Keberagaman adalah sunnatullah yang tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Sejak awal penciptaan, Allah SWT telah menanamkan benih perbedaan, baik dalam bentuk, warna kulit, bahasa, hingga cara pandang. Dalam konteks kehidupan beragama, perbedaan pemikiran dan ijtihad merupakan realitas yang niscaya. Namun, di tengah masyarakat kita saat ini, perbedaan sering kali disikapi dengan cara yang keliru, yakni dengan kebencian, perpecahan, hingga pelabelan sesat kepada sesama mukmin. Padahal, jika kita merujuk pada khazanah intelektual Islam yang mendalam, perbedaan sejatinya adalah rahmat yang memperkaya khazanah keilmuan dan memperluas cakrawala berpikir umat.
Salah satu rujukan besar dalam ilmu aqidah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kitab Maqalat al-Islamiyyin karya Imam al-Ash’ari. Hal yang paling luar biasa dari kitab ini bukan hanya kedalaman argumentasi teologisnya, melainkan sikap sang Imam yang tetap menempatkan kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dengannya dalam posisi yang terhormat. Beliau secara konsisten menyebut mereka sebagai al-musallun (orang-orang yang shalat) dan al-islamiyyun (orang-orang Islam). Sikap ini memberikan teladan emas bagi kita bahwa perbedaan pemikiran tidak lantas menghalalkan darah, merendahkan kehormatan, apalagi memutuskan tali persaudaraan.
Dikisahkan oleh para muridnya, menjelang kewafatannya, Imam al-Ash’ari menegaskan prinsip hidupnya: "Aku bersaksi bahwa aku tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat (umat Islam) ini, karena semuanya merujuk kepada Tuhan yang satu, dan sesungguhnya semua perbedaan ini hanyalah perbedaan dalam redaksi atau ungkapan." Pernyataan ini menjadi fondasi penting bagi kita untuk membangun dialog yang sehat dan inklusif. Ketika seorang ulama besar sekaliber Imam al-Ash’ari saja mampu menahan diri dari menghakimi sesama, maka sudah sepantasnya kita, yang jauh dari derajat keilmuan beliau, lebih berhati-hati dalam menjaga lisan dan hati kita dari prasangka buruk.
Jika kita tarik ke dalam konteks Indonesia saat ini, pesan persatuan di atas sangatlah faktual dan mendesak. Kita sering kali melihat di ruang publik, terutama di media sosial, betapa mudahnya lisan kita menghakimi sesama Muslim hanya karena perbedaan pilihan politik, perbedaan latar belakang organisasi masyarakat, atau perbedaan cara ibadah yang bersifat cabang (furu’iyyah). Kita seolah lupa bahwa di balik segala perbedaan tersebut, kita bersujud menghadap kiblat yang sama, mengimani Tuhan yang sama, dan meneladani Nabi yang sama. Perselisihan yang tajam sering kali berujung pada caci maki, pemutusan silaturahmi, hingga pelabelan negatif seperti "sesat" atau "ahli bid’ah" yang dilontarkan tanpa ilmu dan adab.
Padahal, Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Allah memerintahkan kita untuk mendamaikan pihak yang berselisih dan bertakwa kepada-Nya agar mendapatkan rahmat. Rahmat Allah tidak akan turun kepada masyarakat yang saling memusuhi dan memecah belah diri. Sebaliknya, rahmat Allah akan tercurah ketika kita mampu menumbuhkan sikap toleransi (tasamuh) di tengah keberagaman.

Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya dalam kesulitan, dan tidak boleh merendahkannya." Hadits ini merupakan rambu-rambu bagi kita untuk tidak merasa paling benar sendiri. Menganggap diri paling suci dan orang lain sebagai pihak yang salah adalah pintu masuk bagi kesombongan, yang justru menjauhkan kita dari hakikat ketakwaan.
Dalam kehidupan berbangsa di Indonesia, perbedaan adalah kekayaan yang harus dirawat. Keberagaman ormas, mazhab, dan pandangan politik bukanlah alasan untuk saling menjatuhkan. Justru, perbedaan tersebut harus dikelola menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Jika satu kelompok memiliki kelebihan di bidang sosial, kelompok lain mungkin unggul di bidang pendidikan atau ekonomi. Ketika semua potensi ini disatukan dalam bingkai persaudaraan, maka bangsa Indonesia akan tumbuh menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Penting untuk dipahami bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama salafus shalih adalah bentuk kasih sayang Allah bagi umat ini. Mereka berdebat dengan argumen, bukan dengan kebencian. Mereka saling menghormati meski berbeda kesimpulan hukum. Sikap inilah yang hilang dari generasi saat ini, di mana perbedaan dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai peluang untuk belajar.
Oleh karena itu, marilah kita kembali kepada nilai-nilai moderasi Islam. Jadikan perbedaan sebagai sarana untuk saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling menolong (ta’awun). Jangan biarkan perbedaan pilihan duniawi meruntuhkan bangunan ukhuwah yang telah dibangun oleh para pendahulu kita. Mari kita jaga lisan kita dari kata-kata yang menyakitkan, jaga hati kita dari kebencian, dan jaga tindakan kita agar selalu menyejukkan.
Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, mempersatukan langkah kita, dan membimbing kita untuk selalu menebar kedamaian di mana pun kita berada. Semoga bangsa Indonesia senantiasa dalam lindungan-Nya, menjadi bangsa yang rukun, damai, dan penuh dengan keberkahan dari langit dan bumi. Mari kita tutup khutbah ini dengan doa agar Allah menjadikan kita pribadi yang mampu merangkul, bukan memukul; pribadi yang mampu menyatukan, bukan mencerai-beraikan. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk terus mengamalkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

