AMRI Purbalingga Dibentuk, Gus Ketum Tekankan Pentingnya Merawat “Jimat” Rifa’iyah

Pengurus Pusat (PP) AMRI terus menunjukkan komitmen nyata dalam memperluas jangkauan dakwah serta memperkuat konsolidasi organisasi Rifa’iyah di berbagai pelosok tanah air. Langkah strategis ini kembali diwujudkan melalui kegiatan silaturahim akbar sekaligus Musyawarah Daerah (MUSDA) yang diselenggarakan pada Selasa, 1 September 2026. Fokus utama dari perhelatan ini adalah pembentukan kepengurusan Pimpinan Daerah (PD) AMRI Kabupaten Purbalingga, yang menjadi tonggak penting bagi eksistensi organisasi di wilayah eks Karesidenan Banyumas. Acara yang sarat akan nilai-nilai khidmat dan persaudaraan ini berlangsung di kediaman Ustadz Dudung Mujtahidun, seorang tokoh kiai lokal yang berada di Desa Langgar, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda formal administratif, melainkan bagian integral dari visi besar "2029 AMRI Go Nasional". Visi ini menuntut adanya penguatan komunikasi antarkader di tingkat akar rumput, sekaligus upaya telaten untuk menelusuri keberadaan warga Rifa’iyah yang selama ini tersebar di berbagai daerah. Menurut keterangan Ustadz Dudung Mujtahidun, komunitas Rifa’iyah di Purbalingga merupakan masyarakat majemuk dengan latar belakang geografis yang beragam. Banyak di antara mereka yang merupakan perantau atau keturunan dari warga Rifa’iyah asal daerah basis seperti Kroya, Indramayu, Banjarnegara, hingga Batang. Keberagaman ini justru menjadi modal sosial yang kuat bagi AMRI untuk membangun jejaring yang lebih solid dan terorganisir.

Rangkaian acara diawali dengan prosesi tawasul dan pembacaan surah Al-Fatihah yang dipimpin secara khusyuk. Doa tersebut ditujukan khusus kepada para masyayikh Rifa’iyah yang telah berpulang, serta kepada para tokoh masyarakat setempat yang telah berjasa dalam menjaga nilai-nilai keagamaan di Desa Langgar. Suasana religius yang terbangun memberikan energi positif bagi para peserta, menciptakan ruang dialog yang hangat antara pengurus pusat dengan jemaah setempat. Setelah sambutan hangat dari tuan rumah, forum kemudian dilanjutkan dengan arahan utama dari Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq Syafi’i, M.Pd., AH., yang akrab disapa Gus Ketum.

Dalam pidatonya, Gus Ketum memberikan penekanan mendalam mengenai urgensi menjaga identitas dan warisan luhur Rifa’iyah. Ia mengingatkan bahwa di tengah arus modernisasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks, warga Rifa’iyah memiliki dua "jimat" atau aset berharga yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh sebagai pilar utama kehidupan beragama dan berorganisasi. "Jimat" pertama adalah kitab Tarajumah karya agung Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i. Kitab ini bukan hanya sekadar bacaan, melainkan pedoman hidup yang mengandung ajaran Islam yang autentik dan berkarakter. "Jimat" kedua adalah seduluran atau semangat persaudaraan yang erat di antara sesama warga Rifa’iyah. Tanpa persaudaraan yang kuat, organisasi akan kehilangan ruhnya, sementara tanpa kitab Tarajumah, warga Rifa’iyah akan kehilangan arah dalam beribadah.

Gus Ketum menyampaikan pesan tersebut dengan menggunakan bahasa Jawa yang sangat lugas dan menyentuh hati, "Dadi wong Rifa’iyah kuwi kudu nguri-nguri jimat peninggalane wong tuo kito biyen, yo iku ngaji kitab Tarajumah lan nglestariake seduluran warga Rifa’iyah." Pernyataan tersebut disambut dengan anggukan takzim oleh seluruh hadirin, menegaskan bahwa pesan tersebut benar-benar meresap ke dalam sanubari para kader. Gus Ketum meyakini bahwa kekuatan Rifa’iyah terletak pada sinkronisasi antara kedalaman ilmu melalui kitab-kitab warisan ulama dan keteguhan hati dalam menjaga tali silaturahim.

