0

Cerita Pilu Relawan Flotilla Saat Ditangkap Israel: Diborgol hingga Dipukul

Share

Istanbul menjadi saksi bisu kembalinya para relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) setelah mengalami serangkaian tindakan represif dan deportasi paksa oleh otoritas Israel. Di balik pemulangan tersebut, tersimpan kesaksian mengerikan mengenai kekerasan sistematis yang dialami para aktivis selama dalam penahanan. Julien Cabral, seorang relawan asal Belgia berusia 57 tahun, menjadi salah satu suara yang mengungkap sisi kelam operasi militer Israel di perairan internasional.

Insiden ini bermula ketika kapal kecil yang membawa tujuh relawan—terdiri dari warga negara Italia, Malaysia, Finlandia, Kanada, Afrika Selatan, dan dua warga Belgia—berlayar di perairan internasional, sekitar 500 kilometer dari garis pantai Israel pada Senin (18/5/2026). Skenario penangkapan berlangsung dengan sangat agresif. Menurut penuturan Cabral, pasukan Israel tidak sekadar melakukan pencegatan, tetapi dengan sengaja memutus jalur komunikasi kapal sebelum akhirnya melakukan penyerbuan di siang bolong. Sebanyak 10 anggota pasukan elit Israel menaiki kapal tersebut, melepaskan tembakan peluru plastik, yang menurut Cabral, dilakukan hanya untuk "bersenang-senang" di tengah situasi yang mencekam.

Ketegangan memuncak ketika para relawan yang sudah menyerah dengan mengangkat tangan tetap diperlakukan secara kasar. Sebagai wakil komandan di kapal tersebut, Cabral menjadi saksi sekaligus korban langsung. Ia menuturkan bahwa tentara Israel secara spesifik menargetkan kapten kapal asal Italia sebelum akhirnya memukuli dirinya hingga menyebabkan memar parah di sekitar pelipis dan matanya. Pengalaman ini hanyalah pembuka dari rangkaian penderitaan yang lebih panjang selama masa penahanan.

Setelah dilumpuhkan dengan kekerasan, para relawan diikat menggunakan tali plastik yang sangat ketat dan dipindahkan secara paksa ke kapal penjara milik Israel. Di dalam kapal tersebut, mereka dimasukkan ke dalam kontainer sempit. Situasi di dalam kontainer digambarkan sangat tidak manusiawi; para relawan dipaksa mendengarkan ejekan dari tentara yang secara sinis melontarkan kalimat, "Ayo bersenang-senang." Selama berhari-hari, permohonan medis yang diajukan para tahanan diabaikan. Bahkan, obat-obatan krusial milik seorang relawan pengidap epilepsi disita oleh tentara, memperlihatkan pengabaian total terhadap hak dasar kesehatan para tahanan.

Data yang diungkap oleh para relawan menunjukkan tingkat kebrutalan yang luar biasa. Di atas kapal "Sirius" saja, tercatat tujuh orang mengalami total 35 patah tulang akibat tindakan fisik yang dilakukan tentara. Logistik dasar seperti makanan, air bersih, tisu toilet, hingga kebutuhan sanitasi wanita sangat dibatasi. Pasokan yang diberikan hanyalah kotak-kotak roti dan air dalam jumlah yang tidak mencukupi untuk sekitar 200 orang yang berada dalam satu area penahanan. Permintaan logistik yang diajukan para relawan pun sering kali harus melalui prosedur yang berbelit dan memalukan.

Puncak penyiksaan dirasakan saat para tahanan dipindahkan dari kapal ke mobil tahanan yang sempit menuju pusat penahanan di dekat Ashdod, Israel selatan. Cabral menjelaskan bahwa selama perjalanan, mereka dipaksa dalam posisi membungkuk selama berjam-jam dengan kondisi tangan terborgol sangat erat. Tekanan fisik dari tentara yang menekan leher mereka membuat para relawan kesulitan bernapas dan kehilangan orientasi ruang. Tidak ada akses penglihatan yang diberikan, menciptakan suasana psikologis yang sangat menekan.

Kengerian ini dikuatkan oleh kesaksian Bilal Kitay, seorang warga negara Turki yang telah berpengalaman mengikuti misi serupa sebelumnya. Menurut Kitay, operasi kali ini jauh lebih brutal dibandingkan misi-misi terdahulu. Ia menegaskan bahwa kekerasan yang dilakukan tidak pandang bulu; baik laki-laki maupun perempuan dipukuli secara membabi buta. Baginya, apa yang dialami para relawan ini merupakan cerminan nyata dari kehidupan sehari-hari warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan, di mana hak asasi manusia sering kali terabaikan sepenuhnya.

Dalam refleksi pahitnya, Kitay menyebutkan bahwa perlakuan yang diterima para relawan seolah-olah mereka adalah objek yang tidak memiliki nilai kemanusiaan. Ia bahkan membandingkan cara perlakuan tentara Israel yang dinilai lebih buruk daripada bagaimana seseorang memperlakukan hewan peliharaan. Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi komunitas internasional mengenai standar moral dan prosedur operasi militer yang diterapkan di wilayah tersebut.

Kasus penangkapan Global Sumud Flotilla ini kembali memicu perdebatan dunia internasional mengenai perlindungan terhadap aktivis kemanusiaan di perairan internasional. Penangkapan yang dilakukan di luar zona kedaulatan Israel menimbulkan pertanyaan hukum yang serius, terutama terkait penggunaan kekerasan yang tidak proporsional terhadap warga sipil yang tidak bersenjata. Hingga saat ini, insiden ini terus menjadi sorotan berbagai organisasi HAM dunia yang mendesak adanya investigasi independen atas tindakan represif yang menimpa para relawan.

Bagi Cabral, Kitay, dan ratusan relawan lainnya, misi ke Gaza mungkin telah berakhir dengan trauma fisik dan psikologis, namun mereka bersikeras bahwa pesan kemanusiaan yang mereka bawa tetap hidup. Pengalaman "diborgol hingga dipukul" bukan hanya menjadi jejak fisik di tubuh mereka, tetapi juga menjadi bukti nyata akan realitas konflik yang terus berlangsung. Mereka menegaskan bahwa keberanian untuk berlayar membawa bantuan adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, meski mereka harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal di tangan otoritas yang mengedepankan senjata daripada dialog.

Kisah mereka pun kini menjadi bahan evaluasi global mengenai batasan-batasan dalam konflik regional yang melibatkan pihak-pihak internasional. Keberhasilan para relawan untuk kembali ke negara masing-masing hanyalah satu babak dari perjuangan panjang untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik layar penangkapan kapal-kapal kemanusiaan. Dengan kesaksian ini, dunia kini memiliki gambaran lebih jelas mengenai bagaimana prosedur penangkapan dilakukan, mulai dari pemutusan komunikasi hingga intimidasi fisik yang brutal, yang semuanya dilakukan dalam skala sistematis di bawah pengawasan ketat otoritas Israel.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak militer Israel terkait tuduhan spesifik mengenai penyiksaan, penyitaan obat-obatan, maupun tindakan pemukulan yang diungkap oleh para relawan. Namun, narasi yang dibangun oleh para saksi mata seperti Cabral dan Kitay telah menjadi catatan sejarah penting mengenai tantangan besar yang dihadapi oleh misi-misi perdamaian dan kemanusiaan di masa depan. Perjalanan Global Sumud Flotilla bukan sekadar misi pelayaran, melainkan pengingat keras tentang betapa rapuhnya perlindungan kemanusiaan di wilayah konflik yang penuh dengan arogansi kekuasaan dan kekerasan yang tak terduga.