0

Tari Sanghyang Bali & Ondel-ondel Betawi Juara di Festival Budaya Wales

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kebudayaan Indonesia kembali mengukir sejarah gemilang di kancah internasional, membuktikan daya tarik dan keunikan warisan bangsa yang mampu memukau dunia. Delegasi Yayasan Kiny Cultura Indonesia berhasil meraih prestasi membanggakan dengan memenangkan dua penghargaan bergengsi di Llangollen International Musical Eisteddfod 2026, sebuah festival budaya ternama di Wales, Inggris, yang berafiliasi dengan UNESCO. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa seni pertunjukan tradisional Indonesia memiliki tempat yang istimewa di panggung dunia, mengalahkan berbagai pesaing dari berbagai negara.

Dalam kategori Folk Dance Competition yang sangat kompetitif, tim Indonesia berhasil menorehkan tinta emas dengan menyabet gelar Juara 1. Penampilan memukau Tari Sanghyang Bali, tarian sakral yang memadukan unsur mistis dan keindahan gerak, berhasil membius para juri dan penonton. Tari Sanghyang, yang biasanya dipentaskan dalam upacara adat di Bali untuk mengusir marabahaya dan memohon keselamatan, disajikan dengan penuh penghayatan dan energi oleh para penari Indonesia. Mereka mampu menyampaikan esensi spiritual dan keindahan visual tarian tersebut, sehingga mampu mengungguli 17 grup penari tangguh dari 14 negara yang turut berkompetisi. Keberhasilan ini bukan hanya kemenangan sebuah tarian, tetapi juga kemenangan atas upaya pelestarian dan promosi seni budaya leluhur yang terus dihidupkan oleh generasi muda.

Tak hanya di kategori dewasa, delegasi cilik Indonesia juga turut mengharumkan nama bangsa di kategori Children’s Folk Dance Group. Dengan menampilkan Tari Ondel-ondel Betawi yang penuh keceriaan dan semangat, para penari cilik Indonesia berhasil memikat hati para penonton dengan kelincahan dan ekspresi mereka yang menggemaskan. Ondel-ondel, boneka raksasa ikonik dari Jakarta yang biasanya tampil dalam perayaan Betawi, diinterpretasikan ulang dengan koreografi yang dinamis dan kostum yang memukau. Penampilan energik ini mengantarkan Indonesia meraih Juara 3, sebuah pencapaian luar biasa setelah bersaing ketat dengan 10 grup tari anak-anak dari 8 negara. Keberhasilan anak-anak ini menjadi inspirasi bahwa kecintaan pada budaya lokal dapat tumbuh sejak dini dan mampu bersaing di kancah global.

Kiki Puspita Sari, CEO sekaligus Direktur Pendidikan dan Budaya Yayasan Kiny Cultura Indonesia, mengungkapkan rasa bangga dan harunya atas pencapaian ini. "Prestasi ini adalah bukti nyata bahwa kekayaan budaya Indonesia, dari Sanghyang Bali hingga Ondel-ondel Betawi, mampu berbicara dan bersaing di panggung dunia. Ini bukan sekadar piala, tapi pengakuan atas kerja keras anak-anak kita, dedikasi para pelatih, dan dukungan seluruh pihak yang telah berjuang keras untuk mewujudkan mimpi ini. Kami sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada dunia," ujar Kiki. Ia menekankan bahwa kemenangan ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara berbagai elemen, mulai dari seniman, pelatih, hingga pemerintah yang memberikan dukungan penuh.

Dukungan penuh dari pemerintah Indonesia menjadi salah satu faktor krusial di balik kesuksesan delegasi ini. Sebelum bertolak ke Wales, para delegasi muda yang membawa semangat Indonesia ini sempat dilepas secara langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Pelepasan ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah bentuk apresiasi tertinggi dari negara atas dedikasi dan kerja keras para duta budaya Indonesia. Lebih dari itu, pelepasan ini menjadi amunisi semangat dan penambah keyakinan bagi para delegasi untuk tampil maksimal, membawa misi diplomasi budaya Indonesia ke panggung internasional. Kehadiran menteri menunjukkan betapa pentingnya seni dan budaya sebagai alat perekat bangsa dan sarana promosi citra positif Indonesia di mata dunia.

Hubungan antara Yayasan Kiny Cultura Indonesia dan Llangollen International Musical Eisteddfod bukanlah sebuah fenomena baru. Sejak tahun 2013, lembaga yang juga bertindak sebagai perwakilan resmi Conseil International de la Danse (CID) UNESCO ini telah secara konsisten memberangkatkan berbagai grup delegasi Indonesia ke festival bergengsi tersebut. Hingga kini, tercatat lebih dari 10 grup telah diutus, mencakup berbagai disiplin seni pertunjukan, mulai dari tim tari tradisional, paduan suara yang memukau, hingga ensambel musik yang memadukan instrumen tradisional dan modern. Semua delegasi ini memiliki satu misi yang sama: mengharumkan nama bangsa Indonesia melalui kekayaan seni dan budayanya. Pengalaman panjang ini telah membangun reputasi dan kepercayaan antara kedua institusi, serta memperkuat komitmen untuk terus mempromosikan warisan budaya Indonesia.

