0

Trump Murka ke Netanyahu: Semua Orang Yahudi Muak pada Anda!

Share

Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel, yang selama ini dikenal sebagai aliansi strategis paling kokoh di Timur Tengah, kini berada di titik nadir yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah meluapkan kemarahan luar biasa kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dalam sebuah insiden yang mengguncang koridor kekuasaan di Washington dan Tel Aviv, Trump secara blak-blakan menyatakan bahwa "semua orang Yahudi muak" pada pemimpin veteran Israel tersebut.

Ketegangan ini terungkap ke publik melalui narasi mendalam dalam buku berjudul Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump. Buku yang ditulis oleh jurnalis kawakan dari New York Times, Maggie Haberman dan Jonathan Swan, tersebut membedah dinamika politik internal masa jabatan kedua Trump, khususnya mengenai upaya AS dalam memediasi konflik berkepanjangan di Jalur Gaza. Laporan ini memberikan gambaran yang sangat kontras dibandingkan hubungan harmonis yang sempat mereka tunjukkan di masa lalu.

Puncak dari retakan hubungan ini terjadi pada September 2025, saat sebuah percakapan telepon yang penuh dengan atmosfer permusuhan terjadi di tengah berlangsungnya Sidang Majelis Umum PBB. Saat itu, pemerintahan Trump sedang berupaya keras mendorong rencana perdamaian 20 poin untuk mengakhiri perang dua tahun di Gaza, sekaligus memetakan langkah rekonstruksi besar-besaran bagi wilayah Palestina yang telah hancur lebur. Trump merasa bahwa Netanyahu sengaja menghambat proses tersebut dengan tidak memberikan respons yang memadai atau kooperatif terhadap proposal AS.

Dalam percakapan yang digambarkan sebagai "momen luar biasa" oleh Haberman, Trump tidak lagi menggunakan bahasa diplomasi yang santun. "Saya muak dengan perilaku Anda. Saya telah melakukan segalanya untuk melindungi Anda, dan sebaiknya Anda segera menindaklanjuti hal ini," seru Trump dengan nada yang penuh frustrasi.

Situasi menjadi jauh lebih personal dan memanas ketika Trump menarik nama-nama orang di sekitarnya ke dalam argumen tersebut. Dalam sambungan telepon yang sama, hadir pula Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta menantu sekaligus penasihat senior Trump, Jared Kushner. Keduanya, yang merupakan penganut Yahudi, disebut langsung oleh Trump untuk memberikan legitimasi pada klaimnya.

"Semua orang muak pada Anda, Bibi. Semua orang Yahudi muak pada Anda. Bahkan dua orang Yahudi yang ada dalam panggilan telepon ini pun muak pada Anda," ucap Trump, menggunakan nama panggilan akrab Netanyahu untuk menekankan kekecewaannya. Ucapan ini bukan sekadar luapan amarah sesaat, melainkan sebuah pernyataan yang menampar legitimasi Netanyahu sebagai pelindung rakyat Yahudi di panggung internasional.

Analisis dari CNN dan laporan tambahan dari The Times of Israel menunjukkan bahwa kemarahan Trump berakar pada akumulasi rasa frustrasi jangka panjang. Trump merasa telah memberikan modal politik yang sangat besar bagi Israel selama masa jabatan pertamanya, termasuk pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mediasi Perjanjian Abraham. Namun, menurut perspektif Trump, Netanyahu justru merusak kredibilitas AS dengan perilaku yang dianggapnya "gila" dan tidak terkendali, terutama dalam eskalasi militer di Lebanon yang membahayakan diplomasi regional dengan Iran.

Hubungan yang dulu tampak seperti duet maut ini kini benar-benar retak. Trump tidak segan-segan memperingatkan Netanyahu agar tidak mengambil langkah sepihak yang dapat memicu konfrontasi lebih luas dengan Iran. Bahkan, Trump secara terbuka mengancam bahwa jika Netanyahu tetap bersikeras dengan ego militernya, Israel mungkin harus berjuang "sendirian" tanpa payung dukungan dari Washington.

