0

Rusia Luncurkan Serangan Rudal dan Drone ke Ukraina, 11 Orang Tewas

Share

Ketegangan di Eropa Timur kembali memuncak setelah Rusia meluncurkan gelombang serangan udara masif yang melibatkan kombinasi rudal dan drone ke berbagai wilayah di Ukraina. Insiden yang terjadi pada Selasa (16/6/2026) ini mengakibatkan sedikitnya 11 orang kehilangan nyawa dan memicu kerusakan parah pada salah satu situs paling sakral dan bersejarah di Kyiv, yakni biara Ortodoks Kyiv-Pechersk Lavra.

Serangan yang berlangsung sepanjang malam hingga Senin (15/6) itu memaksa warga di ibu kota Ukraina untuk berlarian mencari perlindungan di bunker dan stasiun bawah tanah. Suara ledakan yang memekakkan telinga mendominasi langit Kyiv saat sistem pertahanan udara Ukraina berupaya keras mencegat ratusan proyektil yang masuk. Puing-puing rudal yang terbakar dilaporkan jatuh di berbagai penjuru kota, menciptakan kepanikan massal di kalangan penduduk sipil.

Data resmi dari otoritas Ukraina menyebutkan bahwa Moskow mengerahkan sekitar 70 rudal dan 611 drone dalam operasi militer besar-besaran ini. Wilayah yang menjadi sasaran utama adalah Kyiv, Kharkiv, dan Dnipro. Meskipun Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh 50 rudal dan 582 drone melalui sistem pertahanan udara mereka, dampak kerusakan yang ditimbulkan tetap sangat signifikan.

Di Kyiv sendiri, lima orang dilaporkan tewas dan sedikitnya 34 lainnya mengalami luka-luka. Salah satu dampak yang paling menyita perhatian internasional adalah kebakaran hebat yang melanda kompleks warisan dunia UNESCO, Kyiv-Pechersk Lavra. Atap Katedral Dormisi, bangunan ikonik yang telah berdiri sejak abad ke-11, mengalami kerusakan parah akibat hantaman tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras insiden ini, menyebutnya sebagai salah satu kejahatan paling serius terhadap warisan budaya Kristen di era modern.

Kyiv-Pechersk Lavra bukan sekadar situs wisata; bagi umat Ortodoks di Ukraina dan Rusia, tempat ini adalah pusat spiritual yang sangat dihormati. Kompleks ini menyimpan sistem gua luas yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi puluhan santo. Katedral Dormisi yang menjadi korban serangan ini memiliki sejarah kelam, di mana bangunan aslinya hampir hancur total selama Perang Dunia II dan baru berhasil dibangun kembali sepenuhnya pada tahun 1990-an.

Tanggapan Moskow terhadap tuduhan tersebut cukup kontroversial. Militer Rusia mengakui telah melakukan "serangan besar-besaran" terhadap target militer di Ukraina, namun mereka membantah dengan tegas bahwa biara Lavra menjadi sasaran mereka. Rusia justru balik menuding bahwa kerusakan pada katedral tersebut disebabkan oleh rudal pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat milik Ukraina yang gagal berfungsi atau sudah usang.

Di sisi lain, seorang biarawan bernama Makariy, yang tinggal di dalam kompleks biara, memberikan kesaksian mencekam. Ia mengaku melompat dari tempat tidur akibat suara dentuman keras pada pukul 5 pagi. Saat ia bergegas keluar, ia melihat kompleks biara sudah diselimuti asap dan api. Ia kemudian segera menyelamatkan diri ke tempat perlindungan bawah tanah. Presiden Zelensky yang kemudian mengunjungi lokasi tersebut bersikeras bahwa setidaknya dua drone Rusia sengaja diarahkan ke kawasan biara, sebuah tuduhan yang menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara kedua negara.

Di tengah situasi yang memanas ini, Presiden Zelensky kembali mencoba melakukan manuver diplomasi. Ia menyerukan kepada para pemimpin negara-negara G7 yang sedang menggelar KTT di Prancis untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow. Tidak hanya itu, Zelensky mengaku telah melakukan komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump, di mana ia menyampaikan tawaran untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Amerika Serikat. Zelensky menyebut tawaran ini sebagai langkah yang akan sangat sulit bagi Putin untuk ditolak, mengingat posisi internasional Rusia yang semakin terisolasi.

