Rifaiyah

Feature Inspiratif: Kunci yang Tak Boleh Berubah

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

Dunia boleh terus berganti rupa, teknologi melesat melampaui imajinasi, dan gaya hidup berputar mengikuti arus zaman yang tak menentu, namun di halaman Masjid Hasan Busyro, Karangsambo, Wonosobo, ribuan jemaah menggenggam satu pesan yang sama: iman dan Islam adalah sauh yang tak boleh bergeser, apalagi hilang. Pada Selasa Pon, 13 Oktober 2026, ribuan pasang mata dan hati tertuju pada satu titik dalam Dzikro Haul ke-121 Syaikh KH. Hasan Busyro bin Syaikh KH. Abdul Hamid. Di tempat ini, tradisi bukan sekadar seremoni, melainkan napas yang menjaga api tauhid tetap membara di tengah badai zaman.

Sejak fajar menyingsing, Dusun Karangsambo menjelma menjadi episentrum spiritual. Jemaah dari berbagai penjuru—Pati, Kendal, Pekalongan, Batang, Pemalang, hingga Jakarta—tumpah ruah. Mereka hadir bukan sekadar untuk duduk mendengarkan, melainkan untuk meneguhkan kembali identitas sebagai bagian dari umat yang memegang teguh sanad ilmu. Acara ini merupakan perpaduan antara peringatan Haul ke-121 sang sesepuh Rifa’iyah dan Pengajian Rutin Selasa Pon ke-329. Jika pada awal mulanya majelis ini hanya dihadiri ratusan orang, kini puluhan ribu jemaah memadati lokasi, membuktikan bahwa dakwah yang dibangun di atas keikhlasan memiliki daya ikat yang melampaui batas waktu.

Suasana pagi itu ditata dengan kesantunan khas Jawa. Pranatacara memandu rangkaian acara dengan tutur krama yang menyejukkan, mulai dari tawasul, pembacaan tahlil oleh KH. Thoha Ja’far, hingga lantunan asrakal yang menggetarkan sukma. Namun, di balik kemegahan acara yang didukung penuh oleh ARD Multimedia Wonosobo, terselip adab yang mendalam. Al-Ustaz Ahmad Saifuddin, mewakili panitia, justru tampil dengan kerendahan hati yang luar biasa. Ia lebih banyak memohon maaf atas kekurangan daripada membanggakan keberhasilan. Inilah pelajaran pertama bagi jemaah: semakin besar sebuah pengabdian, semakin merasa kecil diri di hadapan Allah dan sesama.

Bapak Nurudin, Pimpinan Daerah Rifa’iyah Kabupaten Wonosobo, memberikan catatan sejarah yang memikat. Ia menceritakan sosok Mbah Haji Abdul Hamid, atau yang dikenal sebagai Mbah Hadis, ayah dari Syaikh Hasan Busyro. Mbah Hadis adalah murid Syaikh Ahmad Rifa’i yang alim, yang bahkan membawa anaknya, Busyro, dalam sebuah keranjang bambu untuk menghadap sang guru. Jejak sejarah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bukti bahwa perjuangan Rifa’iyah di Wonosobo telah mengakar sejak lama, disebarkan melalui jalur perdagangan dan pengajaran yang konsisten.

Sejarah mencatat bahwa Syaikh Ahmad Rifa’i lahir satu tahun setelah Pangeran Diponegoro. Jika Diponegoro melawan kolonial dengan fisik, Syaikh Ahmad Rifa’i memilih jalan perlawanan moral melalui ilmu dan pena. Inilah mengapa haul ini menjadi vital; agar generasi muda tidak kehilangan akar. Mengapa Mbah Busyro dijuluki "Mbah Agung"? Karena ia adalah penyambung estafet perjuangan moral tersebut. Bapak Nurudin menegaskan bahwa sering berkumpul dalam majelis seperti ini adalah kunci kekuatan organisasi serta kekuatan dunia dan akhirat.

KH. Afif Afdhol, sesepuh Pondok Pesantren Al-Busro, membawa jemaah merenung lebih dalam tentang arti "eling" atau ingat kepada Allah. Mengutip tafsir Ibnu Katsir tentang empat golongan manusia, beliau mengajak jemaah untuk mengejar predikat golongan yang bahagia di dunia dan akhirat. Caranya sederhana namun sulit dilakukan: menjadikan dzikir sebagai kesadaran yang menyertai setiap gerak langkah. Ketika tertimpa musibah, ucapkan istirja; ketika menerima nikmat, ucapkan tahmid. Jangan berhenti pada kesalahan, tetapi segera hapus dengan kebaikan.

Pesan tentang menghapus keburukan dengan kebaikan ini dikuatkan dengan kisah penelitian Prof. Sartono Kartodirdjo mengenai naskah sejarah tentang Syaikh Ahmad Rifa’i yang dipandang kurang elok di arsip Leiden. Alih-alih menghapus sejarah, para kiai justru memilih untuk menampakkan kebaikan dengan mengadakan seminar dan membedah kitab-kitab beliau. Hasilnya, dunia tahu bahwa ajaran Rifa’iyah berpijak kokoh pada Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Inilah strategi dakwah yang elegan: kebenaran tidak perlu menyerang, ia hanya perlu ditampakkan agar yang batil tersingkir dengan sendirinya.

