BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor senior Tio Pakusadewo, yang kini berusia 62 tahun, menceritakan sebuah fase kehidupan yang sangat menyentuh hati saat menjadi bintang tamu di acara "Rumpi: No Secret" pada Selasa, 23 Juni 2026. Dengan mata berkaca-kaca, Tio mengakui bahwa perjalanan hidupnya saat ini terasa seperti adegan terakhir dalam sebuah film, sebuah tikungan yang menandakan perlunya introspeksi mendalam dan perbaikan diri. Momen yang paling menggugah emosinya adalah ketika ia mengingat kembali bagaimana dirinya bisa kembali membaca dan menghafal Al-Qur’an, sebuah kemampuan yang sempat hilang ditelan masa, berkat pertemuannya dengan Ali Imron di balik jeruji besi.

"Ya Tuhan mohon maaf. Sampai saya berkesimpulan, ya ini kalau di film ini adegan tikungan yang terakhir. Ya mungkin sudah saatnya saya bebenah semua-semua kan, yang di dalam terutama. Bebenah dirilah ya. Banyak mengurangi hal-hal yang tidak perlu. Ucapan yang tidak perlu. Tindakan apalagi. Berpikir juga nggak perlu juga. Terima saja ini hadiah dari Tuhan. Mungkin kalau orang yang sehat tahu bahwa sakit itu adalah ibadah dan luar biasa. Mereka berebut sakit," ungkap Tio dengan nada penuh haru. Ia kini memandang sakit sebagai sebuah anugerah dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sebuah perspektif yang mungkin sulit dipahami oleh mereka yang belum pernah merasakan ujian serupa.
Kisah pertemuan tak terduga ini bermula ketika Tio Pakusadewo harus menjalani masa hukuman di dalam penjara. Di sana, ia dipertemukan dengan sosok Ali Imron, yang di kalangan narapidana dijuluki sebagai "Pak Ustaz". Awalnya, Tio mengaku tidak mengenal Ali Imron dan bahkan enggan untuk menemuinya. Namun, seiring berjalannya waktu dan interaksi yang semakin intens, sebuah percakapan yang mengubah pandangannya pun terjadi.

Ali Imron, dengan kelembutan yang tak disangka, bertanya kepada Tio mengenai kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an. "Mau belajar ngaji nggak? Eh pernah ngaji nggak? Masih ingat?" tanya Ali Imron. Tio dengan jujur menjawab bahwa sebagian besar bacaannya sudah terlupakan, hanya menyisakan sedikit huruf hijaiyah yang samar-samar diingat. Tanpa ragu, Ali Imron menawarkan untuk mengajarkan kembali. Tio sempat ragu, menanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Ali Imron menjamin bahwa jika Tio masih memiliki kecerdasan yang baik, ia bisa lancar kembali dalam waktu dua hari. Ternyata, janji itu terbukti benar.
"Nah dari situ saya mulai baca-baca ayat yang disarankan gitu ya. Hebatnya di penjara itulah, saya bisa menghapal Ayat Kursi. Menghapal banyak surat. Sekeluarnya pun saya masih bisa menghafal Al-A’la," cerita Tio, dengan suara yang masih bergetar. Momen ini menjadi titik balik penting dalam kehidupannya. Di tengah keterbatasan dan lingkungan yang keras, Tio menemukan kembali koneksi spiritualnya yang sempat merenggang. Kemampuan menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an menjadi sebuah pencapaian luar biasa, sebuah bukti bahwa di setiap kesulitan, selalu ada kesempatan untuk tumbuh dan memperbaiki diri.

Tio menambahkan bahwa momen ini membuatnya semakin merasakan kasih sayang Tuhan kepadanya. Ia menyadari bahwa penyakit yang dialaminya kini telah membawa perubahan besar dalam rutinitas hidupnya. Salah satu hal yang paling ia rindukan dan rasakan kehilangan adalah kesempatan untuk menunaikan salat Subuh berjamaah di masjid.
"Saya 2 tahun terakhir itu tidak pernah luput dari subuh. Sampai akhirnya saya sakit. Setelah sakit ini, kehilangan banyak karena udah jarang subuh di masjid," ungkapnya dengan nada sedih. Ia teringat akan komentar salah seorang netizen yang dibacakan dalam acara tersebut, yang menyebutkan bahwa Tio sudah jarang terlihat pulang dari masjid. Hal ini mengindikasikan bahwa sebelum sakit, Tio adalah sosok yang rajin beribadah, sebuah kebiasaan yang terpaksa ia tinggalkan sementara karena kondisi kesehatannya.

Perubahan pola hidup pasca-sakit ini menjadi refleksi Tio tentang arti penting menjaga kesehatan, tidak hanya untuk fisik tetapi juga untuk spiritual. Ia menyadari bahwa rutinitas ibadah, seperti salat Subuh berjamaah, memiliki nilai yang sangat tinggi dan memberikan ketenangan batin. Pengalaman ini mengajarkannya untuk lebih menghargai setiap detik waktu yang diberikan Tuhan dan memanfaatkan kesempatan untuk berbuat kebaikan serta mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam wawancaranya, Tio Pakusadewo juga menyinggung tentang bagaimana ia berusaha mengurangi hal-hal yang tidak perlu dalam hidupnya, baik itu ucapan, tindakan, maupun pikiran. Ia kini lebih memilih untuk menerima segala sesuatu yang datang sebagai takdir dari Tuhan, sebuah sikap tawakal yang mendalam. Pandangannya terhadap sakit pun bergeser drastis. Ia kini meyakini bahwa sakit adalah bentuk ibadah yang luar biasa, sebuah ujian yang jika dihadapi dengan sabar dan ikhlas, akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Pertemuannya dengan Ali Imron di penjara bukan sekadar momen untuk belajar mengaji, tetapi juga menjadi katalisator bagi perubahan spiritual yang mendalam bagi Tio Pakusadewo. Ia belajar bahwa hidayah bisa datang dari mana saja dan siapa saja, bahkan dari seseorang yang mungkin di masa lalu memiliki catatan kelam. Kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar.
Kini, Tio Pakusadewo menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran dan rasa syukur. Ia terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat dengan Tuhannya, dan lebih menghargai setiap momen kehidupan. Tangisnya bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru dan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk kembali menemukan jati diri spiritualnya, sebuah perjalanan yang dimulai dari sebuah pengajian sederhana di dalam penjara, berkat kebaikan hati Ali Imron.

Semoga kisah inspiratif Tio Pakusadewo ini dapat menjadi renungan bagi banyak orang, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, menghargai setiap anugerah, dan tidak pernah menyerah untuk terus memperbaiki diri, apapun rintangan yang menghadang. Perjalanan hidupnya yang ibarat sebuah film, kini memasuki babak baru yang lebih bermakna dan penuh harapan. Ia berharap dapat terus belajar dan tumbuh, serta memberikan contoh positif bagi masyarakat luas, terutama generasi muda yang mungkin sedang mencari arah dan makna hidup. Kemampuannya menghafal surat-surat pendek seperti Al-A’la dan ayat-ayat suci lainnya, menjadi bukti nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus belajar dan bertumbuh dalam kebaikan.

