0

K. Abdul Syukur: Pelopor Dakwah Tarajumah di Baturejo Pati

Share

K. Abdul Syukur adalah sosok ulama kharismatik yang menjadi tonggak sejarah penyebaran dakwah metode Tarajumah di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Perjalanan hidupnya yang penuh dengan liku, perjuangan menuntut ilmu, hingga keberaniannya melawan arus demi tegaknya syariat Islam, menjadikannya figur inspiratif yang meninggalkan warisan keilmuan mendalam bagi masyarakat Jawa.

Kisah beliau bermula dari sosok ibundanya, seorang wanita bernama ‘Aisyah atau yang akrab disapa Isyah, warga Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus. Isyah merupakan istri dari seorang pejabat lokal yang konon menjabat sebagai Wedono. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang putra yang kelak menjadi ulama besar, yakni Abdul Syukur. Namun, takdir berkata lain; rumah tangga Isyah mengalami keretakan yang memaksa ia harus keluar dari rumah dengan menggendong putra kecilnya. Dalam kondisi yang serba sulit, Isyah berjalan menelusuri wilayah ke arah timur hingga sampai di Desa Jojo, Kudus. Tanpa sanak saudara, ia terpaksa bermalam di area pemakaman dengan linangan air mata.

Di tengah keputusasaan itulah, Isyah mendapatkan petunjuk melalui mimpi didatangi seorang kakek yang berpesan agar ia tidak berputus asa dan melangkah ke arah tenggara, di mana ia akan menjadi seorang pedoyo atau pelayan. Berbekal keyakinan atas mimpi tersebut, Isyah melanjutkan perjalanan hingga sampai di Desa Dongan, Sukolilo. Di sana, ia bertemu dengan pasangan suami istri yang belum dikaruniai keturunan, yang kemudian mengangkat Isyah dan Abdul Syukur sebagai keluarga mereka. Kehidupan Isyah pun berubah, ia tumbuh menjadi sosok yang sukses dalam usaha warung nasi, sementara Abdul Syukur tumbuh dewasa di lingkungan tersebut.

Abdul Syukur muda dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan memiliki minat besar pada seni, terutama tembang sanepo dan suluk ambiyo. Meskipun memiliki bakat menjadi seorang dalang, dorongan batin dan hidayah Allah membawanya untuk mendalami agama. Ia sering bertukar pikiran dengan Kiai Abdul Hannan dari Tambangsari, yang kemudian menjadi perantara hidayahnya untuk menuntut ilmu kepada Kiai Abdul Manan di Tepuro, Purwodadi. Tak tanggung-tanggung, Abdul Syukur memboyong istri dan anaknya untuk ikut menetap di pesantren, melepaskan segala harta benda demi satu tujuan: rida Allah SWT.

K. Abdul Syukur: Pelopor Dakwah Tarajumah di Baturejo Pati

Di Pesantren Tepuro, Abdul Syukur menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Meski usianya lebih tua dari santri lainnya, ia tetap semangat belajar. Gurunya, K. Abdul Manan, adalah salah satu murid inti dari KH. Ahmad Rifa’i, tokoh besar penyebar metode Tarajumah. Setelah menempuh pendidikan selama kurang lebih sepuluh tahun, Abdul Syukur diutus oleh gurunya untuk berdakwah di utara Gunung Sukolilo, tepatnya di Desa Baturejo.

Sesampainya di Baturejo, Abdul Syukur menghadapi tantangan yang berat. Masyarakat di sana saat itu masih lekat dengan kebiasaan buruk seperti perjudian, mabuk-mabukan, tayuban, hingga perilaku asusila. Dengan pendekatan yang lembut, penuh hikmah, dan nasihat yang bijak sesuai ajaran Al-Qur’an, ia perlahan mengubah wajah desa tersebut. Salah satu perubahan nyata yang ia bawa adalah mengganti tradisi perjudian saat ada kematian dengan kegiatan tahlilan, zikir, dan doa bersama. Inilah awal mula dakwah Tarajumah di Baturejo, sebuah metode yang menggunakan bahasa Jawa Pegon agar syariat Islam mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Metode Tarajumah sendiri memiliki keunikan karena menggabungkan ilmu fiqih, ushuluddin, dan tasawuf dalam bentuk nadham atau syair berbahasa Jawa. Hal ini memudahkan santri dan masyarakat umum menghafal rukun wudu, tata cara salat, puasa, hingga zakat. Abdul Syukur sangat memegang teguh akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dengan bermazhab Syafi’i. Baginya, menyampaikan ajaran agama harus menggunakan bahasa kaumnya agar pesan tersebut tersampaikan dengan jelas dan benar.

