0

Juragan Toko Online Heran Perawat Harus Bayar Pajak Penghasilan

Share

Jakarta – Pernyataan kontroversial namun sarat makna datang dari salah satu sosok paling berpengaruh di dunia bisnis dan teknologi, Jeff Bezos. Pendiri raksasa e-commerce Amazon dan salah satu orang terkaya di planet ini, baru-baru ini menyuarakan pandangannya bahwa warga Amerika Serikat yang berada di paruh bawah tingkat pendapatan seharusnya tidak perlu lagi membayar pajak penghasilan. Pernyataan ini sontak memicu perdebatan sengit, mengingat latar belakang Bezos sendiri yang dikenal lihai memanfaatkan celah sistem perpajakan.

“Mengapa seorang perawat di Queens yang berpenghasilan USD 75.000 setahun harus bayar pajak lebih dari USD 1.000 sebulan?” ujar Bezos, retoris. Pertanyaan ini bukan sekadar retorika biasa, melainkan sebuah sorotan tajam terhadap beban finansial yang ditanggung oleh pekerja keras di garda depan. Bayangkan, seorang perawat yang siang malam mengabdikan diri untuk kesehatan masyarakat, harus merelakan sebagian besar gajinya untuk pajak, sementara kebutuhan hidup terus meroket.

Bezos melanjutkan, “Uang USD 1.000 itu bisa membantu untuk membayar sewa atau belanja kebutuhan sehari-hari, atau apa pun. Bagi saya, agak konyol kita melakukan ini. Kita tidak seharusnya meminta perawat di Queens ini untuk mengirimkan uang ke Washington. Merekalah yang seharusnya mengirimkan permintaan maaf kepadanya.” Pernyataan ini menyiratkan empati yang mendalam terhadap perjuangan kelas menengah ke bawah, yang kerap kali terpinggirkan dalam perdebatan kebijakan ekonomi makro. Angka USD 1.000 per bulan bukanlah jumlah yang kecil bagi sebagian besar keluarga. Di kota sebesar New York, tempat Queens berada, biaya hidup sangatlah tinggi. Uang sebanyak itu bisa berarti perbedaan antara mampu membayar sewa apartemen yang layak atau terpaksa mencari tempat tinggal yang jauh dari pusat kota. Bisa juga untuk membiayai kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, biaya penitipan anak, atau bahkan membayar cicilan pinjaman pendidikan.

Dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan mencapai USD 272 miliar, Bezos berargumen bahwa paruh bawah kelompok pekerja berpenghasilan hanya menyumbang sekitar 3% dari total penerimaan pajak nasional. Sementara itu, individu seperti perawat tersebut harus merelakan sekitar 16% dari gajinya untuk pajak penghasilan. Perbandingan ini menyoroti ketidakseimbangan yang mencolok dalam sistem perpajakan, di mana beban pajak secara proporsional terasa lebih berat bagi mereka yang berpenghasilan lebih rendah. Ini memunculkan pertanyaan fundamental tentang keadilan distribusi beban pajak dan efektivitas sistem yang ada dalam mendukung mobilitas ekonomi.

Empati yang disuarakan oleh Bezos ini mungkin terdengar mengejutkan bagi banyak pihak, mengingat reputasinya dalam mengelola keuangan pribadinya. Para miliarder seperti dirinya dikenal memanfaatkan celah-celah dalam sistem perpajakan untuk meminimalkan pembayaran pajak penghasilan mereka, seringkali hanya membayar pajak atas sebagian kecil dari keuntungan tahunan yang mereka peroleh. Kasus Bezos sendiri menjadi sorotan tajam dalam beberapa investigasi.

Menurut laporan investigasi mendalam dari ProPublica, sebuah organisasi jurnalisme investigasi nirlaba terkemuka di Amerika Serikat, Jeff Bezos tercatat tidak membayar pajak penghasilan sama sekali pada tahun 2007 dan 2011. Data ini mengejutkan, mengingat pada periode tersebut kekayaannya terus melonjak drastis seiring dengan meroketnya nilai saham Amazon. Lebih lanjut, investigasi ProPublica mengungkapkan bahwa kekayaan Bezos melonjak sebesar USD 127 miliar dari tahun 2006 hingga 2018. Namun, dalam rentang waktu yang sama, ia hanya melaporkan pendapatan sebesar USD 6,5 miliar kepada otoritas pajak. Meskipun angka pendapatan yang dilaporkan ini menghasilkan pembayaran pajak yang sangat besar, yakni USD 1,4 miliar, angkanya hanya setara dengan tarif pajak efektif sekitar 1%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tarif pajak penghasilan yang dibayarkan oleh sebagian besar warga Amerika Serikat, termasuk perawat di Queens yang disebutkan Bezos.

