secara implisit tidak diizinkan oleh semangat dan tujuan Perjanjian Antariksa Luar Angkasa. Konsep "provinsi seluruh umat manusia" berarti bahwa benda-benda langit adalah milik bersama, bukan untuk diklaim oleh entitas tunggal, baik itu negara maupun individu. Akta notaris yang diperoleh Duran hanya mengesahkan bahwa ia telah membuat pernyataan klaim, bukan bahwa klaim tersebut memiliki validitas hukum internasional. Dalam pandangan hukum internasional, Matahari tetaplah sebuah res communis omnium, atau milik bersama seluruh umat manusia, yang tidak dapat dimiliki oleh siapa pun.

Tidak berhenti pada klaim kepemilikan, Duran bahkan punya rencana bisnis yang ambisius. Ia berkata bahwa ia akan meminta orang-orang membayar biaya penggunaan Matahari. Sebuah ide yang sungguh luar biasa, mengingat Matahari adalah sumber cahaya dan panas yang tak terpisahkan dari keberadaan kita. Namun, jangan khawatir, uangnya tak sepenuhnya untuk dirinya saja—begitulah klaim Duran sendiri. Ia punya rencana distribusi dana yang cukup dermawan, meskipun sangat tidak realistis dalam pelaksanaannya.

Menurut Duran, dari setiap pendapatan yang berhasil ia kumpulkan dari "biaya sewa" Matahari, ia akan memberikan 50% dana ke pemerintah Spanyol, yang akan dialokasikan untuk kepentingan publik. Kemudian, 20% lagi akan disumbangkan ke dana pensiun, sebuah langkah yang mungkin akan disambut gembira oleh para pensiunan jika saja klaimnya sah. Selanjutnya, 10% akan didedikasikan untuk penelitian ilmiah, mungkin untuk lebih memahami Matahari itu sendiri atau bidang-bidang lain yang bermanfaat bagi umat manusia. Tidak ketinggalan, 10% lainnya akan disisihkan untuk mengakhiri kelaparan dunia, sebuah tujuan mulia yang sayangnya tidak mungkin tercapai melalui skema ini. Dan ‘hanya’ 10% yang tersisa akan menjadi bagian untuk dirinya sendiri.

"Dermawan banget, sih," mungkin itu yang terlintas di benak banyak orang ketika mendengar rincian pembagian dana ini. Duran tampaknya ingin memposisikan dirinya bukan sebagai seorang oportunis murni, melainkan sebagai seorang visioner dengan niat baik yang ingin menggunakan kekuasaan kepemilikan kosmiknya untuk kebaikan umat manusia. "Sudah saatnya untuk mulai melakukan sesuatu dengan cara yang benar, jika ada ide bagaimana menghasilkan pendapatan dan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, mengapa tidak dilakukan?" cetusnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia melihat idenya bukan sebagai lelucon, melainkan sebagai solusi inovatif untuk masalah-masalah global, sebuah cara untuk "menghasilkan pendapatan" dari sesuatu yang selama ini dianggap gratis.

Namun, pertanyaan besar yang tak terhindarkan adalah: bagaimana ia akan mengumpulkan "biaya sewa" ini? Siapa yang akan membayar? Bagaimana sistem penagihannya akan bekerja? Apakah ia akan menyewa penagih utang intergalaksi? Apakah negara-negara di dunia akan tunduk pada klaimnya dan mulai membayar sewa kepada Angeles Duran? Tentu saja, secara praktis, ide ini sama sekali tidak mungkin dilaksanakan. Tidak ada mekanisme hukum atau otoritas global yang akan mengakui klaim Duran, apalagi memaksakan pembayaran atas penggunaan Matahari.

Kisah Angeles Duran dengan cepat menyebar dan menjadi viral di seluruh dunia. Ia menjadi sensasi media, memicu perdebatan, tawa, dan kekaguman atas keberaniannya. Sebagian orang melihatnya sebagai tindakan seni performatif yang cerdas, sebuah kritik satir terhadap konsep kepemilikan dan kapitalisme yang merambah ke setiap aspek kehidupan. Yang lain melihatnya sebagai contoh ekstrem dari ambisi manusia yang tak terbatas, atau bahkan sebagai tanda ketidakrasionalan.

Terlepas dari validitas hukumnya yang nol, klaim Duran menyoroti isu-isu fundamental tentang kepemilikan di luar angkasa, sebuah topik yang semakin relevan seiring dengan kemajuan eksplorasi antariksa. Dengan rencana penambangan asteroid, pembangunan koloni di Bulan atau Mars, dan potensi pemanfaatan sumber daya di benda langit lainnya, pertanyaan tentang siapa yang memiliki apa di luar angkasa menjadi semakin mendesak. Apakah konsep kepemilikan pribadi, yang sangat berakar pada hukum terrestrial, dapat diterapkan secara efektif di ranah kosmik? Perjanjian Antariksa Luar Angkasa tahun 1967 adalah fondasinya, tetapi banyak yang berpendapat bahwa kerangka kerja ini perlu diperbarui atau diperluas untuk mengatasi tantangan-tantang baru yang muncul.

Kasus Angeles Duran, meskipun mungkin dianggap konyol oleh banyak pihak, secara tidak langsung memaksa kita untuk merenungkan batas-batas hukum, ambisi manusia, dan etika dalam konteks alam semesta yang luas. Ia mengingatkan kita bahwa meskipun Matahari adalah sumber kehidupan yang kita anggap remeh, keberadaannya sebagai "milik bersama" tidak dapat diganggu gugat, terlepas dari seberapa cerdiknya seseorang mencoba menemukan celah hukum.

Pada akhirnya, klaim Angeles Duran atas Matahari tetap menjadi sebuah anomali hukum dan sosial. Ini adalah pengingat yang mencolok bahwa imajinasi manusia tidak mengenal batas, bahkan ketika berhadapan dengan benda langit sebesar Matahari. Meskipun klaimnya mungkin tidak pernah diakui secara hukum, ia berhasil menyalakan percikan diskusi tentang siapa sebenarnya pemilik alam semesta—dan apakah kita, sebagai penghuni Bumi, berhak menarik garis kepemilikan di bintang-bintang.