0

Iran dan Rifa’iyah: Dua Kisah Tentang Menolak Tunduk

Share

Apa pelajaran terbesar yang bisa dipetik dari ketangguhan Iran saat menghadapi tekanan geopolitik global? Jawabannya bukan sekadar kecanggihan strategi perang asimetris, efektivitas drone, atau kehebatan diplomasi yang memaksa negara adidaya ke meja perundingan. Rahasia terdalam dari ketangguhan Iran adalah resiliensi—sebuah daya lenting yang memungkinkan sebuah entitas untuk tidak hancur saat ditekan, tidak menyerah meski dibatasi, dan tidak kehilangan harga diri saat diremehkan. Bangsa yang resilien bukan berarti bangsa yang bebas dari luka atau rintangan. Ia bisa saja babak belur, kehilangan banyak hal, atau dipaksa berjalan pincang oleh sanksi internasional, namun ia menolak untuk berhenti. Di tengah segala keterbatasan, ia menata kembali kekuatannya, menjaga marwahnya, dan terus bergerak maju dengan kepala tegak.

Resiliensi Iran berakar pada ingatan sejarah yang panjang sebagai pewaris peradaban besar Persia. Sejak berdirinya Kekaisaran Achaemenid lebih dari 2.500 tahun lalu, bangsa ini telah terbiasa ditempa oleh perubahan zaman. Dalam studi kebudayaan Islam, Iran merupakan episentrum intelektual dunia. Nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi yang meletakkan dasar aljabar, Ibnu Sina yang menjadi fondasi kedokteran modern, hingga Al-Razi dan Al-Biruni adalah bukti bahwa Iran memiliki DNA keilmuan yang kuat. Warisan spirit inilah yang kini dihidupkan kembali di tengah isolasi ekonomi yang telah berlangsung selama 47 tahun.

Sejak Revolusi 1979 yang mengubah monarki absolut menjadi Republik Islam, Iran telah menghadapi embargo yang melumpuhkan sistem keuangan global, pembekuan aset senilai 100 miliar dolar AS, hingga larangan transfer teknologi militer. Namun, tekanan tersebut justru menjadi katalisator kemandirian. Iran tidak memilih tunduk; mereka mengencangkan ikat pinggang, memacu inovasi sains domestik, dan mengoptimalkan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat. Data Human Development Report 2025 menempatkan Iran dalam kategori high human development dengan indeks 0,799, sebuah capaian luar biasa bagi negara yang terus berada di bawah tekanan sanksi.

Kisah tentang menolak tunduk ini memiliki irisan yang menarik dengan perjalanan panjang Rifa’iyah sebagai ormas keagamaan di Indonesia. Jika Iran adalah negara yang dikepung secara geopolitik, Rifa’iyah adalah gerakan yang selama ini tumbuh dalam keterbatasan akses dan marjinalisasi sosial. Rifa’iyah tidak lahir dari kemewahan fasilitas kekuasaan atau kelimpahan dana hibah. Ia lahir dari rahim perjuangan KH. Ahmad Rifa’i (1786–1870 M), seorang ulama besar yang menanamkan bahwa umat tidak boleh kehilangan harga diri dan agama tidak boleh dijadikan alat untuk melegitimasi ketidakadilan.

KH. Ahmad Rifa’i bukan sekadar mengajarkan akidah dan fikih; beliau mengajarkan patriotisme dan keberanian intelektual. Perlawanannya terhadap kolonial Belanda dilakukan melalui dakwah, tulisan, dan sikap yang menolak kompromi dengan penjajah. Akibatnya, beliau harus menerima pahitnya pengasingan ke Ambon dan Tondano hingga akhir hayatnya. Belanda bahkan mencoba membunuh karakternya dengan stigma santri "celeng" untuk mengadu domba. Bahkan setelah kemerdekaan, tantangan tidak berhenti. Pada masa Orde Baru, kitab-kitab beliau pernah dilarang dan ajarannya sempat dicap sesat sebelum akhirnya kebenaran terungkap dan beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Sejarah panjang Rifa’iyah adalah bukti nyata bahwa resiliensi bukan sekadar bertahan, melainkan tetap teguh pada prinsip di tengah badai stigma dan keterbatasan. Ketika ormas lain mungkin lebih leluasa mengakses panggung politik nasional, Rifa’iyah memilih jalan kemandirian. Kekuatan Rifa’iyah terletak pada akar yang dalam di hati jemaahnya—pada madrasah-madrasah kecil, pesantren, kitab-kitab karya sang pendiri, dan tradisi keilmuan yang dijaga secara turun-temurun dengan keikhlasan.

