Rifaiyah

Reportase Inspiratif: Sembilan Ribu Hati, Satu Nama

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

Ada pagi yang datang bukan untuk menyambut matahari, melainkan untuk menyambut sebuah nama yang abadi dalam ingatan kolektif. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, nama itu adalah Simbah KH. Abdul Malik, sosok ulama sepuh yang telah berpulang ke rahmatullah sejak tahun 1988. Meski tiga puluh delapan tahun telah berlalu, resonansi kewaliannya terbukti masih sangat kuat, sanggup menggerakkan lebih dari sembilan ribu langkah menuju tanah Ngawinan, Jetis, Bandungan, Kabupaten Semarang. Kehadiran ribuan jemaah ini bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah manifestasi cinta yang melampaui dimensi ruang dan waktu.

Jadwal semula menetapkan acara dimulai sebelum pukul sepuluh pagi. Namun, realitas di lapangan jauh melampaui prediksi panitia. Kursi-kursi yang telah disiapkan habis terisi dalam sekejap, memaksa panitia bekerja ekstra cepat dengan membentangkan terpal di berbagai sudut agar seluruh hadirin dapat duduk dengan khidmat. Angka sembilan ribu bukan sekadar statistik, melainkan bukti bagaimana seorang hamba yang menepati janji kepada Tuhannya semasa hidup akan mendapati dunia menepati janji kenangannya setelah ia tiada. Mereka datang dari berbagai pelosok, mulai dari kampung-kampung sekitar hingga perwakilan dari berbagai kota besar di Jawa, menyatu dalam satu ikatan batin yang sama.

Di balik lautan manusia tersebut, terdapat manajemen kasih sayang yang tak tercatat dalam lembaran Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp86 juta. Bapak Hadar, perwakilan panitia, sempat melontarkan kelakar agar warga setempat memberikan prioritas konsumsi bagi tamu. Nyatanya, keramahan warga Ngawinan melampaui batas formalitas. Hingga tengah malam sebelum acara, penduduk setempat sibuk menyiapkan rumah mereka sebagai ruang istirahat bagi tamu yang tidak kebagian tempat. Menjamu tamu bagi warga di sini adalah sedekah yang paling sunyi namun paling bermakna; sebuah bentuk pelayanan yang mencerminkan ajaran Islam yang memuliakan tamu sebagai kekasih Allah.

Acara dibuka dengan kekhusyukan melalui pembacaan Ummul Kitab dan tilawah Al-Qur’an oleh Al-Ustaz Ain Ali Maftuh. Lantunan ayat-ayat penutup Surah An-Naba hingga Surah An-Nazi’at yang dibacakan seolah menjadi pengingat lembut bahwa setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju titik akhir yang sama. Prosesi tahlil dan doa yang dipimpin Al-Ustaz Ihsan Isroil menjadi puncak penyambung sanad cinta. Al-Fatihah dikirimkan berurutan, mulai dari Rasulullah SAW, para nabi, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, hingga KH. Ahmad Rifa’i dan Simbah KH. Abdul Malik. Di momen itulah, ribuan suara melebur dalam satu frekuensi, menegaskan bahwa sanad keilmuan dan sanad cinta adalah dua pilar yang menjaga keutuhan umat.

KH. Anas Anwar, selaku sesepuh, menyampaikan sambutan yang singkat namun padat akan hikmah. Beliau mengingatkan bahwa Simbah KH. Abdul Malik adalah sosok yang penuh karamah, namun karamah terbesar beliau adalah kemampuannya menyatukan hati manusia yang berbeda-beda. Di tengah musim kemarau yang telah berlangsung empat bulan, pesan beliau sangat membumi: hematlah air untuk berwudu dan jangan berhenti bersujud memohon hujan. Dalam kesederhanaan kata-katanya, terselip ajaran tentang pentingnya menjaga hal-hal kecil demi keberlangsungan ibadah bersama.

Memasuki sesi inti, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza naik ke mimbar. Kehadirannya disambut antusias oleh jemaah yang secara serempak menolak untuk menyudahi acara meski waktu telah mendekati zuhur. Gus Reza membuka ceramahnya dengan sebuah pengakuan jenaka bahwa lokasi pengajian yang berada di area makam adalah guru yang sesungguhnya. Makam-makam di sekeliling jemaah adalah pengingat akan kematian yang tidak bisa dinegosiasi. Dari sana, beliau memaparkan enam pelajaran penting bagi kehidupan.

Pelajaran pertama adalah tentang kehidupan para ulama setelah wafat. Mengutip QS. Ali Imran: 169, beliau menegaskan bahwa orang yang gugur di jalan Allah, termasuk para wali dan ulama, tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki. Mereka tidak benar-benar pergi, melainkan berpindah alam. Gus Reza kemudian menyelipkan kisah lucu tentang nasab keilmuan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari yang diapit oleh guru dan murid yang bernama "Hajar" (batu). Hikmahnya adalah perlunya guru yang cerdas untuk menempa murid yang kritis, dan sebaliknya.

