Jakarta – Langkah strategis besar telah diambil dalam lanskap infrastruktur digital Indonesia dengan resmi diluncurkannya PT Infra Fiber Teknologi (IFT). Perusahaan ini lahir dari kolaborasi signifikan antara Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan Arsari Group, entitas bisnis yang didirikan oleh pengusaha terkemuka Hashim Djojohadikusumo bersama Northstar Group. IFT akan mengambil alih pengelolaan jaringan fiber optik sepanjang 86.000 kilometer, sebuah aset vital yang mencakup tulang punggung (backbone) nasional, kabel bawah laut domestik, hingga jaringan akses yang menjangkau berbagai pelosok negeri. Jaringan fiber ini sebelumnya merupakan bagian integral dari kepemilikan Indosat, namun kini telah dilepaskan kepemilikannya kepada Arsari Group dan Northstar Group melalui sebuah transaksi yang mendefinisikan ulang peta persaingan infrastruktur digital.
Meskipun kepemilikan aset fiber telah beralih, Indosat Ooredoo Hutchison tetap mempertahankan keterlibatan strategisnya dalam PT Infra Fiber Teknologi. Model tata kelola IFT dirancang secara independen, mengadopsi prinsip bisnis open access yang diharapkan mampu membuka peluang kemitraan wholesale yang lebih luas. Target mitra mencakup berbagai pemain kunci di ekosistem digital, mulai dari operator telekomunikasi lainnya, perusahaan besar, hyperscaler global, hingga penyedia layanan digital inovatif. Dengan pendekatan ini, IFT bertujuan utama untuk mengakselerasi pemerataan konektivitas berkualitas tinggi di seluruh wilayah Indonesia, menjawab tantangan kesenjangan digital yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa.
President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, dalam siaran persnya menekankan visi yang melandasi pembentukan IFT. "Dengan menghadirkan infrastruktur fiber kelas dunia melalui platform independen berbasis open access yang dipimpin para ahli di industrinya, kami ingin memastikan manfaat AI, cloud, dan layanan digital generasi berikutnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh seluruh masyarakat. Inilah bentuk teknologi bagi semuanya," ujar Sinha. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen Indosat untuk tidak hanya memonetisasi aset tetapi juga berkontribusi pada ekosistem digital yang lebih inklusif dan maju, di mana teknologi canggih dapat diakses oleh setiap lapisan masyarakat.
Peluncuran IFT ini juga menandai rampungnya serangkaian transaksi strategis yang diawali dengan penandatanganan Perjanjian Investasi pada Desember 2023. Dalam perjanjian tersebut, Indosat dan PT Aplikanusa Lintasarta mengalihkan kepemilikan saham mereka di IFT kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT), sebuah platform investasi yang dimiliki oleh Arsari Group. Transaksi ini merupakan langkah cermat bagi Indosat untuk memonetisasi aset infrastrukturnya, sekaligus mempertahankan kepemilikan strategis jangka panjang di platform yang kini dikelola secara independen. Ini memungkinkan Indosat untuk fokus pada bisnis inti sebagai penyedia layanan telekomunikasi dan digital, sementara aset infrastruktur fiber dioptimalkan oleh entitas khusus.
Arsari Group, sebagai informasi, merupakan kelompok usaha yang didirikan oleh pengusaha terkemuka Hashim Djojohadikusumo. Portofolio bisnis Arsari sangat beragam, meliputi sektor sumber daya alam, energi, hingga investasi digital. Keterlibatan Arsari Group dalam IFT menunjukkan minat dan visi jangka panjang mereka terhadap potensi ekonomi digital Indonesia yang sangat besar, di mana infrastruktur fiber optik menjadi fondasi utamanya. Investasi ini bukan sekadar akuisisi aset, melainkan penanaman modal pada masa depan konektivitas dan inovasi digital di Indonesia.
Setelah rampungnya transaksi ini, Indosat dan PT Aplikanusa Lintasarta secara kolektif masih memiliki 49,9% saham di NFT. Ini menegaskan bahwa Indosat tetap menjadi pemain kunci dan memiliki kepentingan strategis dalam pengembangan IFT, memastikan sinergi berkelanjutan antara penyedia infrastruktur dan penyedia layanan. Dari transaksi monetisasi aset fiber ini, Indosat Group berhasil memperoleh dana bruto sekitar Rp11,7 triliun. Dana segar ini memiliki alokasi yang jelas dan strategis: memperkuat investasi pada bisnis inti perusahaan. Ini mencakup pengembangan konektivitas yang lebih luas dan berkualitas, percepatan implementasi jaringan 5G yang memerlukan backhaul fiber optik berkapasitas tinggi dan latensi rendah, serta pengembangan layanan digital yang inovatif, mulai dari aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) hingga solusi IoT (Internet of Things) yang membutuhkan konektivitas yang stabil dan cepat.