Iran dan Rifa’iyah: Dua Kisah Tentang Menolak Tunduk

Pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, sangat relevan untuk direnungkan: bahwa Rifa’iyah sering kali berangkat dari keterbatasan yang disertai kebulatan tekad. Banyak gerakan besar dalam sejarah dunia memang tidak dimulai dari gedung megah atau rekening yang tebal, melainkan dari tekad orang-orang biasa yang menolak menyerah pada keadaan. Inilah yang kita sebut sebagai resiliensi organisatoris. Rifa’iyah tidak perlu merasa kecil di tengah hiruk-pikuk ormas-ormas besar. Yang harus terus diperkuat adalah kemandirian ekonomi melalui koperasi, wakaf, dan pemberdayaan jemaah, serta ketajaman kaderisasi agar warisan KH. Ahmad Rifa’i tetap menjadi api yang menyala, bukan sekadar memori seremonial.

Peristiwa 28 Februari 2026, di mana Iran mengalami guncangan hebat akibat serangan militer yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei serta sejumlah jenderal dan ilmuwannya, menjadi ujian puncak bagi resiliensi mereka. Banyak pihak memprediksi Iran akan runtuh karena "kepalanya" telah dipenggal. Namun, dunia justru menyaksikan hal sebaliknya. Iran tidak roboh. Mesin negara tetap berputar, rakyat tetap solid, dan perlawanan justru semakin terorganisir. Iran membuktikan bahwa sebuah bangsa yang ditempa oleh sejarah panjang tekanan tidak akan mudah menyerah hanya karena satu atau dua pukulan telak.

Pelajaran dari Iran dan Rifa’iyah adalah tentang bagaimana mengubah "keterbatasan" menjadi "keunggulan". Iran menggunakan sanksi sebagai sekolah kemandirian, sementara Rifa’iyah menggunakan keterbatasan akses sebagai ruang untuk membangun militansi dan loyalitas jemaah. Keduanya mengajarkan bahwa harga diri sebuah bangsa atau organisasi tidak ditentukan oleh seberapa besar dukungan dunia luar, melainkan oleh seberapa kuat keyakinan internal untuk tetap berdiri di atas kaki sendiri.

Bagi warga Rifa’iyah, hari ini adalah momentum untuk meneladani resiliensi tersebut. Tidak perlu iri melihat pihak lain lebih dekat dengan pusat kekuasaan. Fokuslah pada kualitas pendidikan, kekuatan ekonomi umat, dan soliditas kader. Resiliensi bukan tentang siapa yang paling keras berteriak di panggung publik, melainkan tentang siapa yang tetap bekerja saat keadaan tidak mudah, tetap mendidik saat dana terbatas, dan tetap berdakwah meskipun panggung yang tersedia tidak luas.

Jika Iran mampu mempermalukan kesombongan militer adidaya dunia melalui ketahanan internal dan inovasi yang lahir dari keterpaksaan, maka Rifa’iyah dengan warisan spirit KH. Ahmad Rifa’i memiliki modal yang jauh lebih besar: modal moral dan spiritual. Semangat untuk tidak tunduk pada kezaliman adalah warisan yang tak ternilai harganya. Ketika semangat itu dipadukan dengan manajemen organisasi yang modern, rapi, dan berbasis pada kemandirian ekonomi, maka Rifa’iyah tidak hanya akan bertahan melewati zaman, tetapi juga akan tumbuh menjadi entitas yang berakar kuat, bermartabat, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bahwa bangsa atau organisasi yang besar bukan mereka yang paling minim masalahnya, melainkan mereka yang paling tangguh dalam merespons tekanan. Iran telah menunjukkan kepada dunia bahwa sebuah negara yang dikepung tetap bisa berdiri kokoh. Rifa’iyah, dengan sejarah panjang perjuangan KH. Ahmad Rifa’i, memegang kunci yang sama. Mari terus merawat api perjuangan ini, menanamkan keberanian untuk mandiri, dan memastikan bahwa setiap generasi Rifa’iyah memiliki mentalitas yang tidak mudah goyah oleh perubahan zaman. Dengan kesabaran dalam berproses dan keteguhan dalam memegang prinsip, Rifa’iyah akan terus melangkah, tidak gaduh namun kuat, tidak sombong namun berwibawa, dan terus menjadi pilar bagi umat yang merdeka secara pemikiran maupun ekonomi. Inilah esensi dari menolak tunduk: tetap berjuang, tetap berkarya, dan tetap menjaga harga diri di atas segala tantangan yang ada.