BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktris multitalenta Asri Welas tak bisa menahan gejolak emosi dan air mata yang membasahi pipinya saat membeberkan lika-liku kehidupannya sebagai seorang ibu tunggal. Di tengah hiruk-pikuk jadwal pekerjaan yang padat demi menafkahi ketiga buah hatinya, Asri merasakan gelombang rasa syukur yang mendalam atas kehadiran putra sulungnya, Rajwa Gilbram Ridha Rahardja, yang akrab disapa Ibam. Sosok Ibam, di mata Asri, bukan sekadar anak, melainkan sumber kekuatan dan penyejuk hati di tengah badai kehidupan yang dihadapinya.
Asri Welas dengan tulus mengungkapkan betapa sederhananya pribadi Ibam. Remaja yang kini menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas ini sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap manja atau menuntut kemewahan, meskipun ia menyandang status sebagai anak dari seorang figur publik. Ironisnya, dalam urusan pemenuhan kebutuhan pribadi, terutama pakaian dan barang-barang pendukung lainnya, Ibam lebih sering bersikap pasif, menunggu dibelikan oleh sang ibu daripada mengutarakan keinginannya sendiri. Sikap ini mencerminkan kedewasaan yang luar biasa di usianya yang masih belia.
"Baju juga kalau nggak dibeliin, dia nggak beli. Dia nggak pernah milih ke clothing store, nggak pernah. Jadi aku yang pilihin, ‘Bam ini modelnya bagus, ini modelnya bagus’. Mami mau beli? Dia bilang ini nggak apa-apa, nggak apa-apa. Dia nggak pernah dia nunjuk di mal, ‘Mami, ini mami’, nggak pernah," ungkap Asri Welas dengan suara yang masih bergetar menahan haru saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Sabtu (16/5/2026). Ungkapan ini bukan sekadar pengakuan, melainkan sebuah testimoni tentang karakter mulia yang telah ditanamkan pada diri Ibam. Ia tidak pernah memanfaatkan status ibunya untuk mendapatkan barang-barang mewah, melainkan menunjukkan sikap mandiri dan sederhana yang patut dicontoh.
Lebih jauh lagi, kedewasaan Ibam terpancar jelas dalam cara pandangnya terhadap prioritas keuangan keluarga. Alih-alih memfokuskan perhatian pada pemenuhan keinginan pribadi yang bersifat konsumtif, remaja yang telah menginjak usia SMA ini justru menjadi penasihat bijak bagi ibunya. Ibam secara aktif mengingatkan Asri agar setiap rupiah yang dihasilkan dari kerja kerasnya digunakan untuk hal-hal yang memiliki nilai investasi jangka panjang dan bermanfaat bagi masa depan keluarga. Ia menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya perencanaan keuangan yang matang, sebuah pemikiran yang jarang ditemukan pada anak seusianya.
"Mami kan kerjanya udah banyak, ngerti-ngerti. Karena masalah kan dalam aspek kehidupan itu kan bisa untuk digunain untuk hal yang lebih penting ya, berguna ya. Misalnya berinvestasi gitu, atau beli saham gitu contohnya," ujar Ibam, menyiratkan kepeduliannya yang mendalam terhadap kesejahteraan ibunya dan masa depan adik-adiknya. Pernyataan ini menegaskan bahwa Ibam bukan hanya sekadar anak yang patuh, tetapi juga seorang pemikir strategis yang peduli pada keberlanjutan finansial keluarga. Ia melihat pekerjaan ibunya bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi sebagai alat untuk membangun fondasi yang kuat bagi masa depan.
Keteguhan sikap Ibam kembali diuji dalam situasi yang lebih konkret, yaitu ketika salah satu barang yang menjadi keperluan sekolahnya mengalami kerusakan. Alih-alih langsung meminta penggantian dengan model terbaru yang mungkin lebih menarik dan canggih, Ibam justru menunjukkan sikap yang sangat bijak dan hemat. Ia bersikeras untuk mencoba memperbaiki barang yang sudah ada terlebih dahulu, sebagai upaya untuk meminimalkan pengeluaran tambahan bagi sang ibu. Sikap ini membuktikan bahwa Ibam memiliki kesadaran yang tinggi akan keterbatasan finansial keluarga dan tidak ingin menambah beban ibunya.
