Ketegangan di Selat Hormuz kembali mencapai titik didih yang mengkhawatirkan dunia, menyusul serangkaian konfrontasi militer langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang mengancam stabilitas pasokan energi global. Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, melontarkan peringatan keras kepada Washington agar tidak terus memicu eskalasi di jalur perairan vital tersebut. Pernyataan provokatif yang diunggah melalui media sosial X itu menegaskan posisi Teheran yang tidak akan tunduk pada tekanan militer AS, dengan kalimat yang cukup dingin: "Kami bahkan belum memulai."
Pernyataan ini mencuat di tengah narasi yang saling bertolak belakang dari kedua belah pihak. Militer Amerika Serikat mengklaim telah melakukan serangkaian aksi defensif, termasuk penggunaan helikopter Apache dan Seahawk untuk menghancurkan enam kapal Iran yang dianggap mengancam kapal-kapal komersial. Presiden Donald Trump memperkuat narasi tersebut dengan menyatakan bahwa pasukan AS telah melumpuhkan tujuh kapal militer kecil Iran di perairan strategis tersebut. Washington juga melaporkan keberhasilan mereka dalam menangkal serangan rudal dan drone yang diluncurkan pada Senin (4/5), sementara Uni Emirat Arab, sebagai sekutu regional AS, melaporkan adanya serangan sporadis di wilayah kedaulatan mereka.
Situasi di lapangan semakin rumit setelah Presiden Donald Trump mengumumkan inisiatif misi militer terbaru untuk memandu kapal-kapal dari negara netral agar bisa keluar dengan aman dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Langkah ini dipandang oleh Teheran sebagai bentuk intervensi yang tidak sah dan provokasi langsung. Baik Iran maupun AS kini terjebak dalam perang narasi dan aksi di lapangan, di mana keduanya saling menerapkan blokade maritim tidak resmi yang secara langsung melumpuhkan arus logistik energi dunia. Jalur air sempit ini bukan sekadar area sengketa militer, melainkan urat nadi ekonomi global di mana sebagian besar ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk bergantung pada jalur ini.
Ketegangan ini adalah kelanjutan dari konflik yang telah berkecamuk lebih dari dua bulan antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel. Perang yang awalnya diprediksi akan berlangsung singkat ini ternyata telah meluas ke seluruh penjuru Timur Tengah, menciptakan efek domino yang mengguncang perekonomian global. Meskipun sempat ada periode gencatan senjata selama beberapa pekan, harapan akan perdamaian permanen kini tampak kian menjauh. Dampak dari konflik ini tidak lagi terbatas pada aspek militer, melainkan telah memengaruhi kehidupan ratusan juta orang di seluruh dunia akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian rantai pasok global.
Dalam tanggapannya, Ghalibaf menuding bahwa kehadiran militer AS dan sekutunya di kawasan tersebut adalah bentuk "kehadiran jahat" yang justru merusak keamanan pelayaran internasional. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerahkan kendali atau kedaulatan mereka atas Selat Hormuz. "Persamaan baru di Selat Hormuz mulai terbentuk. Keamanan pelayaran dan transit energi telah terancam oleh AS dan sekutu-sekutunya melalui pelanggaran gencatan senjata dan blokade," ujar Ghalibaf. Ia juga menyiratkan bahwa Iran memiliki kartu as yang belum dimainkan, sebuah isyarat bahwa potensi kekuatan militer yang mereka kerahkan saat ini baru merupakan fraksi kecil dari kapasitas tempur yang sebenarnya dimiliki oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Di sisi lain, Iran secara tegas membantah klaim Washington mengenai kerusakan kapal-kapal militer mereka. Sebaliknya, Teheran menuduh militer AS telah melakukan tindakan brutal dengan menewaskan lima warga sipil dalam serangan terhadap kapal-kapal kargo kecil yang melintasi Selat Hormuz. Tuduhan ini menambah lapisan kebencian baru dalam konflik yang sudah membara. Hingga saat ini, negosiasi diplomatik antara Teheran dan Washington berada dalam titik buntu. Sejauh ini, hanya satu putaran perundingan damai yang berhasil digelar secara langsung, namun gagal mencapai kesepakatan berarti untuk meredam permusuhan.
