0

Cangkriman Hawa Nafsu

Share

Di sebuah sudut pesantren yang syahdu, di bawah naungan lampu minyak yang berpijar tenang, para santri duduk bersila membentuk lingkaran. Malam itu, suasana terasa lebih khusyuk dari biasanya. Di tengah lingkaran, seorang kiai sepuh dengan sorban putih yang melilit rapi tampak membuka sebuah kitab tua. Kitab itu adalah Tabyinal Ishlah, karya monumental ulama besar pejuang kemerdekaan, KH. Ahmad Rifa’i. Suara beliau yang serak-serak basah namun berwibawa memecah kesunyian malam, membacakan bait-bait nadzom yang sarat akan pesan sufistik tentang hakikat jiwa manusia.

Ikulah sorahe wong tan narimo kawilang / Tinemu ginawe cangkriman wenang / Siji ora entek onoho papat kurang / Ikulah lobane atine wong lanang.

Para santri mendengarkan dengan saksama. Bait tersebut bukan sekadar puisi, melainkan sebuah teka-teki kehidupan atau "cangkriman" tentang penyakit hati yang kronis: ketamakan. Sang Kiai menghentikan bacaannya sejenak, matanya menatap satu per satu wajah para santri, seolah ingin memastikan bahwa setiap huruf yang beliau baca meresap ke dalam sanubari mereka. "Tahukah kalian apa makna cangkriman ini?" tanya beliau lembut. Tidak ada yang menjawab. Keheningan menyelimuti majelis, hanya suara jangkrik di luar pondok yang sesekali bersahutan.

Sang Kiai kemudian menjelaskan bahwa bait tersebut adalah cermin bagi hati manusia yang tak pernah mengenal kata "cukup". Dalam pandangan KH. Ahmad Rifa’i, nafsu adalah lubang tanpa dasar. Seseorang mungkin sudah memiliki satu harta, namun ia akan terus mengejar hingga empat, dan bahkan setelah empat pun, ia akan merasa masih kekurangan. Inilah definisi dari loba atau ketamakan yang menjadi akar dari segala kesesatan manusia. Hawa nafsu bukanlah sesuatu yang bisa dipuaskan dengan pemenuhan; semakin diberi, ia justru semakin menuntut lebih banyak lagi.

Beliau melanjutkan dengan membacakan bait berikutnya, yang nadanya terasa lebih peringatan keras:

Onoho wadon satus meksih kurangan / Nyoto luwih akeh kurang hawane karepan / Gholib wong anut hawane gede kadosan / Satengahe dadi sasar kafir munafikan.

Seorang santri muda bernama Hasan, yang dikenal kritis, memberanikan diri mengangkat tangan. "Yai, apakah mungkin seseorang bisa tersesat begitu jauh hanya karena menuruti keinginannya sendiri?" tanya Hasan dengan nada penasaran. Sang Kiai tersenyum, sebuah senyum yang mengandung kedalaman hikmah. Beliau menjawab bahwa hawa nafsu bekerja secara halus. Ia tidak datang sebagai musuh yang nyata, melainkan sebagai bisikan yang seolah-olah benar. Ketika seseorang membiarkan dirinya dituntun oleh hawa nafsu tanpa kendali syariat, batas antara yang hak dan yang batil akan perlahan memudar. Dosa yang awalnya terasa menjijikkan, lama-kelamaan menjadi hal yang biasa dilakukan, sementara ibadah yang berat justru mulai ditinggalkan.

Majelis kembali hening saat sang Kiai merenungkan bait selanjutnya:

Nyoto tan nono warege howo tinurut / Koyo lakune wong kufur kebancut / Iku sabab maring howone anut / Banget laline ing Allah tan tobat imut.

Beliau kemudian mengisahkan sebuah perumpamaan tentang seorang saudagar kaya raya di masa lalu. Saudagar itu memiliki segalanya: sawah yang membentang luas hingga ke kaki gunung, rumah megah dengan perabotan emas, dan ratusan pekerja yang tunduk padanya. Namun, setiap pagi, bukannya bersyukur, ia justru terbangun dengan perasaan cemas karena merasa kurang. Ia selalu merasa hartanya belum cukup untuk memuaskan ambisinya. Ia habiskan siang dan malam untuk menghitung laba, hingga akhirnya azan yang berkumandang di telinganya tidak lebih dari sekadar suara latar yang mengganggu. Ia melupakan kewajiban salat, ia melupakan tetangga yang kelaparan, dan ia melupakan Tuhannya.

Cerpen: Cangkriman Hawa Nafsu

"Begitulah hawa nafsu," tegas sang Kiai. "Ia adalah api yang tidak pernah kenyang. Jika terus disiram dengan kayu bakar keinginan, ia akan membakar seluruh iman di dalam dada."

