0

Mas’ad dan Mbah Mad: HBH, Perjodohan Rifa’iyah, dan Filosofi Kerupuk Keyel

Share

Selamat hari Lebaran
Minal aidin wal faizin
Mari bersalam-salaman
Saling bermaaf-maafan

Lirik lagu legendaris yang sempat menghiasi layar kaca setiap menjelang hari raya itu kini kembali menggema, kali ini keluar dari gawai Mas’ad. Ia sedang sibuk menyunting video dokumentasi Halalbihalal (HBH) keluarga besar Bani Ahmad untuk diunggah ke status WhatsApp dan berbagai platform media sosial. Suasana riuh rendah di kediaman Mbah Mad menjadi latar belakang yang sempurna untuk suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh tawa. Rumah Mbah Mad hari itu bak titik temu diaspora keluarga; ada yang datang jauh-jauh dari perantauan di Karawang, Cirebon, hingga Tegal, serta saudara-saudara dekat dari wilayah tetangga, Randudongkal, Pemalang.

Tradisi HBH Bani Ahmad bukan sekadar seremoni bersalam-salaman, melainkan sebuah ritual "pulang kampung" yang emosional. Setelah rangkaian acara formal selesai, para anggota keluarga segera berpencar mencari sudut kenyamanan masing-masing untuk menikmati hidangan tradisional yang sudah lama dirindukan. Meja-meja panjang dipenuhi dengan menu khas yang menggugah selera: kluban dengan bumbu kelapa yang segar, tape singkong yang manis, rengginang gurih, apem, hingga pecak tempe dan ikan panggang yang aroma asapnya membangkitkan memori masa kecil. Bagi mereka yang sudah bertahun-tahun hidup di perantauan, sayur asem hangat dan sambal terasi adalah obat rindu yang paling manjur.

Di pojok ruangan, Mbah Uti tampak duduk santai bersama sepupu-sepupu perempuan. Tawa mereka pecah menyaksikan tingkah laku cucu-cicit yang masih balita. Ada yang berlarian kesana-kemari, ada pula yang menangis karena berebut sepeda mainan yang berbunyi nyaring. Di tengah hiruk-pikuk itu, Mbah Mad terlihat sibuk merapikan tumpukan oleh-oleh. Tangannya kemudian terhenti pada satu bungkus plastik besar yang menjadi primadona di keluarga tersebut: Kerupuk Keyel khas Randudongkal.

Melihat Mbah Mad sedang asyik menikmati kerupuk renyah itu, Mas’ad mendekat dengan tatapan lapar. Ia pun meminta bagian. Rasa kerupuk itu memang tiada duanya—gurih, renyah, dan memiliki tekstur yang khas. Mas’ad merasa beruntung, sebab bibi bungsunya telah menikah dengan orang asli Randudongkal, sehingga pasokan kerupuk legendaris ini selalu terjamin setiap kali ada acara keluarga.

Melihat cucunya yang biasanya kritis dan "kepo" tiba-tiba mendekat hanya untuk meminta kerupuk tanpa banyak bicara, Mbah Mad menangkap peluang untuk menjahili. Ia memasang wajah serius, lalu melontarkan pertanyaan retoris dalam bahasa Jawa dialek lokal yang kental.

"Mas, ngerti pora nangapa ko didarani Keyel?" (Mas, tahu tidak kenapa kerupuk ini disebut Keyel?)

Mas’ad yang memang penasaran pun terpancing. "Mboten, lha nangapa, Mbah?"

Mbah Mad tersenyum penuh kemenangan. Ia mulai merangkai cerita yang, meskipun terdengar mengada-ada, tetap saja terasa filosofis dan penuh sindiran halus khas orang tua. "Ya, sing mangan men aja ngeyel, Mas. Pakdhe Budhe-mu kan ngeyel mbojo karo wong adoh lan udu wong Rifa’iyah. Wis kadung tresno sih. Lah, genten wayahe bulekmu sing mbontot ta jodohne karo wong Rifa’iyah Randudongkal. Men aja ngeyel pas taarufan, suguhane Keyel. Nah, Alhamdulillah dadi anut, ora ngeyel kaya kakak-kakaknya," tutur Mbah Mad sambil mengangkat alis dengan gaya jenaka.

Ternyata, Mbah Mad sedang menyinggung sejarah perjodohan di keluarga mereka. Dalam tradisi Rifa’iyah, menjaga prinsip dan akidah memang menjadi prioritas utama. Mbah Mad mengaitkan filosofi "Keyel" dengan sifat manusia; jika seseorang memakan kerupuk "Keyel" (yang secara bahasa bisa diartikan sebagai simbol agar tidak ‘ngeyel’ atau keras kepala), maka ia akan lebih mudah menerima nasihat, termasuk dalam urusan mencari pasangan hidup yang seakidah. Mas’ad hanya bisa menyengir, ia sadar betul bahwa kakeknya sedang berimprovisasi, namun ia tetap menghargai bumbu cerita yang membuat suasana semakin akrab.

Tiba-tiba, dari balik pintu, Mbah Uti muncul dengan langkah mantap. Tanpa basa-basi, ia meletakkan bungkusan obat di depan Mbah Mad. Tatapan mata Mbah Uti tajam dan suaranya datar namun penuh wibawa, "Obate diombe, ojo ngeyel!!!"

