0

Ancaman Terorisme Negara: Iran Kecam Daftar Target Pembunuhan Pejabat Tinggi oleh AS dan Israel

Share

Ketegangan geopolitik antara Iran dengan poros Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali memanas menyusul laporan mengejutkan mengenai adanya "daftar target pembunuhan" yang menyasar para pejabat tinggi di Teheran. Laporan yang pertama kali diungkap oleh Wall Street Journal (WSJ) ini menyebutkan bahwa Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, masuk dalam daftar incaran untuk dieliminasi. Menanggapi ancaman eksistensial ini, Iran tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah diplomatis tegas dengan melayangkan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, serta Dewan Keamanan PBB.

Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani, dalam suratnya yang dikirimkan pada Kamis (26/3) waktu setempat, menyatakan keprihatinan mendalam atas rencana tersebut. Teheran secara tegas mengklasifikasikan tindakan ini sebagai bentuk nyata dari "terorisme negara" dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional serta Piagam PBB. Menurut Iravani, pengungkapan daftar target tersebut bukan sekadar isu spekulatif, melainkan bukti operasional dari kerangka kerja kriminal yang sistematis yang telah diterapkan sejak dimulainya agresi AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Agresi yang disebut oleh pihak Iran tersebut telah memicu dampak kemanusiaan yang masif. Iran mengklaim bahwa serangkaian aksi agresif tersebut telah menelan lebih dari 3.000 korban jiwa dari kalangan warga sipil. Dalam narasi resmi yang disampaikan ke PBB, Iran menuding bahwa pola pikir kriminal yang mendasari kebijakan ini telah menormalisasi pembunuhan terhadap pejabat politik berdaulat sebagai instrumen kebijakan luar negeri. Iravani menegaskan bahwa penggunaan istilah "daftar target pembunuhan" merupakan manifestasi dari pelanggaran hak asasi manusia (HAM) internasional dan hukum kemanusiaan yang sangat berbahaya bagi stabilitas global.

Di balik ancaman pembunuhan tersebut, terdapat dinamika politik yang kompleks. Laporan menyebutkan bahwa Israel sebenarnya telah memegang koordinat dan rencana matang untuk melenyapkan Ghalibaf dan Araghchi. Namun, eksekusi rencana tersebut dilaporkan ditunda atau dicoret sementara dari daftar target. Langkah mundur ini disebut-sebut terjadi karena adanya intervensi diplomatik dari Pakistan. Sumber yang mengetahui diskusi tersebut kepada Reuters mengungkapkan bahwa Pakistan meminta AS untuk mencegah Israel melakukan eliminasi terhadap kedua pejabat Iran tersebut.

Alasan di balik permohonan Pakistan sangat pragmatis: jika para negosiator utama Iran tersebut dieliminasi, maka tidak akan ada lagi pihak dari Teheran yang memiliki legitimasi dan kapasitas untuk duduk di meja perundingan. Menyadari kebuntuan diplomatik yang akan terjadi, AS akhirnya mendesak Israel untuk menahan diri. Saat ini, Iran memang sedang mengkaji proposal gencatan senjata sebanyak 15 poin yang diajukan oleh pemerintahan Presiden AS, Donald Trump. Proposal tersebut disampaikan melalui jalur diplomatik Pakistan sebagai mediator untuk mengakhiri konflik yang terus berkecamuk.

Isi dari proposal gencatan senjata yang diajukan AS tergolong sangat ketat bagi Teheran. Menurut sumber dari kabinet Israel, poin-poin utama proposal tersebut mencakup kewajiban Iran untuk menghapus stok uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi, penghentian total kegiatan pengayaan uranium, restriksi ketat terhadap program rudal balistik, hingga pemutusan pendanaan bagi kelompok-kelompok sekutu regional Iran di Timur Tengah. Proposal ini merupakan upaya AS untuk menekan Iran secara ekonomi dan militer dengan imbalan penghentian pertempuran.

Meskipun terdapat upaya mediasi, sikap resmi Iran tetap menunjukkan resistensi. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya sempat mengklaim bahwa Iran sangat berhasrat untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington. Namun, narasi tersebut dibantah oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Araghchi mengonfirmasi bahwa Teheran memang sedang menelaah proposal 15 poin tersebut, namun ia menegaskan bahwa pengkajian tersebut tidak serta-merta berarti Iran bersedia melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan syarat yang merugikan kedaulatan negara.

Situasi ini menempatkan Iran dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ancaman pembunuhan terhadap para pemimpinnya menunjukkan kerentanan keamanan nasional yang serius. Di sisi lain, tekanan internasional melalui proposal gencatan senjata memaksa Teheran untuk mengambil keputusan strategis antara mempertahankan kedaulatan nuklir dan rudalnya atau mengakhiri isolasi ekonomi dan ancaman militer yang terus membayangi.

Langkah Iran menyurati PBB adalah upaya untuk memenangkan legitimasi moral di panggung internasional. Dengan menyoroti pelanggaran terhadap Piagam PBB, Iran berusaha menunjukkan bahwa tindakan AS dan Israel bukan hanya ditujukan kepada Iran, tetapi juga merusak norma-norma perilaku antarnegara yang selama ini menjadi fondasi perdamaian dunia. Bagi Teheran, tindakan mengincar pejabat tinggi negara lain dengan metode pembunuhan terencana adalah tindakan yang tidak beradab dan harus dikutuk oleh seluruh anggota komunitas internasional.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Gedung Putih maupun kantor Perdana Menteri Israel terkait laporan detail mengenai daftar target tersebut. Namun, dinamika yang terjadi menunjukkan bahwa diplomasi di balik layar yang melibatkan Pakistan menjadi satu-satunya jembatan yang mencegah eskalasi lebih lanjut. Bagi dunia internasional, perkembangan di Teheran ini menjadi pengingat betapa rapuhnya situasi Timur Tengah, di mana nyawa pejabat tinggi bisa menjadi komoditas dalam permainan kekuasaan yang sangat berbahaya.

Ke depan, prospek perundingan antara Iran dan AS akan sangat bergantung pada seberapa jauh kedua belah pihak bersedia berkompromi. Apakah proposal 15 poin tersebut akan menjadi dasar kesepakatan, atau justru akan memicu eskalasi baru jika Iran menolaknya? Yang jelas, keberadaan nama-nama pejabat tinggi Iran dalam "daftar target" telah mengubah lanskap negosiasi menjadi lebih personal dan penuh dengan ketidakpercayaan. Selama ancaman pembunuhan tersebut masih menggantung, kecil kemungkinan terciptanya kepercayaan (trust building) yang diperlukan untuk sebuah kesepakatan damai yang langgeng.

Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada intimidasi. Meski sedang menelaah tawaran AS, Teheran tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan, baik itu dalam bentuk dialog maupun konfrontasi lanjutan. Dunia kini menanti respons lebih lanjut dari PBB atas surat protes yang diajukan Iran, serta melihat apakah tekanan internasional mampu meredam ambisi militer yang mengancam para diplomat dan pemimpin politik di kawasan tersebut. Pertarungan antara diplomasi dan aksi militer ini dipastikan akan terus mewarnai pemberitaan global dalam beberapa waktu ke depan.