Pengurus Daerah (PD) Rifa’iyah Kabupaten Temanggung sukses menyelenggarakan kegiatan selapanan rutin Ahad Pahing yang berlangsung khidmat di Ranting Rifa’iyah Dadapan, Desa Bendungan, Kecamatan Tretep, pada Ahad (1/11/2026). Gelaran akbar ini berhasil menarik kehadiran sekitar 1.200 jemaah yang datang dari berbagai ranting di seluruh penjuru wilayah Temanggung, menunjukkan antusiasme tinggi warga Rifa’iyah dalam merawat silaturahmi dan menuntut ilmu agama. Kehadiran ribuan jemaah ini tidak hanya memadati area pengajian, tetapi juga memberikan energi positif bagi pengembangan dakwah di tingkat ranting.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting yang menjadi pilar organisasi, di antaranya anggota Dewan Syuro Pimpinan Pusat (PP) Rifa’iyah K. Imbuh Jumali, Ketua Dewan Syuro PD Rifa’iyah Temanggung K. Samsul Ma’arif, serta Ketua Umum PD Rifa’iyah Temanggung K. Shobikun. Selain jajaran pengurus pusat dan daerah, hadir pula unsur Forkopimcam Tretep serta Kepala Desa Bendungan yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan keagamaan ini. Sebagai pengisi tausiyah utama, panitia menghadirkan KH. Muhammad Ruwaifi Mawardi, ulama karismatik asal Kaliwungu, Kendal, untuk memberikan pencerahan kepada para jemaah.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Dua PD Rifa’iyah Temanggung, Abdul Manan, M.A., menegaskan bahwa selapanan bukan sekadar agenda rutin, melainkan instrumen strategis untuk memperkuat struktur organisasi. Ia menekankan bahwa kegiatan ini berfungsi ganda sebagai sarana tholabul ilmi dan ajang konsolidasi internal. Lebih lanjut, Abdul Manan menyampaikan bahwa keberadaan ranting sebagai tuan rumah merupakan upaya konkret untuk mensyiarkan ajaran KH. Ahmad Rifa’i secara merata ke pelosok daerah.
"Rifa’iyah sebagai sebuah gerakan telah memiliki sejarah panjang. Namun, sebagai sebuah organisasi formal, kita terus bertumbuh sejak berdiri pada tahun 1991 pasca-seminar di UGM Yogyakarta. Kita harus memegang prinsip bahwa kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan mudah dikalahkan oleh kemungkaran yang terorganisir. Oleh karena itu, penguatan organisasi adalah harga mati bagi setiap kader," ujar Abdul Manan di hadapan para jemaah.
Selain aspek pengorganisasian, Abdul Manan memaparkan sejumlah agenda krusial yang akan dihadapi PD Rifa’iyah Temanggung dalam waktu dekat. Beberapa di antaranya meliputi program ziarah ke Manado pada 8 November, persiapan Musyawarah Kerja (Muker) untuk kepengurusan periode 2026–2031 yang akan digelar akhir November, hingga agenda pendidikan Pekan Madaris pada Januari mendatang. Terkait ziarah Pantura yang menjadi agenda rutin tahunan, ia menjelaskan bahwa tahun ini terdapat sinkronisasi jadwal langsung dengan Pimpinan Pusat, namun daerah tetap berkomitmen untuk mengupayakan kemandirian pelaksanaan ziarah tersebut di masa depan.

Sesi inti pengajian diisi dengan pendalaman kitab Khusnul Mutholab yang dipimpin oleh K. Imbuh Jumali. Kitab ini merupakan bagian dari sepuluh kitab Bismillah karya KH. Ahmad Rifa’i yang wajib dipahami oleh setiap mukalaf. Dalam penyampaiannya, K. Imbuh Jumali menyoroti esensi iman sebagai nikmat tertinggi yang tidak bisa disetarakan dengan kekayaan duniawi. Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara sifat Ar-Rahman yang diberikan Allah kepada seluruh manusia, dengan sifat Ar-Rahim yang menjadi kasih sayang khusus bagi orang beriman.
"Dunia bersifat sementara, sedangkan iman memiliki manfaat abadi. Banyak orang non-muslim yang mendapatkan kecukupan duniawi, namun tidak semua orang dianugerahi iman. Inilah letak keistimewaan seorang mukmin yang harus dijaga dengan ketakwaan," jelas K. Imbuh Jumali. Beliau juga mengingatkan pentingnya etika dalam belajar, yakni dengan membawa teks kitab (korasan) saat pengajian. Menurutnya, menyimak kajian tanpa membawa kitab ibarat seorang pekerja yang turun ke lapangan tanpa membawa peralatan kerja, sehingga ilmu yang didapat tidak maksimal.
Sementara itu, KH. Muhammad Ruwaifi Mawardi dalam ceramah utamanya menekankan pentingnya meluruskan niat dalam beramal. Beliau mengajak jemaah untuk rutin membaca manakib atau riwayat hidup para ulama besar, terutama KH. Ahmad Rifa’i, agar semangat perjuangan dan kegigihan mereka dalam beribadah dapat diteladani oleh generasi masa kini. Menurut KH. Ruwaifi, kehadiran di majelis ilmu adalah kunci untuk melembutkan hati.
"Jika rahmat Allah sudah meresap dalam diri, maka segala bentuk ibadah akan terasa ringan dan menyenangkan. Sebaliknya, jika hati sudah tertutup, maka ketaatan akan terasa sebagai beban yang memberatkan," tutur ulama asal Kaliwungu tersebut. Ia juga memberikan peringatan keras mengenai pentingnya menjaga asupan makanan yang halal serta mengendalikan lisan. Perkataan yang sia-sia, menurutnya, dapat menjadi hijab yang menghambat datangnya rezeki dan mengeraskan hati manusia.
Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama untuk kemaslahatan umat dan penguatan organisasi Rifa’iyah di masa depan. Antusiasme 1.200 jemaah yang hadir hingga akhir acara mencerminkan loyalitas yang kuat terhadap ajaran KH. Ahmad Rifa’i. Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi tradisi luhur, PD Rifa’iyah Temanggung terus berupaya membentengi umat dari pengaruh budaya kolonial dan gaya hidup yang bertentangan dengan syariat Islam. Momentum selapanan ini terbukti efektif dalam memupuk militansi kader sekaligus memperdalam pemahaman keislaman bagi warga Rifa’iyah di Temanggung, memastikan bahwa roda organisasi terus berputar demi keberlangsungan dakwah yang lebih luas dan terorganisir di masa yang akan datang.

Komentar (0)