Pakar politik internasional menilai bahwa dinamika ini menandai perubahan paradigma yang sangat signifikan. Jika sebelumnya AS selalu memberikan cek kosong bagi kebijakan keamanan Israel, pemerintahan Trump tampaknya mulai menerapkan pendekatan transactional yang jauh lebih keras. Netanyahu, yang selama ini dikenal sebagai politisi yang mampu bertahan di tengah badai, kini menghadapi tekanan internal yang sangat berat. Pernyataan Trump bahwa "orang Yahudi muak" padanya merupakan pukulan telak yang bisa mempengaruhi dukungan domestik Netanyahu di Israel, di mana publik mulai mempertanyakan apakah kebijakan keamanan sang Perdana Menteri justru mengisolasi Israel dari sekutu utamanya.

Selain itu, keterlibatan Jared Kushner dan Steve Witkoff dalam percakapan tersebut memberikan dimensi baru. Kehadiran mereka sebagai saksi atas "kemuakan" terhadap Netanyahu menunjukkan bahwa Trump ingin menjustifikasi bahwa kritik ini bukanlah serangan antisemitisme, melainkan kritik terhadap gaya kepemimpinan Netanyahu yang dianggap destruktif bagi stabilitas regional.

Haberman mencatat bahwa percakapan telepon tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak interaksi tegang antara Gedung Putih dan kantor Perdana Menteri Israel. Ke depan, hubungan ini diprediksi akan terus mengalami turbulensi. Perbedaan mendasar mengenai kesepakatan nuklir Iran dan strategi militer di Lebanon menjadi tembok penghalang yang semakin tebal. Bagi Trump, yang menginginkan warisan sejarah sebagai "pembawa perdamaian" di Timur Tengah, Netanyahu kini dipandang sebagai hambatan utama.

Di sisi lain, Netanyahu berada dalam posisi yang sangat sulit. Mengabaikan perintah atau teguran dari Washington bukan lagi opsi yang aman bagi stabilitas pertahanan Israel. Namun, mengikuti semua keinginan Trump juga berisiko mengorbankan kepentingan keamanan strategis yang selama ini diyakini oleh pemerintahan sayap kanan Israel.

Kejadian ini juga mencerminkan keretakan yang lebih luas dalam lanskap politik Yahudi di Amerika Serikat. Ucapan Trump bahwa "semua orang Yahudi muak pada Anda" tentu merupakan generalisasi, namun hal ini menyoroti perpecahan opini yang tajam di kalangan diaspora Yahudi mengenai cara terbaik dalam menangani isu Palestina dan keamanan Israel.

Sebagai penutup, peristiwa ini menunjukkan bahwa era "hubungan istimewa" yang selama ini dianggap permanen antara AS dan Israel telah berubah menjadi hubungan yang penuh kecurigaan dan rasa tidak percaya. Trump, dengan gaya komunikasinya yang eksplosif, telah mengubah aturan main. Apakah Netanyahu akan mampu meredam kemarahan ini, ataukah ini menjadi awal dari perpisahan politis yang akan mengubah peta kekuatan di Timur Tengah selamanya? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang pasti, kata-kata tajam Trump telah mengukir luka yang sulit disembuhkan dalam sejarah aliansi kedua negara.

Dunia kini tengah menyaksikan apakah retorika keras Trump ini akan diikuti oleh tindakan nyata, seperti pemotongan bantuan militer atau penarikan dukungan diplomatik di PBB. Jika ancaman "berjuang sendiri" tersebut benar-benar diwujudkan, maka masa depan Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu akan menghadapi tantangan eksistensial yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Dunia menunggu langkah Netanyahu selanjutnya, apakah dia akan melunak demi mempertahankan aliansi, atau tetap teguh pada jalannya meski harus kehilangan sekutu paling berharga di dunia.