Rifan Muazin Ar-Rifai
Selasa, 15 September 2026 | 13.14 WIB

Dari Pasar Tikar ke Surau Wonoyoso

Sejarah Islam di pedesaan Jawa jarang sekali tertulis dalam babad kerajaan atau arsip-arsip megah istana. Ia justru tersimpan rapat dalam memori kolektif anak cucu, tersemat pada nama sebuah dukuh, atau tertanam dalam kebiasaan unik sebuah kampung yang perlahan bertransformasi setelah kedatangan seorang musafir pembawa ilmu. Salah satu narasi yang paling menyentuh dari sekian banyak jejak dakwah akar rumput adalah kisah Mbah Hasan Mahmud bin Saijan. Ini bukan sekadar kisah tentang perpindahan domisili, melainkan sebuah epik tentang bagaimana cahaya fikih dan syariat Islam menyentuh relung kehidupan warga di Reban, Batang, melalui jalan yang sangat manusiawi dan sederhana: aktivitas pasar.

Mbah Hasan Mahmud bukanlah sosok yang lahir dari kemewahan. Beliau berasal dari Talun Ombo, sebuah dusun di Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Di tanah kelahirannya itulah, beliau menanam benih-benih keilmuan dengan berguru kepada Syaikh Hasan Busyro bin Abdul Hamid dari Karang Sambo. Hubungan mereka melampaui batas formalitas guru dan murid, sebab di kemudian hari, Mbah Hasan Mahmud justru menjadi menantu dari sang guru. Pola ikatan ini mencerminkan tradisi khas pesantren Jawa di masa lalu, di mana ilmu tidak hanya diwariskan melalui hafalan dan pemahaman kitab, tetapi juga melalui ikatan nasab dan persaudaraan untuk menjaga kontinuitas dakwah.

Namun, sebagaimana realitas kehidupan para ulama kampung pada zamannya, menguasai ilmu agama tidak lantas membuat dapur mereka selalu mengepul. Mbah Mahmud harus berjuang secara ekonomi. Beliau memilih berdagang tikar berkualitas, sebuah komoditas yang saat itu menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Dengan tekun, beliau menjajakan tikar-tikar tersebut hingga ke Pasar Ngadirejo, Temanggung. Di hiruk-pikuk pasar inilah, takdir Allah bekerja dengan cara yang tak terduga. Di antara tumpukan tikar dan riuh suara transaksi, beliau dipertemukan dengan Mbah Qonawi bin Karta, seorang saudagar sapi asal Wonoyoso, Reban.

Dari Pasar Tikar ke Surau Wonoyoso

Pertemuan tersebut menjadi titik balik sejarah dakwah di Wonoyoso. Mbah Qonawi, yang setiap hari bergelut dengan dunia perdagangan, ternyata memiliki intuisi tajam untuk mengenali sosok yang alim dan berintegritas. Beliau melihat cahaya ketulusan dan kedalaman ilmu pada diri Mbah Mahmud. Tanpa banyak basa-basi, Mbah Qonawi menyampaikan niatnya agar Mbah Mahmud mau berpindah ke Wonoyoso untuk membimbing masyarakat di sana.

Situasi Wonoyoso saat itu cukup memprihatinkan dari sisi pemahaman agama. Masyarakatnya hidup dalam ketidaktahuan syariat yang mendalam. Kebiasaan mengonsumsi apa saja yang tersedia di alam—seperti cindil (anak tikus), laron, hingga gendon (larva serangga)—dilakukan tanpa kesadaran akan hukum halal dan haram. Menghadapi kondisi masyarakat yang masih "kosong" secara syariat tentu bukan perkara mudah. Namun, Mbah Mahmud tidak melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai ladang amal yang subur. Beliau meneladani semangat para Ulul Azmi, rasul-rasul yang memiliki ketabahan luar biasa dalam menyampaikan risalah. Landasannya adalah Surat Ali Imran ayat 110, yang menegaskan bahwa predikat umat terbaik hanya bisa diraih dengan aktif mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ayat tersebut menjadi kompas hidup Mbah Mahmud: bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari seberapa nyaman hidupnya di kampung halaman sendiri, melainkan dari seberapa besar keberaniannya untuk keluar dari zona nyaman demi menegakkan kebenaran di tempat yang asing.

