Simposium Nasional Pemikiran KH Ahmad Rifa’i yang diselenggarakan di UIN Raden Mas Said Surakarta baru-baru ini telah membuka cakrawala baru mengenai ketahanan sebuah organisasi keagamaan di tengah arus perubahan zaman. Di tengah diskursus yang membedah kedalaman pemikiran sang ulama pejuang, muncul satu gagasan yang sangat krusial tentang eksistensi Rifa’iyah. Dalam forum tersebut, Ketua Umum Angkatan Muda Rifa’iyah melontarkan pernyataan yang tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga sosiologis, yakni mengenai apa sebenarnya aset terbesar yang membuat Rifa’iyah mampu bertahan melintasi berbagai tantangan sejarah hingga hari ini.
Beliau menegaskan bahwa kekuatan Rifa’iyah tidak bersandar pada akumulasi modal materi, kekuasaan politik, maupun sumber daya alam yang melimpah. Sebaliknya, Rifa’iyah tegak berdiri di atas dua pilar utama: warisan karya-karya keilmuan Syaikhina KH Ahmad Rifa’i dan ikatan persaudaraan atau seduluran yang terbungkus dalam ukhuwatur Rifa’iyah. Pernyataan ini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa keberlangsungan sebuah gerakan dakwah tidak ditentukan oleh seberapa besar saldo di rekening organisasi, melainkan oleh seberapa kuat nilai-nilai yang mengakar di hati para pengikutnya.
Dalam perspektif ekonomi modern, aset sering kali diterjemahkan sebagai segala sesuatu yang memiliki nilai tukar materi. Kita terbiasa mengukur keberhasilan sebuah lembaga dari megahnya gedung yang dibangun, luasnya tanah wakaf, atau kepemilikan unit-unit usaha. Namun, Rifa’iyah menawarkan paradigma yang berbeda. Warisan pertama yang paling berharga adalah karya-karya tulis KH Ahmad Rifa’i. Beliau adalah seorang ulama yang sangat produktif. Di tengah tekanan penjajahan kolonial dan pengasingan, beliau tidak berhenti berkarya. Kitab-kitab yang ditulisnya—yang dikenal dengan istilah Tarajumah—bukan sekadar kumpulan hukum fikih atau teologi, melainkan sebuah panduan komprehensif bagi masyarakat untuk memahami agama dalam konteks kehidupan sehari-hari yang merdeka dan bermartabat.
Karya-karya ini adalah "aset hidup". Mengapa demikian? Karena aset materi akan mengalami penyusutan nilai seiring waktu, sementara ilmu pengetahuan justru akan semakin bernilai jika terus didistribusikan. Semakin sering kitab-kitab KH Ahmad Rifa’i dikaji, didiskusikan, dan diamalkan, maka semakin kuat pula fondasi pemikiran warga Rifa’iyah. Inilah yang menjaga agar identitas keilmuan Rifa’iyah tidak tercerabut dari akarnya. Generasi muda Rifa’iyah tidak sedang memegang warisan mati; mereka sedang memegang kompas ideologis yang telah teruji oleh waktu. Tradisi mengaji Tarajumah yang konsisten di berbagai majelis Rifa’iyah menjadi bukti bahwa ilmu adalah ruh yang menghidupkan organisasi dari masa ke masa.
Namun, sebagaimana telah disebutkan, ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Sebuah pergerakan membutuhkan wadah sosial yang kuat agar ilmu tersebut tidak hanya menjadi teori di atas kertas, melainkan menjadi napas dalam keseharian. Di sinilah peran krusial dari aset kedua, yaitu seduluran atau persaudaraan. Dalam terminologi Rifa’iyah, seduluran bukan sekadar hubungan sesama anggota organisasi. Ia adalah ikatan batin yang melampaui batas-batas formalitas. Seduluran adalah bentuk nyata dari ukhuwatur Rifa’iyah yang mengedepankan prinsip saling menjaga, saling meringankan beban, dan saling menguatkan.
Jika kita melihat realitas sosial saat ini, banyak organisasi mengalami perpecahan karena perebutan pengaruh atau kepentingan materi. Rifa’iyah, dengan nilai seduluran-nya, mampu meredam potensi konflik tersebut. Ketika seorang warga Rifa’iyah mengalami kesulitan, solidaritas yang muncul bukan karena instruksi struktural, melainkan karena kesadaran bahwa "saudara kita sedang susah, maka kita pun ikut merasakan kesusahan tersebut." Semangat kolektivitas ini adalah aset sosial yang sangat mahal harganya. Di dunia yang semakin individualistis, kemampuan untuk menjaga persaudaraan tetap hangat adalah keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Pernyataan "bukan karena aset tambang, bukan karena aset kekuasaan" adalah sebuah autokritik sekaligus penegasan jati diri. Banyak organisasi besar yang lahir dari kedekatan dengan penguasa atau dukungan finansial yang masif, namun kemudian runtuh ketika dukungan tersebut dicabut atau ketika kepentingan ekonomi berubah. Rifa’iyah tidak menempuh jalan itu. Kekuatan Rifa’iyah adalah kekuatan akar rumput. Ia tumbuh dari bawah, dari keluarga ke keluarga, dari majelis ke majelis, dan dari hati ke hati. Ini adalah jenis kekuatan yang paling sulit dipadamkan oleh tekanan eksternal karena ia tidak memiliki ketergantungan pada variabel-variabel di luar dirinya.