Praktik keuangan yang dilakukan oleh Bezos dan banyak miliarder lainnya ini, meskipun kontroversial secara moral, secara teknis tidak ilegal di bawah undang-undang perpajakan Amerika Serikat saat ini. Warga Amerika tidak dikenakan pajak atas keuntungan modal yang belum direalisasi. Ini berarti, jika saham Amazon melonjak tajam dan secara otomatis membuat Bezos semakin kaya di atas kertas, ia baru wajib membayar pajak atas keuntungan tersebut setelah ia benar-benar menjual saham-saham tersebut. Selama saham-saham itu masih dipegangnya, meskipun nilainya bertambah miliaran dolar setiap tahun, keuntungan tersebut dianggap "belum direalisasi" dan karenanya tidak dikenakan pajak penghasilan.

Lebih jauh, untuk memenuhi kebutuhan hidup mewah mereka tanpa harus menjual saham dan memicu kewajiban pajak, para miliarder ini, seperti yang diungkapkan oleh Tech Crunch dan banyak laporan lainnya, mengambil pinjaman masif. Pinjaman ini menggunakan saham-saham mereka yang bernilai tinggi sebagai jaminan. Dengan cara ini, mereka bisa mendapatkan uang tunai dalam jumlah besar untuk membiayai gaya hidup mereka, membeli aset lain, atau berinvestasi, tanpa harus membayar pajak atas pinjaman tersebut. Mengapa? Karena secara teknis, pinjaman berstatus sebagai utang, bukan pendapatan, dan oleh karena itu tidak dikenakan pajak penghasilan. Strategi cerdik ini memungkinkan mereka untuk terus mengakumulasi kekayaan dan menikmati likuiditas finansial tanpa harus menanggung beban pajak yang signifikan, sebuah privilese yang sama sekali tidak dimiliki oleh pekerja bergaji seperti perawat.

Melihat rekam jejaknya dalam hal perpajakan, muncul pertanyaan besar: apakah Jeff Bezos akhirnya menyadari ketidakadilan sistem ini? Tampaknya tidak sepenuhnya. Meskipun ia menyuarakan keprihatinan untuk perawat, ia juga mempertahankan pandangannya tentang sistem perpajakan secara keseluruhan. "Kita sudah memiliki sistem perpajakan paling progresif di dunia. Satu persen wajib pajak teratas membayar 40% dari seluruh penerimaan pajak. Paruh terbawah hanya membayar 3%," sebutnya. Pernyataan ini, meskipun benar secara angka nominal, seringkali diinterpretasikan secara berbeda ketika mempertimbangkan tarif pajak efektif yang dibayarkan oleh para miliarder dibandingkan dengan pekerja biasa.

Bezos sendiri, meskipun membayar pajak dengan tarif efektif yang jauh lebih rendah dari kebanyakan orang Amerika, menganggap bukan itu permasalahan utamanya. "Jika orang-orang ingin saya membayar lebih banyak miliaran dolar, mari kita perdebatkan hal itu. Tapi jangan berpura-pura bahwa itu akan menyelesaikan masalah. Anda bisa melipatgandakan pajak yang saya bayar dan itu takkan membantu perawat di Queens tersebut," cetusnya.

Argumen Bezos bahwa miliaran dolar tambahan dari dirinya tidak akan menyelesaikan masalah perawat di Queens memang menjadi poin perdebatan penting. Namun, banyak kritikus dan ekonom berpendangan sebaliknya. Miliaran dolar tambahan yang bisa dibayarkan oleh Bezos dan miliarder lainnya dinilai akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas hidup warga secara keseluruhan. Bayangkan jika dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur publik yang andal, seperti sistem transportasi umum yang efisien dan terjangkau di Queens dan seluruh New York. Perawat tersebut mungkin akan sangat terbantu jika bisa bepergian ke tempat kerja dengan biaya lebih rendah dan waktu yang lebih singkat, mengurangi stres dan menghemat uang.

Selain itu, dana tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas sekolah umum. Anak-anak perawat di Queens itu mungkin bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik di sekolah-sekolah yang didanai dengan memadai, membuka peluang masa depan yang lebih cerah. Miliaran dolar juga bisa memperkuat jaring pengaman sosial, meningkatkan akses ke layanan kesehatan yang terjangkau, menyediakan perumahan yang lebih layak, atau mendanai program-program pelatihan kerja yang penting. Secara agregat, kontribusi pajak yang lebih adil dari kelompok super kaya akan memperkuat kapasitas pemerintah untuk menyediakan layanan publik yang esensial, yang pada akhirnya akan meringankan beban finansial dan meningkatkan kualitas hidup jutaan warga, termasuk perawat di Queens.

Debat yang diinisiasi oleh Jeff Bezos ini sejatinya menyoroti ketegangan fundamental dalam masyarakat modern: antara kekayaan pribadi yang melimpah ruah dan kebutuhan kolektif yang mendesak. Sementara seorang juragan toko online terbesar di dunia bisa dengan mudah menghindari pajak penghasilan yang signifikan, seorang perawat di Queens berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap menunaikan kewajiban pajaknya. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang keadilan, kesetaraan, dan masa depan ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi semua lapisan masyarakat. Pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah perawat harus membayar pajak, melainkan bagaimana sistem perpajakan dapat direformasi agar lebih adil dan efisien, sehingga setiap warga negara, tanpa terkecuali, berkontribusi secara proporsional sesuai dengan kemampuan mereka.