0

457 Anak Yatim Terima Santunan, Gus Idror Tekankan Kepedulian Sosial

Share

TEMANGGUNG – Kepedulian terhadap anak yatim dan kaum duafa merupakan bentuk nyata keberpihakan kepada kelompok lemah yang sangat dicintai Allah SWT. Siapa pun yang menyayangi dan mengasihi mereka akan mendapatkan kasih sayang serta perlindungan dari Allah. Pesan mulia ini disampaikan oleh KH. Muhammad Idror Maemoen dalam puncak acara Santunan Anak Yatim XXII sekaligus peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang diselenggarakan oleh Panitia Santunan Anak Yatim (PANSAY) Ranting Rifaiyah Joho, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, pada Kamis (25/06/2026).

Acara yang berlangsung khidmat di halaman Masjid Istiqomah, Dusun Joho, tersebut menjadi magnet bagi masyarakat luas. Tercatat sekitar 2.000 pengunjung memadati area kegiatan, menciptakan suasana guyub rukun yang penuh dengan semangat berbagi. Rangkaian acara yang diisi dengan tausiah keagamaan, penyaluran santunan bagi 457 anak yatim, hingga doa bersama menyambut pergantian tahun Hijriah ini, sukses menjadi agenda tahunan yang dinantikan oleh warga dari berbagai wilayah.

Dalam tausiah utamanya, Gus Idror—sapaan akrab putra dari ulama kharismatik KH Maemoen Zubair—menegaskan kedudukan istimewa anak yatim dalam pandangan Islam. Menurut beliau, menyantuni anak yatim bukan sekadar aksi sosial, melainkan investasi akhirat yang menjamin perlindungan Tuhan bagi pelakunya. Gus Idror mengingatkan agar umat Islam tidak sekali-kali menyakiti anak yatim, karena ancaman Allah bagi mereka yang menelantarkan kelompok ini sangatlah berat.

"Orang yang mau berbagi dan membantu anak yatim serta kaum lemah akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah SWT. Sebaliknya, jangan sekali-kali menyakiti anak yatim, karena Allah akan memberikan balasan yang lebih berat atas perbuatan tersebut," tegas Gus Idror di hadapan ribuan jemaah. Beliau juga menambahkan filosofi kehidupan yang mendalam, bahwa ketika seseorang dengan ikhlas mengurus anak yatim, maka Allah SWT akan menjamin keberkahan dan masa depan anak-anak dari orang tersebut.

Lebih jauh, Gus Idror mengaitkan kepedulian sosial dengan kepemimpinan. Beliau menekankan bahwa sejarah membuktikan para pemimpin besar dan bangsa yang berjaya selalu berawal dari keberpihakan mereka kepada rakyat kecil dan kaum lemah. Dalam konteks Tahun Baru Islam, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan momen hijrah sebagai titik tolak untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kepekaan sosial.

457 Anak Yatim Terima Santunan, Gus Idror Tekankan Kepedulian Sosial

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah, menurut Gus Idror, bukanlah sekadar perpindahan tempat, melainkan strategi besar yang dilakukan secara istikamah. "Allah memiliki sifat Al-Lathif, Maha Lembut dalam mengatur perubahan. Banyak perubahan besar yang datang tanpa kita sadari prosesnya. Dengan Hijrah, syariat Islam makin tampak, keputusan-keputusan besar mulai dijalankan, dan cahaya Islam semakin terang bagi umat manusia," tambahnya. Ia menekankan bahwa langkah-langkah kecil dalam menebar kebaikan, jika dilakukan secara konsisten, akan menghasilkan perubahan besar bagi peradaban umat.

Sementara itu, Ketua Panitia PANSAY, M. Shokif Baihaqi, memberikan laporan yang sangat membanggakan terkait keberlangsungan program ini. Ia menjelaskan bahwa kegiatan santunan ini bukanlah agenda dadakan, melainkan program yang telah berjalan secara berkelanjutan selama 22 tahun tanpa henti. Konsistensi ini membuktikan bahwa semangat kedermawanan masyarakat di wilayah Wonoboyo dan sekitarnya tetap terjaga dengan sangat baik.