"Bisa diservis dulu, kalau nggak bisa diservis baru beli baru. Servis dulu," ucap Ibam dengan tegas, menunjukkan prinsip hidupnya yang mengutamakan solusi yang paling efisien dan ekonomis. Keputusan ini bukan hanya soal menghemat uang, tetapi juga tentang menghargai nilai barang dan berusaha untuk memanfaatkannya semaksimal mungkin sebelum memutuskan untuk menggantinya.
Mendengar pernyataan dan melihat sikap putranya tersebut, Asri Welas tak kuasa menahan tawa yang bercampur dengan rasa heran yang mendalam. Ia begitu takjub dengan pemikiran putranya yang sangat hemat dan dewasa di luar usianya. Asri mengakui bahwa kondisi dirinya sebagai orang tua tunggal telah menciptakan ikatan emosional yang sangat kuat antara dirinya dan Ibam. Dalam hubungan ini, Ibam tidak hanya berperan sebagai anak, tetapi juga sebagai pelindung yang selalu berusaha menjaga dan melindungi ibunya dari berbagai kesulitan.
"Tuh, kamu anak artis bukan sih? Nggak pernah dia, makanya aku langsung, yang membuat aku kan single parent di sini, kerasa banget gitu. Jadi dia mengerti banget, jadi aku dari tadi, ‘Oh Ibam ngerti mami’. Mungkin mami-mami yang nonton supaya tahu mengerti keadaan, ada yang nggak bisa dapat semua fasilitas yang ada," ujar Asri Welas, menyuarakan harapannya agar kisahnya dapat menginspirasi para ibu tunggal lainnya untuk tetap kuat dan berjuang demi anak-anak mereka. Ia berharap bahwa Ibam dapat menjadi contoh bagi anak-anak lain, bahwa kesederhanaan dan pengertian adalah aset yang tak ternilai harganya.
Ibam sendiri menyadari betul tanggung jawabnya sebagai anak laki-laki tertua di rumah. Ia bertekad untuk terus menjaga keharmonisan dan ketenangan suasana rumah tangga, serta memastikan bahwa tidak ada pihak mana pun yang dapat menyakiti hati ibunya. Komitmen ini bukan hanya sekadar ucapan, tetapi sebuah janji yang ia pegang teguh. Ia melihat ibunya sebagai sosok pahlawan yang telah berjuang keras untuk dirinya dan adik-adiknya, dan ia merasa berkewajiban untuk membalas segala pengorbanan itu.
"No one should harm her. She’s my mother, after all. She’s the one who gave birth to me and took care of me since I was a baby. So, of course, I should give her what she deserves," tegas Ibam, dengan penuh keyakinan dan cinta yang tulus. Ungkapan ini menjadi bukti nyata bahwa meskipun masih muda, Ibam memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai keluarga dan kasih sayang seorang ibu. Ia adalah permata yang berharga bagi Asri Welas, sumber kekuatan yang membantunya melewati setiap rintangan, dan bukti nyata bahwa cinta dan pengertian dapat tumbuh subur di tengah segala keterbatasan. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dari materi, tetapi dari ikatan batin yang kuat dan saling mendukung antar anggota keluarga.
Kehidupan sebagai single parent memang penuh tantangan, namun Asri Welas telah membuktikan bahwa dengan cinta yang besar, keteguhan hati, dan dukungan dari orang-orang terkasih seperti Ibam, segala rintangan dapat diatasi. Ibam bukan hanya sekadar anak, ia adalah cerminan dari didikan yang baik, seorang anak laki-laki yang tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berbakti, dan penuh kasih. Ia adalah kekuatan yang tak tergantikan bagi Asri, penerang di kala gelap, dan pelipur lara di kala duka. Di matanya, Asri melihat masa depan yang cerah, sebuah harapan yang terus membara, dan cinta tanpa syarat yang akan selalu menemaninya dalam setiap langkah kehidupannya. Kehadiran Ibam adalah anugerah terindah yang tak ternilai harganya, sebuah pengingat bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kekuatan dan keajaiban yang tersembunyi.