Festival Llangollen International Musical Eisteddfod sendiri memiliki sejarah panjang dan prestisius di dunia seni pertunjukan. Digelar sejak tahun 1947, festival ini telah dikenal sebagai salah satu ajang musik dan tari tertua dan paling bergengsi di dunia. Setiap tahun, festival ini menarik ribuan penampil dan penonton dari berbagai belahan dunia, menciptakan sebuah panggung global untuk pertukaran budaya dan apresiasi seni. Keberhasilan delegasi Indonesia di festival ini bukan hanya sekadar kemenangan individu, tetapi juga sebuah pengakuan atas kualitas seni pertunjukan Indonesia yang setara, bahkan melebihi, standar internasional. Kemenangan ini kembali membuktikan bahwa pesona tradisi Nusantara, dengan segala kekayaan dan keunikannya, tak pernah gagal memikat hati publik internasional, serta menjadi bukti nyata bahwa Indonesia memiliki aset budaya yang tak ternilai harganya.

Kemenangan ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pengembangan seni dan budaya di Indonesia. Dengan pengakuan internasional seperti ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk mempelajari, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya bangsa. Selain itu, ini juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisional, serta mendorong pemerintah untuk terus memberikan dukungan yang lebih besar bagi para seniman dan pelaku budaya. Perjalanan delegasi Indonesia di Llangollen International Musical Eisteddfod 2026 ini adalah cerminan dari semangat kebangsaan yang kuat dan kecintaan mendalam terhadap budaya yang terus hidup dan berkembang.

Keberhasilan Tari Sanghyang Bali dan Ondel-ondel Betawi di panggung dunia juga membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas. Festival seperti Llangollen International Musical Eisteddfod menjadi jembatan penting bagi seniman Indonesia untuk berinteraksi dengan seniman dari negara lain, bertukar ide, dan menciptakan karya-karya baru yang inovatif. Hal ini penting untuk menjaga agar seni pertunjukan tradisional tetap relevan dan diminati oleh generasi muda, tanpa kehilangan akar budayanya. Kiny Cultura Indonesia, melalui kerja sama yang berkelanjutan dengan organisasi internasional seperti UNESCO dan CID, memainkan peran vital dalam memfasilitasi pertukaran budaya ini, memastikan bahwa suara dan karya seniman Indonesia terdengar di kancah global.

Lebih jauh lagi, kemenangan ini bukan hanya tentang pertunjukan tari. Ini adalah tentang narasi. Tari Sanghyang menceritakan kisah spiritualitas dan hubungan manusia dengan alam serta kekuatan gaib. Ondel-ondel Betawi merefleksikan kehidupan sosial, semangat kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat urban Jakarta. Kedua tarian ini, meskipun berasal dari daerah yang berbeda dan memiliki latar belakang budaya yang spesifik, berhasil menyampaikan pesan universal tentang keindahan, kekuatan, dan keberagaman Indonesia. Kemampuan para penari untuk menerjemahkan esensi budaya mereka ke dalam bahasa universal seni pertunjukan adalah kunci keberhasilan mereka.

Festival Llangollen International Musical Eisteddfod juga memberikan kesempatan bagi para delegasi untuk belajar dan menyaksikan penampilan dari berbagai negara. Ini menjadi ajang pembelajaran yang sangat berharga, memungkinkan mereka untuk melihat berbagai gaya tari, musik, dan pertunjukan lainnya, serta memperluas wawasan budaya mereka. Interaksi langsung dengan penampil dari negara lain juga menumbuhkan rasa persahabatan dan saling pengertian antarbudaya, yang merupakan esensi dari diplomasi budaya.

Penting untuk dicatat bahwa persiapan untuk tampil di panggung internasional seperti ini membutuhkan waktu, dedikasi, dan sumber daya yang tidak sedikit. Yayasan Kiny Cultura Indonesia dan para pelatih telah mencurahkan energi dan waktu yang luar biasa untuk melatih para penari, baik dari segi teknik tari, penghayatan karakter, maupun pemahaman makna budaya di balik setiap gerakan. Dukungan dari keluarga para penari, sekolah, dan komunitas juga menjadi pilar penting dalam perjalanan panjang ini.

Keberhasilan ini juga diharapkan dapat meningkatkan minat wisatawan asing untuk datang ke Indonesia dan menyaksikan langsung kekayaan budaya yang dimiliki. Ketika seni budaya Indonesia mendapatkan pengakuan di tingkat dunia, hal ini secara otomatis akan meningkatkan citra Indonesia sebagai destinasi wisata budaya yang menarik. Pengalaman menyaksikan Tari Sanghyang di Bali atau pertunjukan Ondel-ondel di Jakarta akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi para wisatawan, yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.

Di era globalisasi ini, menjaga keaslian budaya sambil terus berinovasi adalah tantangan yang harus dihadapi. Kemenangan di Wales menunjukkan bahwa Indonesia mampu melakukan keduanya. Tari Sanghyang dan Ondel-ondel Betawi, meskipun berakar pada tradisi yang kuat, disajikan dengan cara yang segar dan menarik bagi audiens internasional. Ini adalah bukti bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang hidup dan dapat terus berevolusi tanpa kehilangan jati dirinya.

Terakhir, pencapaian ini merupakan pengingat bahwa Indonesia memiliki potensi seni dan budaya yang luar biasa, yang seringkali belum tergarap secara maksimal. Dengan pembinaan yang tepat, dukungan yang berkelanjutan, dan kesempatan yang lebih banyak untuk tampil di panggung internasional, seniman-seniman Indonesia dapat terus mengukir prestasi dan membawa nama harum bangsa ke seluruh penjuru dunia. Kemenangan Tari Sanghyang Bali dan Ondel-ondel Betawi di Wales adalah babak baru yang membanggakan dalam sejarah diplomasi budaya Indonesia.