Krisis politik yang melanda Bolivia mencapai titik didih baru setelah serangkaian aksi demonstrasi masif yang berlangsung selama berminggu-minggu memaksa sejumlah menteri dalam kabinet Presiden Rodrigo Paz untuk meletakkan jabatannya. Situasi di negara Amerika Latin ini kian mencekam, dengan gelombang protes yang tidak hanya melumpuhkan pusat pemerintahan, tetapi juga menciptakan krisis ekonomi dan sosial yang semakin dalam bagi jutaan penduduknya.
Pada Selasa (2/6/2026), dua sosok kunci dalam pemerintahan, yakni Menteri Pertahanan Marcelo Salinas dan Menteri Pendidikan Beatriz Garcia, secara resmi menyatakan pengunduran diri mereka. Konfirmasi mengenai mundurnya Salinas datang dari seorang pejabat internal Kementerian Pertahanan yang meminta identitasnya dirahasiakan, sementara pengunduran diri Garcia dikonfirmasi langsung oleh pihak Kementerian Pendidikan. Langkah drastis ini dipandang oleh para pengamat politik sebagai tanda keretakan serius dalam kabinet Presiden Paz yang kini berada di bawah tekanan hebat dari rakyatnya sendiri.
Sebagai respons cepat atas kekosongan jabatan tersebut, pemerintah segera menunjuk Ernesto Justiniano, seorang menteri muda yang sebelumnya dikenal sebagai "tsar anti-narkoba" Bolivia, untuk mengisi posisi Menteri Pertahanan. Meskipun pergantian personel telah dilakukan, stabilitas pemerintahan Paz tetap dipertanyakan. Eskalasi pengunduran diri ini hanyalah puncak gunung es dari krisis yang telah berlangsung berbulan-bulan, di mana para pekerja, petani, dan guru secara serentak turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi.
Bolivia saat ini tengah menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam empat dekade terakhir. Inflasi yang tidak terkendali, hilangnya daya beli masyarakat, serta kelangkaan kebutuhan pokok telah memicu kemarahan publik yang meluas. Para demonstran menuntut langkah konkret dari pemerintah untuk meringankan beban rakyat, namun hingga kini, tuntutan tersebut belum direspons secara memadai oleh otoritas terkait.
Presiden Rodrigo Paz, yang diketahui memiliki dukungan politik dari mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sempat memberikan pernyataan publik yang menegaskan bahwa negaranya kini berada di "titik kritis." Meskipun demikian, retorika pemerintah tetap keras. Alih-alih melakukan negosiasi damai, pemerintah Bolivia bahkan tidak menutup kemungkinan untuk mendeklarasikan status keadaan darurat nasional. Langkah ini mencakup opsi penggunaan militer untuk membubarkan blokade dan mengendalikan massa yang telah mengepung kota-kota besar.
Data resmi pemerintah menunjukkan situasi di lapangan kian memprihatinkan. Saat ini, terdapat sekitar 100 titik blokade jalan yang tersebar di seluruh wilayah negara, sebuah peningkatan drastis dibandingkan dua pekan sebelumnya yang hanya mencapai separuhnya. Blokade ini telah memutus rantai pasokan logistik utama, mengakibatkan kekurangan bahan bakar, obat-obatan, dan bahan makanan yang kronis di La Paz serta kota tetangganya, El Alto. Dampak langsung dari kelangkaan ini adalah melonjaknya harga-harga barang kebutuhan pokok, yang semakin menjepit kondisi ekonomi rakyat kelas bawah.
Di tengah kekacauan ini, pemerintah Bolivia melemparkan tuduhan serius kepada para demonstran. Mereka menyebut gerakan tersebut bukan sekadar aksi ekonomi, melainkan upaya terorganisir untuk "mengubah tatanan demokrasi" di negara tersebut. Pemerintah secara eksplisit menunjuk mantan Presiden Evo Morales sebagai otak di balik unjuk rasa besar-besaran ini.
Evo Morales, yang memimpin Bolivia sejak 2006 hingga 2019, saat ini dikabarkan sedang berada dalam persembunyian. Ia menghadapi tuduhan hukum berat terkait kasus perdagangan remaja perempuan yang diduga memiliki anak dengannya. Meskipun posisinya sedang terdesak secara hukum, pengaruh Morales terhadap basis massanya di pedesaan dan sektor buruh terbukti masih sangat kuat.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan AFP, Morales menegaskan bahwa kemarahan rakyat Bolivia adalah hasil dari kebijakan Presiden Paz yang dianggapnya sebagai "pemerintahan yang sepenuhnya tunduk" kepada kepentingan Amerika Serikat. "Saya sangat yakin pemberontakan ini menentang model neo-liberal dan negara neo-kolonial," ujar Morales. Menurutnya, aksi demonstrasi ini adalah simbol perlawanan rakyat terhadap sistem yang dianggap telah mengkhianati kedaulatan Bolivia demi kepentingan asing.
Kondisi keamanan di Bolivia kini berada dalam ketidakpastian. Dengan militer yang sewaktu-waktu bisa diterjunkan, kekhawatiran akan terjadinya bentrokan berdarah antara aparat dan pengunjuk rasa semakin meningkat. Masyarakat internasional, termasuk organisasi-organisasi regional, kini mengamati perkembangan situasi di Bolivia dengan cermat. Konflik ini tidak hanya menguji ketahanan Presiden Paz, tetapi juga menguji apakah demokrasi Bolivia mampu bertahan di bawah tekanan ekonomi yang ekstrem dan polarisasi politik yang tajam.
Bagi penduduk di La Paz, hari-hari ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Antrean panjang di depan toko kelontong dan stasiun pengisian bahan bakar menjadi pemandangan sehari-hari yang menghiasi ibu kota. Di balik gedung-gedung pemerintahan, negosiasi tingkat tinggi mungkin sedang berlangsung, namun di jalanan, rakyat tetap menuntut perubahan. Apakah mundurnya para menteri ini akan memicu efek domino yang meruntuhkan pemerintahan Paz, atau justru akan memperkeras sikap pemerintah dalam menghadapi oposisi, hanya waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, Bolivia kini berada di persimpangan jalan. Krisis ekonomi yang tak kunjung usai, ditambah dengan tuduhan korupsi dan intervensi asing, telah menciptakan atmosfer permusuhan yang mendalam. Rakyat Bolivia kini menunggu kepastian, bukan sekadar janji-janji politik yang selama ini dianggap tidak memberikan solusi nyata terhadap kemiskinan dan ketimpangan yang mereka rasakan. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah dialog yang inklusif, risiko disintegrasi sosial dan kerusuhan yang lebih besar di masa depan akan menjadi ancaman nyata bagi masa depan negara tersebut.
Pemerintahan Paz kini terjepit di antara tuntutan rakyat yang semakin militan dan beban ekonomi yang kian memberatkan. Dengan menteri-menteri kunci yang mulai meninggalkan kapal yang karam, posisi Presiden Paz menjadi semakin terisolasi. Dunia internasional kini menantikan apakah krisis ini akan diselesaikan melalui jalur konstitusional atau apakah Bolivia akan jatuh kembali ke dalam periode instabilitas politik yang berkepanjangan, sebagaimana sejarah yang sering kali berulang di wilayah Amerika Latin.

