BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan seorang ibu dalam merawat dan menjaga kesehatan buah hatinya adalah sebuah kisah yang tak pernah lekang oleh waktu. Bagi artis Oki Setiana Dewi, kisah tersebut memiliki nuansa yang lebih mendalam dan penuh dedikasi. Selama enam tahun terakhir, Oki Setiana Dewi secara konsisten menjalani rutinitas kunjungan ke klinik pediatri. Ini bukan sekadar pemeriksaan kesehatan biasa, melainkan sebuah komitmen tak tergoyahkan demi kesehatan dan perkembangan optimal sang putra tercinta, Sulaiman. Keputusan ini diambil Oki Setiana Dewi dengan penuh kesadaran dan cinta, menyadari kebutuhan khusus yang dimiliki Sulaiman sejak lahir.
Kisah perjuangan Oki Setiana Dewi dan Sulaiman mulai terungkap lebih jelas melalui unggahan terbarunya di media sosial. Dalam foto yang dibagikannya, Oki terlihat tengah berada di salah satu klinik pediatri bersama Sulaiman. Dari keterangan yang menyertainya, terungkap bahwa buah hati dari aktris yang dikenal melalui film "Ketika Cinta Bertasbih" ini didiagnosis mengidap Sindrom Prader-Willi sejak kelahirannya. Sindrom Prader-Willi adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi berbagai aspek perkembangan, termasuk pertumbuhan fisik, fungsi intelektual, perilaku, dan metabolisme. Penyakit ini memerlukan penanganan medis yang berkelanjutan dan perhatian khusus dari orang tua.

Menengok kembali ke belakang, Oki Setiana Dewi mengungkapkan betapa berartinya setiap momen yang telah dilalui bersama Sulaiman selama enam tahun terakhir. "Tak terasa hampir 6 tahun sudah, @sulaimanaliabdullah ditemani oleh dokter-dokter baik hati. Terimakasih untuk para malaikat tak bersayap atas semua kebaikkan pada kami," tulisnya dengan penuh rasa syukur. Ungkapan ini mencerminkan betapa ia sangat menghargai peran para tenaga medis yang telah mendampingi perjalanan kesehatan putranya. Rutinitas kunjungan ke klinik pediatri ini menjadi bukti nyata dari upayanya untuk memastikan Sulaiman mendapatkan perawatan terbaik dan pemantauan yang cermat.
Momen kelahiran Sulaiman ternyata juga menyimpan cerita haru yang dibagikan Oki. Ia mengenang saat-saat pertama kali melihat buah hatinya yang tak berdaya di dalam inkubator NICU. Air mata tak terbendung membasahi pipinya, namun kata-kata bijak dari seorang dokter bernama Prof Rina memberinya kekuatan dan perspektif baru. "Masih teringat ketika saya menangis menatap bayi Sulaiman yang tak berdaya di inkubator NICU. Prof Rina mengatakan, ‘Mungkin Allah mempersiapkan sesuatu untuk Ibu dan Sulaiman supaya memberi manfaat untuk banyak orang lewat cerita hidup ini’. Terimakasih telah terus menemani. Allah sebaik-baik pemberi balasan atas semua kebaikkan," tulis Oki. Kutipan ini menunjukkan bagaimana sebuah tantangan dapat diubah menjadi sebuah kekuatan dan inspirasi, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain yang mungkin mengalami hal serupa.
Menjalani enam tahun kehidupan Sulaiman dengan Sindrom Prader-Willi, menurut Oki Setiana Dewi, adalah sebuah pengalaman yang penuh dengan keseruan dan pembelajaran. Ia menjelaskan bahwa meskipun anak dengan sindrom ini seringkali terlihat menggemaskan karena postur tubuh yang cenderung berisi, di balik itu terdapat perjuangan yang tidak ringan. "Anak dengan Prader Wili Syndrom terlihat menggemaskan karena badan yang gemuk. Namun di balik itu, ada makanan yang dijaga, suntikan setiap hari sejak dia baby, rutin berkunjung ke beberapa dokter agar jangan sampai obesitas," ungkapnya. Penjelasan ini memberikan gambaran yang lebih realistis tentang tantangan yang dihadapi dalam mengelola sindrom ini. Pengawasan ketat terhadap pola makan, pemberian suntikan harian yang konsisten, dan kunjungan rutin ke dokter adalah bagian integral dari perawatan untuk mencegah komplikasi seperti obesitas yang dapat memperburuk kondisi kesehatan penderita Sindrom Prader-Willi.

