Program "AMRI Masuk Kampus" yang digagas oleh Pengurus Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) kini memasuki babak baru yang lebih strategis. Sebagai langkah konkret dalam upaya penguatan literasi intelektual, Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq, M.Pd., AH., melakukan pertemuan silaturahim dengan salah satu pakar filologi terkemuka di Indonesia, Prof. Dr. Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia). Pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 29 September 2026, di kantor PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjadi tonggak penting dalam upaya penyelamatan dan pengkajian warisan intelektual Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i. Dalam lawatan tersebut, Ketua Umum PP AMRI didampingi oleh Ketua Bidang Preservasi dan Digitalisasi Manuskrip PP AMRI, Gus Sakho Al-Fairuz, Lc., yang memfokuskan diskusi pada aspek teknis pelestarian naskah-naskah kuno.
Inisiatif "AMRI Masuk Kampus" bukan sekadar seremoni kunjungan, melainkan sebuah ikhtiar sistematis untuk menjembatani jurang antara komunitas pesantren dengan dunia akademik perguruan tinggi. Dengan menggandeng figur sekaliber Prof. Oman Fathurahman, PP AMRI menunjukkan keseriusan untuk membawa khazanah pemikiran KH. Ahmad Rifa’i ke dalam diskursus ilmiah yang lebih kredibel dan diakui secara nasional maupun internasional. Hal ini selaras dengan momentum di mana Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI telah menetapkan karya-karya KH. Ahmad Rifa’i sebagai Ingatan Kolektif Nasional tahun 2026, yang menuntut adanya tanggung jawab lebih besar dalam hal perawatan, konservasi, dan publikasi manuskrip-manuskrip tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
Dalam diskusi mendalam yang berlangsung, kedua belah pihak sepakat bahwa tantangan terbesar dalam preservasi manuskrip adalah aksesibilitas dan kondisi fisik naskah yang rentan terhadap kerusakan. Oleh karena itu, agenda besar yang direncanakan adalah penyelenggaraan "Konferensi Manuskrip Ulama Nusantara KH. Ahmad Rifa’i". Forum ini dirancang sebagai wadah pertemuan bagi filolog, peneliti, akademisi, dan praktisi manuskrip untuk membedah kedalaman pemikiran sang ulama. Melalui konferensi ini, diharapkan lahir kajian-kajian baru yang relevan dengan tantangan zaman modern, sekaligus memberikan legitimasi akademis atas kontribusi besar KH. Ahmad Rifa’i terhadap peradaban Islam di Nusantara.
Selain konferensi, fokus utama yang menjadi titik berat adalah digitalisasi manuskrip. Mengingat persebaran karya KH. Ahmad Rifa’i dan murid-muridnya yang tersebar di berbagai pelosok daerah—terutama di kantong-kantong komunitas Rifa’iyah—maka diperlukan sebuah sistem repositori digital yang terintegrasi. Prof. Oman Fathurahman, yang berpengalaman luas dalam jaringan DREAMSEA, memberikan masukan krusial terkait metodologi digitalisasi yang standar dan aman bagi naskah-naskah kuno. Upaya digitalisasi ini tidak hanya bertujuan untuk menyelamatkan fisik naskah, tetapi juga mempermudah para peneliti di seluruh dunia untuk mengakses dan meneliti isi kandungan kitab-kitab tersebut tanpa harus melakukan perjalanan fisik ke lokasi naskah asli, yang sering kali memiliki risiko keamanan dan kerusakan.

Lebih jauh lagi, PP AMRI juga berencana melakukan pendampingan bagi para peneliti yang ingin mendalami pemikiran KH. Ahmad Rifa’i. Selama ini, kajian mengenai tokoh ini sering kali terjebak pada narasi sejarah lokal yang kurang tersentuh oleh pendekatan kritis-akademis. Dengan melibatkan akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah, diharapkan akan muncul berbagai tesis, disertasi, dan artikel ilmiah yang menyoroti sisi keislaman, pendidikan, sosial, hingga hukum Islam dalam karya-karya KH. Ahmad Rifa’i. Hal ini dianggap sangat penting karena pemikiran beliau dianggap memiliki relevansi tinggi dalam menjawab isu-isu kontemporer seperti toleransi, kemandirian ekonomi, dan pendidikan karakter.
Dalam aspek pengembangan sumber daya manusia, pertemuan ini juga membuka peluang kerjasama beasiswa bagi kader-kader muda Rifa’iyah untuk melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa estafet kepemimpinan intelektual Rifa’iyah tetap terjaga dan memiliki kapasitas yang mumpuni untuk bersaing di dunia akademik. Kader-kader yang terpilih nantinya diharapkan tidak hanya menjadi penggerak organisasi, tetapi juga menjadi peneliti-peneliti masa depan yang mampu menarasikan kembali pemikiran-pemikiran KH. Ahmad Rifa’i dengan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi Z dan generasi Alpha.
Membangun jejaring dengan peneliti yang pernah meneliti komunitas Rifa’iyah juga menjadi agenda prioritas PP AMRI. Selama ini, banyak peneliti asing maupun lokal yang pernah melakukan observasi atau penelitian lapangan mengenai komunitas ini. Namun, seringkali hasil penelitian tersebut tidak terdistribusi dengan baik kembali ke masyarakat atau organisasi terkait. PP AMRI ingin mengubah pola tersebut dengan menciptakan ekosistem kolaboratif. Dengan adanya jejaring ini, pertukaran pengetahuan akan menjadi lebih dinamis, dan setiap temuan baru mengenai sejarah atau pemikiran Rifa’iyah dapat segera direspons dan diintegrasikan ke dalam pengembangan kurikulum pendidikan di pesantren-pesantren Rifa’iyah.
Strategi "AMRI Masuk Kampus" merupakan langkah berani untuk keluar dari zona nyaman. PP AMRI menyadari bahwa di era disrupsi informasi, menjaga warisan ulama tidak bisa lagi hanya dilakukan secara tradisional. Dibutuhkan teknologi informasi, metodologi riset modern, dan jejaring kerja sama lintas institusi. Kunjungan ke Prof. Oman Fathurahman hanyalah awal dari serangkaian kerja sama yang lebih besar. Rencananya, dalam waktu dekat akan disusun sebuah Memorandum of Understanding (MoU) formal yang akan mengikat kerja sama antara PP AMRI dengan institusi-institusi pendidikan tinggi yang memiliki konsen terhadap filologi dan studi Islam.
Sebagai kesimpulan, pertemuan antara PP AMRI dan Prof. Oman Fathurahman adalah sebuah langkah maju yang visioner. Preservasi manuskrip adalah upaya menjaga "ingatan kolektif" bangsa. Dengan menyelamatkan karya KH. Ahmad Rifa’i, PP AMRI sesungguhnya sedang berupaya menjaga identitas dan akar keilmuan Islam Nusantara agar tetap hidup dan relevan. Dukungan dari para akademisi, filolog, dan pihak perguruan tinggi akan menjadi katalisator yang mempercepat proses ini. Dengan sinergi yang kuat antara semangat aktivisme muda Rifa’iyah dan ketajaman metodologi ilmiah para akademisi, warisan KH. Ahmad Rifa’i akan terus terpancar sebagai lentera ilmu pengetahuan bagi generasi-generasi mendatang. Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa Angkatan Muda Rifa’iyah siap beradaptasi dengan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan akar tradisi yang telah diwariskan oleh pendiri organisasi.
