Saat gejolak di Timur Tengah meningkat dan Iran melancarkan gelombang serangan drone yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap infrastruktur vital di sekitar Teluk Persia, keahlian Ukraina dalam melawan ancaman asimetris ini menjadi sangat dicari. Serangan-serangan ini, yang menargetkan sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan, telah memicu kekhawatiran global dan menyoroti kelemahan sistem pertahanan udara konvensional dalam menghadapi taktik perang modern.
Beberapa hari setelah serangan Iran yang menimbulkan kekhawatiran besar di Washington, pemerintahan Donald Trump secara eksplisit mengidentifikasi persenjataan drone serang satu arah Shahed sebagai tantangan keamanan yang serius dan berkembang. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bersama dengan Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, secara terbuka mengakui bahwa drone-drone yang relatif murah ini—yang memiliki kemampuan untuk membanjiri dan melumpuhkan pertahanan udara canggih—telah menjadi masalah strategis yang jauh lebih besar dari perkiraan awal. Biaya produksi yang rendah, kemudahan peluncuran, dan kemampuan untuk menyerang dalam formasi swarm (kawanan) menjadikan Shahed sebuah alat perang yang mengubah dinamika konflik, menantang doktrin militer yang telah lama ada.
Ini adalah tantangan yang sangat dipahami oleh Ukraina, yang telah berada di garis depan perang drone selama lebih dari dua tahun. Sejak invasi skala penuh Rusia pada Februari 2022, Rusia telah mengandalkan drone Shahed yang dipasok Iran (dikenal di Rusia sebagai Geran-2) untuk menghantam kota-kota dan infrastruktur kritis Ukraina. Kota-kota di seluruh Ukraina rutin dibombardir oleh kombinasi mematikan antara drone dan rudal, memaksa negara itu untuk dengan cepat mengembangkan dan menyempurnakan strategi pertahanan udara berlapis. Pengalaman pahit inilah yang kini menjadikan Ukraina sebagai pemimpin global dalam bidang anti-drone, dan pemerintahnya siap berbagi pengetahuan teknis serta taktik tempur tentang cara melawan drone-drone ini dengan negara-negara di Timur Tengah yang kini menghadapi ancaman serupa.
"Mitra kami berpaling kepada kami, kepada Ukraina, untuk meminta bantuan dalam melindungi diri mereka dari Shahed dengan keahlian dan tindakan nyata," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Pernyataan ini menegaskan posisi unik Ukraina sebagai "laboratorium" pertahanan udara modern. "Ada juga permintaan mengenai hal ini dari pihak Amerika. Belakangan ini, saya berbicara dengan pemimpin Emirat, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait. Akan ada pembicaraan lebih lanjut dengan para pemimpin regional lainnya. Kami juga berkoordinasi dengan mitra-mitra kami di Eropa," imbuhnya, menyoroti jangkauan diplomatik dan urgensi kolaborasi ini. Tawaran Ukraina bukan hanya sekadar berbagi informasi, tetapi juga mencakup potensi transfer teknologi dan pelatihan praktis, yang dapat secara signifikan memperkuat postur pertahanan regional.
Akar masalah drone Shahed di Ukraina dimulai ketika Rusia, setelah kegagalan awal dalam invasi, mulai mengimpor drone serang Shahed-136 dari Iran pada paruh kedua tahun 2022. Drone-drone ini, yang kemudian diberi nama Geran oleh Rusia, dengan cepat menjadi komponen kunci dalam strategi Rusia untuk menekan pertahanan udara Ukraina, menargetkan infrastruktur energi, dan menimbulkan teror. Seiring berjalannya perang, Rusia tidak hanya mengandalkan impor, tetapi juga membangun fasilitas produksi drone tersebut di dalam negeri, dengan ambisi untuk memproduksi lebih dari 5.500 unit per bulan. Industrialisasi produksi drone ini telah mengubah dinamika konflik, memastikan pasokan yang stabil dan murah untuk serangan tanpa henti.
Berdasarkan pengalaman dari medan tempur Ukraina, Rusia terus meningkatkan kemampuan drone-drone ini. Peningkatan tersebut mencakup sistem anti-jamming yang lebih canggih untuk menghindari gangguan elektronik, hulu ledak yang lebih mematikan untuk meningkatkan kerusakan, dan daya jelajah yang lebih lama untuk menjangkau target yang lebih jauh di dalam wilayah Ukraina. Evolusi ini menunjukkan bagaimana Iran dan Rusia telah belajar dari penggunaan drone ini dalam pertempuran, membuat ancaman Shahed semakin kompleks. Bahkan, militer AS sendiri telah membentuk skuadron khusus yang mengerahkan drone serang satu arah tiruan dari Shahed yang berhasil ditangkap. Drone tiruan ini kini diluncurkan dalam pertempuran untuk menganalisis dan mengembangkan strategi penanggulangan yang efektif terhadap ancaman Iran.
