0

PSSI Dihukum AFC Akibat Prosedur Laga Uji Coba Timnas U-23 Kontra Mali yang Bermasalah, Denda Tambahan Tiga Kali Lipat dari Sebelumnya

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) kembali menghadapi sanksi finansial dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Kali ini, sanksi tersebut dijatuhkan terkait dengan penyelenggaraan laga uji coba Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-23 melawan timnas Mali. Keputusan AFC menyebutkan bahwa PSSI dinilai melakukan kesalahan dalam menjalankan prosedur pertandingan internasional yang telah ditetapkan. Pelanggaran ini berakar pada ketidakpatuhan terhadap Pasal 11 Peraturan AFC yang Mengatur Pertandingan Internasional, khususnya pada poin terkait penyelenggaraan pertandingan internasional level 2. PSSI terbukti terlambat dalam mengajukan pemberitahuan pertandingan internasional yang melibatkan dua tim dari konfederasi yang berbeda, yaitu Asia (AFC) dan Afrika (CAF).

Laga uji coba yang menjadi sorotan ini terjadi sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 15 November 2025 dan 18 November 2025. Pertandingan tersebut dilaksanakan di periode jeda internasional, sebuah momentum yang seharusnya dimanfaatkan oleh timnas untuk meningkatkan performa dan strategi. Namun, kelalaian dalam administrasi pertandingan internasional ini berujung pada konsekuensi yang tidak diinginkan. Akibat pelanggaran prosedural tersebut, PSSI dijatuhi sanksi denda sebesar 1.500 Dolar Amerika Serikat (USD), yang jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah setara dengan Rp 25 juta. PSSI diwajibkan untuk melunasi denda ini paling lambat dalam kurun waktu 30 hari sejak tanggal penetapan keputusan dari AFC.

Dalam kutipan resmi keputusan AFC yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026, disebutkan, "Federasi Sepak Bola Indonesia diperintahkan untuk membayar denda sebesar US$ 1.500 (Rp25 juta), karena melanggar Pasal 11.15 Peraturan AFC yang Mengatur Pertandingan Internasional." Keputusan ini menambah daftar sanksi yang harus diterima PSSI dari AFC di awal tahun 2026. Sehari sebelumnya, pada tanggal 9 Februari, AFC juga telah menjatuhkan denda kepada PSSI sebesar 14.000 USD atau sekitar Rp 260 juta. Denda kedua yang lebih besar ini merupakan akibat dari pelanggaran yang terjadi pada ajang Piala Asia Futsal 2026, sebuah turnamen yang sangat penting bagi perkembangan futsal di Asia.

Denda yang dijatuhkan oleh AFC kepada PSSI bukanlah kali pertama terjadi. Dalam beberapa waktu terakhir, PSSI telah beberapa kali mendapat teguran dan sanksi finansial dari badan sepak bola tertinggi di Asia. Hal ini menunjukkan adanya indikasi kurangnya perhatian terhadap regulasi dan prosedur internasional yang telah ditetapkan oleh AFC. Dalam kasus uji coba Timnas U-23 melawan Mali, pelanggaran yang terjadi adalah keterlambatan dalam pengajuan pemberitahuan pertandingan internasional. Meskipun terlihat sebagai pelanggaran administratif semata, hal ini memiliki implikasi yang lebih luas dalam konteks penyelenggaraan sepak bola internasional yang terstruktur.

Pasal 11 Peraturan AFC yang Mengatur Pertandingan Internasional mengatur secara rinci mengenai tata cara penyelenggaraan pertandingan persahabatan internasional, termasuk kewajiban bagi federasi anggota untuk memberitahukan rencana pertandingan kepada AFC dalam jangka waktu tertentu sebelum pelaksanaan. Pemberitahuan ini penting untuk memastikan bahwa pertandingan tersebut sesuai dengan kalender internasional, tidak bertabrakan dengan jadwal kompetisi resmi, dan telah memenuhi standar keamanan serta regulasi yang berlaku. Keterlambatan dalam pengajuan pemberitahuan dapat menimbulkan kerancuan dalam penjadwalan dan koordinasi antar federasi, serta potensi ketidaksesuaian dengan peraturan FIFA terkait pertandingan internasional.

