0

Khutbah Jumat: Kontrasnya Akhlak Rasulullah dengan Para Tokoh Agama

Share

Kesenjangan antara perilaku Rasulullah SAW yang penuh ketawaduan dengan realitas sebagian tokoh agama di era kontemporer telah menjadi sorotan tajam sekaligus keresahan kolektif di tengah umat. Dalam lembaran sejarah Islam yang autentik, Rasulullah SAW digambarkan sebagai sosok pemimpin agung yang justru meruntuhkan sekat-sekat kewibawaan artifisial, memilih untuk membaur, dan menolak diperlakukan seperti raja yang harus disembah atau ditakuti. Sebaliknya, fenomena yang muncul saat ini sering kali menunjukkan anomali di mana posisi keagamaan justru digunakan sebagai alat untuk memupuk kekuasaan ekonomi, menduduki singgasana pengaruh, dan menciptakan jarak eksklusif yang memisahkan antara sang pemimpin dengan umat yang dipimpinnya. Perbandingan ini bukanlah upaya untuk menjatuhkan martabat ulama, melainkan sebuah refleksi kritis mengenai urgensi mengembalikan ruh dakwah kepada esensi pelayanan yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi.

Kisah yang diriwayatkan dalam Ath-Thabaqat al-Kubra karya Imam Ibnu Sa’ad, yang dinilai shahih mursal oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, memberikan gambaran yang sangat kontras mengenai kepemimpinan Rasulullah. Suatu ketika, seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW untuk menyampaikan sebuah hajat. Karena rasa segan yang luar biasa dan kewibawaan Nabi yang begitu terpancar, laki-laki tersebut gemetar ketakutan di hadapan beliau. Rasulullah SAW, dengan kelembutan yang luar biasa, segera merespons dengan kalimat yang menghancurkan dinding ketakutan tersebut: "Tenanglah, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putra dari seorang perempuan Quraisy yang biasa memakan dendeng (daging kering)." Kalimat ini bukan sekadar retorika, melainkan pernyataan sikap yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak menginginkan penghormatan yang berlebihan atau ketakutan dari para pengikutnya. Beliau lebih memilih dipandang sebagai manusia biasa, seorang hamba yang melayani, daripada menjadi penguasa yang diagungkan di atas penderitaan orang lain.

Keteladanan ini menjadi sangat relevan ketika kita menoleh pada fenomena sosial di kalangan umat saat ini. Banyak di antara kita yang menyaksikan bagaimana sebagian tokoh agama terlibat dalam perselisihan internal organisasi yang memalukan, terjerat dalam skandal moral yang mencederai kepercayaan publik, atau justru mempertontonkan gaya hidup mewah yang berbanding terbalik dengan nilai-nilai zuhud yang mereka sampaikan di atas mimbar. Dalam banyak kasus, mimbar Jumat atau forum-forum keagamaan bukan lagi menjadi tempat untuk menebar benih kebaikan, melainkan berubah menjadi panggung untuk mempertahankan eksistensi dan pengaruh politik atau ekonomi. Ketika pengaruh keagamaan dikonversi menjadi kapital duniawi, maka di sanalah integritas mulai luntur. Jarak antara apa yang diucapkan dan apa yang dipraktikkan semakin melebar, menciptakan krisis kepercayaan yang mendalam di kalangan jemaah.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh tokoh agama yang menyalahgunakan kedudukannya jauh lebih berbahaya dibandingkan kerusakan yang dilakukan oleh orang awam. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui peringatan keras terhadap perilaku para pendeta Yahudi dan rahib Nasrani yang memakan harta manusia dengan cara yang batil serta menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mereka yang menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi adalah perusak utama tatanan masyarakat. Umat menggantungkan agamanya kepada tokoh-tokoh tersebut; sehingga ketika tokoh yang mereka jadikan panutan justru menampilkan perilaku yang mendekati asfala safilin (serendah-rendahnya martabat), maka dampak kerusakan mental dan spiritual bagi umat akan sangat luas.

