Temanggung mencatatkan tinta emas dalam sejarah perjalanan panjang Jamiyah Rifa’iyah. Pada Ahad, 26 April 2026, Gedung Pemuda Temanggung menjadi pusat gravitasi ribuan warga Rifa’iyah dari berbagai penjuru Jawa Tengah. Momentum ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah peristiwa krusial: Pelantikan Pimpinan Wilayah (PW) Rifa’iyah Jawa Tengah masa khidmat 2026–2030 sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) ke-V. Forum ini menjadi titik balik strategis bagi organisasi berbasis kitab tarajumah tersebut untuk merumuskan langkah besar di masa depan.
Kehadiran sosok-sosok sentral di panggung utama mempertegas posisi tawar Rifa’iyah dalam kancah sosial-keagamaan di Indonesia. Wakil Gubernur Jawa Tengah, K.H. Taj Yasin Maimun, hadir dengan dedikasi luar biasa. Begitu pula dengan Bupati Temanggung, Agus Setiawan, yang menyambut hangat kehadiran ribuan kader. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. K.H. Mukhlisin Muzari, bersama Ketua Dewan Syuro, K.H. Afif Afadol. K.H. Isrofi Makhfudz, yang terpilih sebagai Ketua PW Rifa’iyah Jawa Tengah, berdiri tegak bersama K.H. Nur Yasin selaku Dewan Syuro, menandai dimulainya nakhoda baru kepengurusan. Sinergi ini kian lengkap dengan kehadiran perwakilan PCNU dan Muhammadiyah Temanggung, sebuah potret harmonisasi lintas organisasi yang sangat langka dan berharga. Seluruh elemen otonom, mulai dari UMRI, AMRI, hingga HIKMAH, tumpah ruah menunjukkan soliditas organisasi.
Drama emosional mewarnai kehadiran Wakil Gubernur Jawa Tengah, K.H. Taj Yasin Maimun. Panitia mencatat bahwa kepastian kehadiran beliau baru diperoleh pada detik-detik terakhir. Dalam sambutannya, Gus Yasin—sapaan akrabnya—secara jujur mengakui bahwa ia sempat memaksakan diri untuk hadir di tengah padatnya agenda provinsi. "Tadi malam saya angan-angan kok enggak enak saya enggak hadir ke Rifa’iyah. Sehingga akhirnya saya agak mekso (memaksakan diri). Pamitan mertua pun hanya lewat telepon, langsung balik ke Semarang," ungkapnya, yang disambut riuh tepuk tangan dan tawa hangat hadirin. Pengabdian ini bukan sekadar protokoler, melainkan bentuk kecintaan nyata pemerintah terhadap organisasi berbasis pesantren. Bahkan, Gus Yasin secara aktif mempromosikan produk batik khas Rifa’iyah dari Kabupaten Batang sebagai suvenir resmi dalam setiap kunjungan dinasnya.
Dalam arahannya, Gus Yasin menyentuh sisi spiritual dan intelektual para kader melalui kisah Ibnu Malik, pengarang Kitab Alfiah. Ia menceritakan bagaimana Ibnu Malik berdakwah di pasar-pasar Damaskus tanpa ada satu pun murid yang datang selama berminggu-minggu. Namun, berkat keistikamahan yang sunyi, karya tersebut kini menjadi rujukan utama pesantren di seluruh dunia. "Kalau kita mau istikamah, orang itu tidak melihat berapa jumlah yang datang. Akan tetapi berapa orang yang melalui keistikamahan itu tersentuh dan terbuka," pesannya. Analogi ini dikaitkan dengan perjuangan K.H. Ahmad Rifa’i yang karya-karyanya kini menjadi rujukan akademisi di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia.
Gus Yasin juga memberikan motivasi agar warga Rifa’iyah tidak pernah merasa kecil. Ia mengutip perbandingan perjalanan Nabi Yunus ke kedalaman lautan dan perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW ke langit ketujuh. Meski arahnya berbeda, keduanya sama-sama mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Begitu pula dengan Rifa’iyah; meski mungkin secara organisasi dianggap kecil oleh segelintir pihak, kualitas dakwah, kedalaman ajaran, dan keteguhan memegang syi’ir K.H. Ahmad Rifa’i membuat organisasi ini memiliki pengaruh yang melampaui batas keanggotaan. "Bukan hanya orang Rifa’iyah saja, tetapi juga sebagian dari Nahdlatul Ulama berpegang teguh pada ajaran KH. Ahmad Rifa’i," tegasnya.

