BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pasangan selebriti ternama, Ashanty dan Anang Hermansyah, akhirnya mengumumkan keputusan mereka untuk melepas salah satu hunian mewah mereka di kawasan Cinere. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan karier dan kebahagiaan keluarga ini ditawarkan dengan harga fantastis Rp 25 miliar. Namun, bagi calon pembeli yang memiliki niat serius, Ashanty menegaskan bahwa harga tersebut masih terbuka untuk negosiasi. "Aku kan bukanya udah harga bagus tuh Rp 25 (miliar) nego karena memang harga di sana sekitar pokoknya di atas Rp 20 (miliar) lah," ujar Ashanty saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pada Senin, 27 April 2026.
Keputusan menjual rumah ikonik ini bukanlah perkara mudah. Ashanty mengungkapkan bahwa rumah tersebut menyimpan begitu banyak kenangan dan menjadi simbol pencapaian luar biasa bagi dirinya dan Anang. Namun, demi memenuhi permintaan sang putri, Aurel Hermansyah, yang ingin lebih dekat dengan kedua orang tuanya dan para cucu, Ashanty dan Anang akhirnya bulat tekad untuk memindahkan lokasi hunian mereka. "Nah di bulan akhir tahun kemarin kita sepakat untuk Aurel kan minta pindah ke deket rumah dia. Jadi kata kakak ‘Bun pindah dong’. Akhirnya Mas Anang setuju, nah akhirnya kita sekarang jual di harga pasaran bukan di harga bawah rata-rata. Kita jual di harga normalnya perumahan sana jadi fair lah," jelas Ashanty. Perubahan ini merupakan wujud nyata dari prioritas keluarga yang kini bergeser, mengutamakan kebersamaan dan kedekatan dengan generasi penerus.
Lebih lanjut, Ashanty menceritakan perjuangan emosional di balik keputusan ini. Ternyata, Anang Hermansyah sempat sangat menentang keras rencana penjualan rumah Cinere tersebut. Bagi Anang, rumah ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan representasi dari kerja keras dan perjuangan panjang yang telah ia lalui selama bertahun-tahun. "Jadi rumah Cinere itu kita tuh 5 tahun udah jual ya temen-temen. Di 3 tahun pertama Mas Anang tuh gak, jadi kita berantem lah karena Mas Anang maunya nggak dijual, rumah kenang-kenangan. Rumah itu bikin kita jadi sukses, rumah itu bawa hoki. Jadi siapapun yang beli, dia pertahankan," ungkap Ashanty, menggambarkan betapa berartinya rumah tersebut bagi Anang. Perdebatan yang terjadi selama tiga tahun pertama penjualan menunjukkan betapa dalam ikatan emosional Anang dengan rumah yang telah memberinya banyak hal.
Proses penjualan rumah ini ternyata telah berlangsung selama lima tahun. Di awal-awal, Anang Hermansyah memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan Ashanty mengenai aset berharga ini. Anang menganggap rumah tersebut sebagai tempat yang membawa keberuntungan dan kesuksesan bagi keluarga mereka, sehingga ia enggan melepaskannya. "Rumah itu bikin kita jadi sukses, rumah itu bawa hoki. Jadi siapapun yang beli, dia pertahankan," ujar Ashanty, mengulang kembali keyakinan Anang yang kuat akan nilai spiritual rumah tersebut. Keyakinan Anang bahwa rumah tersebut membawa keberuntungan menjadi salah satu alasan utama mengapa ia sangat berat hati untuk menjualnya. Ia percaya bahwa siapa pun yang kelak menjadi pemilik baru rumah tersebut akan merasakan berkah dan kesuksesan yang sama.
Namun, seiring berjalannya waktu dan dengan adanya perubahan dinamika keluarga, terutama keinginan Aurel untuk berada lebih dekat dengan orang tuanya, Anang akhirnya melunak. Keputusan untuk pindah demi keluarga menjadi prioritas utama yang mengalahkan rasa berat hati Anang. Ashanty menjelaskan bahwa kesepakatan untuk menjual rumah tersebut baru tercapai pada akhir tahun lalu, setelah melalui berbagai diskusi dan pertimbangan matang. "Nah di bulan akhir tahun kemarin kita sepakat untuk Aurel kan minta pindah ke deket rumah dia. Jadi kata kakak ‘Bun pindah dong’. Akhirnya Mas Anang setuju, nah akhirnya kita sekarang jual di harga pasaran bukan di harga bawah rata-rata. Kita jual di harga normalnya perumahan sana jadi fair lah," terangnya.