Menariknya, kedua tim yang terlibat dalam uji coba ini berasal dari konfederasi yang berbeda. Timnas Indonesia U-23 mewakili Asia (AFC), sementara timnas Mali berasal dari Afrika (CAF). Pertandingan antar tim dari konfederasi yang berbeda memang seringkali diselenggarakan untuk memberikan pengalaman internasional yang lebih luas dan beragam bagi para pemain. Namun, penyelenggaraan pertandingan lintas konfederasi ini memerlukan koordinasi yang lebih intensif dan kepatuhan yang lebih ketat terhadap regulasi yang berlaku, baik dari AFC maupun CAF. Keterlambatan dalam proses administrasi dapat menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan PSSI dalam mengelola pertandingan berskala internasional.

Nilai denda sebesar 1.500 USD atau Rp 25 juta, meskipun tidak sebesar denda sebelumnya terkait Piala Asia Futsal, tetap menjadi pengingat penting bagi PSSI. Angka ini mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan total anggaran operasional PSSI, namun implikasinya bisa lebih besar. Sanksi denda dari AFC tidak hanya berarti kerugian finansial, tetapi juga dapat mencerminkan citra PSSI di mata federasi sepak bola internasional. Reputasi yang buruk dapat mempengaruhi peluang PSSI untuk mendapatkan dukungan, fasilitas, atau bahkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah kompetisi internasional di masa depan.

Perlu dicatat bahwa denda kedua di awal tahun 2026 ini menunjukkan adanya pola pelanggaran yang berulang. Denda pertama terkait Piala Asia Futsal 2026 juga merupakan pelanggaran terhadap regulasi AFC. Hal ini mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang perlu dievaluasi secara mendalam di dalam internal PSSI, terutama terkait dengan pemahaman dan penerapan regulasi internasional. Apakah ada kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dalam urusan administrasi internasional? Apakah sistem pelaporan dan koordinasi internal masih lemah? Atau adakah kurangnya kesadaran akan pentingnya ketepatan waktu dalam setiap proses administratif?

Menghadapi situasi ini, PSSI diharapkan dapat melakukan introspeksi diri secara serius. Perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap departemen yang bertanggung jawab atas urusan internasional dan kompetisi. Pelatihan bagi staf yang relevan mengenai regulasi AFC dan FIFA perlu ditingkatkan. Pembentukan sistem peringatan dini atau checklist yang ketat untuk setiap proses administrasi pertandingan internasional dapat menjadi salah satu solusi preventif. Selain itu, komunikasi yang lebih proaktif dan transparan dengan AFC serta federasi sepak bola lainnya juga sangat krusial.

Denda yang dijatuhkan AFC bukanlah sekadar pungutan finansial, melainkan sebuah peringatan dan teguran yang harus menjadi momentum perbaikan bagi PSSI. Dengan semakin ketatnya regulasi dan standar sepak bola internasional, PSSI harus mampu beradaptasi dan menunjukkan profesionalisme yang tinggi dalam setiap aspek penyelenggaraan sepak bola, baik di tingkat domestik maupun internasional. Kepatuhan terhadap regulasi bukan hanya tentang menghindari sanksi, tetapi juga tentang membangun fondasi yang kuat untuk kemajuan sepak bola Indonesia secara keseluruhan.

Dampak dari pelanggaran prosedural ini juga bisa meluas ke aspek teknis pertandingan. Keterlambatan pemberitahuan dapat mempengaruhi proses perizinan, akomodasi, hingga kebutuhan logistik lainnya yang diperlukan untuk kelancaran sebuah pertandingan internasional. Meskipun Timnas U-23 melawan Mali adalah laga uji coba, standar penyelenggaraan yang ditetapkan oleh AFC tetap harus dipenuhi demi menjaga integritas dan profesionalisme sepak bola. Dengan adanya denda ini, diharapkan PSSI akan lebih berhati-hati dan cermat dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan pertandingan internasional di masa mendatang. PSSI harus membuktikan bahwa mereka mampu menjadi organisasi sepak bola yang modern dan patuh pada aturan internasional, demi kemajuan sepak bola Indonesia.