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri Abdul Syukur terus meningkat. Ia pun mendirikan surau yang kemudian berkembang menjadi masjid untuk mengakomodasi kebutuhan ibadah para pengikutnya. Salah satu keputusan besar yang ia ambil adalah melaksanakan salat Jumat secara mandiri. Hal ini dipicu oleh perbedaan pandangan mengenai syarat sah jumlah jamaah Jumat, di mana ia berpegang teguh pada kitab Riayatul Himmah karya KH. Ahmad Rifa’i yang menekankan pentingnya keabsahan bacaan salat setiap jamaah. Langkah ini sempat menuai kontroversi, namun ia tetap teguh pada prinsip syariat yang ia yakini benar.

Kiprah dakwahnya tak luput dari rintangan politik. Sekitar tahun 1900, pemerintah kolonial Belanda mencoba menekan Abdul Syukur agar bergabung dengan kelompok yang mereka restui. Ia sering didatangi pejabat kolonial dan bahkan kitab-kitab Tarajumah-nya berusaha disita. Namun, berkat keteguhan hati dan kecerdasannya dalam menyimpan amanah ilmu, upaya-upaya tersebut gagal. Ia bahkan sempat dituduh hendak mendirikan gerakan tandingan, namun tuduhan itu tidak terbukti karena Abdul Syukur senantiasa berdakwah dengan damai.

K. Abdul Syukur: Pelopor Dakwah Tarajumah di Baturejo Pati

Dalam kehidupan pribadinya, Abdul Syukur dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai keluarganya. Dari pernikahannya dengan Satiah, ia dikaruniai lima orang anak. Kemudian, ia menikah lagi dengan Nyai Kasni, salah satu santri perempuannya yang taat, dan dikaruniai tiga orang anak. Sepanjang hayatnya, ia tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan hidup yang sederhana dan penuh ketakwaan.

Setelah masa perjuangan yang panjang, Abdul Syukur menghabiskan hari-hari tuanya dengan memperbanyak khalwat dan munajat kepada Allah. Beliau wafat pada hari Jumat Kliwon di bulan Dzulhijjah, sekitar tahun 1930 M. Jasad beliau disemayamkan di pemakaman umum Desa Baturejo, Dukuh Bacem. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam, namun metode Tarajumah yang ia rintis tetap hidup dan diteruskan oleh murid-muridnya.

Hingga saat ini, warisan K. Abdul Syukur masih terasa di Baturejo. Masjid yang ia dirikan menjadi saksi bisu perjuangan seorang ulama yang tak pernah lelah mengajak umat ke jalan kebaikan. Melalui metode Tarajumah, ia berhasil membuka pintu hidayah bagi masyarakat yang dulunya jauh dari tuntunan agama. Kisah hidupnya adalah bukti nyata bahwa pengorbanan, keikhlasan, dan keteguhan memegang prinsip agama akan melahirkan perubahan besar yang abadi. Sejarah mencatatnya bukan hanya sebagai seorang kiai, melainkan sebagai pelopor pencerahan spiritual bagi masyarakat Pati yang terus dikenang hingga lintas generasi.

Perjalanan dari seorang anak yang sempat meratapi nasib di pemakaman hingga menjadi tokoh pembaharu agama merupakan refleksi dari kuasa Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. K. Abdul Syukur telah membuktikan bahwa dengan ilmu yang diamalkan secara ikhlas, seseorang dapat mengubah peradaban, menghapus kebiasaan buruk, dan menanamkan nilai-nilai ketauhidan yang kokoh di hati masyarakat. Perjuangan beliau dalam menegakkan metode Tarajumah menjadi inspirasi bagi para penerus dakwah di Nusantara untuk terus menghidupkan Islam yang ramah, mudah dipahami, dan berakar kuat pada syariat. Wallahu a’lam bish-shawab.