Keputusan untuk menjual rumah Cinere dengan harga pasar yang wajar, bukan harga miring, menunjukkan bahwa Ashanty dan Anang ingin bersikap adil kepada calon pembeli. Mereka tidak ingin memanfaatkan situasi atau terkesan terburu-buru menjual aset penting ini. Penetapan harga Rp 25 miliar dianggap Ashanty sebagai harga yang pantas, mengingat nilai dan lokasi properti tersebut. "Aku kan bukanya udah harga bagus tuh Rp 25 (miliar) nego karena memang harga di sana sekitar pokoknya di atas Rp 20 (miliar) lah," tegasnya. Angka ini mencerminkan nilai aset yang signifikan, sekaligus membuka ruang bagi negosiasi yang sehat.
Lebih jauh, Ashanty juga menyinggung mengenai alasan spesifik di balik keinginan Aurel untuk pindah. "Jadi kata kakak ‘Bun pindah dong’," ucap Ashanty menirukan ucapan putrinya. Permintaan ini tentu saja membawa kebahagiaan tersendiri bagi Ashanty dan Anang, karena menunjukkan keinginan Aurel untuk lebih dekat dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Hal ini menjadi motivasi kuat bagi mereka untuk mencari hunian baru yang lebih strategis, yaitu berdekatan dengan kediaman Aurel dan anak-anaknya. Keputusan ini menunjukkan betapa pentingnya keharmonisan keluarga bagi Ashanty dan Anang, bahkan ketika harus mengorbankan salah satu aset terpenting mereka.
Rumah di Cinere ini memang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan Ashanty dan Anang. Sejak awal pembangunan, rumah ini telah menjadi pusat dari banyak momen penting dalam kehidupan mereka. Mulai dari merintis karier dari nol, membangun keluarga, hingga menyaksikan tumbuh kembang anak-anak mereka, semua terukir di setiap sudut rumah tersebut. "Rumah itu bikin kita jadi sukses, rumah itu bawa hoki," kata Ashanty, mengutip keyakinan Anang. Pernyataan ini menggarisbawahi hubungan emosional yang kuat antara pasangan ini dengan rumah tersebut, yang mereka yakini telah memberikan kontribusi besar terhadap kesuksesan dan kebahagiaan mereka.
Proses penjualan yang memakan waktu lima tahun juga menunjukkan betapa selektifnya Ashanty dan Anang dalam mencari calon pembeli yang tepat. Mereka tidak hanya mencari pembeli yang mampu secara finansial, tetapi juga pembeli yang dapat menghargai dan merawat rumah tersebut sebagaimana mestinya. "Jadi siapapun yang beli, dia pertahankan," ujar Ashanty, menyiratkan harapan agar pemilik baru rumah ini dapat merasakan keberkahan yang sama seperti yang mereka rasakan. Harapan ini menunjukkan bahwa penjualan ini bukan sekadar transaksi bisnis, tetapi juga sebuah pewarisan nilai dan kenangan.
Dengan demikian, keputusan menjual rumah Rp 25 miliar di Cinere ini merupakan kombinasi antara pertimbangan bisnis yang matang, prioritas keluarga yang kuat, dan ikatan emosional yang mendalam. Ashanty dan Anang Hermansyah membuktikan bahwa bagi mereka, kebahagiaan dan kebersamaan keluarga adalah aset yang paling berharga, bahkan jika itu berarti harus melepaskan sebuah istana mewah yang penuh kenangan. Dan bagi para calon pembeli, kesempatan untuk memiliki rumah bersejarah ini dengan harga yang masih bisa dinegosiasikan tentu menjadi daya tarik tersendiri. Keputusan ini adalah babak baru bagi keluarga Anang dan Ashanty, yang akan membawa mereka lebih dekat lagi dengan impian untuk selalu bersama keluarga besar mereka.

