Membawakan anthem Piala Dunia 2026, "Dai Dai," penyanyi asal Kolombia ini tampil penuh energi, melompat dan menggoyangkan pinggulnya dengan gaya khas yang telah menjadi ciri khasnya selama puluhan tahun. Setiap lirik yang dilantunkan dan setiap gerakan yang ditampilkan memancarkan semangat yang menular, membuat penonton di stadion dan di seluruh dunia ikut bergembira, seolah-olah waktu tak pernah menyentuhnya. Ia tampil sebagai salah satu bintang utama di jeda pertandingan final antara Spanyol dan Argentina, sebuah panggung yang memang pantas untuknya.
Namun, di tengah euforia dan gemuruh tepuk tangan yang ditujukan kepada Shakira, sorotan tajam netizen mendadak beralih kepada sosok lain yang turut hadir di MetLife Stadium: mantan suaminya, Gerard Pique. Bek tengah legendaris Spanyol itu terlihat di tribun penonton, ditemani oleh kedua putra mereka, Sasha dan Milan. Kontras yang mencolok langsung menjadi santapan empuk publik. Kedua anak mereka, Milan dan Sasha, terlihat bersenang-senang, ikut bernyanyi "Dai Dai" dengan riang gembira, memancarkan kebanggaan terhadap ibu mereka yang sedang menyuguhkan tampilan spektakuler. Sementara itu, di samping mereka, Pique tampak diam, dengan ekspresi wajah yang digambarkan netizen sebagai "membatu," seolah terpaku oleh pemandangan di hadapannya.
Momen ini, yang terekam jelas oleh kamera dan kemudian viral, sontak memicu badai komentar di platform media sosial, terutama X (sebelumnya Twitter). Nama Shakira sudah mulai ramai dibicarakan sejak final Piala Dunia pada 19 Juli dan bahkan masih bertahan di topik "Sedang hangat diperbincangkan" selama berhari-hari setelahnya. Berbagai pujian membanjiri akun-akun media sosial, mengagumi kecantikan Shakira yang dirasa awet muda, belum lagi performanya yang mampu menyihir satu stadion. Suaranya masih sangat indah, bertenaga, dan penuh emosi, begitu juga gerakan pinggulnya yang khas dalam tariannya, membuktikan bahwa ia adalah seorang penampil sejati yang tak lekang oleh waktu.
Salah satu komentar yang paling mencuri perhatian datang dari Kangmin Lee, yang memuji, "Shakira sama sekali tidak menua, sulit dipercaya dia sudah berusia 49 tahun. Dia benar-benar mengalahkan kutukan penuaan wanita Latin." Komentar ini merangkum sentimen umum yang dirasakan banyak orang: Shakira seolah menemukan rahasia keabadian, menolak untuk tunduk pada batasan usia, dan justru semakin bersinar seiring bertambahnya waktu. Kecantikan alaminya, ditambah dengan energi panggung yang tak ada habisnya, membuatnya tampak jauh lebih muda dari usianya.
Netizen lain, dengan nama akun emilly, menambahkan, "Selamat shakira kamu berhasil bikin empat lagu buat piala dunia dan keempatnya jadi hit." Pujian ini bukan tanpa alasan. Sejak "Waka-waka (This Time for Africa)" pada Piala Dunia 2010 yang menjadi fenomena global, hingga "La La La (Brazil 2014)," "Dare (La La La)" untuk Piala Dunia 2014, dan kini "Dai Dai" untuk Piala Dunia 2026, Shakira telah membuktikan dirinya sebagai ratu lagu-lagu Piala Dunia. Kemampuannya untuk secara konsisten menciptakan lagu-lagu yang tidak hanya populer tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari semangat turnamen sepak bola terbesar di dunia adalah prestasi yang tak tertandingi.
Tak ketinggalan, akun @honey_milk_jd dengan bangga mengungkapkan, "Dan Mami Latina ini tetap yang terbaik, tetap sama, tetap yang tercantik, tetap yang paling berbakat, tetap Shakira." Ini bukan hanya pujian, melainkan deklarasi kesetiaan dari para penggemar yang telah mengikuti perjalanan karier Shakira selama puluhan tahun. Mereka melihatnya sebagai sosok yang tak pernah berubah dalam kualitas, keindahan, dan bakatnya yang luar biasa.
Saking kerennya penampilan perempuan asal Kolombia itu, euforia dan kekaguman netizen segera berubah menjadi ledekan yang ditujukan kepada Gerard Pique. Banyak yang terang-terangan mengatakan bahwa Gerrard Pique saat ini pasti sedang menyesal karena telah melepaskan Shakira. Ini adalah inti dari drama yang terjadi di media sosial. Komentar seperti, "Shakira mantep bener jirr pique elu aneh bgt jujurrrrrrr jujurrrrrrrr," dari joawop, menunjukkan rasa tak percaya netizen terhadap keputusan Pique. Mereka melihat Shakira sebagai paket lengkap: cantik, berbakat, sukses, dan karismatik.