Secara strategis, posisi Iran di Selat Hormuz memang sangat krusial. Dengan lebar jalur pelayaran yang terbatas, Iran memiliki kemampuan untuk menutup akses atau melakukan gangguan yang dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dunia secara instan. Blokade maritim yang dilakukan oleh Iran, yang sering kali melibatkan taktik "perang asimetris" dengan kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi, menjadi momok bagi armada kapal perang AS yang besar dan sulit bermanuver di perairan dangkal. Penggunaan drone kamikaze dan rudal anti-kapal jarak pendek telah mengubah doktrin perang di kawasan tersebut, membuat keunggulan teknologi AS tidak lagi menjadi jaminan kemenangan mutlak.
Ekonomi global yang masih rapuh pasca-pandemi dan krisis inflasi kini harus menghadapi ancaman baru. Ketidakpastian di Selat Hormuz memaksa perusahaan pelayaran internasional untuk meninjau kembali rute mereka, yang berarti biaya asuransi pengiriman meningkat tajam. Jika konflik ini terus berlanjut tanpa adanya solusi diplomatik yang nyata, dunia bisa menghadapi krisis energi yang lebih parah daripada yang pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Negara-negara besar seperti Tiongkok, India, dan Jepang—yang merupakan importir utama minyak dari kawasan Teluk—kini berada dalam posisi sulit, menekan kedua pihak untuk menahan diri demi menghindari kehancuran ekonomi global yang lebih luas.
Peringatan "kami bahkan belum memulai" dari Ghalibaf harus dibaca bukan sebagai retorika kosong, melainkan sebagai peringatan akan potensi perang terbuka yang lebih besar. Jika Iran benar-benar meluncurkan kapasitas penuh dari kemampuan militer mereka, termasuk rudal balistik jarak jauh yang bisa menjangkau pangkalan-pangkalan AS di seluruh wilayah Teluk, maka dampaknya akan sulit dikendalikan. Washington saat ini berada dalam dilema: terus menekan Iran dengan risiko eskalasi total, atau mundur dan terlihat kehilangan muka di hadapan sekutu-sekutunya.
Sementara itu, di dalam negeri Iran, retorika keras dari pimpinan parlemen tersebut berfungsi untuk menjaga moral pasukan dan publik di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang kian mencekik. Bagi Teheran, mempertahankan posisi di Selat Hormuz adalah masalah harga diri nasional dan kedaulatan. Mereka memandang kehadiran AS sebagai upaya untuk memaksakan dominasi Barat yang sudah tidak relevan lagi di Timur Tengah.
Dunia kini menanti langkah selanjutnya. Apakah Washington akan merespons dengan tambahan kekuatan militer, ataukah akan ada tekanan internasional yang lebih besar untuk mendorong kembali meja perundingan? Dengan kebuntuan komunikasi yang terjadi saat ini, risiko miskalkulasi militer di lapangan menjadi ancaman nyata yang bisa memicu konflik skala penuh kapan saja. Selat Hormuz, yang seharusnya menjadi jalur perdagangan paling damai dan produktif, kini telah berubah menjadi kawah candradimuka bagi perebutan kekuasaan dua kekuatan yang saling tidak mau mengalah.
Masyarakat internasional kini mendesak adanya de-eskalasi segera. Namun, dengan kedua belah pihak yang masih saling tuduh dan tidak ada tanda-tanda kompromi, Selat Hormuz tampaknya akan terus menjadi titik api yang paling berbahaya di peta geopolitik dunia dalam waktu dekat. Ketegangan ini bukan lagi sekadar perselisihan lokal, melainkan pertarungan eksistensial yang menentukan nasib ekonomi global dan keamanan kawasan Timur Tengah di masa depan. Iran telah memberikan sinyal bahwa mereka siap untuk mempertaruhkan segalanya, dan peringatan bahwa "mereka belum memulai" menjadi pengingat suram bagi dunia bahwa potensi tragedi yang lebih besar masih membayangi cakrawala.

