0

Turba PP AMRI ke Jambi, Warga Rifa’iyah Bentuk Kepengurusan Wilayah

Share

Perjalanan safari organisasi atau Turun Bawah (Turba) yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat (PP) Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) kini telah mencapai titik strategis di Pulau Sumatera. Setelah sukses melaksanakan agenda konsolidasi di wilayah Sumatera Selatan, rombongan PP AMRI melanjutkan langkah dakwah dan penguatan kelembagaan di Provinsi Jambi pada 15 Mei 2026. Momentum ini menjadi tonggak sejarah penting bagi eksistensi Rifa’iyah di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, di mana warga Rifa’iyah setempat secara resmi membentuk kepengurusan tingkat wilayah untuk memperkuat basis dakwah dan kaderisasi.

Agenda yang dikemas dalam bentuk Silaturahim Warga Rifa’iyah sekaligus Musyawarah Wilayah (Musywil) PW Rifa’iyah dan AMRI Provinsi Jambi tersebut diselenggarakan di kediaman tokoh masyarakat yang juga merupakan mantan anggota DPRD Kabupaten Sarolangun dua periode, KH. Ali Toha, S.Ag. Pertemuan yang bertempat di Desa Payo Lebar, Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun ini berlangsung dengan penuh khidmat, mencerminkan semangat ukhuwah yang kental di antara para pengurus dan warga yang hadir.

Meski kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 15 peserta utama karena kendala geografis dan luasnya wilayah Provinsi Jambi yang menyulitkan mobilitas warga dari daerah lain, esensi dari musyawarah tersebut tetap tercapai dengan baik. KH. Ali Toha, dalam paparannya, memberikan gambaran mendalam mengenai peta demografi dan persebaran warga Rifa’iyah di Jambi. Berdasarkan pengalamannya sebagai mantan legislator yang memahami seluk-beluk kewilayahan, ia memetakan bahwa warga Rifa’iyah telah tersebar di berbagai titik, seperti di wilayah Sarolangun, Merangin, hingga beberapa daerah perlintasan lintas Sumatera. Namun, ia juga mengakui bahwa masih banyak warga Rifa’iyah di pelosok Jambi yang belum terdata secara administratif dan belum memiliki akses langsung ke struktur organisasi pusat. Hal inilah yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kepengurusan baru untuk segera melakukan pendataan menyeluruh.

Dalam forum Musywil tersebut, keputusan krusial diambil dengan membentuk struktur PW Rifa’iyah dan PW AMRI Provinsi Jambi. Langkah ini dipandang sebagai bentuk keseriusan dalam melembagakan ajaran dan nilai-nilai Rifa’iyah agar lebih terorganisir, masif, dan memiliki payung hukum yang jelas di mata pemerintah.

Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq, M.Pd., dalam sambutannya di hadapan para peserta, menyampaikan orasi yang menggugah semangat. Ia menegaskan bahwa perjuangan Rifa’iyah tidak boleh terhenti di Pulau Jawa saja, melainkan harus terus meluas ke seluruh penjuru Nusantara. “Kita tidak akan berhenti berjuang sebelum menyatukan warga Rifa’iyah di seluruh Nusantara, sebagaimana Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya,” ujar Abdul Kholiq dengan penuh penekanan. Semangat inilah yang menjadi bahan bakar bagi PP AMRI untuk terus menyambangi berbagai provinsi di luar Jawa guna melakukan sinkronisasi gerak langkah.

Lebih lanjut, Abdul Kholiq memaparkan strategi utama dalam membumikan ajaran KH. Ahmad Rifa’i ibn Muhammad. Menurutnya, salah satu cara yang paling efektif adalah melalui distribusi dan pendalaman kitab-kitab MPKT (Madrasah Pendidikan Kitab Tarajumah) yang disusun oleh para masyayikh Rifa’iyah dari Pati. Dengan mempelajari kitab-kitab tersebut, warga Rifa’iyah di Sumatera tidak hanya akan mendapatkan pemahaman keagamaan yang murni, tetapi juga akan merasa terhubung secara emosional dan intelektual dengan pusat peradaban Rifa’iyah di tanah Jawa.

