Malam itu, Sabtu 29 Agustus 2026, Masjid Baiturrahman di kawasan Tirto, Kota Pekalongan, seolah bertransformasi menjadi pusat cahaya spiritual yang memancarkan kedamaian bagi seluruh penjuru wilayah. Langit malam yang cerah seakan turut bersaksi atas perhelatan akbar yang diselenggarakan oleh Jam’iyyah Rifaiyah Ranting Tirto. Lantunan salawat yang mendayu-dayu telah menggema sejak awal waktu, menyambut kedatangan ratusan jemaah yang terdiri dari para kiai kharismatik, wali santri yang penuh harap, tokoh masyarakat setempat, hingga unsur perwakilan pemerintahan sipil, militer, dan kepolisian. Kehadiran berbagai elemen masyarakat ini menunjukkan betapa tingginya apresiasi warga terhadap pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an. Malam tersebut menjadi momen istimewa yang menyatukan dua peristiwa sakral sekaligus: peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan perayaan Wisuda Santri TPQ Baiturrahman. Dengan dukungan teknis dari Mubarok Production Medono, acara ini mengusung tema besar yang sangat relevan dengan tantangan zaman: “Meneladani Akhlak Nabi, Membangun Generasi Qur’ani.”
Acara dibuka dengan penuh khidmat oleh KH. Abdul Aziz yang memimpin pembacaan Al-Fatihah sebagai pembuka pintu keberkahan. Dalam rangkaian sambutan, pihak panitia yang juga merupakan pengelola TPQ dan Madin Baiturrahman menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terselenggaranya wisuda Marhalatul Ula ke-27 dan Marhalatul Mutawasitah ke-12. Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi luar biasa antara Amri Ranting Tirto, Ummahat Rifaiyah Ranting Tirto, Himmah Ranting Tirto, serta dukungan finansial dan moril dari para donatur jemaah Masjid Baiturrahman. Pesan inti yang disampaikan kepada para wisudawan sangatlah mendasar namun krusial: wisuda bukanlah titik akhir dari sebuah perjalanan menuntut ilmu, melainkan gerbang awal untuk melangkah ke jenjang pendidikan Al-Qur’an yang lebih tinggi dan lebih kompleks. Pendidikan Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan seumur hidup yang menuntut konsistensi dan ketekunan.
Suasana berubah menjadi haru biru ketika Ustaz Syifa Khairani, yang mewakili seluruh wali santri, memberikan sambutan. Dengan suara yang terbata-bata karena menahan rasa haru, beliau menuturkan perjalanan panjang para orang tua dalam mendampingi putra-putrinya. Dari sekadar mengenal huruf hijaiyah yang terbata-bata, kini mereka telah mampu melantunkan ayat-ayat suci dengan tajwid yang baik, serta memahami adab dan tata cara ibadah sehari-hari. Bagi para orang tua, keberhasilan anak-anak mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an sebagai standar kemuliaan manusia. Investasi ini, menurutnya, jauh lebih berharga daripada harta duniawi, karena akan menjadi penolong bagi orang tua di hadapan Allah SWT kelak.
Sebelum prosesi wisuda resmi dimulai, para santri diuji secara terbuka di hadapan khalayak ramai. Ujian ini bukanlah sekadar formalitas, melainkan pembuktian nyata atas kualitas pendidikan yang mereka terima. Adik Muhammad Akmal Latif tampil dengan percaya diri menjawab rangkaian pertanyaan mengenai fikih dasar, mulai dari syarat wajib salat, tata cara bersuci, hingga rukun wudu, dengan didampingi oleh Al-Ustaz Muhammad Masluhi. Ketepatan jawabannya menunjukkan pemahaman yang matang atas kewajiban ibadah harian. Tak lama berselang, giliran Nadia Maulidah Husna dan Hasna Kurrota Ainina yang unjuk kebolehan dalam bidang ilmu tajwid dan gharibul Qur’an di bawah bimbingan Al-Ustaz Ahmad Sukron, M.Pd., dari Badko TPQ Kota Pekalongan. Mereka mampu membedah hukum bacaan yang rumit dengan ketenangan luar biasa. Begitu pula dengan adik Kuina Kaisa Al-Faidah, yang mewakili wisudawan Marhalatul Mutawasitah dalam bidang ilmu Amsilati. Ia menjawab pertanyaan seputar ilmu sharaf dan nahwu dengan sangat lancar di bawah bimbingan Ustaz Muhammad Imam Muhajir, S.Ag., Koordinator Amsilati Provinsi Jawa Tengah. Setiap jawaban tepat yang meluncur dari bibir para santri disambut dengan gemuruh tepuk tangan yang tulus dari seluruh hadirin, mencerminkan kebanggaan yang meluap dari hati para orang tua.