Feature Inspiratif: Kunci yang Tak Boleh Berubah

Di tengah acara, suasana menjadi semakin hangat saat sesi sengkuyung pembangunan gedung Kantor Pimpinan Pusat Rifa’iyah. Al-Ustaz Abdul Basit Aziz mengajak jemaah berinfak. Bukan dengan paksaan, melainkan diiringi lantunan selawat yang membuat setiap rupiah yang keluar terasa sebagai ibadah yang ringan dan menggembirakan. Terkumpulnya dana Rp16.396.000 dalam sekejap adalah bukti nyata bahwa ketika umat disatukan oleh visi yang sama, tidak ada yang tidak mungkin.

KH. Imbuh Jumali kemudian membedah kitab Syarih al-Iman karya Syaikh Ahmad Rifa’i. Beliau menekankan pentingnya adab kepada guru. Ilmu tanpa adab hanyalah beban, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. "Sembilan puluh lima persen berkah ilmu bergantung pada ridha guru," tuturnya. Beliau juga mencemaskan fenomena masyarakat yang lebih percaya pada informasi di ponsel daripada bimbingan kiai. Mengingatkan kembali bahwa jalan menuju akhirat membutuhkan orang yang mengenal medannya, bukan sekadar mesin pencari yang dingin.

Puncak acara disampaikan oleh KH. Ahmad Said Asrori, Katib ‘Aam PBNU. Beliau memberikan analogi yang sangat tajam: kehidupan ini ibarat sebuah pintu, dan kuncinya adalah syahadat tauhid dan syahadat rasul. Beliau mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang berlomba dengan kemegahan teknologi, gedung pencakar langit, dan kekayaan yang memukau. Namun, di tengah gemerlap itu, jangan sampai kita kehilangan kunci utama. "Dunia boleh berkembang, ilmu dan teknologi boleh terus maju, yang tidak boleh berubah adalah iman dan Islam," tegasnya.

Beliau juga menyoroti fenomena kematian. Banyak orang takut mati, padahal yang seharusnya dikhawatirkan adalah keadaan saat mati. Beliau mengisahkan dua tetangganya yang wafat dengan keadaan berbeda sesuai dengan kebiasaan hidup mereka. Pesannya sangat jelas: kebiasaan hari ini adalah gambaran akhir esok. Maka, jangan pernah meninggalkan salat berjemaah, sekecil apa pun urusan dunia yang sedang dihadapi. Salat adalah pertolongan pertama bagi setiap kesulitan.

Rahasia di balik Haul yang bertahan lebih dari seratus tahun ini dirumuskan dalam tiga hal: ikhlas, istiqamah, dan doa. Ikhlas berarti memurnikan ketaatan hanya kepada Allah. Istiqamah berarti melakukan kebaikan secara kontinu, meski sedikit, karena Allah lebih mencintai amal yang langgeng daripada amal besar yang hanya sesaat. Dan doa adalah senjata yang tak boleh ditinggalkan, terutama doa memohon kesejahteraan dunia dan akhirat.

Menjelang siang, doa penutup yang dipimpin KH. Ahmad Said Asrori menjadi puncak dari segala harapan. Doa agar iman dan Islam tetap kokoh hingga ajal menjemput, doa agar anak cucu menjadi generasi yang bermanfaat, dan doa agar seluruh jemaah wafat dalam keadaan husnul khatimah. Ketika jemaah beranjak pulang, mereka membawa pulang lebih dari sekadar berkat atau makanan. Mereka membawa pulang kesadaran bahwa hidup di dunia ini hanyalah sekejap, dan kunci keselamatan yang mereka genggam harus dijaga dengan taruhan nyawa.

Acara di Karangsambo ini bukan sekadar pengajian selapanan atau peringatan haul biasa. Ini adalah sebuah deklarasi bahwa di tengah dunia yang terus berubah, ada nilai-nilai yang harus tetap statis. Iman adalah jangkar, dan Islam adalah kompasnya. Jika ribuan orang masih sanggup berkumpul untuk mengenang seorang ulama yang telah wafat seabad lalu, itu adalah tanda bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melalui wasilah para kiai adalah kekuatan yang tak bisa dipadamkan oleh zaman.

Sebagai penutup, mari kita ingat mutiara hikmah dari Karangsambo: berkah adalah bertambahnya kebaikan. Haul bukan hanya tentang masa lalu, melainkan tentang bagaimana kita melanjutkan kebaikan yang telah dirintis oleh pendahulu. Genggam kunci syahadat itu kuat-kuat, jaga adab kepada guru, pertahankan keikhlasan, dan jangan pernah berhenti berdoa. Karena pada akhirnya, ketika dunia benar-benar telah binasa, hanya iman dan Islam yang akan menemani kita menghadap Sang Pencipta. Sesuatu yang buruk tidak perlu selalu dilawan dengan kekerasan, cukup tampakkan kebaikan, dan biarkan cahaya kebenaran yang menuntun manusia kembali ke jalan-Nya. Semoga setiap jemaah yang hadir hari ini mendapatkan keberkahan ilmu, rezeki yang melimpah, dan keturunan yang saleh-salehah, serta senantiasa dalam lindungan Allah SWT hingga akhir hayat.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Rifan Muazin Ar-Rifai

Penulis dan kontributor di Bahas Gadgets dan Teknologi.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.