Mas’ad dan Mbah Mad: HBH, Perjodohan Rifa’iyah, dan Filosofi Kerupuk Keyel

Mas’ad yang menyaksikan adegan itu hampir tertawa terbahak-bahak. Ia menatap Mbah Mad sambil membungkukkan badan, dengan pipi kanan menempel di tangan yang sedang bersedekap, sebuah gestur hormat sekaligus ejekan halus. Dalam hati, ia bergumam, "Syukurin, ketahuan Mbah Uti. Ayo buktikan, masih mau ngeyel tidak setelah makan Keyel ini?"

Mbah Mad, yang tadinya merasa paling berkuasa dengan filosofi kerupuknya, kini tidak punya pilihan. Di bawah pengawasan ketat Mbah Uti, ia terpaksa meminum obat tersebut dengan wajah yang sedikit masam.

"Tos!" Mas’ad dan Mbah Uti bertukar pandang dengan senyum tipis. Keduanya beranjak pergi, meninggalkan Mbah Mad yang kini hanya bisa terduduk diam sambil memegang bungkusan kerupuk Keyel. Mbah Mad menatap punggung mereka dengan dongkol, lalu bergumam pelan, "Hooo, jebule sekongkol, kye."

Sesaat kemudian, ia menambahkan dengan nada pasrah namun tetap jenaka, "Keyel Randudongkal marai dongkol!"

Kejadian kecil itu menjadi penutup HBH yang berkesan. Bagi keluarga besar Bani Ahmad, kerupuk Keyel bukan sekadar camilan, melainkan simbol ikatan kekeluargaan. Di balik gurihnya kerupuk tersebut, tersimpan nilai-nilai tentang ketaatan, pentingnya menjaga tradisi, serta hubungan harmonis antara orang tua dan anak yang dibalut dengan humor.

Dalam lingkup Rifa’iyah, acara seperti HBH bukan sekadar ajang makan bersama atau pamer kebahagiaan di media sosial. Ini adalah momen penguatan jaringan (networking) antaranggota keluarga yang tersebar di berbagai daerah. Diskusi santai, candaan Mbah Mad, hingga interaksi antara generasi tua dan muda adalah cara mereka merawat ghirah (semangat) berorganisasi dan beragama.

Membangun keluarga yang solid membutuhkan "lem" yang kuat. Jika bagi Mbah Mad lem itu adalah kerupuk Keyel, maka bagi keluarga Rifa’iyah lainnya, lem itu adalah nilai-nilai keislaman yang dipraktikkan dengan cara yang luwes dan penuh kasih sayang. Seperti lirik lagu Lebaran yang diputar Mas’ad, esensi dari perayaan ini memang terletak pada "saling bermaaf-maafan". Ketika maaf telah terucap dan obat telah diminum, maka tidak ada lagi ruang untuk "ngeyel" atau keras kepala di antara anggota keluarga.

Randudongkal, 3 Syawal 1447 H, menjadi saksi bagaimana sebuah keluarga kecil merayakan kemenangan dengan cara yang sederhana namun sarat makna. Kerupuk Keyel mungkin hanya makanan, namun filosofi yang disematkan Mbah Mad akan terus diingat oleh Mas’ad dan sepupu lainnya sebagai pengingat untuk selalu "manut" (patuh) dan menjaga keharmonisan dalam ikatan kekeluargaan yang berlandaskan kasih sayang. Dan bagi Mbah Mad, biarlah kerupuk Keyel menjadi pengingat bahwa di balik setiap nasihat orang tua, selalu ada cinta yang dibungkus dengan sedikit gurauan agar hidup terasa lebih ringan untuk dijalani.

Kehidupan keluarga Rifa’iyah memang unik. Mereka mampu memadukan ketaatan pada syariat dengan kegembiraan duniawi yang santun. Halalbihalal adalah laboratorium nyata di mana teori tentang silaturahmi diuji. Mas’ad, sebagai generasi muda, menyadari bahwa apa yang ia rekam dan bagikan di media sosial bukan sekadar konten, melainkan sebuah warisan budaya keluarga yang harus terus dijaga. Ia berharap, video HBH tersebut tidak hanya sekadar lewat di linimasa orang lain, tapi juga mampu menginspirasi keluarga-keluarga lain untuk merayakan lebaran dengan penuh kehangatan, tawa, dan tentu saja, kerupuk yang renyah.

Matahari mulai condong ke barat, menandakan acara segera berakhir. Satu per satu keluarga mulai berpamitan, membawa serta oleh-oleh dan kenangan indah dari rumah Mbah Mad. Kerupuk Keyel pun habis terbagi, namun cerita tentang "kengayelan" Mbah Mad dan ketegasan Mbah Uti akan terus diceritakan kembali di acara HBH tahun-tahun berikutnya. Itulah keindahan dari sebuah keluarga, tempat di mana setiap perbedaan pendapat bisa diselesaikan dengan segelas teh hangat, sepiring camilan, dan satu pelukan tulus yang menyatukan kembali hati yang sempat renggang.

Randudongkal hari itu tidak hanya memberikan rasa kenyang bagi perut, tetapi juga nutrisi bagi jiwa-jiwa yang haus akan kebersamaan. Sebuah perayaan yang sederhana, namun mampu menumbuhkan benih-benih cinta yang akan terus tumbuh subur di tahun-tahun mendatang, dalam bingkai keluarga Bani Ahmad yang senantiasa menjaga tradisi dan nilai-nilai Rifa’iyah dengan cara yang mereka sendiri, yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh siapa pun.