Puncak emosional malam itu terjadi saat prosesi sungkeman. Momen ini merupakan bagian paling menggetarkan hati, di mana para wisudawan mengucapkan ikrar santri secara serentak. Mereka berjanji untuk senantiasa menjaga salat lima waktu, taat kepada orang tua, hormat kepada guru, rajin mengaji, serta berkomitmen melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah ikrar diucapkan, para orang tua diminta naik ke panggung untuk berdiri di belakang putra-putri mereka. Satu demi satu, anak-anak berbalik badan, berlutut, dan mencium tangan ayah serta ibu mereka dengan penuh ketakziman. Pembawa acara membacakan narasi renungan tentang pengorbanan orang tua, mulai dari masa mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak dengan penuh peluh dan doa. Isak tangis pecah di sudut-sudut masjid. Suasana menjadi sangat kontemplatif, di mana para santri dan orang tua saling berpelukan, meleburkan ego dan kesibukan duniawi dalam satu ikatan kasih sayang yang dilandasi nilai-nilai religius. Lantunan salawat yang mengiringi momen tersebut menambah kesan mendalam bahwa pendidikan anak adalah sebuah bentuk pengabdian kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras santri, panitia memberikan penghargaan bagi mereka yang meraih predikat terbaik. Untuk tingkat Marhalatul Mutawasitah, peringkat pertama diraih Kuina Kaisa Al-Faidah, disusul Zalfa Azaliah Zuhroh di peringkat kedua, dan Nu’ma Inaba El Maula di peringkat ketiga. Sementara untuk tingkat Marhalatul Ula, peringkat pertama diraih Hasna Qurrota Ainina, peringkat kedua Muhammad Akmal Latif, dan peringkat ketiga Nadia Maulidah Husna. Penghargaan khusus diberikan kepada santri termuda, Siana Aisyah Hani, yang baru menginjak usia 8 tahun namun telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Piala dan hadiah diserahkan langsung oleh Koordinator Amsilati Provinsi Jawa Tengah bersama Gus Haji Fadli Mubarak Fazah, yang memberikan motivasi agar para santri tidak cepat puas diri.
Keheningan kembali menyelimuti saat KH. M. Ircham Dahlan, S.Th.I., MA, Pengasuh Pondok Pesantren Sab’ati, Kayen, Pati, melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Suaranya yang merdu dan penuh penjiwaan berhasil membawa suasana menjadi sangat khusyuk. Setelah itu, tibalah pada inti pengajian, yaitu mauidzoh hasanah oleh Dr. M.A. Zuhurul Fuqohak, S.Ud., M.Si. Beliau menekankan bahwa tilawah Al-Qur’an yang hakiki bukanlah sekadar aktivitas lisan atau pelafalan huruf semata, melainkan sebuah proses internalisasi makna ke dalam pikiran dan jiwa agar terejawantahkan dalam akhlak mulia. Beliau menceritakan kisah sahabat Zaid bin Sa’nah, seorang Yahudi ahli kitab yang menguji Rasulullah SAW dengan cara menagih utang sebelum jatuh tempo secara kasar. Rasulullah, dengan kemuliaan akhlaknya, justru tidak marah dan bahkan memerintahkan untuk melunasi utang dengan tambahan sebagai bentuk kebaikan. Sikap ini adalah cerminan dari akhlak Nabi yang mampu meluluhkan hati yang paling keras sekalipun.
Dr. Zuhurul Fuqohak juga mengingatkan pentingnya menepati janji dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau menekankan bahwa salah satu penyakit umat saat ini adalah kurangnya integritas dalam urusan janji dan utang-piutang. Dengan meneladani Rasulullah, umat Islam seharusnya menjadi pionir dalam kejujuran dan kemuliaan budi pekerti. Terkait dengan momentum Maulid Nabi di bulan Rabiul Awal, beliau menjelaskan bahwa bulan ini adalah refleksi atas kelahiran sekaligus wafatnya Rasulullah SAW. Mengingat beliau adalah cara untuk tetap menjaga napas sunnah dan Al-Qur’an dalam kehidupan. Jika kita ingin anak-anak kita menjadi generasi yang saleh, maka rumah harus menjadi lingkungan pertama yang akrab dengan tilawah. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS, seorang mukmin harus selalu berusaha membangun keturunan yang teguh memegang tali agama Allah, sehingga manfaat kebaikan mereka akan terus mengalir hingga hari akhir.
Acara yang berlangsung hingga larut malam ini akhirnya ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Amruddin Nasihun. Dalam doanya, beliau memohon agar ilmu yang telah diserap oleh para santri menjadi ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa. Beliau juga mendoakan agar TPQ dan Madin Baiturrahman senantiasa istiqamah dalam mengemban amanah mencetak generasi Qur’ani di tengah arus modernisasi yang kian deras. Malam Maulid dan wisuda ini meninggalkan kesan yang sangat kuat bagi masyarakat Tirto. Perpaduan antara nilai tradisional pesantren dengan sentuhan manajemen acara yang rapi menjadi bukti bahwa pendidikan agama masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Kehadiran berbagai elemen, mulai dari kiai hingga aparat keamanan, menegaskan bahwa menjaga generasi muda melalui pendidikan Al-Qur’an adalah tanggung jawab kolektif. Semoga apa yang telah dirintis oleh Jam’iyyah Rifaiyah Ranting Tirto ini menjadi amal jariyah yang tak terputus bagi seluruh pihak yang terlibat, dan semoga para santri yang diwisuda dapat menjadi penerang bagi lingkungannya, sebagaimana Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Langkah mereka masih panjang, namun dengan fondasi akhlak yang telah ditanamkan, masa depan generasi Qur’ani di Kota Pekalongan tampak jauh lebih cerah dan penuh harapan.










