0

Rani Sapi Pendek di Bangladesh, Tingginya Cuma 51 Cm

Share

Di tengah hiruk pikuk informasi digital dan kecepatan penyebaran berita, media sosial kembali dihebohkan oleh kisah seekor sapi kuntet dengan tinggi hanya 51 cm yang berasal dari Bangladesh. Sapi bernama Rani ini, dengan posturnya yang luar biasa mungil, sempat menjadi sorotan global dan digadang-gadang sebagai kandidat kuat untuk gelar ‘sapi terpendek di dunia’ oleh Guinness World Records. Namun, di balik popularitasnya yang meroket, kisah Rani menyimpan akhir yang tragis, ia telah berpulang pada tahun 2021.

Kisah Rani pertama kali mencuat dan viral di berbagai platform, menarik perhatian jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia. Melansir dari Daily Sabah, Rani memiliki tinggi yang mencengangkan, hanya 20 inci atau sekitar 51 cm, dengan berat badan yang sangat ringan, berkisar 26 kg. Ukuran ini jauh di bawah rata-rata sapi pada umumnya, bahkan jika dibandingkan dengan jenis sapi mini sekalipun. Posturnya yang unik inilah yang membuatnya seketika menjadi bintang, memicu rasa penasaran dan decak kagum.

Namun, harapan untuk melihat Rani secara resmi diakui sebagai sapi terpendek di dunia harus pupus. Sajedul Islam, petugas peternakan setempat, mengabarkan berita duka yang mengejutkan. "Perut Rani membengkak dan dia dilarikan untuk mendapatkan perawatan sekitar tengah hari pada hari Kamis. Namun, dokter hewan tidak dapat menyelamatkan nyawanya dan dia meninggal dalam beberapa jam," kata Sajedul Islam kepada Anadolu Agency (AA), menggambarkan kesedihan dan kepanikan yang menyelimuti peternakan tersebut. Kematiannya yang mendadak, hanya beberapa saat setelah tim medis berusaha menyelamatkan, meninggalkan duka mendalam bagi pemilik dan komunitas yang telah mencintainya.

Menurut Sajedul Islam, penyebab utama pembengkakan perut Rani diidentifikasi sebagai akibat dari makan berlebihan dan penumpukan gas. Kondisi ini, yang dikenal sebagai bloat atau kembung, adalah masalah serius pada ruminansia seperti sapi. Pada hewan dengan kondisi dwarfisme atau kerdil, sistem pencernaan dan organ internal mereka mungkin lebih rentan atau kurang efisien dalam mengatasi gangguan seperti ini, membuat mereka lebih rentan terhadap komplikasi fatal dibandingkan sapi berukuran normal. Keterbatasan fisik dan genetik yang menyertai dwarfisme seringkali berdampak pada kesehatan secara keseluruhan dan memperpendek harapan hidup.

Sebelum kematiannya, Rani telah menjelma menjadi selebriti lokal di Bangladesh. Ribuan orang berbondong-bondong mengunjungi peternakannya di daerah Savar, dekat ibu kota Dhaka, hanya untuk melihat langsung keajaiban alam ini. Fenomena "Rani-mania" ini sangat luar biasa, terutama mengingat kondisi pandemi COVID-19 yang saat itu masih melanda dunia. Meskipun pembatasan sosial dan lockdown diberlakukan, rasa penasaran dan keinginan untuk berjumpa langsung dengan Rani tidak surut. Orang-orang rela menempuh perjalanan jauh, berdesakan, dan mengantre demi kesempatan melihat Rani, mengabadikan momen dengan berfoto bersama, dan berbagi kisah tentangnya. Peternakan Kazi Sufian, pemilik Rani, berubah menjadi semacam objek wisata dadakan, membawa kegembiraan dan sedikit hiburan di tengah masa-masa sulit.