Ukhuwah yang terbangun di dalam Rifa’iyah bersifat inklusif namun tetap menjaga prinsip. Artinya, meski memiliki latar belakang yang beragam, warga Rifa’iyah disatukan oleh visi yang sama dalam meneruskan perjuangan KH Ahmad Rifa’i. Dalam prakteknya, ini terlihat dari sikap saling menghargai pendapat, kemauan untuk mendengar, dan komitmen untuk menomorsatukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Inilah modal sosial yang menjadi perekat organisasi. Selama semangat ukhuwatur Rifa’iyah ini tetap dijaga, maka organisasi akan memiliki daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari radikalisme, liberalisme, hingga tantangan disrupsi teknologi.
Bagi generasi muda, memahami bahwa aset terbesar Rifa’iyah adalah ilmu dan persaudaraan merupakan sebuah tanggung jawab besar. Generasi penerus bukan sekadar menjadi pengurus yang mengurusi administrasi atau acara seremonial, tetapi mereka adalah penjaga api tradisi. Menjaga karya KH Ahmad Rifa’i berarti berkomitmen untuk terus belajar, melakukan digitalisasi atas karya-karya beliau agar bisa diakses oleh generasi yang lebih luas, serta menerjemahkan pemikiran beliau ke dalam bahasa yang relevan bagi tantangan kontemporer. Jangan sampai kitab-kitab warisan tersebut hanya menjadi pajangan di lemari, melainkan harus menjadi bahan bacaan yang hidup dalam diskusi-diskusi kritis anak muda.
Sementara itu, menjaga seduluran berarti merawat ruang-ruang perjumpaan. Di era digital ini, di mana interaksi lebih banyak dilakukan melalui layar, tantangannya adalah bagaimana menjaga kehangatan persaudaraan agar tidak menjadi dingin. Generasi muda harus mampu memanfaatkan teknologi untuk mempererat silaturahmi, memperluas kolaborasi, dan memastikan bahwa tidak ada warga Rifa’iyah yang tertinggal dalam perjuangan. Komunikasi yang terbuka, penghindaran terhadap perpecahan yang dipicu oleh ego sektoral, dan tradisi saling tolong-menolong harus terus dibiasakan.
Pada akhirnya, sejarah telah membuktikan bahwa bangunan yang megah bisa saja runtuh karena gempa bumi, namun bangunan yang berdiri di atas pondasi ukhuwah dan ilmu akan terus tegak berdiri menembus zaman. Rifa’iyah telah melewati berbagai era—dari zaman kolonial, masa kemerdekaan, hingga era globalisasi—dan tetap eksis dengan identitas yang kuat. Ini adalah bukti sahih bahwa aset yang bersifat non-materiil justru memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan aset fisik.
Kita perlu merenungkan kembali bahwa organisasi hanyalah wadah. Isi dari wadah tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki komitmen pada nilai. Jika manusia-manusia di dalamnya kehilangan ruh ilmunya dan kehilangan rasa persaudaraannya, maka sebesar apa pun aset kekayaan yang dimiliki, organisasi tersebut hanyalah cangkang kosong yang akan hancur dengan sendirinya. Oleh karena itu, memelihara "aset" yang dimaksud oleh Ketua Umum Angkatan Muda Rifa’iyah adalah kewajiban kolektif. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan dakwah dan kemaslahatan umat.
Menutup refleksi ini, kita harus menyadari bahwa Rifa’iyah adalah sebuah amanah. Amanah untuk menjaga warisan pemikiran yang mencerahkan dan amanah untuk merawat persaudaraan yang menyejukkan. Selama dua hal ini tetap menjadi prioritas, insyaallah Rifa’iyah akan terus menjadi mercusuar bagi umat Islam di Indonesia. Bukan hanya karena sejarahnya yang panjang, tetapi karena relevansinya yang terus terjaga berkat kekuatan ilmu dan indahnya seduluran. Masa depan Rifa’iyah ada di tangan setiap warganya yang hari ini masih mau membuka kitab-kitab warisan sang guru dan menyapa saudaranya dengan senyuman tulus. Itulah aset yang sebenarnya, aset yang akan menjaga kita tetap kokoh, hari ini dan selamanya.