Pilihan Rasulullah SAW untuk menjadi Abdan Rasulan (seorang hamba sekaligus rasul) daripada Malikan Nabiyyan (seorang raja sekaligus nabi) adalah kunci jawaban dari masalah ini. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, hadits nomor 7160 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth, dikisahkan bahwa malaikat datang menawarkan kepada Nabi SAW untuk menjadi raja. Jibril AS, sebagai penasihat terbaik, memberikan isyarat kepada Nabi untuk merendahkan diri dan memilih jalan kehambaan. Rasulullah SAW dengan tegas memilih menjadi hamba dan rasul. Pilihan ini menunjukkan bahwa kekuasaan, bagi Rasulullah, adalah amanah berat untuk melayani (khidmah), bukan panggung untuk dilayani. Seorang pemimpin yang sejati adalah dia yang mampu meletakkan jabatannya di bawah kakinya sendiri, bukan di atas kepala umatnya.

Khutbah Jumat: Kontrasnya Akhlak Rasulullah dengan Para Tokoh Agama

Fenomena "dunia terbalik" di mana ahli agama justru berperilaku tidak selaras dengan syariat sering kali dipicu oleh hilangnya rasa takut kepada Allah. Ketika seseorang lebih takut kehilangan pengaruh daripada kehilangan ridha Ilahi, maka ia akan dengan mudah menghalalkan segala cara untuk mempertahankan posisi. Allah SWT menegur perilaku kemunafikan ini dengan sangat tajam dalam QS. Ash-Shaff ayat 2-3, "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sungguh besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." Ancaman bagi mereka yang memerintahkan kebaikan tetapi tidak melakukannya sangatlah mengerikan, sebagaimana hadits mutafaq ‘alaih mengenai seseorang yang ususnya terburai di neraka karena ia adalah seorang pengkhotbah yang tidak mengamalkan ucapannya sendiri.

Kita harus menyadari bahwa menjadi tokoh agama adalah ujian yang sangat berat. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang dipikulnya di hadapan Allah. Umat saat ini membutuhkan teladan yang nyata, bukan sekadar kata-kata yang dihiasi dengan retorika indah. Kita membutuhkan sosok-sosok yang rendah hati di tengah popularitas, yang sederhana di tengah kecukupan, dan yang konsisten antara tindakan dengan ajaran. Jika seorang tokoh agama tidak mampu lagi menjadi cermin bagi umatnya, maka ia sebenarnya telah kehilangan otoritas moralnya, terlepas dari seberapa besar pengikut yang dimilikinya.

Oleh karena itu, momentum khutbah ini harus menjadi sarana muhasabah bagi kita semua. Bagi mereka yang memegang amanah keilmuan dan kepemimpinan, kembalilah kepada esensi khidmah. Jangan jadikan agama sebagai tameng untuk menutupi ambisi duniawi. Sebaliknya, bagi kita sebagai jemaah, marilah kita belajar untuk tidak bersikap ghuluw atau berlebih-lebihan dalam mengagungkan sosok manusia. Kesalahan dalam menempatkan tokoh agama di atas martabat yang seharusnya, terkadang justru membuat kita buta terhadap penyimpangan yang mereka lakukan. Kita harus tetap kritis, tetap memegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai standar kebenaran utama, bukan pada sosok atau individu tertentu.

Introspeksi diri sebelum dihisab oleh Allah adalah nasihat emas dari Umar bin Khattab RA yang harus diresapi. Jika kita ingin melihat perubahan di tengah masyarakat, maka perubahan itu harus dimulai dari para tokohnya. Seorang ulama yang sejati adalah mereka yang ketika namanya disebut, orang akan teringat kepada Allah, bukan teringat pada kekayaan atau kekuasaan yang dimilikinya. Ketika seorang pemimpin agama mampu meneladani akhlak Rasulullah yang senantiasa menundukkan diri dan menolak kemegahan, maka di situlah cahaya Islam akan kembali bersinar terang di tengah kegelapan duniawi.

Pada akhirnya, kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa menjaga hati kita, para ulama, dan pemimpin umat dari fitnah kekuasaan yang melenakan. Semoga ilmu yang kita pelajari dan kepemimpinan yang dijalankan oleh para tokoh kita benar-benar menjadi jalan menuju surga-Nya, bukan menjadi bumerang yang justru menjauhkan kita dari rahmat-Nya. Marilah kita berdoa agar setiap amanah yang dititipkan di pundak kita, sekecil apa pun itu, dapat kita pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sosok-sosok pemimpin yang takut kepada-Nya, mencintai umat-Nya, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesombongan duniawi yang menyesatkan. Amin ya Rabbal ‘Alamin.