Lebih dalam lagi, sang Kiai membacakan bait terakhir yang menjadi puncak keresahan malam itu:

Akeh wong sasar sabab anut hawane manah / Satengah alim sasar tinggal mujahadah / Anut hawane dunyo harom diarah.

Kata-kata ini mengejutkan para santri. Mereka terdiam, memproses fakta bahwa yang bisa tersesat bukan hanya orang awam yang tidak berpendidikan, melainkan juga orang-orang yang berilmu tinggi. "Ilmu saja tidak cukup," ujar sang Kiai dengan suara berat. "Banyak orang yang hafal kitab, menguasai ilmu agama, namun tergelincir karena meninggalkan mujahadah. Mujahadah adalah perjuangan sungguh-sungguh melawan diri sendiri."

Sang Kiai menekankan bahwa ketika cinta dunia atau hubbud dunya telah merasuk ke dalam hati seorang alim, ia akan menggunakan ilmunya untuk menghalalkan apa yang haram. Ia akan mencari pembenaran atas keserakahannya sendiri dengan dalih-dalih agama yang ia pelajari. Inilah bahaya terbesar: ketika ilmu menjadi alat untuk menuruti nafsu, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hasan menundukkan kepalanya, menyadari betapa tipisnya batas antara ketaatan dan kesesatan. Malam itu, ia menyadari bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah orang di luar sana, melainkan diri sendiri yang selalu haus akan kesenangan duniawi. Pengajian pun berakhir dengan doa yang dipimpin oleh sang Kiai, namun resonansi dari bait-bait nadzom tersebut terus menggema di benak setiap santri. Mereka sadar bahwa menuntut ilmu tanpa dibarengi dengan pengendalian hawa nafsu hanyalah akan memperberat pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Pesan dari KH. Ahmad Rifa’i ini tetap relevan hingga berabad-abad kemudian. Di tengah dunia yang semakin konsumtif dan penuh godaan, cangkriman hawa nafsu ini menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk selalu melakukan introspeksi. Keselamatan hidup tidak diukur dari seberapa banyak ilmu yang kita koleksi, atau seberapa banyak ibadah yang kita pamerkan, melainkan dari seberapa mampu kita menjinakkan "hewan liar" dalam diri kita yang bernama nafsu.

Mujahadah atau perjuangan melawan hawa nafsu adalah jalan yang panjang dan melelahkan. Ia menuntut kesabaran, kejujuran pada diri sendiri, dan keberanian untuk menolak apa yang dicintai dunia demi apa yang dicintai Allah. Seperti seorang pendaki gunung yang harus membuang beban bawaan yang tidak perlu agar bisa mencapai puncak, seorang mukmin harus mampu membuang ambisi duniawi yang berlebihan agar jiwanya ringan saat menghadap Sang Pencipta.

Setelah majelis bubar, suasana pesantren kembali sunyi. Namun di kamar-kamar santri, obrolan-obrolan kecil tentang "Cangkriman Hawa Nafsu" masih berlanjut. Mereka mulai saling mengingatkan untuk tidak terjebak dalam jebakan "satu kurang, empat masih kurang". Mereka belajar untuk bersyukur, karena syukur adalah rem paling pakem bagi laju hawa nafsu yang tak terkendali.

Pengajaran KH. Ahmad Rifa’i yang disampaikan melalui bait-bait syiir sederhana ini adalah warisan intelektual dan spiritual yang sangat berharga. Beliau tidak hanya mengajarkan hukum fikih, tetapi juga membersihkan hati. Bagi para santri, malam itu menjadi titik balik. Mereka tidak hanya belajar menjadi orang yang berilmu, tetapi juga bertekad untuk menjadi orang yang mampu menaklukkan hatinya sendiri. Sebab pada akhirnya, kemenangan yang paling agung bukanlah mengalahkan musuh di medan perang, melainkan kemenangan saat seseorang mampu berkata "cukup" pada dunianya dan "rindu" pada akhiratnya.

Di masa depan, saat para santri ini terjun ke masyarakat, mereka akan membawa pesan ini sebagai perisai. Mereka akan menjadi sosok yang tidak mudah goyah oleh tawaran dunia, karena mereka telah memahami "cangkriman" itu sejak dini. Mereka tahu bahwa ketika nafsu mulai berbisik untuk menumpuk harta dan jabatan, bait-bait nadzom sang Kiai akan kembali terdengar di telinga mereka, menuntun mereka kembali ke jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan mujahadah dan keridaan Allah SWT. Dan itulah, pada hakikatnya, inti dari keberhasilan seorang hamba di dunia ini.