Lebih jauh, Oki Setiana Dewi menekankan bahwa penanganan Sindrom Prader-Willi memerlukan pendekatan multidisiplin. Selain pemantauan pertumbuhan dan pengelolaan nutrisi, anak-anak dengan sindrom ini juga seringkali memerlukan terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, serta dukungan psikologis. Kunjungan rutin ke klinik pediatri tidak hanya untuk memantau kondisi fisik secara umum, tetapi juga untuk memastikan bahwa Sulaiman mendapatkan stimulasi dan intervensi yang tepat sesuai dengan tahap perkembangannya. Para dokter spesialis anak yang menangani Sulaiman berperan penting dalam menyusun rencana perawatan yang komprehensif, memberikan saran kepada orang tua, dan melakukan penyesuaian terapi seiring berjalannya waktu.
Oki Setiana Dewi sendiri telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam perannya sebagai ibu. Ia tidak hanya mengikuti arahan medis, tetapi juga aktif mencari informasi, bergabung dengan komunitas orang tua yang memiliki anak dengan Sindrom Prader-Willi, dan berbagi pengalamannya. Melalui media sosial, ia telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa tantangan kesehatan yang dihadapi anak bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah undangan untuk tumbuh bersama, belajar lebih banyak, dan menemukan kekuatan yang tersembunyi. Kisahnya adalah pengingat bahwa cinta orang tua, didukung oleh perawatan medis yang tepat dan komitmen yang kuat, dapat membuka jalan bagi anak untuk meraih kualitas hidup yang terbaik.
Keenam tahun ini juga menjadi saksi bisu bagi Oki Setiana Dewi dalam menemukan kekuatan spiritualnya. Ia seringkali mengaitkan setiap ujian dengan kebesaran Tuhan dan hikmah di baliknya. Keyakinan bahwa setiap anak adalah anugerah dan memiliki takdirnya masing-masing memberikan ketenangan dan ketabahan dalam menghadapi segala cobaan. Ungkapannya tentang "malaikat tak bersayap" merujuk pada para tenaga medis yang dengan sabar dan penuh kasih merawat Sulaiman, serta dukungan dari keluarga dan teman-teman yang senantiasa hadir.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah Oki Setiana Dewi dan Sulaiman turut meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberadaan Sindrom Prader-Willi dan kelainan genetik langka lainnya. Semakin banyak orang yang mengenal penyakit ini, semakin besar pula potensi dukungan yang bisa diberikan, baik dari segi medis, sosial, maupun emosional. Edukasi semacam ini sangat penting untuk mengurangi stigma, mendorong inklusi, dan memastikan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus mendapatkan hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Dengan rutin mengunjungi klinik pediatri selama enam tahun, Oki Setiana Dewi tidak hanya berjuang untuk kesehatan Sulaiman, tetapi juga membangun sebuah fondasi yang kokoh untuk masa depan putranya. Perjalanan ini masih panjang, namun dengan cinta, kesabaran, dan dukungan yang tak pernah putus, Oki Setiana Dewi terus melangkah, menjadikan setiap kunjungan ke klinik sebagai langkah maju menuju kehidupan yang lebih baik bagi Sulaiman. Cerita mereka adalah bukti nyata dari kekuatan ikatan ibu dan anak, serta semangat pantang menyerah dalam menghadapi setiap rintangan demi senyum dan kebahagiaan buah hati.

