0

Teriakan ‘Matilah Amerika’ Bergema di Pemakaman Khamenei

Share

Teheran diselimuti suasana duka yang mencekam sekaligus penuh amarah saat upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai pada Sabtu (4/7/2026). Di tengah kompleks keagamaan Grand Mosalla yang luas, ribuan pelayat tumpah ruah, mengubah momen perpisahan kenegaraan menjadi panggung demonstrasi kekuatan yang masif terhadap musuh-musuh Republik Islam Iran, khususnya Amerika Serikat. Langit pagi Teheran seolah bergetar oleh lantunan yel-yel "Matilah Amerika" dan seruan "Balas dendam, balas dendam" yang diteriakkan secara serempak oleh lautan manusia yang mengenakan pakaian serba hitam.

Para pelayat yang hadir tampak membawa spanduk-spanduk berwarna merah menyala, yang dalam tradisi Syiah melambangkan tuntutan akan pembalasan darah yang tumpah secara tidak adil. Atmosfer di lapangan sangat emosional, di mana kesedihan atas kehilangan pemimpin spiritual bercampur dengan militansi politik yang kental. Otoritas Iran memprediksi bahwa skala kehadiran ini akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah modern negara tersebut. Diperkirakan antara 15 hingga 20 juta orang akan memberikan penghormatan terakhir di Teheran selama tiga hari ke depan, dengan rangkaian prosesi pemakaman yang akan memakan waktu total selama enam hari di berbagai wilayah.

Seorang warga bernama Somayye Hamedi, yang rela menempuh perjalanan jauh dan menunggu sejak Jumat malam, mengungkapkan bahwa kelelahan fisik sama sekali tidak dirasakan oleh para pelayat. "Kami ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada pemimpin kami, itulah sebabnya menunggu seperti ini tidak menyakitkan atau sulit bagi kami," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Komitmen warga untuk hadir di lokasi pemakaman menunjukkan betapa dalamnya pengaruh Khamenei bagi basis pendukungnya. Antrean panjang yang mencapai kilometer membentang di jalanan Teheran, menciptakan pemandangan yang belum pernah terlihat sejak pemakaman pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989.

Keamanan di ibu kota Iran saat ini berada dalam level siaga tertinggi. Pihak berwenang telah menerapkan langkah-langkah pengamanan yang sangat ketat, termasuk penutupan sejumlah ruas jalan utama, pengalihan lalu lintas, dan penutupan wilayah udara guna mencegah potensi ancaman selama prosesi berlangsung. Militer dan pasukan keamanan dikerahkan di setiap sudut kota untuk memastikan bahwa acara kenegaraan yang sangat sensitif ini berjalan tanpa gangguan. Fokus pemerintah Iran adalah menjaga stabilitas di tengah transisi kekuasaan yang krusial ini, sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Iran tetap bersatu di bawah tekanan internasional.

Prosesi pemakaman ini dirancang sebagai perjalanan panjang melintasi jantung keagamaan Syiah. Setelah disemayamkan di Grand Mosalla hingga Senin, peti jenazah Khamenei akan diarak menyusuri jalan-jalan utama Teheran, di mana warga dari berbagai penjuru negara akan memberikan penghormatan terakhir. Pada hari Selasa, perjalanan berlanjut menuju kota suci Qom, pusat pembelajaran keagamaan Syiah, sebelum peti jenazah dibawa melintasi perbatasan menuju Irak. Di sana, akan dilakukan prosesi di kota-kota suci bagi Muslim Syiah, sebuah simbol persatuan lintas batas bagi pengikut aliran tersebut. Puncaknya, pada Kamis mendatang, jenazah akan dikebumikan di kota kelahirannya, Mashhad, di timur laut Iran, yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir sang pemimpin.

Kehadiran delegasi internasional dalam penghormatan terakhir ini mencerminkan kompleksitas geopolitik yang dihadapi Iran. Pada Jumat (3/7), sejumlah tokoh dunia telah hadir memberikan penghormatan. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, hadir sebagai utusan yang membawa misi diplomatik, mengingat peran strategis Pakistan sebagai mediator potensial antara Iran dan Amerika Serikat dalam meredam ketegangan di kawasan. Selain itu, mantan presiden Rusia yang kini menjabat sebagai wakil kepala dewan keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, hadir secara langsung mewakili Presiden Vladimir Putin. Kehadiran Rusia ini menandakan hubungan strategis yang erat antara Teheran dan Moskow, terutama di tengah isolasi yang diterapkan Barat terhadap kedua negara tersebut.

Tidak hanya aktor negara, kelompok-kelompok milisi yang selama ini berada di bawah naungan atau dukungan Iran juga mengirimkan utusan tingkat tinggi. Perwakilan dari kelompok Hamas Palestina dan Hizbullah Lebanon hadir memberikan penghormatan sebagai bentuk loyalitas kepada pemimpin yang telah lama mendukung perjuangan mereka. Begitu pula dengan pemerintahan Taliban di Afghanistan, yang mengirimkan delegasi untuk menunjukkan solidaritas regional. Kehadiran para aktor non-negara ini menegaskan bahwa pengaruh Khamenei melampaui batas-batas teritorial Iran, membentuk sebuah aliansi "poros perlawanan" yang menentang dominasi Barat di Timur Tengah.

Narasi yang dibangun dalam pemakaman ini sangat jelas: Iran tidak sedang dalam posisi lemah. Meski kehilangan sosok pemimpin tertinggi, pidato-pidato dan suasana di lapangan secara konsisten menekankan bahwa ideologi dan kebijakan luar negeri Iran akan tetap konsisten. Teriakan anti-Amerika yang terus bergema merupakan pesan yang ditujukan langsung ke Washington, menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan tidak akan mengubah sikap permusuhan terhadap kebijakan AS di kawasan. Pemakaman ini bukan sekadar upacara duka, melainkan sebuah pernyataan politik yang sangat kuat.

Di tengah jutaan pelayat tersebut, terdapat pengamanan siber dan intelijen yang bekerja di balik layar. Mengingat status Iran sebagai target sanksi dan tekanan internasional, setiap pergerakan selama prosesi enam hari ini diawasi dengan ketat. Pemerintah ingin memastikan bahwa tidak ada provokasi yang dapat merusak citra persatuan yang sedang mereka bangun. Bagi Iran, pemakaman ini adalah ujian stabilitas internal sekaligus unjuk gigi di panggung dunia.

Saat peti jenazah Khamenei nantinya menyentuh tanah Mashhad, babak baru dalam sejarah Iran akan dimulai. Namun, gema teriakan "Matilah Amerika" yang pecah di hari Sabtu ini dipastikan akan menjadi catatan sejarah yang akan terus diingat oleh dunia internasional. Bagi para pendukungnya, ini adalah penghormatan tertinggi; bagi musuh-musuhnya, ini adalah peringatan bahwa perlawanan Iran tidak akan pernah padam, bahkan setelah sang pemimpin telah tiada. Dunia kini menatap Teheran, menunggu langkah apa yang akan diambil oleh para penerus Khamenei dalam menghadapi tantangan geopolitik yang kian memanas di masa depan. Upacara ini, dengan segala kemegahan dan kemarahannya, menjadi cerminan sempurna dari posisi Iran di peta politik dunia saat ini: terisolasi, namun tetap menantang dan teguh pada pendiriannya.