Ketua Umum PP Rifa’iyah, Dr. K.H. Mukhlisin Muzari, memberikan tausiah mendalam mengenai sosok K.H. Ahmad Rifa’i sebagai pejuang kemerdekaan yang bernyali besar. Beliau bukan sekadar ulama yang produktif menulis kitab, tetapi sosok yang berani menantang kolonialisme. Ketegasan beliau dalam mengharamkan taat kepada pemerintah kafir penjajah membuatnya harus menanggung risiko pengasingan ke Ambon. Pengasingan itu bukan karena ajaran sesat, melainkan karena pemikiran beliau dianggap berbahaya oleh penjajah dalam membangkitkan perlawanan rakyat. Fitnah yang menimpa murid-murid beliau di masa lalu justru menjadi api yang menyalakan semangat kebangkitan, yang kini bertransformasi menjadi organisasi besar dan modern.
Mukerwil V ini menjadi panggung bagi peluncuran visi "Kebangkitan Ketiga" Rifa’iyah. Jika kebangkitan pertama adalah berdirinya Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah (YPIR) dan kebangkitan kedua adalah lahirnya organisasi nasional tahun 1991, maka kebangkitan ketiga akan diwujudkan melalui pendirian Universitas Rifa’iyah. Lembaga pendidikan tinggi ini akan menjadi wadah transformasi intelektual untuk mentransliterasi ribuan kitab karya K.H. Ahmad Rifa’i dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, serta memberikan syarah (penjelasan) agar dapat dipelajari oleh dunia akademik secara luas. "Kalau karya KH. Ahmad Rifa’i ditulis dalam bahasa Arab, sudah beredar di pesantren seluruh dunia. Tapi karena berbahasa Jawa, aksesnya terbatas. Inilah saatnya kita buka jendela dunia melalui universitas," ujar K.H. Mukhlisin Muzari.
Prosesi pelantikan pengurus PW Rifa’iyah Jawa Tengah masa khidmat 2026–2030 berlangsung dengan khidmat. Nama-nama pengurus dari berbagai daerah seperti Batang, Pekalongan, Kendal, Tegal, hingga Pati dibacakan dengan lantang. Ikrar jabatan yang diucapkan bukan sekadar seremonial, melainkan janji suci untuk menjaga akidah Ahlusunah wal Jamaah dan melanjutkan warisan perjuangan sang Pahlawan Nasional.
Sinergi antara pemerintah dan organisasi semakin nyata ketika Bupati Temanggung, Agus Setiawan, menyatakan komitmennya untuk mendukung program-program Rifa’iyah mulai tahun 2026. "Temanggung milik semua. Walaupun anggaran kita terbatas, tapi alhamdulillah dimulai 2026 kita sudah bisa men-support kegiatan Rifa’iyah," janjinya. Dukungan ini disambut baik dengan ajakan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar kader Rifa’iyah memanfaatkan program beasiswa untuk guru, kiai, dan santri.
Sebagai penutup, seluruh rangkaian acara di Temanggung ini menjadi bukti bahwa Rifa’iyah adalah organisasi yang dinamis. Di tengah berbagai tantangan zaman, warga Rifa’iyah tetap teguh berjalan di atas rel keistikamahan. Semangat "Bersatu Untuk Bangkit, Bergerak Untuk Maju" bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah napas perjuangan yang akan terus digelorakan. Temanggung telah menjadi saksi sejarah, dan dari gedung inilah, Rifa’iyah melangkah menuju era baru yang lebih gemilang, membawa obor pencerahan intelektual melalui kebangkitan ketiga yang akan segera terwujud. Setiap kader kini membawa pulang satu keyakinan: bahwa perjuangan K.H. Ahmad Rifa’i tidak akan pernah padam selama keikhlasan dan kerja keras menjadi fondasi utama gerakan ini. Mukerwil V ini adalah awal dari babak besar sejarah baru, di mana Rifa’iyah akan semakin mengakar di bumi Nusantara dan menjulang tinggi di langit pendidikan global.