Pada tahun ini, total donasi yang berhasil dihimpun oleh panitia mencapai angka fantastis, yakni Rp 263.403.500. Dana tersebut kemudian didistribusikan kepada 457 anak yatim yang tersebar di wilayah Kabupaten Temanggung, Wonosobo, hingga Kendal. Haqi, yang juga seorang akademisi lulusan Ekonomi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menjelaskan bahwa sistem pengelolaan donasi dilakukan secara transparan dan berkelanjutan sepanjang tahun.

"Kami membuka layanan donasi sepanjang tahun, tidak hanya terbatas pada bulan Muharam saja. Selain santunan rutin di momen Muharam, kami juga memiliki program penyaluran bantuan menjelang Hari Raya Idulfitri dan saat memasuki tahun ajaran baru. Bantuan ini kami antarkan langsung ke tempat tinggal para penerima untuk memastikan tepat sasaran dan memberikan sentuhan emosional kepada anak-anak yatim tersebut," jelas Haqi.

Salah satu orang tua penerima santunan, Ibu Mistinah (52), asal Dusun Senet, Desa Purwosari, Wonoboyo, tampak terharu saat mendampingi putranya, Satria Ali (10). Bagi Mistinah, bantuan ini bukan hanya sekadar nominal uang, melainkan bentuk dukungan moral yang sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan dan kesejahteraan hidup anaknya. "Bantuan ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari anak saya. Kepedulian semua pihak, terutama para dermawan dan panitia, semoga dibalas Allah dengan keberkahan yang berlipat ganda," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Kesuksesan acara ini juga didukung oleh kehadiran berbagai tokoh masyarakat dan pejabat daerah. Selain Gus Idror, hadir pula KH. Syihabudin dari Pondok Pesantren Al-Hadist Wonorejo, KH. Imbuh Jumali dari Pondok Pesantren Riyadhotus Sholihin Pomahan, serta KH. Samsul Maarif selaku Ketua Dewan Syuro Pengurus Daerah Rifaiyah Temanggung. Hadir pula unsur pemerintah, di antaranya Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Temanggung, Agus Sujarwo, jajaran Forkopimcam Wonoboyo, serta para kepala desa se-Kecamatan Wonoboyo.

457 Anak Yatim Terima Santunan, Gus Idror Tekankan Kepedulian Sosial

Kehadiran para tokoh ini menunjukkan sinergi yang kuat antara ulama, umara (pemerintah), dan masyarakat dalam membangun kepedulian sosial di akar rumput. Di tengah tantangan ekonomi global, inisiatif masyarakat lokal seperti PANSAY Rifaiyah Joho ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan komunitas (community-based) masih menjadi pilar utama kesejahteraan sosial di Indonesia.

Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh para ulama yang hadir, memohon agar tahun baru 1448 Hijriah membawa kedamaian, keberkahan, dan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Semangat yang ditularkan Gus Idror dan kerja keras panitia PANSAY diharapkan dapat terus memantik inspirasi bagi daerah lain untuk lebih peduli terhadap anak yatim dan kaum duafa.

Dengan total dana yang terkumpul dan jumlah penerima yang mencapai ratusan, kegiatan ini menjadi model pengelolaan dana sosial berbasis keagamaan yang akuntabel dan profesional. Ke depan, diharapkan program ini tidak hanya menyasar bantuan materi, tetapi juga pengembangan karakter dan pendidikan bagi anak-anak yatim, sehingga mereka memiliki masa depan yang lebih cerah dan mandiri.

Momentum peringatan Tahun Baru Islam ini sejatinya telah berhasil menyatukan ribuan orang dalam satu tujuan mulia: meringankan beban sesama dan mempererat tali silaturahmi. Sebagaimana pesan penutup Gus Idror, kepedulian terhadap anak yatim adalah cermin dari kualitas iman seseorang. Selama masih ada tangan-tangan yang terbuka untuk memberi, maka selama itu pula keberkahan akan senantiasa menaungi negeri ini. Acara pun ditutup dengan suasana haru dan penuh syukur, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh hadirin yang memadati Masjid Istiqomah hingga akhir acara.