Namun, rekam jejak menunjukkan bahwa Putin cenderung bersikap dingin terhadap setiap ajakan dialog tatap muka. Sejauh ini, Kremlin secara konsisten menolak berbagai undangan, termasuk ajakan terbaru dari Zelensky selama KTT G7 berlangsung. Bagi Putin, pertemuan semacam itu mungkin dianggap tidak produktif selama kondisi perang di lapangan belum berpihak pada skenario yang diinginkan Rusia.

Dinamika perang ini juga mulai terasa dampaknya di dalam wilayah Rusia sendiri. Sebagai bentuk balasan, Ukraina dilaporkan meningkatkan intensitas serangan drone ke wilayah Rusia. Di kota Tula, yang terletak sekitar 200 kilometer di selatan Moskow, serangan pesawat tak berawak menewaskan tiga orang dan melukai tiga warga lainnya. Eskalasi serangan lintas batas ini menunjukkan bahwa konflik yang telah berlangsung sejak Februari 2022 ini semakin meluas dan menjadi perang paling mematikan di Eropa sejak akhir Perang Dunia II.

Situasi geopolitik saat ini semakin rumit dengan adanya keterlibatan pihak luar. Hubungan antara Kyiv-Pechersk Lavra dengan Gereja Ortodoks Rusia juga menambah dimensi religius dalam konflik ini. Selama berabad-abad, situs tersebut dikelola oleh cabang Gereja Ortodoks di bawah naungan Moskow. Namun, sejak invasi dimulai, ketegangan meningkat hingga pemerintah Ukraina mengusir para biarawan yang memiliki afiliasi dengan Gereja Moskow pada periode 2022-2023, dengan alasan adanya kecurigaan hubungan dengan intelijen Rusia.

Secara teknis, serangan udara ini mencerminkan taktik perang Rusia yang terus menerus menggunakan "atrisi" atau pengikisan daya tahan lawan melalui serangan udara harian. Di sisi lain, Ukraina terus berupaya mengintegrasikan teknologi pertahanan udara Barat dengan aset-aset militer era Soviet yang mereka miliki untuk menangkis gempuran tersebut. Keberhasilan Ukraina menembak jatuh ratusan drone Rusia menunjukkan peningkatan kapasitas pertahanan, namun besarnya jumlah drone yang ditembus tetap menjadi ancaman eksistensial bagi infrastruktur sipil mereka.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda meredanya eskalasi militer. Dunia internasional kini menanti langkah apa yang akan diambil oleh para pemimpin G7 dalam merespons insiden serangan terhadap situs warisan dunia tersebut. Apakah tekanan diplomatik akan efektif, atau justru serangan ini akan memicu respons militer yang lebih keras dari pihak Ukraina di wilayah Rusia, menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.

Korban jiwa yang terus bertambah, baik di kalangan warga sipil Ukraina maupun Rusia, menjadi pengingat pahit bahwa konflik ini telah berubah menjadi kebuntuan berdarah yang memakan biaya ekonomi dan kemanusiaan yang sangat besar. Dengan ribuan warga sipil tewas dan ratusan ribu tentara dari kedua belah pihak menjadi korban, dunia kini hanya bisa berharap bahwa jalur dialog yang diusulkan Zelensky dapat menemukan titik terang sebelum lebih banyak lagi situs sejarah dan nyawa tak berdosa yang menjadi tumbal kepentingan politik di medan perang.

Kondisi di lapangan tetap mencekam. Warga di Kyiv masih harus menghadapi ketidakpastian apakah malam berikutnya akan kembali diwarnai dengan raungan sirine serangan udara. Pemerintah Ukraina terus mendesak sekutu Barat untuk memberikan lebih banyak bantuan sistem pertahanan udara yang canggih agar insiden seperti kebakaran di Lavra tidak terulang kembali. Sementara di Moskow, narasi yang dibangun tetap menekankan pada "operasi militer khusus" dengan klaim bahwa setiap kerusakan infrastruktur sipil adalah konsekuensi dari pertahanan udara Ukraina yang ceroboh.

Di tengah kehancuran, doa-doa di Katedral Dormisi mungkin akan terhenti untuk sementara waktu, namun simbolisme dari biara tersebut akan terus menjadi pengingat akan beratnya harga yang harus dibayar oleh rakyat Ukraina dalam mempertahankan kedaulatan mereka di tengah gempuran rudal dan drone yang tak kunjung usai. Sejarah panjang yang dibangun selama seribu tahun kini terancam oleh api perang yang tak kenal ampun, dan masa depan hubungan antara kedua negara tetangga ini tampak semakin suram dengan setiap rudal yang meledak di langit malam.