Instrumen dakwah yang digunakan Mbah Mahmud menjadi kunci keberhasilannya. Beliau menggunakan kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i, seorang tokoh besar yang pemikirannya sangat mewarnai wajah Islam di Batang dan sekitarnya. Gerakan Rifa’iyah yang lahir di Kalisalak, Limpung, pada pertengahan abad ke-19 adalah antitesis terhadap dominasi pemahaman agama yang dikontrol oleh penghulu kolonial. Kiai Ahmad Rifa’i dengan cerdas menuliskan puluhan kitab fikih dalam aksara pegon berbahasa Jawa. Langkah ini adalah bentuk perlawanan kultural yang sangat strategis; dengan bahasa yang dipahami rakyat jelata, ilmu agama menjadi demokratis dan mudah diakses oleh siapa saja, dari petani hingga pedagang. Mbah Mahmud memanfaatkan literatur inilah untuk menuntun masyarakat Wonoyoso. Beliau membacakan, menjelaskan, dan mempraktikkan isi kitab tersebut secara sabar. Hasilnya tidak instan, namun konsistensi beliau membuahkan perubahan perilaku yang signifikan. Warga Wonoyoso mulai mengenal tata cara salat yang benar, memahami batas-batas halal-haram, hingga akhirnya mampu mendirikan salat Jumat secara mandiri—sebuah simbol kedewasaan sebuah komunitas Muslim di suatu daerah.

Keberhasilan dakwah di Wonoyoso menyebarkan harum nama Mbah Mahmud hingga ke Desa Tambakboyo. Tokoh masyarakat di sana pun memintanya untuk pindah dan menetap. Bahkan, untuk mendukung dakwahnya, warga menghadiahkan tempat tinggal dan lahan pertanian. Mbah Mahmud menerima amanah tersebut dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Beliau wafat pada hari Rabu, 13 Rabiuts Tsani 1345 H, yang bertepatan dengan 21 Oktober 1926.

Dari Pasar Tikar ke Surau Wonoyoso

Estafet perjuangan ini tidak terputus. Putri beliau, Siti Aenah, dipersunting oleh salah satu murid terbaik Mbah Mahmud, yaitu Tarlani atau Mbah Sitar, yang berasal dari Kranggongan, Limpung. Mbah Sitar adalah sosok yang membawa dakwah di Tambakboyo semakin kokoh, hingga akhirnya daerah tersebut mampu mendirikan salat Jumat sendiri, melengkapi apa yang telah dirintis oleh sang mertua.

Kisah Mbah Hasan Mahmud memberikan pelajaran yang mendalam bagi kita hari ini. Dakwah tidak selalu harus dimulai dari mimbar-mimbar besar atau melalui jalur formalitas yang kaku. Dakwah sering kali bermula dari ruang-ruang informal—dari meja dagang di pasar, dari obrolan sederhana di sela-sela transaksi, dan dari keberanian seseorang untuk hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan bimbingan. Mbah Mahmud menunjukkan bahwa ilmu agama bukanlah komoditas yang harus disimpan, melainkan amanah yang harus dialirkan. Beliau menerima ilmu dari gurunya, lalu menyambungkannya kepada masyarakat Wonoyoso dan Tambakboyo, yang kemudian diteruskan oleh menantunya. Inilah esensi dari rantai sanad keilmuan yang hidup; ia tidak akan pernah putus selama ada pribadi-pribadi yang bersedia menanggalkan egonya demi kemaslahatan umat.

Kini, meski fisik beliau telah tiada, jejak dakwahnya masih terasa. Setiap kali azan berkumandang dan salat Jumat didirikan di Wonoyoso maupun Tambakboyo, di situlah mengalir pahala yang terus berlipat bagi sang musafir pedagang tikar ini. Beliau telah membuktikan bahwa kemuliaan seorang ulama desa tidak diukur dari gelar-gelar akademik, melainkan dari seberapa banyak orang yang terbimbing menuju jalan Allah karena keberadaan dirinya. Kita berdoa, semoga Allah menempatkan Mbah Hasan Mahmud bersama para shalihin dan orang-orang yang dilimpahi nikmat-Nya. Amin ya Rabbal Alamin. Jejaknya menjadi pengingat bagi generasi penerus bahwa dakwah adalah napas kehidupan, dan keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang diajarkan mampu mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih taat dan beradab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Anda Lewatkan