0

Ruben Onsu dan Sarwendah Diharap Selesaikan Masalah dengan Kepala Dingin Demi Anak

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Polemik rumah tangga antara presenter kondang Ruben Onsu dan penyanyi Sarwendah masih menjadi sorotan publik. Hingga kini, kabarnya perselisihan di antara keduanya belum menemukan titik terang, terutama terkait isu hak asuh dan pertemuan dengan anak-anak mereka. Permintaan utama dari Ruben Onsu adalah keinginan untuk bertemu buah hatinya, sementara Sarwendah dilaporkan belum memberikan lampu hijau untuk hal tersebut. Konflik yang kian memanas ini tak pelak menarik perhatian berbagai pihak, termasuk dari kalangan praktisi hukum. Salah satunya adalah pengacara Ferry Juan, yang turut angkat bicara mengenai permasalahan yang sedang dihadapi oleh pasangan selebriti tersebut.

Sebagai seorang pengacara yang memahami seluk-beluk hukum keluarga, Ferry Juan memberikan imbauan tegas kepada Ruben Onsu dan Sarwendah. Ia menekankan pentingnya menjaga mental anak-anak di tengah perseteruan orang tua mereka. "Jika ada masalah, baik itu urusan harta gono-gini, utang, atau apa pun yang masih tersisa dari ikatan perkawinan, hendaknya diselesaikan secara baik-baik. Hindari saling menghujat atau melontarkan kata-kata yang dapat menyakiti. Yang terpenting, selalu ingat dan jaga perasaan anak-anak. Bagaimanapun, mereka membutuhkan cinta dan perhatian yang utuh dari kedua orang tuanya sebagai fondasi utama bagi tumbuh kembang mereka yang sehat dan optimal," ujar Ferry Juan dalam keterangan tertulis yang dirilis pada hari Jumat, 12 Juni 2026.

Ferry Juan menambahkan bahwa dalam menghadapi situasi yang pelik seperti ini, sikap tenang dan dewasa sangatlah krusial. Ia menyarankan agar kedua belah pihak, Ruben Onsu dan Sarwendah, duduk bersama untuk mendiskusikan segala permasalahan yang ada dengan kepala dingin. Pendekatan ini diharapkan dapat mencegah eskalasi konflik yang lebih jauh dan menemukan solusi yang konstruktif. "Pertemuan tatap muka dan dialog yang terbuka sangatlah penting. Dengarkan satu sama lain, pahami sudut pandang masing-masing, dan prioritaskan kepentingan terbaik bagi anak. Dengan kepala dingin, segala kerumitan dapat diurai dan diselesaikan tanpa perlu menimbulkan drama yang berkepanjangan," jelasnya.

Lebih lanjut, Ferry Juan juga mengingatkan kepada pihak yang mendapatkan hak asuh anak dari putusan pengadilan, dalam hal ini Sarwendah, untuk senantiasa bersikap adil. Keadilan tersebut mencakup pemberian kesempatan yang proporsional bagi orang tua lainnya, yaitu Ruben Onsu, untuk dapat bertemu dan menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. Ia menekankan bahwa hak seorang anak untuk mendapatkan kasih sayang dan kehadiran kedua orang tua tidak boleh terhalangi oleh perselisihan orang dewasa. "Hak asuh bukan berarti membatasi hak orang tua lain untuk berinteraksi dengan anaknya. Keseimbangan dan keadilan dalam pengaturan waktu pertemuan harus tetap dijaga agar anak tidak merasa kehilangan salah satu figur orang tuanya," tegas Ferry Juan.

Ruben Onsu sendiri, beberapa kali telah secara terbuka menyuarakan keinginannya untuk dapat bertemu dengan kedua buah hatinya, Thalia Putri Onsu dan Thania Putri Onsu. Pernyataan-pernyataan Ruben ini mengindikasikan rasa rindu dan kepeduliannya sebagai seorang ayah yang ingin terus terlibat dalam kehidupan anak-anaknya. Di sisi lain, Sarwendah sebelumnya telah menyampaikan permohonan maafnya kepada berbagai pihak terkait situasi yang terjadi. Permohonan maaf tersebut diungkapkannya melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, sebuah langkah yang diapresiasi sebagai bentuk kesadaran dan keinginan untuk meredakan ketegangan.

