Rif'an Muazin
Senin, 12 Oktober 2026 | 19.50 WIB

Toa Masjid Indonesia Bisa Jadi Sistem Peringatan Dini Gempa

Jakarta – Indonesia, sebuah negara kepulauan yang terletak di Cincin Api Pasifik, secara inheren rentan terhadap bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami. Dengan ribuan pulau dan jutaan penduduk yang tersebar dari perkotaan padat hingga daerah terpencil, tantangan dalam membangun sistem peringatan dini yang efektif dan merata selalu menjadi prioritas sekaligus hambatan besar. Namun, sebuah inovasi revolusioner kini sedang diuji coba: pemanfaatan pengeras suara atau toa masjid, yang tersebar luas di seluruh nusantara, sebagai bagian integral dari sistem peringatan dini gempa bumi. Langkah visioner ini diharapkan dapat menjangkau komunitas di daerah paling terpencil sekalipun, memberikan waktu berharga bagi warga untuk menyelamatkan diri sebelum guncangan tiba dan berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa.

Gagasan brilian ini berawal hampir dua dekade lalu, tepatnya setelah Dr. Inoue Hiroshi, seorang ilmuwan kebencanaan dari Disaster Prevention Research Institute di Kyoto University, Jepang, meneliti dampak gempa bumi mematikan di Sumatra pada tahun 2009. Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 1.000 orang, sebuah tragedi yang meninggalkan jejak mendalam. Inoue menyadari bahwa banyak dari korban tersebut mungkin tidak akan meninggal jika saja ada sistem peringatan yang mampu memberi tahu masyarakat beberapa saat sebelum guncangan terjadi. "Saya berpikir, jika Indonesia memiliki layanan yang sama dan masyarakat menerima peringatan sebelum guncangan datang, banyak orang dari ratusan korban tersebut mungkin tidak akan meninggal," tuturnya, seperti dikutip dari The Guardian pada Senin (12/10/2026). Dari refleksi inilah, benih-benih ide untuk memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, yang dikenal dan dipercaya oleh masyarakat, mulai tumbuh.

Uji coba sistem ini dirancang untuk berlangsung selama lima tahun, dengan target penyelesaian pada tahun 2030. Selama periode ini, tim peneliti akan secara cermat menilai efektivitas dan kelayakan pengeras suara masjid, yang secara rutin mengumandangkan azan lima kali sehari, untuk difungsikan sebagai alarm peringatan gempa. Dr. Inoue Hiroshi menekankan potensi besar ini, menyatakan, "Setiap komunitas memiliki masjid." Keberadaan masjid yang tersebar luas di berbagai komunitas menjadikannya sarana penyebaran peringatan bencana yang sangat strategis dan memiliki jangkauan yang tak tertandingi oleh infrastruktur lain.

Indonesia memang menghadapi tantangan geografis yang unik dalam membangun sistem peringatan bencana. Wilayahnya yang sangat luas, terdiri dari ribuan pulau dan pegunungan, membuat sejumlah daerah sulit dijangkau oleh infrastruktur komunikasi modern seperti menara seluler atau jaringan internet yang stabil. Namun, di tengah tantangan ini, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa: infrastruktur pengeras suara masjid yang sudah tersedia, terawat, dan rutin digunakan. Dengan jumlah masjid yang mencapai ratusan ribu, pengeras suara ini berpotensi menjadi jaringan alarm bencana terbesar dan paling terintegrasi di dunia.

Dalam proyek percontohan ini, beberapa masjid telah secara khusus terhubung dengan jaringan sensor seismik canggih. Ketika sensor mendeteksi aktivitas seismik yang berpotensi menyebabkan gempa signifikan, sinyal peringatan akan secara otomatis dikirimkan ke sistem pusat, yang kemudian akan memicu pengeras suara masjid untuk membunyikan alarm atau menyampaikan pesan peringatan. Menurut Inoue, sistem peringatan dini gempa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mendeteksi aktivitas seismik. Jaringan alarm juga harus tersedia, berfungsi optimal, dan yang terpenting, terawat ketika dibutuhkan.

Inilah letak keunggulan pengeras suara masjid. "Keunggulan pengeras suara masjid adalah perangkatnya sudah tersedia dan terawat dengan baik," kata Inoue. Ia menambahkan bahwa pemeliharaan merupakan salah satu tantangan terbesar dalam penyediaan infrastruktur kebencanaan. Seringkali, sistem peringatan dini yang dibangun dengan biaya tinggi menjadi tidak berfungsi karena kurangnya perawatan rutin. Pengeras suara masjid, di sisi lain, memiliki kelebihan karena perawatannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat, terutama oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan jamaah. Hal ini menjamin keberlanjutan fungsi sistem dan mengurangi beban pemeliharaan pemerintah.

Sistem ini juga menawarkan alternatif yang sangat kuat bagi peringatan yang mengandalkan telepon seluler. Meskipun peringatan berbasis ponsel telah menjadi standar di banyak negara, gempa bumi berpotensi mengganggu infrastruktur komunikasi secara masif. Jaringan listrik dapat padam, menara seluler bisa roboh, dan sinyal telepon bisa terputus, sehingga penyampaian peringatan melalui ponsel tidak selalu dapat diandalkan pada saat yang paling krusial. Pengeras suara masjid, yang seringkali memiliki sumber daya listrik cadangan atau bahkan dapat dioperasikan secara manual, menawarkan tingkat ketahanan yang lebih tinggi dalam situasi darurat.