Mr Iyus menambahkan sindiran tajam, "Shakira nih makin nambah umur kok makin muda ya.. makin hot pula.. nyesel ga bang Pique.." Pertanyaan retoris ini menggema di benak banyak orang. Apakah Pique, yang kini menjalin hubungan dengan Clara Chia Marti, benar-benar merasa ada penyesalan di hatinya saat melihat mantan pasangannya bersinar begitu terang di panggung dunia? Apakah ia merenungkan pilihan hidupnya, terutama ketika menyaksikan ibunda dari anak-anaknya dipuja jutaan orang?
Sebuah komentar lain yang bernada "karma" menjadi sangat populer: "Karma Piqué akan selalu mendengar @Shakira di mana-mana, bahkan di olahraga yang begitu dia cintai." Ini adalah puncaknya. Mengingat Pique adalah seorang legenda sepak bola, dan kini ia harus menyaksikan mantan kekasihnya mendominasi panggung di acara olahraga yang begitu ia cintai, rasanya seperti takdir yang tak terhindarkan. Lagu-lagu Shakira akan terus diputar di stadion, di televisi, di mana pun sepak bola dirayakan, mengingatkannya akan apa yang telah ia tinggalkan. Seolah alam semesta berkonspirasi untuk terus memutar lagu Shakira di telinga Pique, di setiap sudut dunia, terutama di lingkungan yang paling akrab dengannya.
Tidak hanya ledekan, ada juga netizen yang bernostalgia dan bahkan berharap akan adanya reuni. "Aku bilang sesuatu; aku punya firasat bahwa keduanya bakal balikan. Simpan tweet ini," kata seorang netizen dengan bahasa Spanyol, menunjukkan harapan romantis yang masih tersimpan di hati beberapa penggemar. Meskipun hubungan mereka berakhir dengan pahit, bagi sebagian orang, ikatan antara Shakira dan Pique, terutama karena kedua anak mereka, masih menyimpan potensi untuk kembali bersatu.
Untuk memahami mengapa reaksi netizen begitu intens, penting untuk mengingat kembali kisah Shakira dan Gerard Pique. Mereka berpisah pada Juni 2022 setelah 11 tahun bersama, sebuah perpisahan yang mengguncang dunia hiburan dan olahraga. Konon, perpisahan mereka dipicu oleh dugaan perselingkuhan Pique dengan wanita lain, Clara Chia Marti. Kisah cinta yang dulunya dianggap sebagai dongeng antara bintang pop global dan pahlawan sepak bola, berakhir dengan drama publik yang pahit.
Setelah perpisahan itu, Shakira tidak hanya berdiam diri dalam kesedihan. Ia mengubah rasa sakitnya menjadi karya seni yang kuat, merilis serangkaian lagu yang secara terang-terangan menyindir Pique dan kekasih barunya. Lagu-lagu seperti "Te Felicito," "MonotonĂa," dan terutama "BZRP Music Sessions #53" menjadi hit global, memecahkan rekor streaming, dan mengukuhkan posisinya sebagai seniman yang mampu bangkit dari keterpurukan dengan kekuatan yang lebih besar. Lirik-lirik tajam seperti "Aku lebih berharga dari dua wanita 22 tahun" atau "Kamu menukar Ferrari dengan Twingo, kamu menukar Rolex dengan Casio" menjadi mantra bagi banyak wanita yang merasa terkhianati.
Shakira dan Pique dikaruniai dua orang anak laki-laki, Milan dan Sasha, yang menjadi jembatan abadi di antara mereka. Kehadiran Milan dan Sasha di stadion, bersorak gembira untuk ibu mereka, menjadi simbol bahwa meskipun hubungan romantis telah berakhir, ikatan keluarga tetap ada, dan kebahagiaan anak-anak adalah prioritas utama. Namun, bagi Pique, momen tersebut mungkin menjadi pengingat yang tak terhindarkan akan semua yang telah terjadi, dan mungkin, sebuah cerminan dari pilihan-pilihan yang telah ia buat.
Pada akhirnya, penampilan Shakira di Piala Dunia 2026 adalah lebih dari sekadar pertunjukan musik. Ini adalah perayaan kekuatan wanita, simbol kebangkitan dari patah hati, dan bukti bahwa bakat sejati akan selalu bersinar. Sementara dunia terpukau oleh pesonanya yang tak memudar, tatapan diam Gerard Pique di tribun menjadi narasi sampingan yang menarik, memicu perdebatan abadi tentang cinta, pilihan, penyesalan, dan takdir di mata publik. Shakira telah membuktikan bahwa ia masih sekeren zaman "Waka-waka," dan mungkin, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
(ask/fay)