AMRI Purbalingga Dibentuk, Gus Ketum Tekankan Pentingnya Merawat “Jimat” Rifa’iyah

Acara yang berlangsung di Desa Langgar ini mencatatkan kehadiran sekitar 67 jemaah yang antusias. Mereka tidak hanya datang dari wilayah Purbalingga, tetapi juga dari Kalibening (Banjarnegara) dan beberapa titik di Banyumas. Kehadiran lintas daerah ini membuktikan bahwa jejaring persaudaraan Rifa’iyah tetap hidup dan terus terhubung meskipun dipisahkan oleh jarak geografis. Momentum ini sekaligus menjadi ajang untuk saling mengenal, berbagi cerita tentang perkembangan dakwah di daerah masing-masing, serta menggali kembali jejak sejarah perkembangan Rifa’iyah di wilayah Banyumas Raya yang memiliki nilai historis cukup panjang.

Turut hadir mendampingi Gus Ketum dalam kegiatan ini, sejumlah tokoh penting yang memiliki peran krusial dalam pergerakan AMRI di daerah, di antaranya adalah Rekan Wahyudin selaku pengurus PP AMRI asal Banjarnegara sekaligus Ketua PD AMRI Banjarnegara. Kehadiran beliau memberikan suntikan semangat bagi pengurus baru di Purbalingga untuk mencontoh keberhasilan konsolidasi yang telah dilakukan di Banjarnegara. Selain itu, tampak pula Komandan BARANUSA Wonosobo, Komandan Paijo, beserta jajaran anggotanya yang menunjukkan loyalitas dalam mengawal agenda-agenda PP AMRI. Kehadiran unsur perangkat desa, yakni Sekretaris Desa Langgar, serta para tokoh masyarakat setempat semakin menegaskan bahwa AMRI mendapatkan dukungan luas dan penerimaan yang baik dari masyarakat umum.

Pembentukan PD AMRI Kabupaten Purbalingga melalui MUSDA ini menjadi langkah awal yang sangat krusial. Kepengurusan yang baru terbentuk diharapkan dapat berfungsi sebagai wadah koordinasi yang efektif bagi warga Rifa’iyah di Purbalingga. Wadah ini akan menjadi sentral bagi berbagai kegiatan, mulai dari kajian kitab, kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga penguatan ekonomi jemaah. Dengan adanya kepengurusan yang definitif, AMRI Purbalingga kini memiliki legitimasi dan tanggung jawab untuk menjalankan visi misi organisasi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Hal ini sejalan dengan target besar "2029 AMRI Go Nasional", di mana konsolidasi organisasi di setiap kabupaten/kota menjadi syarat mutlak keberhasilan visi tersebut.

Ke depan, tantangan yang dihadapi oleh PD AMRI Purbalingga tentu tidak ringan. Namun, dengan semangat "nguri-nguri jimat" yang ditekankan oleh Gus Ketum, diharapkan para pengurus baru dapat menjalankan amanah dengan penuh integritas. Organisasi ini bukan hanya tentang posisi atau jabatan, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan KH. Ahmad Rifa’i dapat terus relevan bagi generasi muda saat ini dan masa depan. Keberhasilan di Purbalingga ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi daerah-daerah lain untuk segera melakukan hal yang sama, yakni memperkuat struktur organisasi sebagai rumah besar bagi seluruh warga Rifa’iyah.

Sebagai penutup, kegiatan ini menegaskan bahwa masa depan Rifa’iyah terletak pada kemampuan generasinya dalam memadukan antara tradisi dan inovasi organisasi. Menjaga Rifa’iyah tidak cukup hanya dengan mengenang kebesaran masa lalu, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan tersebut meliputi giat mengaji kitab Tarajumah sebagai sumber ilmu, merawat persaudaraan sebagai sumber kekuatan, dan membangun organisasi yang profesional sebagai wadah perjuangan. Dari Desa Langgar, Kejobong, semangat ini disebarkan ke seluruh penjuru Purbalingga, menandai babak baru bagi perkembangan AMRI yang lebih progresif, solid, dan berdaya guna bagi umat dan bangsa. Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa dengan niat yang tulus dan semangat kebersamaan, setiap tantangan dalam mengorganisir jemaah dapat dilalui dengan baik, demi mewujudkan Rifa’iyah yang mandiri, cerdas, dan tetap teguh pada prinsip-prinsip ahlussunnah wal jamaah.

Rifan Muazin Ar-Rifai

Penulis aktif di HypePress yang membagikan konten inspiratif, informasi terkini, dan gaya hidup untuk generasi muda.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tinggalkan Komentar