Toa Masjid Indonesia Bisa Jadi Sistem Peringatan Dini Gempa

Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Eka Sakya, yang memimpin tim riset bersama dari Indonesia, menilai inisiatif ini berpotensi menjadi terobosan signifikan dalam sistem peringatan dini gempa. Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang cukup canggih sejak tahun 2008, yang dibangun pasca-tsunami Aceh 2004 yang memilukan. Namun, peringatan gempa bumi menghadapi tantangan tersendiri karena gelombang seismik merambat melalui tanah dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Andi menjelaskan bahwa bagi desa yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat gempa, waktu yang tersedia untuk merespons sebelum guncangan tiba mungkin hanya lima hingga sepuluh detik. Jeda waktu yang sangat singkat ini menuntut sistem peringatan yang sangat cepat dan efisien dalam penyampaiannya. Setiap detik yang didapatkan dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati, memungkinkan warga untuk mencari perlindungan, keluar dari bangunan, atau setidaknya mengambil posisi aman. "Ini masih berupa prototipe dan belum digunakan untuk mengirimkan peringatan kepada masyarakat," ucap Andi, menekankan bahwa sistem ini masih dalam tahap pengembangan dan pengujian ketat. Ia menjelaskan bahwa tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat mendapatkan peringatan sedini mungkin sehingga dapat segera mengambil tindakan penyelamatan yang diperlukan.

Proyek penelitian ini dijadwalkan berlangsung hingga tahun 2030, menandakan komitmen jangka panjang dari kedua belah pihak, Jepang dan Indonesia. Selain memanfaatkan pengeras suara masjid, tim peneliti juga mengkaji kemungkinan penggunaan pengeras suara di sekolah-sekolah serta siaran radio dan televisi untuk menyebarkan peringatan bencana. Pendekatan multi-platform ini akan menciptakan jaringan peringatan yang lebih komprehensif, menjangkau berbagai segmen masyarakat dan meminimalkan "titik buta" komunikasi. Misalnya, siaran radio dan televisi dapat menjadi saluran vital untuk informasi lebih lanjut pasca-peringatan awal dari masjid, memberikan instruksi evakuasi atau informasi mengenai jalur aman.

Pemanfaatan pengeras suara masjid untuk peringatan bencana bukan hanya dikaji di Indonesia. Inspirasi serupa juga telah muncul di belahan dunia lain. Uni Emirat Arab, misalnya, sebelumnya mempertimbangkan pengeras suara masjid sebagai bagian dari jaringan alarm yang lebih luas untuk memperingatkan masyarakat jika terjadi kebocoran radiasi di pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah. Hal ini menunjukkan pengakuan global terhadap peran strategis masjid sebagai pusat komunikasi komunitas.

Contoh lain yang menonjol datang dari Uzbekistan. Negara di Asia Tengah ini menjalankan proyek percontohan dengan rencana pemasangan perangkat alarm di 272 masjid. Sistem tersebut dirancang untuk memperingatkan masyarakat mengenai berbagai bencana alam seperti banjir, aliran lumpur, tanah longsor, dan longsoran salju. Program di Uzbekistan turut melibatkan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), yang menjelaskan bahwa pemilihan masjid sebagai lokasi perangkat alarm bukan tanpa alasan. Masjid dianggap sebagai pusat komunitas yang terpercaya dan memiliki jangkauan luas di daerah pedesaan, serupa dengan kondisi di Indonesia. Pelajaran dari pengalaman negara-negara ini dapat memberikan wawasan berharga bagi pengembangan sistem di Indonesia.

Di Indonesia, uji coba hingga tahun 2030 ini akan menjadi krusial dalam menilai sejauh mana jaringan pengeras suara masjid dapat secara efektif mendukung sistem peringatan dini gempa. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam upaya mitigasi bencana nasional, membantu masyarakat di wilayah terpencil memperoleh informasi lebih cepat sebelum guncangan terjadi. Gambar bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kabupaten Manggarai yang rusak parah akibat gempa bumi pada Kamis (20/8/2026) silam, sebagaimana dilansir ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF, adalah pengingat yang menyakitkan akan urgensi sistem peringatan dini yang andal. BNPB mencatat sebanyak 804 fasilitas pendidikan terdampak bencana gempa bumi NTT pada saat itu, menunjukkan betapa rentannya infrastruktur dan pentingnya setiap detik peringatan.

Pada akhirnya, proyek inovatif ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang pemberdayaan komunitas. Dengan melibatkan masjid dan masyarakat lokal dalam pemeliharaan dan operasional sistem, Indonesia tidak hanya membangun infrastruktur peringatan dini, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dalam menghadapi ancaman bencana. Ini adalah langkah maju yang signifikan menuju masa depan di mana setiap warga negara, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang lebih baik untuk selamat dari amukan gempa bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Anda Lewatkan