Ukraina, di tengah serangan tanpa henti, telah membangun sistem pertahanan berlapis yang canggih terhadap Shahed dan variannya. Mereka mengklaim meraih keberhasilan signifikan dalam menetralkan ancaman ini. "Kami siap membantu dan berbagi pengalaman. Ukraina punya lebih dari 10 perusahaan yang memproduksi pencegat dan sistem anti drone," tulis Alexander Kamyshin, penasihat Presiden Zelensky. Ini menunjukkan adanya ekosistem inovasi pertahanan yang kuat di Ukraina, yang lahir dari kebutuhan mendesak. "Kami mencegat sekitar 90% drone Shahed Rusia, utamanya dengan menggunakan drone pencegat yang dipadukan dengan sistem pertahanan udara lainnya. Terkadang ada ratusan drone per malam yang menargetkan kota-kota kami," tambahnya, menggambarkan skala tantangan dan keberhasilan respons Ukraina.
Strategi Iran untuk meluncurkan ratusan drone Shahed dengan jumlah yang sama atau bahkan lebih banyak dari rudal balistik, seperti yang terlihat dalam serangan baru-baru ini terhadap Israel, bertujuan untuk menguras pertahanan udara musuh. Meskipun mayoritas drone berhasil dicegat, upaya ini membutuhkan sumber daya yang sangat besar, termasuk penggunaan sistem pertahanan canggih yang seharusnya lebih difokuskan untuk mencegat rudal balistik yang jauh lebih mematikan. Ini menciptakan dilema ekonomi dan strategis: apakah pantas menembakkan rudal pencegat seharga jutaan dolar untuk menjatuhkan drone yang harganya hanya puluhan ribu dolar?
Pertahanan berlapis Ukraina dalam menghadapi Shahed dan variannya melibatkan berbagai teknologi militer dan taktik inovatif. Di antara metode-metode tersebut adalah:
- Unit Bergerak Cepat (Mobile Fire Groups): Tim pertahanan yang gesit ini mengoperasikan senapan mesin berat, seringkali dipasang pada kendaraan pick-up atau truk ringan, di titik-titik vital di seluruh kota. Mereka dilengkapi dengan sistem penglihatan malam dan termal untuk mendeteksi drone di kegelapan. Rudal yang ditembakkan dari bahu, seperti sistem MANPADS (Man-Portable Air-Defense Systems) juga digunakan oleh kelompok-kelompok ini untuk target yang terbang lebih tinggi. Keunggulan unit ini adalah mobilitas dan kemampuan untuk dengan cepat berpindah posisi berdasarkan jalur penerbangan drone.
- Pesawat Udara Modifikasi: Helikopter dan pesawat kargo ringan dimodifikasi dan dilengkapi dengan minigun atau meriam otomatis untuk memburu drone di udara. Kecepatan dan kemampuan manuver pesawat ini memungkinkan mereka untuk mencegat drone sebelum mencapai target. Sebuah video dramatis baru-baru ini bahkan menunjukkan sebuah F-16 Ukraina menjatuhkan Shahed, menunjukkan bahwa bahkan pesawat tempur canggih pun dapat digunakan dalam peran ini, meskipun dengan biaya operasional yang jauh lebih tinggi.
- Sistem Pertahanan Udara Konvensional: Di tingkat lebih tinggi, Ukraina juga menggunakan sistem pertahanan udara jarak menengah dan jauh seperti S-300 peninggalan era Soviet dan rudal Patriot pasokan AS. Namun, seperti yang diakui Zelensky, persediaan baterai Patriot dan rudal PAC-3 Ukraina sangat terbatas. "Kami sedang membangun hubungan dengan negara-negara di Timur Tengah. Mereka punya sistem pertahanan udara Patriot dan rudal PAC-3. Mereka memiliki semua ini. Ini sangat penting. Namun, apakah bisa melindungi dari ratusan Shahed? Kita tahu bahwa itu bukanlah model yang efektif," cetus Zelensky, menyoroti inefisiensi biaya dan keterbatasan jumlah rudal pencegat mahal terhadap serangan drone massal.
Tawaran Ukraina untuk berbagi keahliannya bukan hanya tindakan solidaritas, tetapi juga langkah strategis yang menguntungkan semua pihak. Dengan membantu negara-negara di Timur Tengah memperkuat pertahanan mereka terhadap drone Iran, Ukraina tidak hanya mempromosikan stabilitas regional, tetapi juga menunjukkan nilai dan relevansinya sebagai mitra keamanan yang krusial. Dalam era di mana perang asimetris yang didominasi drone semakin lazim, pengalaman Ukraina menjadi peta jalan berharga bagi negara-negara yang berjuang untuk melindungi diri mereka dari ancaman yang terus berkembang dan sulit diprediksi ini.