Aryo P.S. Djojohadikusumo, Deputy CEO & COO Arsari Group, turut menyampaikan visinya. "Kami menghadirkan pemimpin yang tidak hanya memahami bagaimana membangun dan mengelola infrastruktur dalam skala besar, tetapi juga memahami mengapa hal itu penting bagi masyarakat yang terhubung, bagi dunia usaha yang diberdayakan, serta bagi posisi Indonesia dalam perekonomian digital di masa depan," kata Aryo. Pernyataan ini menyoroti pentingnya kepemimpinan yang visioner dan pemahaman mendalam tentang dampak sosial-ekonomi dari infrastruktur digital, bukan sekadar aspek teknisnya.
IFT akan dipimpin oleh Hendri Mulya Syam sebagai Chief Executive Officer (CEO). Hendri Mulya Syam bukanlah nama baru di industri telekomunikasi Indonesia; ia pernah menjabat posisi strategis di Indosat Ooredoo dan Telkomsel. Pengalaman luasnya diharapkan mampu membawa IFT mencapai target ambisiusnya. Disampaikannya bahwa IFT tidak dibangun hanya untuk melayani wilayah yang telah memiliki konektivitas memadai, melainkan jauh lebih besar dari itu. "Kami membangun infrastruktur yang menjangkau daerah-daerah yang selama ini belum terlayani secara optimal, menghadirkan akses terhadap layanan yang tepercaya dan andal bagi masyarakat, sekaligus memberdayakan pelaku usaha yang menjadi penggerak perekonomian Indonesia di seluruh nusantara," ucap Hendri. Komitmen ini selaras dengan agenda nasional untuk mempersempit kesenjangan digital dan mendorong inklusi digital.
Jaringan fiber optik sepanjang 86.000 kilometer yang dikelola IFT merupakan salah satu aset infrastruktur digital terbesar di Indonesia. Skala ini memungkinkan IFT untuk tidak hanya melayani kota-kota besar tetapi juga merambah ke wilayah tier 2 dan tier 3, bahkan daerah-daerah terpencil yang selama ini kesulitan mendapatkan akses internet berkualitas. Jaringan backbone yang kuat akan menjadi tulang punggung bagi transmisi data berkapasitas tinggi, sementara kabel bawah laut domestik akan menghubungkan pulau-pulau besar di Indonesia, dan jaringan akses akan membawa konektivitas langsung ke rumah-rumah, kantor-kantor, dan pusat-pusat bisnis.
IFT menargetkan perluasan pembangunan jaringan fiber secara agresif, terutama di wilayah yang masih memiliki keterbatasan konektivitas. Ini bukan hanya tentang menambah panjang kabel, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas dan keandalan jaringan. Selain itu, perusahaan akan memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari operator telekomunikasi lainnya yang membutuhkan infrastruktur wholesale, penyedia cloud yang memerlukan konektivitas latensi rendah, hyperscaler yang mencari lokasi data center yang terhubung, hingga pelaku industri digital lainnya yang membutuhkan fondasi kuat untuk inovasi mereka.
Model bisnis berbasis open access yang diusung IFT diharapkan mampu membawa sejumlah manfaat signifikan. Pertama, ia dapat meningkatkan efisiensi investasi jaringan secara nasional, karena berbagai operator dapat berbagi infrastruktur tanpa harus membangun jaringan serupa dari awal. Kedua, ini akan memperkuat ketahanan infrastruktur telekomunikasi nasional, dengan adanya diversifikasi kepemilikan dan pengelolaan yang independen. Ketiga, yang terpenting, model ini dipercaya akan mempercepat pemerataan akses internet berkualitas tinggi di berbagai daerah, menciptakan lingkungan yang lebih kompetitif dan mendorong inovasi layanan digital bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Keterlibatan Arsari Group, dengan Hashim Djojohadikusumo sebagai pendirinya, membawa dimensi baru dalam investasi infrastruktur digital. Arsari Group memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengelola aset berskala besar di berbagai sektor, dan kini mereka membawa keahlian tersebut ke sektor teknologi. Sinergi antara keahlian Indosat dalam operasional telekomunikasi dan kapasitas investasi serta manajemen strategis Arsari Group diharapkan dapat menjadikan IFT pemain dominan yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan dampak transformatif bagi kemajuan digital Indonesia.
Secara keseluruhan, pembentukan PT Infra Fiber Teknologi dan pengelolaan aset fiber Indosat oleh Grup Hashim Djojohadikusumo melalui Arsari Group adalah langkah maju yang signifikan. Ini bukan hanya sebuah transaksi bisnis besar, melainkan sebuah investasi pada masa depan digital Indonesia, yang berpotensi menjembatani kesenjangan konektivitas, memberdayakan ekonomi lokal, dan menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih kuat dalam peta ekonomi digital global. Dengan kepemimpinan yang berpengalaman dan model bisnis yang inovatif, IFT siap menjadi pilar utama dalam mewujudkan visi "teknologi bagi semuanya" di Nusantara.