Reportase Inspiratif: Sembilan Ribu Hati, Satu Nama

Pelajaran kedua mengenai "Meninggalkan Nama". Beliau menyinggung pepatah Arab tentang wafatnya orang saleh yang menjadi istirahat baginya, berbanding terbalik dengan orang buruk yang wafat justru menjadi kelegaan bagi sesama. Beliau mengingatkan bahwa malaikat Izrail memiliki "pasukan" berupa asam urat, kolesterol, dan darah tinggi sebagai alarm bagi manusia. Tugas kita saat ini adalah menabung kebaikan agar kelak ketika nama kita disebut, orang akan mendoakan, bukan menagih utang.

Pelajaran ketiga adalah tentang cinta yang turun dari langit. Mengacu pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau menjelaskan bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, maka penduduk langit dan bumi akan mencintainya. Cinta masyarakat kepada seseorang adalah indikator kecintaan Allah. Syaratnya, kebaikan tersebut harus berbasis syariat, bukan mencari popularitas dengan cara yang melanggar aturan agama. Kebaikan adalah bahasa universal yang mampu menembus sekat-sekat perbedaan, baik itu ormas, partai, maupun latar belakang sosial.

Pelajaran keempat adalah tentang berbakti dengan meneruskan perjuangan. Bagi Gus Reza, meneruskan jejak guru sama dengan birrul walidain. Namun, hal ini tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan. Harus ada pondasi ilmu yang kuat. Haul menjadi ajang briefing spiritual agar langkah para pengikut tidak melenceng dari garis yang telah ditetapkan oleh para pendahulu.

Pelajaran kelima menekankan bahwa kisah para ulama adalah "pasukan Allah yang tidak terlihat". Mengutip Imam Abu Hanifah dan Imam al-Ghazali, beliau menyatakan bahwa mendengarkan kisah orang saleh jauh lebih bermanfaat bagi hati daripada perdebatan fikih yang kering. Kisah-kisah tersebut mampu menggugah jiwa dan meneguhkan hati, sebagaimana Al-Qur’an sendiri yang sebagian besarnya berisi kisah-kisah para nabi.

Pelajaran terakhir adalah tentang pohon yang tidak mau tumbang. Mengutip Marcus Garvey, beliau menegaskan bahwa generasi yang tidak mengenal sejarah ibarat pohon tanpa akar. Ia akan mudah dirobohkan oleh angin kencang radikalisme, kapitalisme, maupun sekularisme. Di sinilah pentingnya menjaga tradisi, mengenal dawuh guru, dan memegang teguh prinsip kebangsaan seperti NKRI harga mati.

Menjelang akhir acara, suasana sempat cair dengan kisah-kisah jenaka dari kitab An-Nawadir yang dibawakan Gus Reza, yang membuat ribuan jemaah tertawa di antara nisan-nisan. Doa penutup dipanjatkan dengan tawasul yang panjang, memohon ampunan, keberkahan, serta husnul khatimah. Sebelum bubar, panitia mengumumkan agenda estafet haul berikutnya yang akan digelar di Sapuran, Wonosobo, pada 13 Oktober 2026 mendatang.

Pulang dari Ngawinan, setiap jemaah membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar berkat atau makanan. Mereka membawa kesadaran akan kefanaan dan pentingnya jejak kebaikan. Bahwa pada akhirnya, jabatan akan tanggal, harta akan ditinggal, dan suara akan hilang, namun nama yang harum akan tetap abadi dalam doa-doa orang yang ditinggalkan. Bagi dunia pendidikan dan pesantren, peristiwa ini memberikan refleksi besar: bahwa sebuah generasi tidak cukup hanya tumbuh tinggi menjulang secara intelektual, tetapi ia harus memiliki akar yang dalam pada sejarah dan keteladanan.

Sembilan ribu hati yang berkumpul di Ngawinan hari itu mungkin pulang ke rumah masing-masing dengan lelah fisik, namun dengan jiwa yang terisi penuh oleh siraman rohani. Mereka membawa satu pertanyaan reflektif yang akan terus terngiang hingga akhir hayat: ketika nanti giliran kita yang dipanggil pulang, nama apakah yang akan diingat dan disebut orang dengan penuh kerinduan? Semoga kita semua termasuk golongan yang meninggalkan jejak kebaikan, sebagaimana Simbah KH. Abdul Malik yang terus dicintai meski raganya telah tiada. Wallahu a’lam bish-shawab.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Rifan Muazin Ar-Rifai

Penulis dan kontributor di Bahas Gadgets dan Teknologi.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.