Di tengah gempuran arus informasi digital yang semakin tak terbendung, peran organisasi kemasyarakatan dalam menyaring dan memproduksi konten yang kredibel menjadi sangat krusial. Upaya memperkuat literasi digital serta kualitas sumber daya manusia di bidang jurnalistik terus digalakkan, salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Jurnalistik yang diikuti oleh Ummahatur Rifa’iyah (UMRI) Wonosobo pada Kamis (23/4/2026). Kegiatan strategis yang berlangsung di Dewani View Resto & Cafe ini menjadi momentum penting bagi organisasi perempuan untuk bertransformasi menjadi produsen informasi yang edukatif dan solutif.
Penyelenggaraan pelatihan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Pimpinan Daerah (PD) UMRI Wonosobo dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Wonosobo. Mengusung tema besar "Organisasi Memimpin Narasi", acara ini bukan sekadar pelatihan teknis menulis, melainkan sebuah gerakan moral untuk memperkuat peran organisasi dalam mengarahkan opini publik menuju arah yang sehat, konstruktif, dan bertanggung jawab. Sebanyak 40 peserta dari berbagai elemen, mulai dari organisasi perempuan, aktivis mahasiswa intra dan ekstra kampus, hingga para konten kreator lokal, berkumpul untuk mempertajam kemampuan literasi media mereka.
Dunia digital saat ini ibarat pedang bermata dua; di satu sisi memberikan akses informasi yang luas, namun di sisi lain menjadi lahan subur bagi penyebaran hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian. Memahami tantangan tersebut, panitia menghadirkan deretan narasumber berkompeten yang ahli di bidang komunikasi publik dan jurnalistik. Di antaranya adalah Kepala Kesbangpol Wonosobo, Drs. Agus Kristiono, M.Si, Sekretaris Komisi B Fraksi Demokrat, Sutopo, SAP, serta praktisi media dari TVRI, Hendra Septa, dan jurnalis Pikiran Rakyat, Erwin Abdillah.

Dalam pemaparannya, Sutopo, SAP menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif terhadap arus informasi di media sosial. Ia menyoroti fenomena "kebenaran semu" di mana informasi yang tidak valid bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak oleh masyarakat awam jika tidak disikapi dengan kritis. "Karena media sosial, sesuatu yang tidak benar bisa dianggap benar. Maka dari itu, kita harus waspada dengan narasi yang bersifat hoaks. Organisasi harus menjadi filter pertama sebelum informasi tersebut disebarkan kembali," tegasnya di hadapan para peserta.
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai prinsip-prinsip jurnalistik dasar, teknik penulisan berita yang berimbang (cover both sides), hingga strategi mengemas narasi yang menarik tanpa mengabaikan etika. Para peserta diajak untuk memahami bahwa setiap konten yang mereka unggah di media sosial memiliki dampak sosial yang besar. Dengan membekali peserta kemampuan jurnalistik, diharapkan mereka mampu memproduksi narasi yang tidak hanya akurat, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat luas.
Bagi UMRI Wonosobo, partisipasi dalam kegiatan ini merupakan komitmen nyata untuk meningkatkan kapasitas kader dalam beradaptasi dengan era disrupsi digital. Sebagai organisasi yang bersentuhan langsung dengan keluarga dan masyarakat, UMRI memiliki posisi strategis untuk menjadi "agen literasi" di lingkungan masing-masing. Dengan menguasai teknik jurnalistik, ibu-ibu UMRI diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam menangkal penyebaran hoaks yang seringkali memicu perpecahan di masyarakat.
Selain materi teknis, sesi diskusi dalam pelatihan ini juga membahas tentang bagaimana mengoptimalkan media sosial organisasi sebagai kanal dakwah dan informasi positif. Narasumber dari kalangan jurnalis profesional berbagi tips tentang cara memotret peristiwa di sekitar dan mengubahnya menjadi tulisan yang enak dibaca. Mereka menekankan bahwa menjadi jurnalis warga (citizen journalism) tidak harus selalu menjadi berita berat, namun bisa dimulai dari mengangkat potensi daerah, kegiatan sosial, atau edukasi masyarakat.

Kehadiran berbagai unsur dalam pelatihan ini juga menciptakan jejaring kolaborasi yang kuat. Sinergi antara organisasi perempuan, mahasiswa, dan konten kreator diharapkan dapat menciptakan ekosistem informasi lokal yang sehat di Wonosobo. Jika setiap organisasi mampu mengelola narasi dengan baik, maka ruang digital tidak akan lagi didominasi oleh konten sampah, melainkan oleh informasi yang mencerahkan dan membangun.
Pelatihan ini menjadi langkah awal yang progresif. Ke depannya, UMRI Wonosobo berencana untuk terus mengawal kader-kadernya agar tetap konsisten memproduksi konten kreatif yang positif. Hal ini sejalan dengan misi organisasi untuk selalu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa. Dengan bekal keterampilan jurnalistik yang telah didapatkan, para peserta kini memiliki tanggung jawab moral untuk terus belajar dan mempraktikkan ilmu tersebut dalam keseharian mereka.
Sebagai penutup, kegiatan ini menegaskan bahwa literasi media adalah tanggung jawab bersama. Melalui pelatihan ini, UMRI Wonosobo telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar organisasi yang pasif, melainkan penggerak narasi yang siap berkontribusi dalam menjaga kesehatan ruang digital Indonesia, khususnya di wilayah Wonosobo. Dengan semangat "Organisasi Memimpin Narasi", diharapkan akan lahir banyak penulis dan kreator konten dari kalangan organisasi kemasyarakatan yang mampu menyuarakan kebenaran di tengah kebisingan dunia maya.
Keberhasilan acara ini diharapkan menjadi pemantik bagi kegiatan serupa di masa depan, di mana literasi media menjadi kurikulum wajib bagi setiap kader organisasi. Semakin banyak masyarakat yang melek jurnalistik, maka semakin kuat ketahanan bangsa terhadap gempuran informasi negatif. UMRI Wonosobo telah melangkah lebih dulu, menunjukkan bahwa di era digital, organisasi yang mampu memimpin narasi adalah organisasi yang akan terus relevan dan memberikan dampak besar bagi masyarakat luas.