Popularitas Rani bahkan mencapai telinga pejabat Bangladesh. Dalam sebuah unggahan di Facebook, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa mereka telah memberi tahu Guinness Book of Records tentang kematian Rani. Pemberitahuan ini merupakan bagian dari proses verifikasi yang sedang berlangsung, sekaligus menjadi penanda berakhirnya upaya untuk mencatatkan Rani secara resmi dalam buku rekor dunia. Meskipun demikian, kisah Rani tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi Guinness, sebagai kandidat kuat yang sayangnya tak sempat menerima pengakuan resmi di masa hidupnya.

Saat ini, gelar sapi terkecil di dunia masih dipegang oleh Manikyam, seekor sapi dari negara tetangga India, yang memiliki tinggi 61,1 cm (24 inci). Perbedaan tinggi antara Rani dan Manikyam, meskipun hanya beberapa sentimeter, menunjukkan betapa luar biasanya ukuran Rani. Seandainya Rani masih hidup dan diverifikasi, ia hampir pasti akan memecahkan rekor tersebut, mengukir namanya dalam sejarah sebagai sapi terpendek yang pernah ada.

Rani lahir di sebuah peternakan milik Kazi Sufian di dekat Dhaka, Bangladesh. Ia termasuk dalam jenis sapi Bhutti, atau sapi Bhutan, sebuah ras yang secara khusus dibiakkan agar ukurannya pas namun tetap menghasilkan banyak susu serta daging yang enak. Sapi Bhutti secara tradisional ditemukan di wilayah pegunungan Bhutan dan sebagian Bangladesh, dikenal karena ketahanan tubuhnya di medan yang sulit dan adaptasinya terhadap lingkungan yang keras. Mereka umumnya memiliki postur yang relatif kecil dibandingkan ras sapi komersial lainnya, menjadikannya pilihan yang ideal bagi peternak dengan lahan terbatas atau di daerah pedesaan.

Namun, Rani bukan hanya sekadar sapi Bhutti yang kecil; ia adalah kasus ekstrem dari spesies tersebut, menunjukkan tanda-tanda dwarfisme atau kerdil yang membuatnya jauh lebih mungil daripada Bhutti dewasa pada umumnya. Tingginya hanya seperempat dari ukuran rata-rata seekor Bhutti, yang biasanya sudah tergolong kecil. Dwarfisme pada hewan merupakan masalah genetik yang seringkali terjadi melalui perkawinan sedarah (inbreeding). Praktik inbreeding, meskipun kadang dilakukan untuk mempertahankan ciri-ciri tertentu dalam suatu ras, dapat meningkatkan risiko munculnya kelainan genetik yang merugikan, termasuk dwarfisme.

Kondisi dwarfisme ini cenderung memperpendek umur hewan yang mengalaminya. Dan hal ini juga yang terjadi pada Rani; ia hanya hidup selama dua tahun. Rentang hidup yang singkat ini adalah pengingat pahit akan dampak genetik pada kesehatan dan vitalitas makhluk hidup. Selain usia yang pendek, hewan kerdil seringkali menghadapi berbagai masalah kesehatan lainnya, seperti masalah tulang, organ dalam yang tidak berfungsi optimal, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Meskipun demikian, Kazi Sufian dan timnya telah merawat Rani dengan penuh kasih sayang dan perhatian, memastikan kualitas hidup terbaik bagi sapi mungil tersebut.

Kematian Rani bukan hanya kehilangan bagi Kazi Sufian dan peternakannya, tetapi juga bagi banyak orang yang telah mengikuti kisahnya. Ia menjadi simbol keunikan alam dan daya tarik dari hal-hal yang luar biasa kecil di dunia ini. Kisah Rani adalah pengingat bahwa bahkan makhluk terkecil pun dapat meninggalkan jejak yang besar di hati banyak orang, memicu kekaguman, kebahagiaan, dan bahkan kesedihan. Meskipun hidupnya singkat, Rani telah berhasil menarik perhatian dunia pada Bangladesh dan keajaiban-keajaiban yang tersembunyi di dalamnya. Namanya akan tetap dikenang sebagai sapi mungil dengan pesona raksasa, yang meskipun tidak pernah secara resmi memegang gelar, telah memenangkan hati jutaan orang di seluruh dunia.

(ask/ask)