Turba PP AMRI ke Jambi, Warga Rifa’iyah Bentuk Kepengurusan Wilayah

Dalam sektor kaderisasi, Abdul Kholiq memberikan penawaran strategis bagi generasi muda Rifa’iyah di Jambi. Ia mengajak para pemuda untuk tidak ragu terjun ke dunia pesantren. PP AMRI bahkan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi santri asal Sumatera yang ingin menimba ilmu di pesantren-pesantren Rifa’iyah di Pulau Jawa. Selain itu, bagi mahasiswa yang berada di tanah Sumatera, ia mendorong pembentukan dan penguatan Ikatan Mahasiswa Rifa’iyah (IMR) sebagai wadah intelektual. IMR diproyeksikan menjadi laboratorium kader muda yang kritis, kreatif, dan mampu mengawal kebijakan organisasi di masa depan.

Salah satu poin penting yang ditekankan oleh Abdul Kholiq adalah mengenai legalitas formal organisasi. Ia secara tegas menginstruksikan agar kepengurusan PW Rifa’iyah dan PW AMRI Provinsi Jambi yang baru terbentuk segera mendaftarkan diri ke Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) setempat. Langkah administratif ini sangat vital agar organisasi memiliki kedudukan hukum yang sah, memudahkan akses komunikasi dengan pemerintah daerah, serta memberikan rasa aman bagi warga dalam menjalankan aktivitas keagamaan dan sosial di tengah masyarakat.

Turba PP AMRI ke Jambi ini bukan sekadar kunjungan seremonial belaka. Kegiatan ini menjadi sinyal kuat bahwa organisasi Rifa’iyah sedang bertransformasi menjadi entitas yang lebih modern dan adaptif. Meskipun jumlah warga di Jambi saat ini belum mencapai angka yang sangat besar, namun kualitas komitmen dan semangat kaderisasi yang ditunjukkan oleh warga Rifa’iyah di Jambi membuktikan bahwa benih-benih dakwah Tarajumah telah berakar kuat di Bumi Melayu.

Kehadiran sosok seperti KH. Ali Toha di dalam kepengurusan wilayah memberikan legitimasi dan kepercayaan diri bagi anggota lainnya. Dengan pengalaman organisasinya, ia diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk merangkul warga Rifa’iyah yang masih tersebar di pelosok-pelosok Jambi. Sinergi antara kebijakan strategis dari PP AMRI dan kearifan lokal dari tokoh-tokoh daerah seperti KH. Ali Toha diyakini akan menjadi kunci sukses pengembangan dakwah Rifa’iyah di Sumatera.

Di akhir pertemuan, suasana haru sekaligus optimisme menyelimuti para peserta. Mereka menyadari bahwa tanggung jawab untuk menjaga marwah ajaran KH. Ahmad Rifa’i di wilayah Jambi kini berada di pundak mereka. Dengan terbentuknya struktur organisasi yang jelas, diharapkan komunikasi antara daerah dan pusat akan lebih lancar, distribusi literatur keagamaan lebih merata, dan program-program pemberdayaan umat dapat segera dieksekusi.

Kegiatan Turba ini ditutup dengan sesi doa bersama demi kelancaran dakwah Rifa’iyah di seluruh Indonesia. Perjalanan panjang PP AMRI melintasi provinsi demi provinsi di Sumatera merupakan bukti nyata bahwa komitmen untuk "Menyatukan Warga Rifa’iyah di Seluruh Nusantara" bukanlah sekadar slogan, melainkan kerja keras yang terus diupayakan dengan penuh keikhlasan. Bumi Melayu Jambi kini telah resmi menjadi bagian dari jaringan kuat Rifa’iyah, siap bergerak maju membawa risalah keislaman yang moderat, toleran, dan berlandaskan pada karya-karya ulama salaf yang agung.

Seiring berjalannya waktu, diharapkan keberadaan PW Rifa’iyah dan PW AMRI Jambi dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun kemasyarakatan. Dengan semangat "Sumpah Palapa" yang dikobarkan oleh Ketum PP AMRI, masa depan Rifa’iyah di Sumatera tampak cerah dan penuh dengan harapan baru untuk terus menebar kebaikan bagi umat dan bangsa.