Ruben Onsu-Sarwendah Diharap Selesaikan Masalah dengan Kepala Dingin

Namun, di balik segala pernyataan dan permohonan maaf, akar permasalahan yang sesungguhnya perlu diidentifikasi dan diselesaikan. Pengacara Ferry Juan berpendapat bahwa ada baiknya jika kedua belah pihak dapat merangkum semua poin perselisihan, baik itu yang bersifat material maupun emosional, dan menyelesaikannya secara tuntas. Hal ini tidak hanya demi ketenangan diri sendiri, tetapi yang paling utama adalah demi masa depan dan kesejahteraan mental anak-anak yang masih membutuhkan figur kedua orang tua yang utuh dan harmonis.

Fokus utama dalam setiap penyelesaian konflik rumah tangga yang melibatkan anak-anak adalah menciptakan lingkungan yang stabil dan penuh kasih. Pengacara Ferry Juan menyarankan agar Ruben Onsu dan Sarwendah dapat belajar dari berbagai kasus perceraian lain yang telah terjadi, baik di kalangan selebriti maupun masyarakat umum. Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil, terutama mengenai dampak negatif dari perseteruan yang berkepanjangan terhadap perkembangan psikologis anak.

Dalam konteks hukum, meskipun hak asuh anak dapat dijatuhkan kepada salah satu pihak, hal tersebut tidak mengesampingkan hak orang tua yang lain untuk tetap memiliki hubungan yang erat dengan anaknya. Undang-undang dan prinsip hukum keluarga umumnya mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child). Ini berarti segala keputusan yang diambil haruslah berorientasi pada kesejahteraan fisik, mental, dan emosional anak. Oleh karena itu, Sarwendah, sebagai pihak yang memegang hak asuh, memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memfasilitasi pertemuan antara Ruben Onsu dan anak-anak mereka, tentunya dengan pengaturan yang sehat dan tidak membahayakan.

Selain itu, Ferry Juan juga menyinggung mengenai pentingnya menjaga privasi anak-anak. Meskipun orang tua mereka adalah figur publik yang selalu disorot media, anak-anak berhak mendapatkan perlindungan dari gejolak dan publisitas yang berlebihan. Segala bentuk perselisihan sebaiknya diselesaikan secara privat, tanpa perlu melibatkan media secara masif yang dapat menambah beban psikologis bagi anak.

Kondisi ini menjadi ujian berat bagi Ruben Onsu dan Sarwendah. Bagaimana mereka mampu mengelola emosi, menjaga komunikasi yang sehat, dan memprioritaskan kebahagiaan anak-anak akan menjadi penentu keberhasilan mereka dalam melewati badai rumah tangga ini. Pengacara Ferry Juan berharap, dengan adanya masukan dan saran dari berbagai pihak, keduanya dapat menemukan jalan keluar terbaik, yang berlandaskan pada cinta, pengertian, dan tanggung jawab sebagai orang tua.

Kesehatan mental anak adalah aset yang tak ternilai harganya. Perselisihan orang tua yang tidak kunjung usai dapat meninggalkan luka mendalam bagi anak, yang berpotensi terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, ajakan untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin bukan sekadar retorika, melainkan sebuah kebutuhan mendesak demi masa depan generasi penerus. Diharapkan Ruben Onsu dan Sarwendah dapat meresapi nasihat ini dan bertindak demi kebaikan anak-anak tercinta mereka. Proses mediasi atau konseling keluarga juga bisa menjadi alternatif yang sangat baik untuk membantu mereka menavigasi kompleksitas situasi ini dan menemukan solusi yang paling harmonis. Kehadiran figur ayah dan ibu yang seimbang dalam kehidupan anak merupakan hak fundamental yang harus selalu diupayakan pemenuhannya.